Posted in Romance

[Series] The Precious Thing -13-

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

 

Sooyoung POV

Aku tidak tahu apa yang membuatku pada akhirnya memutuskan untuk menaiki jalan berkerikil ke sebuah tebing yang Naomi sebut dengan tebing kerinduan saat gadis kecil itu menunjukkan padaku jalannya. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk mendatanginya jadi setelah aku mengantar Naomi kembali ke rumahnya, aku kembali ke jalan ini dan tanpa berpikir panjang menyusurinya.

Ini melelahkan, tentu saja. Tapi aku berusaha keras untuk tidak merasakannya dengan menikmati pemandangan yang ada di sekitarku. Aku cukup terkesima melihat bagaimana dekatnya Busan dari pulau ini dilihat dari tempat yang tinggi seperti ini. Seakan-akan aku hanya perlu melangkahkan kakiku melompatinya dan aku akan sampai di Busan, tapi aku tahu bahwa itu tidak mungkin. Karena faktanya, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam penyeberangan kapal ferry yang selalu datang dan pergi setiap harinya.

Aku tidak  berhenti untuk mengagumi pemandangan yang aku lihat, bahkan sampai pada akhirnya aku sampai di tanah yang mendatar di atas tebing. Aku mengamati sekitarku untuk sesaat sebelum kemudian samar-samar mendengar suara dari satu arah. Dengan perlahan, aku mendekat tapi dengan cepat mencari tempat persembunyian saat aku merasa ada seseorang yang datang ke arahku. Aku benar-benar tidak mau mengambil resiko jika ada orang yang melihatku karena—sejauh ini, tidak banyak yang mengetahui keberadaanku secara ilegal di pulau ini.

“Ayami-ssi?” gumamku sambil mengerutkan keningku saat melihat sosok Ayami-lah yang datang dengan langkah yang tergesa.

Keningku semakin berkerut melihat ekspresinya dan—sekilas, air matanya. Tapi aku sedikit ragu untuk keluar dari persembunyianku hanya sekedar untuk mengetahui apa yang terjadi padanya. Jadi, setelah Ayami pergi meninggalkan tebing ini, aku bergegas keluar dan melanjutkan langkahku untuk sampai di ujung tebing.

Dari kejauhan, aku melihat seseorang sedang duduk sendirian disana. Aku diam di tempatku untuk sesaat, mengamati orang itu. Dia sepertinya tidak terganggu dengan suasana apapun yang aku rasakan di tebing ini karena perhatiannya terus terarah pada sesuatu yang ada di depannya, pulau Busan. Aku mendesah pelan, sebelum kemudian melangkah tanpa suara lebih dekat dengannya.

“Min Woo-ssi?” panggilku meskipun aku tidak begitu yakin dia adalah Min Woo. Tapi bukankah—kata Naomi, dia adalah satu-satunya orang yang sering menghabiskan waktu disini? Ditambah lagi, beberapa saat yang lalu aku juga melihat Ayami. “Min Woo-ssi, apa itu kau?”

Namja itu tetap diam di posisinya.

Aku melangkah lebih dekat lagi, “Min Woo-ssi… jika itu kau, maka ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu”

“Apa—“ Namja itu akhirnya menjawab, dan aku cukup terkejut mendengar suaranya tapi aku memilih untuk diam. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya tanpa membalikkan badan atau bahkan menolehkan kepala ke arahku.

“Omong-omong, apa kau tahu aku siapa?”

Min Woo diam sesaat, tapi kemudian dia berkata. “Aniyo, mollaseoyo

Aku menaikkan satu alisku menerima sikap aneh namja ini yang sama sekali tidak menunjukkan sopan santunnya padaku. Itu sangat berbeda dengan apa yang Naomi katakan sebenarnya, tapi aku tidak akan mempermasalahkan itu.

“Aku Sooyoung, Choi Sooyoung” kataku pada akhirnya mengenalkan diri setelah beberapa hari tinggal di rumahnya tapi tidak bisa melakukannya. “Aku dari Seoul dan untuk sementara ini tinggal di rumahmu. Kakak iparmu menganggapku sebagai pasiennya selama aku disini. Dia pasti sudah memberitahumu, ‘kan?”

Ne,

Geureom, apa aku boleh duduk disini?” tanyaku sekedar ingin tahu.

Min Woo kembali diam, “Juseyo—“ katanya seraya bangkit berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya dengan tangannya.

Aku melangkah menghampirinya tanpa menunggu apapun. Tapi saat aku benar-benar sudah dekat dengannya, dia segera membalikkan tubuhnya ke samping dan memunggungiku. Seakan-akan dia tahu bahwa aku ingin melihat bagaimana penampilannya yang sebenarnya, tapi dia tidak mau aku melihatnya. Aku kembali terkejut menerima perlakukan seperti ini, karena ini pertama kalinya ada seseorang yang seperti ini—menolak orang lain untuk melihatnya. Bukankah saat dua orang berbicara seharusnya mereka saling berhadapan? Ada apa dengannya?

Aku berdehem pelan, berusaha untuk tidak mempermasalahkan ini karena siapa tahu dia memang memiliki sifat atau kelainan seperti itu. Ada orang yang memiliki phobia bertemu dengan orang asing, ‘kan? Mungkin dia seperti itu. Phobia-phobia saat ini memang semakin beraneka macam, jadi sudah seharusnya aku tidak memikirkan ini lebih jauh lagi. Aku yakin setelah aku mengenalkan diriku dan berbincang dengannya, dia akan mulai terbiasa dan nyaman denganku. Apalagi kami tinggal satu rumah, jadi sudah seharusnya kami mengenal satu sama lain, ‘kan?

“Itu tidak akan nyaman jika aku duduk, sementara kau berdiri” kataku berusaha memulai lagi pembicaraan. “Apa kau lebih nyaman berbicara sambil berdiri? Jika memang begitu, baiklah kita berdiri saja”

Tanpa memberiku tanggapan, dia justru duduk tapi masih memunggungiku. Aku mendengus kecil, tidak percaya dengan apa yang dia lakukan. Dan mau tak mau akupun ikut duduk, merasa sedikit canggung karena kami mengobrol tapi dalam posisi seperti ini.

“Apa kau memang seperti ini saat bertemu orang asing, Min Woo-ssi?” komentarku terus berusaha untuk tidak mempermasalahkan ini. “Apa kau selalu merasa tidak nyaman bertemu orang asing atau kau memiliki semacam phobia mengobrol dengan orang yang tidak kau kenal atau dekat denganmu?”

Min Woo terus menutup mulutnya.

“Dan sepertinya kau lebih pendiam dari yang aku dengar dari Naomi,” Aku menambahkan meskipun dia masih belum mengeluarkan suaranya lagi. “Kau sepertinya terkejut orang asing sepertiku tiba-tiba tinggal di rumahmu dan bahkan datang ke tebing yang.. anggap saja ini tebingmu”

Ne,

Aku tersenyum tipis karena sekali dia berbicara, hanya jawaban singkat yang aku dapatkan. “Mianhaeyo karena aku membuatmu tidak nyaman dengan keberadaanku,” kataku.

Gwenchanayo

“Kau dari Seoul, ‘kan?” celetukku berusaha untuk terus berbicara dengannya. “Itulah kenapa kau sering datang ke tebing ini. Karena itu disana, di seberang pulau ini”

Min Woo hanya menganggukkan kepala kali ini.

“Aku banyak mendengar cerita tentangmu dari Naomi sebenarnya, dan aku sudah ingin menyapamu karena aku tinggal di rumahmu. Tapi aku tidak pernah bertemu denganmu di rumah” ungkapku pada keadaan yang sebenarnya. “Sebenarnya aku hanya penasaran dengan tebing yang disebutkan Naomi yang sering kau datangi. Bagaimana pemandangan di tebing ini dan kenapa dia menyebutnya tebing kerinduan. Tapi aku tidak menyangka jika aku bertemu denganmu disini”

Ne,

Emm—Min Woo-ssi—“ kataku sambil mengalihkan pandanganku jauh ke depanku. “Kenapa kau memberitahu orang-orang bahwa aku yeojachingu-mu yang datang untuk mengunjungimu?”

Tidak ada tanggapan.

“Tidak masalah jika kau memang tidak mau memberitahuku,” kataku kemudian. “Tapi jika aku bisa menebaknya… itu karena kau dan Ayami-ssi tidak memiliki alasan lain untuk diberitahukan pada orang-orang, khususnya penduduk di kawasan rumah kalian, ‘kan?”

Min Woo kembali mengangguk.

“Meskipun begitu, kau seharusnya memberitahuku dulu, Min Woo-ssi. Seharusnya kau bertanya padaku dulu apa aku akan menyetujui ide itu atau tidak. Bagaimana jika aku sudah memiliki namjachingu dan namjachingu-ku datang untuk mencariku ke sini?”

Lagi-lagi aku tidak mendapatkan tanggapan apapun, dan aku mulai merasa frustasi dengan sikapnya ini. Tapi aku masih berusaha untuk tetap sabar dan menahan diriku untuk tidak kesal ataupun marah. Lagipula aku hanyalah tamu di pulau ini dan di rumahnya, dan tanpa bantuannya serta kakak iparnya maka aku tidak akan bisa tetap disini tanpa tertangkap karena tidak memiliki dokumen ijin tinggal apapun.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku benar-benar merasa seperti sedang berbicara dengan patung karena aku sama sekali tidak menerima tanggapan yang baik darinya. Apa aku sebaiknya pergi saja daripada aku semakin lama tidak bisa menahan kesabaranku? Tapi masih ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya, dan mungkin akan cukup sulit bagiku untuk bertemu lagi dengannya seperti ini. Aku sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk beberapa saat dan sempat melihat sekilas dia sedikit menolehkan kepala seakan memeriksaku apa aku akan mengatakan sesuatu lagi atau tidak.

Waeyo? Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Ne,” katanya.

“Apa?”

Min Woo diam lagi, tapi kemudian dia berbicara. “Semoga cepat sembuh,”

Aku menaikkan satu alisku, tercengang dengan apa yang dia katakan. Meskipun aku menunggu beberapa saat karena mungkin dia akan mengatakan sesuatu yang lainnya, tapi dia kembali diam. Aku menggaruk tengkukku, benar-benar tidak percaya aku bisa bertemu dengan seseorang yang seperti ini.

Ah, emm—gomawoyo” kataku pada akhirnya sekedar untuk memberinya tanggapan. “Kau juga, semoga—“ Aku mengambil jeda sesaat, bimbang untuk mengatakannya atau tidak. Lalu melanjutkan perkataanku, “—semoga kau bisa lebih nyaman berbicara padaku”

Geureom—“ Min Woo tiba-tiba bangkit dari tempatnya, dan tanpa mengatakan apapun lagi padaku, dia melangkah pergi.

Aku mendengus tidak percaya melihatnya pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian disini. Aku bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa saat dan membeku diam di posisiku. Bagaimana bisa ada seseorang yang angkuh seperti itu? Jika dia bukan adik iparnya Ayami, aku pasti akan melakukan sesuatu padanya. Sungguh! Dia benar-benar beruntung karena dia adik iparnya Ayami!

__

Kyuhyun POV

Ah! Ije nan eotteoke?! Kenapa aku justru.. Aish jinjja!” umpatku pada diri sendiri sambil melangkah tergesa menuruni bukit. “Bagaimana bisa dia datang dan mengajakku berbicara dengannya? Bagaimana jika dia mengenali suaraku?” Aku berhenti melangkah, membiarkan emosiku mereda.

Aku tidak mengerti kenapa juga aku melakukan hal bodoh dengan mengatakan ‘semoga cepat sembuh’ padanya padahal sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Aku memang sempat berpikir untuk langsung mengungkapkan identitasku padanya, tapi waktunya benar-benar tidak tepat. Haruskah aku kembali ke tebing dan mengungkapkannya? Aku memutar tubuhku, lalu menatap jauh ke arah tebing dimana aku masih bisa melihat Sooyoung di tempat yang sama.

Aku mendesah panjang sambil menyandarkan tubuhku di salah satu pohon dan mengingat percakapanku dengannya beberapa saat yang lalu. Tanpa aku sadari, senyumku mengembang karena aku bisa mengobrol lagi dengannya meskipun dia lebih banyak bicara daripada aku. Tapi jujur saja, sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara di depannya dan jika seandainya pun aku terpaksa menanggapinya, aku harus sedikit mengubah caraku berbicara.

“Apa kau benar-benar tidak mengenaliku, Sooyoung-ah?” tanyaku sambil menatap Sooyoung dari tempatku berdiri. “Apa kau bahkan tidak bisa merasakan kehadiranku di dekatmu?”

Aku kembali tersenyum, berusaha untuk menikmati debaran jantungku bahkan sejak pertama kali aku mendengar suara Sooyoung tadi. Aku tahu dia pasti cukup kesal dengan sikapku yang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak ada pilihan lain tadi.

“Kau pasti akan tahu bahwa selama ini aku ada di dekatmu, Sooyoung-ah” kataku masih dengan posisi yang sama. “Kita sangat dekat, tapi untuk sementara ini aku tidak bisa mendekatimu karena aku tak tahu apa kau sudah memaafkanku atau tidak,”

Aku menegakkan tubuh saat melihat Sooyoung bangkit berdiri. Lalu bergegas mencari tempat persembunyian saat dia memutar badannya dan melangkah pergi meninggalkan tebing itu. Karena ini satu-satunya jalan yang bisa dilewati, maka sudah pasti dia akan datang ke arahku. Itulah kenapa aku perlu bersembunyi sekarang agar dia berpikir bahwa aku—Min Woo, sudah benar-benar meninggalkan tebing ini.

“Dasar bodoh! Dia pikir dia siapa bersikap seperti itu padaku?!”

Aku bisa mendengar umpatan Sooyoung meskipun dia sama sekali belum melintas di depanku. Tapi selang beberapa detik, sosoknya muncul dan aku melihat dia terus menggumamkan sesuatu sambil mengerucutkan mulutnya. Aku kembali tidak bisa menahan senyumku saat melihatnya, dan ini untuk kesekian kalinya aku begitu.

Aku melangkahkan kakiku setelah Sooyoung cukup jauh di depanku, dan mengikutinya yang melangkah ke arah pantai. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan disana dan aku juga tak tahu apa yang aku lakukan dengan mengikutinya seperti ini. Aku hanya merasa belum puas dengan apa yang baru saja terjadi diantara kami berdua. Tapi situasi dan keadaan membuatku tidak bisa berlama-lama, dan sekarang aku menyesalinya karena aku terlalu cepat meninggalkan tebing itu padahal—mungkin, itu satu-satunya kesempatanku untuk bisa mengobrol dengannya.

“Min Woo-kun!” Seseorang memanggilku, dan seketika aku menolehkan kepala untuk melihat seorang nenek, yang tinggal sekitar lima rumah dari rumahku, sedang melambaikan tangan ke arahku.

Aku tersenyum lebar, lalu melangkah ke arahnya. “Hai, obaa-san. Sorehanadesuka?”

“Kau ini benar-benar anak nakal,” katanya sambil mencubit lenganku. “Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu mengikuti seorang gadis. Jika kau menyukainya, kenapa kau tidak katakan saja padanya?”

“Apa yang harus aku katakan, obaa-san?” tanyaku masih tersenyum dengan cara yang sama. “Dia pacarku, jadi apa yang harus katakan padanya?”

Nani? Kanojo wa anata no garufurendodesu ka?

Aku mengangguk. “Kau tahu, ‘kan? Gadis yang tinggal di rumahku selama beberapa hari ini, dia pacarku. Aku mengikutinya karena aku khawatir padanya,”

“Lalu kenapa kau tidak berjalan di sebelahnya? Apa kau sedang bertengkar dengannya?”

“Bisa dikatakan begitu,” jawabku singkat. “Omong-omong, apa yang sedang obaa-san lakukan disini?”

“Hanya berjalan-jalan,”

Tandoku de?”

“Kenapa memangnya dengan berjalan-jalan sendirian? Kau pun begitu, ‘kan?”

Aku tertawa kecil, “Kalau begitu, bagaimana jika berjalan-jalan denganku saja? Kebetulan sekali aku ingin meminta saranmu, obaa-san

“Kau meminta saran dari seorang wanita tua sepertiku?”

“Memangnya kenapa?” sahutku dengan cepat. “Aku juga biasanya meminta saran dari Kato obaa-san, jadi kenapa aku tidak bisa meminta saran darimu juga?’ Aku berusaha bercanda dengannya sambil memeluknya dengan satu tanganku.

“Kau ini benar-benar anak nakal” serunya padaku disertai tawa renyahnya.

Aku ikut tertawa dan menyempatkan diriku untuk menatap ke arah Sooyoung yang sekarang sedang membungkuk dan memunguti sesuatu seperti kerang. Aku tersenyum melihatnya, apalagi saat dia berbaur dengan beberapa wanita lainnya—yang kebanyakan wanita-wanita lanjut usia.

“Hei, bukankah katamu kau ingin meminta saranku? Kenapa matamu terus menatap ke arah yang lainnya?”

“Ah, maafkan aku, obaa-san” seruku dengan cepat. “Aku hanya tidak bisa mengalihkan perhatianku dari pacarku disana. Bagaimana kalau kita duduk sekarang? Jadi, aku bisa lebih banyak mengobrol denganmu—“

“Ayo kita duduk disana, jadi kau masih bisa melihat pacarmu saat kita mengobrol”

Aku tertawa lalu menganggukkan kepala sebelum mengajak nenek itu untuk duduk di tempat yang dia tunjuk.

**

Ayami menolak bicara padaku, bahkan sudah dua hari ini. Tapi aku tidak mempermasalahkannya dan tidak mempertanyakannya karena aku tahu kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Aku sudah pernah mengalami hal yang sama saat bersama Sooyoung, jadi aku hanya akan membiarkannya saja. Aku juga tidak akan memaksanya untuk percaya dengan apa yang aku katakan—tidak seperti itu, dan memberinya banyak waktu untuk memikirkan segalanya, termasuk balas dendam yang sudah dia setujui denganku.

Oh, Naomi-chan!” panggilku saat melihatnya melintas di depanku. Aku segera melambaikan tangan ke arahnya, lalu menghampirinya. “Kau sendirian? Dimana Sooyoung onee-san?”

“Jalan-jalan,”

Satu alisku terangkat, “Mwo? Jalan-jalan?”

Naomi mengangguk. “Dia memintaku untuk menemaninya bertanya pada nenek bagaimana caranya pergi ke kota Mine dengan menggunakan bus”

Jamkkaman, jamkkaman—“ kataku sambil berlutut di depannya. “Sooyoung pergi ke kota Mine? Untuk apa?” tanyaku.

Onee-san tidak memberitahuku. Dia hanya berkata ingin berjalan-jalan ke kota Mine, itu saja”

“Apa dia memberitahumu dia akan pergi kemana?’

“Tidak,”

Aku memikirkan ini, sedikit khawatir mengetahui Sooyoung pergi ke kota lain sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya seperti misalnya dia tersesat? Dan lebih buruknya lagi, bagaimana jika Kang Dae Shik melihatnya tanpa sengaja disana? Pulau Tsushima itu bukanlah pulau yang besar, jadi presentase kemungkinan itu benar-benar besar. Sepertinya aku harus ke Mine juga untuk menyusulnya meskipun aku tidak tahu dia pergi kemana.

Oh, itu Ayami onee-san!” celetuk Naomi tiba-tiba sambil menunjuk ke satu arah. Aku mengikuti arah telunjuknya dan memang melihat Ayami sedang melangkah ke arah kami. “Ohayo gozaimasu, onee-san” sapa Naomi begitu yeoja itu berada di depannya.

Ohayo gozaimasu, Naomi-chan” Ayami langsung membalasnya, lalu dia menatapku. “Aku perlu bicara denganmu,”

Aku mengangguk.

“Naomi-chan, aku harus membawa pergi Min Woo onii-san. Apa itu tidak apa-apa?”

Hai, onee-san

Aku tersenyum pada Naomi sambil mengacak pelan rambutnya. “Aku akan mengajakmu bermain nanti. Kau mau bermain Gongginori?”

“Tentu saja aku mau!” seru Naomi antusias. “Kalau begitu, aku akan menunggumu, onii-san. Sampai jumpa” Dia membungkuk ke arahku dan Ayami sebelum melangkah pergi.

Aku menunggu beberapa saat sampai Naomi sudah tidak terlihat lagi dalam pandanganku, dan sepertinya Ayami juga begitu. Lalu kami melangkah bersama-sama meskipun tidak ada yang kami katakan. Aku memilih untuk diam karena aku menunggunya yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Lagipula aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padanya setelah aku memberitahu semua yang ada di pikiranku beberapa hari yang lalu. Aku hanya tinggal menunggu responnya sekarang, itulah kenapa aku memilih untuk menahan diri.

“Sooyoung-ssi, eodiseoyo?” tanya Ayami untuk pertama kalinya. “Kau tidak bersamanya, dan Naomi pun sendirian. Jadi, dimana dia?”

“Mine,”

Mworaguyo?

“Mine,” ulangku memberitahu. “Dia pergi ke Mine, dan aku tahu tahu untuk apa dan kenapa. Aku berpikir untuk menyusulnya kesana karena aku khawatir Kang Dae Shik akan melihatnya. Tidak ada yang tahu apa yang namja itu lakukan dan dimana dia berada, ‘kan?”

“Aku melihatnya disini,”

Nugayo?”

“Kang Dae Shik,” Ayami menjawab tanpa menatap ke arahku. “Jadi, untuk saat ini Sooyoung-ssi akan aman jika dia pergi ke Mine atau ke kota-kota lainnya. Dia justru akan dalam bahaya disini”

Aku diam sesaat, mencerna kata-kata ini. Lalu aku berkata, “Dimana kau melihat Kang Dae Shik?”

“Dermaga ikan Shinshima. Dia bersama dua orang asing dan satu penduduk lokal disini. Tapi aku tidak bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan atau bahkan mendengar apa yang mereka bicarakan”

“Mereka mungkin sedang menyuap beberapa penduduk lokal untuk membantu mereka memudahkan pemindahan barang-barang selundupan,” kataku mengungkapkan apa yang bisa aku pikirkan di kepalaku. “Tanpa bantuan penduduk lokal, maka pekerjaan mereka akan cukup sulit. Aku benar, ‘kan?”

Ayami mengangguk singkat. “Sepertinya kita harus menyusun ulang rencana kita, Kyuhyun-san. Aku tidak bisa mereka melakukan perbuatan ilegal seperti itu lagi di pulau ini. Karena ini adalah pulau dimana suamiku harus meregang nyawa, aku tidak bisa hanya diam saat aku mengetahui ada orang-orang yang memanfaatkan kurangnya pengawasan di pulau ini”

Ohayo gozaimasu” sapaku saat berpapasan dengan beberapa orang yang juga sedang berjalan. “Ohayo gozaimasu” Aku kembali menyapa.

Ohayo gozaimasu,” Ayami melakukan hal yang sama denganku.

“Jadi, apa rencanamu?” tanyaku memulai kembali pembicaraan. “Aku tidak yakin apa rencanaku akan berhasil, jadi aku bertanya apa kau memiliki rencana lainnya?”

“Rencanamu itu memang beresiko, Kyuhyun-san. Tapi kupikir itu satu-satunya yang bisa kita lakukan” kata Ayami hanya menatapku sekilas. Membuatku berpikir bahwa sebenarnya dia masih marah padaku, tapi dia terpaksa berbicara padaku karena situasi dan kondisi yang mengharuskannya. “Jika dengan menunjukkan keberadaanmu disini pada Kang Dae Shik bisa mengalihkan perhatiannya dengan penyelundupan itu sementara aku mengumpulkan bukti-bukti yang ada, maka kita akan melakukannya. Tapi seperti yang kau tahu, resikonya akan terlalu besar. Apalagi dengan ada Sooyoung-ssi disini,”

“Aku akan memberitahu Sooyoung terlebih dahulu,” sahutku tanpa keraguan sedikitpun. “Aku akan memberitahu segalanya padanya, dan akan tetap membuatnya disampingku. Apapun resikonya, kurasa dia akan bisa menerimanya”

“Bagaimana jika dia tidak bisa?”

“Aku akan memikirkan itu nanti,” jawabku berusaha untuk tidak mengingat apa yang terjadi dulu saat aku memberitahu segalanya padanya. “Tapi seharusnya dia percaya setelah apa yang yang dia alami lima bulan yang lalu”

Ayami diam saja.

“Satu hal yang pasti—“ kataku melanjutkan. “—aku tidak akan membiarkan Sooyoung tidak tahu apapun bahwa hidupnya masih dalam bahaya, tidak disini maupun di Seoul. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan tidak membiarkannya tahu apapun. Entah dia akan mendengarkanku atau tidak, itu akan menjadi keputusannya. Termasuk apa dia sudah memaafkanku atau dia membenciku karena apa yang pernah aku lakukan,”

“Aku akan menyerahkan urusan itu padamu, kalau begitu. Karena  itu adalah masalahmu dengannya, dan aku tidak berhak melibatkan diri” Ayami menanggapi. “Tapi kau harus memberitahuku apapun, Kyuhyun-san. Sekalipun itu membuatku terluka dan sulit untuk mempercayainya, aku akan berusaha untuk menerima dan mempercayaimu. Kau tahu, kita tidak akan mendapatkan apapun jika kita tidak saling percaya. Apa kau mengerti?”

“Aku mengerti,”

__

Sooyoung POV

Aku tidak melihatnya dimanapun, bahkan setelah aku berusaha mencarinya ke luar kota Kamitsushima ini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi jika aku tidak bisa menemukannya sampai besok, aku berencana untuk menghubungi Yoona dan memintanya untuk membawakan beberapa dokumenku yang ada di tas—terutama paspor agar aku bisa kembali ke Korea. Karena aku tidak mungkin lebih lama tinggal di pulau ini meskipun aku menginginkannya. Aku akan tetap harus kembali ke Seoul, dan aku sudah memutuskan kapan aku akan melakukannya.

“Sooyoung-ssi,” panggilan itu terdengar dari arah belakangku. Membuatku langsung menolehkan kepala dan melihat Ayami datang sambil membawakan ramuan obat untukku yang selalu dia berikan setiap harinya. “Naomi memberitahuku kau pergi kesini, dan ini sudah saatnya kau meminum ramuanmu jadi aku membawanya kesini”

“Kau seharusnya tidak perlu membawanya sampai kesini, Ayami-ssi, karena aku baru akan turun”

Aniyo, gwenchanayo” sahutnya sambil memberikan mangkuk yang dia bawa padaku yang langsung aku minum dalam sekali tegukan untuk mengurangi rasa pahitnya. “Kau harus menghabiskannya,” katanya lagi.

Aku menenggaknya habis lalu memberikannya kembali pada Ayami yang selalu tersenyum setiap kali aku menghabiskannya dan melihat ekspresiku. “Rasanya selalu pahit meskipun sudah beberapa kali aku meminumnya,” komentarku.

“Tidak ada obat yang tidak pahit, Sooyoung-ssi” Ayami langsung membalasnya dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku yang tahu apa yang akan dia lakukan langsung meraih tangannya itu dan membiarkannya memerika denyut nadiku. “Lihat bagaimana aku dengan mudah menemukannya sekarang. Kupikir kondisimu jauh lebih baik”

Aku tersenyum, “Itu bagus. Karena aku berpikir untuk kembali ke Seoul dalam waktu dekat ini”

Pandangan Ayami lekat padaku, dan tidak ada yang dia katakan untuk beberapa saat. Meskipun begitu, ekspresi terkejut sempat aku lihat di wajahnya karena keputusanku yang bisa dikatakan mendadak ini. Aku memang belum mengatakan apapun padanya, baik tentang kenapa aku turun dari kapal saat itu, alasan kenapa aku disini dan keputusanku untuk kembali saat aku tidak menemukan apa yang aku cari.

“Kau sudah sangat baik padaku selama aku disini, Ayami-ssi tapi aku justru membalas kebaikanmu itu dengan berbohong padamu” kataku pada akhirnya. “Nan jeongmal mianhaeyo,”

“Apa yang kau bicarakan?”

Aku menghela napas singkat, “Aku tidak memberitahumu alasan yang sebenarnya kenapa aku meninggalkan kapalku saat itu” kataku merasa bersalah. “Aku memang tersesat saat itu, tapi ada alasan kenapa aku tersesat. Karena sebenarnya aku melihat seseorang yang sudah sangat lama ingin aku lihat”

Ayami diam saja dan aku mengerti jika seandainya dia marah padaku. Bukankah aku juga merasa seperti itu setiap kali ada seseorang yang menyembunyikan sesuatu dariku? Jadi aku benar-benar bisa mengerti itu.

Josanghaeyo, Ayami-ssi. Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan ini setelah kau sangat baik padaku” Aku melanjutkan. “Itu ironis bahwa aku paling tidak suka orang yang tidak jujur, tapi aku sendiri melakukannya. Aku benar-benar malu dengan diriku sendiri sekarang”

“Tidak perlu seperti itu, Sooyoung-ssi. Aku benar-benar tidak apa-apa, sungguh” balas Ayami tanpa melepaskan pandangannya dariku. “Karena aku juga menyembunyikan banyak rahasia, termasuk pada dirimu”

Aku mencelos, menerka bahwa itu mengenai suaminya yang sudah meninggal. Tapi haruskah aku membahasnya? Kurasa itu bukan hakku untuk tahu kecuali jika memang dia yang memberitahuku sendiri. Tapi aku tidak yakin Ayami akan memberitahuku apapun tentang suaminya, dan akupun tidak akan mempermasalahkanku.

“Boleh aku tahu—“ Ayami kembali berbicara, tapi dia mengambil jeda sesaat. Seakan-akan dia sedang mencari kata-kata untuk dikatakan padaku. “Boleh aku tahu siapa orang yang lihat disini sampai kau merelakan dirimu untuk turun dari kapal yang akan berangkat”

Namjachingu,” jawabku singkat.

Ayami kembali diam.

“Hubunganku dengan namjachingu-ku sudah lama tidak baik, Ayami­-ssi. Bahkan sudah lebih dari lima bulan aku tidak bertemu dengannya, dan sebelumnya aku terus menolak untuk berbicara padanya”

Waeyo?

“Semuanya berawal dari sebuah ketidakjujuran,” kataku memberitahu. “Dia berbohong padaku, tidak jujur padaku dan bahkan menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya dariku. Meskipun dia melakukannya karena janjinya pada mendiang appa-ku dan untuk melindungiku, tapi saat itu aku tidak memaafkannya. Sebenarnya aku sangat ingin memaafkannya, melupakan semua yang dia lakukan padaku itu, tapi rasa egois dan keinginan untuk terus berpegang pada prinsipku terlalu menguasaiku”

“Aku bisa mengerti itu,” komentar Ayami. “Terkadang aku juga seperti itu, dan pada akhirnya aku menemukan penyesalan setelah berpikir itu sangat bertentangan dengan perasaanku. Apa aku benar?”

Aku mengangguk, merasakan mataku yang mulai panas. “Aku sangat mencintainya dan aku terus menyangkalnya bahwa aku tidak mencintainya. Tapi aku tahu bahwa semakin aku melakukannya, itu justru membuatku semakin mencintainya” kataku berusaha keras menahan air mataku untuk tidak menetes di depan Ayami. “Aku sangat menyesal saat mengetahui bahwa semua yang dia katakan itu benar. Dia ingin melindungiku tapi aku menolaknya hanya karena aku mengikuti keegoisanku,”

Ayami tidak memberikan tanggapan apapun kali ini, tapi tangannya terangkat dan menyentuh bahuku. Apa yang dia lakukan ini justru membuat air mataku menetes yang langsung dengan cepat aku usap.

Josanghaeyo,” kataku sambil terus mengeringkan kedua pipiku. “Aku sudah lama tidak membicarakan ini dengan siapapun, jadi aku sedikit terbawa emosi”

Giliran Ayami yang menggangguk sambil terus mengusap-usap bahuku. “Keluarkan saja jika kau merasa perlu mengeluarkannya, Sooyoung-ssi” katanya.

Aniyo, gwenchanayo” sahutku memaksakan seulas senyum di bibirku. “Seharusnya aku tidak seperti ini. Lagipula itu salahku karena tidak mempercayainya dan ini adalah hukumanku untuk tidak bertemu lagi dengannya selama berbulan-bulan ini”

Ayami kembali diam.

Untuk sesaat, tidak ada percakapan apapun diantara kami dan kami hanya menikmati pemandangan di depan kami tanpa mengatakan apa-apa. Menceritakan itu semua pada Ayami membuatku mengingat saat-saat itu. Aku tidak tahu sudah berapa lama tepatnya aku tidak berada di dekatnya, menghabiskan waktu dengannya dan menyentuhnya. Meskipun aku sempat beberapa kali memimpikannya di malam-malamku di pulau ini, tapi tetap saja itu semua hanya mimpi. Akan sangat berbeda jika memang dia benar-benar menyentuhku dan memelukku.

“Katamu kau melihatnya di pulau ini, ‘kan?” celetuk Ayami tiba-tiba setelah dia diam cukup lama. “Dimana?” tanyanya lagi.

Aku berusaha mengendalikan diriku sebelum menjawab pertanyaan ini. Setelah benar-benar terkendali, aku baru berkata, “Di kota ini, Ayami-ssi. Aku melihatnya pertama kali di pelabuhan saat aku baru akan masuk ke kapal. Aku bahkan merasa yakin bahwa dia sempat melihatku juga, tapi kemudian dia pergi begitu saja”

Tidak ada tanggapan dari Ayami.

Aku pun melanjutkan, “Saat itu, tanpa pikir panjang, aku langsung turun dari kapal untuk mengejarnya. Tapi aku tidak melihatnya dimanapun jadi aku berpikir itu hanyalah bayanganku saja dan berniat untuk kembali ke kapal sebelum kemudian aku benar-benar melihatnya sedang mengendari mobil dan melanjut dengan cepat—“ Aku berhenti sesaat untuk menarik napas panjang, lalu kembali berbicara. “Aku berusaha untuk mengejarnya, Ayami-ssi tapi aku tidak bisa. Aku bahkan berusaha mencarinya selama aku disini meskipun aku tidak bisa pergi jauh karena keterbatasanku. Aku benar-benar ingin menemukannya”

“Dan seandainya aku menemukannya, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan memeluknya, melupakan semua yang terjadi, dan aku akan berkata—“

Bogoshipda,” sambung sebuah suara yang langsung membuat tubuhku menegak. Tidak sampai satu menit, aku merasakan seseorang melingkarkan tangannya dari arah belakangku dan mendekapku. Jantungku berdegup kencang dan aku bisa merasakan sesuatu mengalir deras di dalam tubuhku karena aku benar-benar sangat familiar dengan kehangatan ini. “Bogoshipda, Sooyoung-ah. Bogoshipda,” bisiknya dengan lembut, tepat di telingaku.

Aku memejamkan mata dan mematung di tempatku untuk sesaat, berusaha mencari tahu bahwa sebenarnya aku sedang bermimpi atau tidak. Karena semua yang rasakan ini benar-benar nyata seperti di mimpi-mimpiku sebelumnya. Saat aku kembali membuka mata, aku tidak lagi melihat Ayami meskipun aku masih bisa merasakan kehangatan yang memenuhi diriku ini. Aku mendesah panjang saat kemudian dia memiringkan kepala, membuatku semakin bisa merasakan desahan napasnnya.

Nan jeongmal bogoshipda,” Dia kembali berbisik.

Perlahan, aku menolehkan kepala dan sedikit terkejut. Bukan hanya karena wajahku yang sangat dekat dengannya, tapi juga aku benar-benar melihatnya di depan mataku. Aku tidak yakin ini mimpi atau bukan, jadi untuk beberapa saat aku hanya diam mematung di posisiku sambil terus memandanginya yang matanya sedang terpejam. Lalu, pandangan mata kami bertemu dan dia langsung mengangkat wajahnya untuk menatapku dengan lekat. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha untuk mengendalikan debaran di jantungku yang semakin kencang dan juga keterkejutanku.

“Kyuhyun-ah,” ucapku pelan, masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ada di depanku. “Ini benar-benar kau, ‘kan?” kataku lagi. Aku mulai merasakan air mata mulai mengumpul di pelupuk mataku dan rasanya benar-benar pedih.

Orang yang ada di depanku ini, Cho Kyuhyun, diam saja sambil terus menatapku. Aku juga bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca meskipun tidak ada yang dia katakan untuk menanggapiku.

Dadaku juga mulai terasa sakit, menahan diriku untuk tidak menangis. “Ini benar-benar kau, ‘kan, Kyuhyun-ah?” desakku untuk memastikan apa yang aku lihat ini memang nyata.

Kyuhyun mengangguk dengan pelan, “Geurae, maja—“ katanya. “Ini aku, Cho Kyuhyun”

Tubuhku bergetar, dan pada akhirnya aku tidak bisa lagi menahan air mataku yang mulai membasahi pipiku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain hanya mendorong tubuhku untuk memeluknya. Aku meraba punggungnya, masih mencoba meyakinkan aku benar-benar memeluk tubuhnya sekarang dan setelah itu aku mempererat dekapanku.

Aku tidak bisa lagi menahan emosiku. Aku terisak dan terus terisak. Aku menangis hebat tanpa pernah menjauhkan tubuhku darinya. Aku ingin mencurahkan seluruh perasaanku yang selama ini hanya bisa aku pendam padanya dengan pelukan ini. Aku bahkan sudah melupakan semua perasaan marah, kecewa, kesal, benci padanya. Karena satu-satunya perasaan yang tertinggal di dalam diriku adalah kerinduan. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku sangat merindukannya, tidak peduli apapun yang sudah terjadi diantara kami berdua. Aku hanya ingin memeluknya, seperti ini.

__

Kyuhyun POV

Aku tidak tahu bagaimana untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Rasanya seperti apa yang terjadi selama beberapa bulan yang lalu sama sekali tidak ada artinya saat aku memeluk Sooyoung dan dia membalas pelukanku. Aku melepaskan semua kerinduanku padanya melalui pelukan ini. Aku bahkan tidak ragu untuk mengecup lembut puncak kepalanya saat dia masih dalam dekapanku. Aku tahu bahwa kami sama-sama saling merindukan satu sama lain. Itulah kenapa untuk waktu yang cukup lama, kami tetap berada di posisi ini tanpa melakukan apapun selain hanya saling melepaskan kerinduan.

Bogoshipeoseo, Kyuhyun-ah” Aku mendengar Sooyoung berbicara diantara isakannya. “Bogoshipeoseo,” katanya lagi terus terisak.

Aku semakin mendekapnya, “Nado bogoshipeoseo” balasku pelan.

Lalu akupun menjauhkan tubuhku, untuk memandangi wajahnya cukup lama. Aku mengusap kedua pipinya dengan lembut yang basah karena air mata sebelum kemudian mengecup keningnya. Aku kembali memeluknya tapi tidak selama sebelumnya, dan sepertinya dia mengerti itu. Pandangan mata kami bertemu, dan aku menggeleng-gelengkan kepala untuk memintanya tidak menangis lagi sambil terus mengusap sisa air matanya.

Tanpa mengatakan apa-apa terlebih dahulu, aku mengajaknya ke tepian tebing dan duduk bersamanya. Aku tersenyum tipis saat dia menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menggenggam erat tanganku. Sepertinya pertemuanku kembali dengannya kali ini tidak akan dihiasi kata-kata apapun, karena kami hanya berbicara melalui perasaan yang entah bagaimana bisa kami mengerti satu sama lain dengan hanya saling memandang ataupun saling bersentuhan.

Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Satu hal lagi telah aku lakukan dari sekian banyak rencana di kepalaku. Meskipun sebenarnya bukan tepat seperti ini yang aku ingikan untuk menunjukkan diriku di depan Sooyoung, tapi kupikir ini sudah lebih dari cukup. Aku bahkan masih merasa tidak percaya setelah mendengar semua percakapannya dengan Ayami tadi, dan semakin tidak percaya saat merasakan semua perasaannya yang dia tunjukkan padaku.

Mianhae, Sooyoung-ah” kataku pada akhirnya setelah sangat lama hanya duduk diam bersamanya. “Mian—

Sooyoung dengan cepat menegakkan tubuhnya dan menutup mulutku dengan satu tangannya. “Aku tidak mau mendengar kata-kata itu darimu,” katanya seraya melepaskan tangannya lagi. “Akulah yang bersalah karena aku egois dan mengabaikanmu. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku benar-benar bersalah. Aku minta maaf,” lanjutnya sambil menundukkan kepala.

Aku menarik wajahnya untuk kembali menatapku. “Bukan hanya kau yang egois, Sooyoung-ah, akupun begitu” kataku. “Tapi kita tidak akan pernah berhenti menyalahkan diri sendiri, jika aku terus membalas seperti itu. Jadi, kenapa kita tidak melupakan saja apa yang sudah terjadi?” Aku melanjutkan sebelum Sooyoung memberikan tanggapan.

Sooyoung mengangguk pelan.

Aku tersenyum sambil mengusap pelan kepalanya dan membuatnya untuk kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku memang ingin melupakan apa yang sudah terjadi, dan aku harap dia juga akan melakukan hal yang sama. Karena—menurutku, apa yang terjadi saat ini, kebersamaan kami lagi seperti ini, jauh lebih penting daripada apa yang sudah terjadi.

“Kau selama ini dimana saja, Kyuhyun-ah?” tanya Sooyoung kemudian masih dalam posisi yang sama. “Apa kau tak tahu semua orang mencarimu?”

“Aku disini, di pulau ini” jawabku. “Aku memang berpikir bahwa mungkin semua orang mencariku selama aku berada di pulau ini”

“Dan dimana kau tinggal?”

Aku tersenyum tipis, “Di rumah Ayami-ssi—“

Oh?” celetuk Soyoung terlihat terkejut. “Kau tinggal di rumah Ayami-ssi? Tapi aku tidak—“ Dia tiba-tiba berhenti berbicara dan menatapku dengan lekat.

Maja, aku Min Woo” Aku menyambung perkataannya dengan cepat. “Aku Min Woo, adik ipar Ayami-ssi, Sooyoung-ah” tambahku.

Sooyoung mengerjapkan matanya beberapa kali tanpa melepaskan pandangannya dariku. Aku sempat khawatir dia akan bereaksi seperti dulu, saat aku menyembunyikan identitasku darinya tapi tidak ada yang dia lakukan. Meskipun begitu, aku melihatnya menghembuskan napas pelan beberapa kali. Seolah-olah sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Aku cukup terkejut dengan perubahannya ini, tapi tidak mengatakan apa-apa dan hanya bisa tersenyum melihatnya seperti itu.

“Lalu kenapa kau tak pernah memberi kabar?” tanya Sooyoung setelah beberapa saat. “Dan kenapa kau bisa ada di pulau ini?”

Aku tersenyum tipis, “Ceritanya akan panjang jika aku menjawab pertanyaanmu yang satu itu, dan aku tidak yakin kau ingin mendengarnya disaat kita bertemu lagi seperti ini”

Ani, aku akan mendengarkan setiap ceritamu karena aku tahu kau juga ingin mendengarkan setiap ceritaku”

Aku mengangguk kecil masih dengan senyuman di bibirku. “Aku akan menceritakannya padamu saat kita berada di tempat yang lebih nyaman. Kita akan memiliki waktu yang sangat panjang disini. Itu tidak apa-apa?

Sooyoung ikut menganggukkan kepala. “Geureom, apa kau melihatku saat itu?”

Aku berpikir sesaat, mencari tahu saat mana yang dimaksud Sooyoung itu. “Di pelabuhan?” tanyaku menebak.

Em,

“Aku melihatmu, bahkan saat pertama kali kau datang ke pulau ini. Aku juga mengikutimu kemanapun kau pergi karena aku tak bisa melepaskan perhatianku darimu,”

“Saat aku akan pulang?”

“Aku disana, di pelabuhan. Aku ingin menahanmu pergi, tapi aku terus menahan diriku untuk tidak melakukannya”

“Itulah kenapa kau langsung pergi begitu saja?”

“Tidak,”

Sooyoung kembali mendongakkan kepalanya, “Geuraesseo?

Aku diam saja karena menurutku ini belum saatnya aku memberitahunya tentang Kang Dae Shik. Hari ini aku hanya ingin menikmati waktuku bersamanya setelah lama tidak bisa melakukannya. Apa dia akan mengerti jika aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa untuk sementara?

“Itu karena aku melihat seseorang yang tidak seharusnya ada di pulau ini,” kataku pada akhirnya memutuskan untuk mengatakannya karena tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. “Aku mengejarnya begitu aku melihatnya, dan aku tidak tahu kau mengejarku saat itu”

“Kau melihat seseorang? Siapa?”

Aku menunggu untuk beberapa saat, memastikan Sooyoung memang benar-benar ingin mendengarnya sebelum kemudian berkata, “Kang Dae Shik—“

Ekspresinya—seperti yang sudah aku duga, berubah menjadi tegang. Aku juga bisa merasakan tangannya sedikit gemetar yang dengan cepat aku genggam erat. Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu bahwa dia pasti sedang mengingat apa yang terjadi padanya beberapa bulan yang lalu. Karena aku ingin menenangkannya, sebelah tanganku yang bebas dengan cepat merangkulnya, membuat tubuhnya lebih dekat lagi denganku.

Gokchongma, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi” kataku terus berusaha menenangkannya. Tangannya yang masih gemetar segera aku kecup, kemudian meletakkannya di pipiku. “Mulai sekarang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Kau tidak perlu takut apapun karena aku akan selalu bersamamu”

Sooyoung mengangguk pelan, tapi aku tahu dia masih gelisah. Dia bahkan terus menghindari tatapanku karena—mungkin, dia tidak ingin menunjukkan semua itu padaku. Karena usahaku untuk membuatnya lebih tenang dan nyaman tidak begitu berhasil, akupun melepaskan tanganku darinya lalu menarik wajahnya untuk mencium bibirnya dengan lembut.

Untuk sesaat, aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya tapi kemudian dia memejamkan mata dan mulai membalas ciumanku itu. Aku bisa merasakan tubuhnya yang lebih santai, dan lebih nyaman saat aku tidak menjauhkan bibirku dari bibirnya. Apalagi saat dia mulai mengalungkan tangannya di leherku, membiarkanku untuk meneruskan apa yang sudah aku lakukan ini. Aku benar-benar berharap ciuman ini bisa menenangkannya dan menghilangkan kekhawatirannya tentang Kang Dae Shik.

__

Sooyoung POV

Tiga hari sudah berlalu sejak aku kembali bertemu dengan Kyuhyun. Kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama setelah itu meskipun menahan diri untuk tidak sering menunjukkannya di depan Ayami. Kyuhyun juga sudah memberitahukan segalanya tentang semua yang terjadi selama lima bulan terakhir ini padaku dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirku saat dia berkata dia sempat terluka sebelum akhirnya dirawat oleh Ayami sampai sekarang. Dia juga berkata bahwa selama disini dia harus menerima nama lain dan berpura-pura hilang ingatan untuk menjauhkan masalah dari Ayami yang sudah seperti kakaknya sendiri selama di pulau ini.

Akupun sebaliknya. Aku memberitahunya semua yang terjadi padaku saat aku menjalani hal yang—menurutku, paling mengerikan yang pernah aku alami di sepanjang hidupku. Aku sudah sempat membayangkan bagaimana reaksi Kyuhyun saat aku menceritakan itu semua. Tapi aku tidak pernah menduga bahwa wajahnya terlihat menegang dan tangannya pun terkepal dengan kencang. Seakan-akan dia sedang berjuang untuk mengendalikan emosinya. Apalagi saat aku memberitahunya bagaimana aku diperlakukan selama aku ditahan oleh mereka, sebelum dan setelah mereka tahu bahwa aku memakai cincin eomma yang palsu.

Aku juga memberitahu apa yang membuatku pada akhirnya percaya semua yang dia katakan dan bagaimana aku menemukan cincin serta surat eomma yang membuatku berpikir untuk menukar cincinnya. Bahkan dimana aku menyembunyikan cincin itu, aku memberitahu segalanya padanya. Kematian Seo In Guk pun tidak luput aku beritahukan serta kondisiku lima bulan yang lalu dan apa saja yang aku lakukan saat itu. Aku dan dia benar-benar saling bertukar cerita sambil menikmati waktu-waktu yang kami lewati dalam hubungan kami di pulau ini. Karena biar bagaimanapun, aku dan Kyuhyun tidak benar-benar berpisah bahkan saat kami bertengkar dulu.

Lalu tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiranku saat pertama kali aku bertemu dengannya di tebing itu dan apa yang kami lakukan disana. Kupikir apa yang aku rasakan saat itu adalah sesuatu yang luar biasa yang pernah ada. Karena semua perasaan yang ada di dunia ini seperti bercampur menjadi satu dan memenuhi diriku. Tanpa aku sadari, senyumku mengembang.

“Sooyoung-ssi,” Panggilan itu terdengar, dan dengan cepat aku menyadarkan diriku untuk menolehkan kepala ke asal suara itu. Aku tersenyum pada Ayami yang datang menghampiriku dan memberikan satu botol minuman untukku. “Min Woo-san memintaku untuk memberikan ini padamu saat aku berpapasan dengannya di penampungan ikan” katanya kemudian.

Aku tersenyum tipis seraya mengambil botol minuman itu dari tangannya, “Gomawoyo, Ayami-ssi” kataku. “Apa dia masih bekerja disana?”

Ayami mengangguk. “Itulah kenapa dia tidak bisa menyambut temanmu,” katanya. Dia menolehkan kepala ke arah pelabuhan, “Omong-omong, kapalnya belum terlihat?”

“Belum. Mungkin sebentar lagi,”

“Kau sudah memberitahunya untuk membawa dokumen-dokumenmu?”

Em. Aku juga memintanya untuk membawa dokumen milik Kyu—ani, maksudku Min Woo” jawabku. “Kami sudah membicarakan ini sebelumnya, dan dia setuju untuk kembali ke Seoul bersamaku nanti”

“Itu bagus,” komentar Ayami tanpa menatapku. “Sudah seharusnya Min Woo kembali ke Seoul dan menjalani hidupnya seperti dulu. Bersamamu,”

“Min Woo memintaku untuk berbicara padamu dan mengajakmu untuk ikut juga ke Seoul,” kataku memberitahu apa yang sudah aku bicarakan dengan Kyuhyun sebelum aku menghubungi Yoona dan memintanya untuk datang hari ini. “Katanya dia tidak bisa meninggalkanmu disini saat kalian sedang merencanakan—“ Aku memilih untuk tidak melanjutkan perkataanku, tapi itu berhasil membuat Ayami menolehkan kepalanya ke arahku.

Arrayo?

Aku mengangguk pelan meskipun aku tidak tahu apa yang dia maksud. Apa ada rahasia lain tentangnya yang tidak diberitahukan Kyuhyun padaku? Aku memang tahu mereka sedang berencana untuk menangkap Kang Dae Shik dan orang-orangnya di pulau ini. Tapi aku masih tidak mengerti alasan apa yang membuat Ayami melakukannya karena aku ragu itu hanya untuk membantu Kyuhyun semata. Apa memang sebenarnya ada rahasia lain yang dimiliki Ayami dan karena Kyuhyun tidak mengetahuinya jadi dia tidak memberitahuku?

Pembicaraan kami untuk sesaat terhenti kapal yang pernah aku naiki untuk datang ke pulau ini terlihat dan kemudian mulai menepi di pelabuhan. Tidak lama setelah itu, tangga kapal pun di turunkan dan beberapa orang mulai keluar. Aku tidak perlu lama mencari Yoona diantara orang-orang itu karena dengan cepat aku menemukannya dengan Jinyoung di belakangnya. Untuk sesaat aku cukup terkejut melihat namja itu ikut datang bersama Yoona karena kupikir hanya yeoja itu saja yang datang. Siapa yang tahu Jinyoung akan ikut lagi ke pulau ini?

“Sooyoung-ah!” Teriakan Yoona sudah terdengar memenuhi telingaku. Lalu saat sosoknya muncul di hadapanku, dia segera menarikku ke dalam pelukannya. “Aigoo, dahaengida. Aku benar-benar merasa lega setelah melihatmu sendiri seperti ini setelah hanya berbicara denganmu”

Aku tersenyum sambil membalas pelukanku, lalu segera melepaskannya. “Aku senang bertemu denganmu lagi, Yoona-ya” kataku. Pandanganku beralih pada Jinyoung sedang memandangiku dengan lekat. “Annyeonghaseyo, Jinyoung-ssi” sapaku kemudian.

Annyeonghaseyo, Sooyoung-ssi. Jal jinaesseoyo?

Ne, jal jinaesseoyo” jawabku sambil menganggukkan kepala. “Aku tidak tahu kau akan ikut ke sini lagi,”

“Bagaimana mungkin aku tidak ikut?” sahutnya dengan cepat. “Aku tidak ingin melewatkanmu—ani, maksudku… aku tidak ingin melewatkan melihat pemandangan pulau ini yang indah. Majayo, Yoona-ya?”

Yoona hanya mengangkat bahunya untuk menjawab itu. Lalu perhatiannya teralih pada Ayami yang sedang memperhatikan keduanya. “Kau pasti Ayami-ssi, ‘kan?” celetuknya yang langsung ditanggapi anggukkan kepala yeoja itu. “Senang bertemu denganmu, Ayami-ssi. Aku Im Yoona, dan dia Kim Jinyoung”

“Senang bertemu denganmu juga,”

Heol! Bahasamu bagus,” seru Yoona terlihat terkejut dengan aksen sempurna Ayami. Dia berdehem pelan sambil menatapku sesaat, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Ayami. “Sebagai sahabat Sooyoung, aku perlu berterima kasih padamu, Ayami-ssi karena kau sudah membantunya selama dia disini. Dan aku dengar dari Sooyoung bahwa kau juga membantu Kyuhyun-ssi—“

“Min Woo,” sahutku dengan cepat.

Mwo? Min Woo?”

“Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi kau perlu memanggilnya Min Woo disini,”

“Sooyoung-ssi benar. Tidak ada yang tahu nama itu disini karena dia hanya dikenal dengan Min Woo,” Ayami menyambung perkataanku. “Aku terpaksa memberinya nama baru karena saat aku bertemu dengannya, aku tidak bisa bertanya padanya mengenai identitasnya”

Yoona terlihat bingung untuk sesaat, tapi kemudian dia menganggukkan kepala. “Yah, benar, hmm—Min Woo-ssi,” katanya. “Aku akan mengingat itu, kalau begitu”

“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” celetukku, menyadari ada Jinyoung—yang tidak tahu apa-apa, yang sedang mendengarkan. “Aku dan Ayami-ssi sudah menyiapkan kamarnya. Tapi hmm—mungkin, Jinyoung-ssi akan satu kamar dengan Min Woo”

“Siapa yang satu kamar denganku?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, dan Kyuhyun ada disana. Kami semua menoleh ke arahnya yang sedang tersenyum ke arahku sebelum mengalihkan perhatiannya pada yang lainnya. “Yoona-ssi, jal jinaesseoyo?

Omo… omo… omo…” kata Yoona terpana melihat Kyuhyun. “Itu benar-benar kau, Kyu—ah, maksudku Min Woo-ssi

Orenmanieyo, geujyeo?

Yoona mengangguk, “Ne, oremanieyo” sahutnya masih terlihat terkejut. “Aigoo… rasanya aku masih tidak percaya aku melihatmu lagi setelah lima bulan berlalu. Aku berpikir kau sudah—“ Yoona menghentikan kata-katanya dengan cepat.

“Aku baik-baik saja,” kata Kyuhyun seakan mengerti apa yang ingin dikatakan Yoona tadi. “Aku mengerti jika kau berpikir seperti itu, dan mungkin orang-orang lainnya juga. Tapi kondisiku membuatku tidak bisa kembali ke Seoul untuk sementara waktu, jadi yah—aku disini sekarang”

Yoona kembali menganggukkan kepala, tapi kali ini terlihat canggung.

Aku melirik Jinyoung sesaat, berdehem pelan. “Jinyoung-ssi, aku belum mengenalkanmu pada mereka ‘kan?” celetukku berusaha mengalihkan pembicaraan. “Nah, ini adalah Ayami Takeda. Lalu ini adalah Cho Kyuhyun. Dia adalah—“

Namjachingu-nya” Kyuhyun menyahut perkataanku sambil mengalungkan tangannya di sekitar bahuku. Lalu diapun mengulurkan tangan ke arah Jinyoung, yang langsung disambut oleh namja itu. “Senang bertemu denganmu, Jinyoung-ssi

“Senang bertemu denganmu juga, Kyuhyun-ssi” katanya. “Ah, aku juga harus memanggilmu dengan Min Woo juga ‘kan?” tambahnya kemudian tanpa melepaskan pandangannya dari Kyuhyun.

Meskipun tidak ada yang mereka katakan untuk selanjutnya, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang menegangkan diantara mereka. Sepertinya itu juga tidak hanya dirasakan olehku karena Yoona pun terlihat tidak nyaman dan bahkan dengan cepat menarik Jinyoung menjauh.

“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” kata yeoja itu sambil terus memegangi Jinyoung. “Kajja, Sooyoung-ah, Ayami-ssi” ajaknya.

Aku mengangguk.

“Biar aku bantu membawanya,” Kyuhyun mengulurkan tangannya ke arah Yoona, memintanya untuk menyerahkan tasnya. “Kajja,”

Tapi sebelum kami melangkahkan kaki, Yoona menarik lenganku dan memintaku untuk berjalan di belakang. Aku sempat melihat Kyuhyun yang menatap ke arahku dan akan menghampiriku tapi aku mencegahnya dengan anggukkan kepalaku. Meskipun dia terlihat tidak senang—ini untuk pertama kalinya aku melihatnya tidak senang di pulau ini, tapi pada akhirnya dia memilih untuk bergabung dengan Ayami dan Jinyoung yang sudah mengobrol sambil melangkahkan kaki meninggalkan pelabuhan.

Mwoya igeo?” protesku pada Yoona setelah itu. “Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?”

Eo, ini tentang Jinyoung” katanya menjawab. “Kau pasti tahu alasan kenapa dia memaksa ikut datang ke pulau ini saat dia tahu aku akan menjemputmu”

Aku mengangkat kedua bahu, “Aku tidak tahu—“

“Dia menyukaimu, Sooyoung-ah

Mwo?”

Yoona menghela napas singkat dan kembali berbicara. “Aku tidak bermaksud begitu, sungguh. Aku tidak pernah bermaksud untuk dia menyukaimu atau apapun. Aku hanya ingin kau memiliki teman bicara selain aku setelah kau lebih banyak diam. Dia setuju melakukannya karena diapun membutuhkan teman bicara setelah dia kehilangan yeojachingu-nya. Tapi siapa yang menyangka jika dia memiliki perasaan padamu?”

Aku diam sesaat, tidak tahu harus memberikan tanggapan apa kali ini. Pandangan mataku mengarah pada Jinyoung yang berjalan di depanku bersama Kyuhyun dan Ayami, dan entah kenapa aku bisa merasakan sesuatu yang tidak nyaman yang akan terjadi. Meskipun begitu, aku tidak mungkin tidak memberitahukan ini pada Kyuhyun tentang Jinyoung agar dia tidak salahpaham denganku. Karena biar bagaimanapun, Jinyoung-lah yang selama ini menemaniku saat aku kehilangannya meskipun tidak ada perasaan spesial yang aku rasakan pada namja itu.

“Aku tahu kau tidak akan menerima perasaannya, Sooyoung-ah dan aku juga sudah memberitahunya belum lama ini bahwa kau memiliki namjachingu. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkanku,” Yoona kembali melanjutkan. “Itulah kenapa kau melihatnya datang bersamaku sekarang. Kau tidak marah padaku atau bagaimana, ‘kan?”

Aku tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. “Kenapa aku marah padamu?” kataku. “Perasaan suka dan tidak suka itu hak semua orang, ‘kan? Aku akan menganggap perasaan Jinyoung padaku itu sebagai pelarian karena—katamu, dia baru saja kehilangan yeojachingu-nya. Tapi dengan kau memberitahukan ini padaku, membuatku harus bisa sedikit menjaga jarak darinya karena aku tidak mau jika sampai aku memiliki kesalahpahaman dengan Kyuhyun”

“Aku mengerti,” jawab Yoona. “Mianhae, Sooyoung-ah

Gwenchana, tidak usah dipikirkan” sahutku sambil mengalungkan tanganku di sekitar lengan Yoona. “Aku justru berterima kasih padamu karena kau masih memperhatikanku seperti itu. Jadi, sebaiknya kau tidak perlu memikirkan apapun tentang itu”

Yoona terlihat ragu untuk sesaat, tapi kemudian dia menganggukkan kepala. “Bagaimana dengan Ayami-ssi?” tanyanya setelah beberapa saat.

“Ayami-ssi?

Eo. Apa dia masih single atau—“

“Dia sudah menikah,” jawabku dengan cepat. “Tapi suaminya sudah meninggal dua tahun lalu, dan—“ Aku melihat ekspresi aneh di wajah Yoona, jadi cepat-cepat aku menambahkan. “—dan kau tidak perlu berpikir yang tidak-tidak tentang Ayami-ssi dan Kyuhyun. Mereka tidak ada hubungan apapun meskipun sudah lima bulan mereka tinggal satu rumah,”

Mwo? Satu rumah?”

“Kau akan lihat nanti,” kataku memilih untuk tidak menjelaskan ini. “Tapi aku bersungguh-sungguh saat mengatakan untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak tentang mereka berdua” Aku menambahkan karena memang itu yang aku tahu diantara Kyuhyun dan Ayami. Bahkan mereka berdua sudah berbicara padaku mengenai hal itu meskipun aku tidak bertanya.

“Bagaimana kau bisa—“

“Ada sesuatu yang sedang mereka lakukan bersama. Itu saja,” kataku menyela perkataan Yoona yang belum selesai itu. “Kali ini tidak ada yang dia sembunyikan dariku, Yoona-ya. Dia memberitahuku segalanya. Tapi jika seandainya pun dia menyembunyikan sesuatu dariku, itu tidak apa-apa. Karena aku yakin dia akan memberitahuku saat waktunya sudah tepat”

“Aku mengerti,” komentar Yoona dengan nada bicara yang berbeda. “Tapi omong-omong… bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun baik-baik saja sekarang? Melihat kalian bersama-sama, rasanya seperti tidak pernah ada apapun diantara kalian. Tidak ada apapun yang terjadi selama kalian disini, ‘kan?”

“Apa maksudmu tidak terjadi apapun? Tentu saja ada yang terjadi,” sahutku dengan cepat. “Lagipula kami sudah saling memaafkan, dan melupakan semua yang terjadi. Lalu kami memulai kembali semuanya dari awal dengan tidak melihat masa lalu”

Yoona menatapku dengan lekat, lalu diapun menganggukkan kepala. “Baiklah. Itu bagus,” katanya kemudian. “Aku senang mendengarnya. Kau ingat, ‘kan? Aku bahagia selama kau bahagia,“

Aku menanggapi itu hanya dengan anggukkan kepala singkat sebelum kemudian mengajaknya untuk bergegas menyusul Kyuhyun, Ayami dan Jinyoung yang sudah memasuki halaman rumah.

__

Kyuhyun POV

Aku membuka mata karena cahaya matahari menyinari wajahku. Seketika aku bangun dan duduk di atas pasir putih dan sedikit terkejut mendapati Sooyoung sedang duduk disampingku sambil menatap lurus ke arah Ayami, Yoona, Naomi dan Jinyoung yang sedang bermain-main di pinggiran pantai. Untuk sesaat aku hanya memandanginya sambil memeluk lututku, lalu memiringkan kepala dengan menyandarkannya di atas tangan. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan aku sama sekali tidak berniat untuk mengganggunya atau membuyarkan apapun yang sedang dia pikirkan.

Aku tetap diam di posisiku dan berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun. Senyumku mengembang lebar saat aku kembali bisa memandangi wajahnya denagn puas seperti ini. Aku tidak tahu ini untuk ke berapa kalinya aku terpesona dengan wajahnya sampai membuat jantungku berdegup kencang setiap kali aku memandanginya. Aku juga tidak tahu ini untuk ke berapa kalinya aku menikmati waktuku bersamanya meskipun kami hanya duduk diam seperti ini dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku terus tersenyum tanpa pernah mengubah posisiku. Tapi kemudian, dia menolehkan kepala ke arahku dan aku bisa melihatnya terperanjat meskipun dia bisa mengendalikannya dengan cepat. Kami saling berpandangan, bahkan dia sampai menyandarkan dagunya lalu memiringkan kepalanya—hampir persis seperti apa yang aku lakukan. Dia tidak melepaskan pandangannya dariku setelah itu dan kemudian senyumnya pun mengembang.

Mwohae?” tanyanya masih terus menatapku lekat.

Neo mwohae?” Aku balas bertanya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Sooyoung diam sesaat, tapi kemudian diapun menjawab. “Banyak hal,”

Aku mengubah sedikit posisiku, lalu mengangkat tanganku untuk mengusap kepalanya dengan lembut. “Aku tahu ada banyak hal yang sedang kau pikirkan. Jadi katakan padaku, apa itu?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak akan mengatakannya padamu—“

Wae?

“Karena aku tidak mau kau juga memikirkannya. Aku tahu sudah ada banyak sekali yang kau pikirkan, jadi aku tidak mau menambahkannya” jawab Sooyoung langsung. “Tapi jika kau memang ingin tahu, aku sedang memikirkan Jinyoung-ssi” lanjutnya.

Satu alisku terangkat, “Jinyoung-ssi?

“Aku sudah memberitahumu semua hal tentang dia, dan meskipun kau percaya padaku tapi aku masih merasa tidak nyaman. Dia sepupu Yoona, dan aku khawatir jika aku mungkin melukainya”

“Siapa? Yoona­-ssi? Atau Jinyoung-ssi?

“Keduanya,”

Aku mendesah pelan, lalu menegakkan kepalaku pada akhirnya dan Sooyoung pun melakukan hal yang sama. Tanpa mengatakan apa-apa terlebih dahulu, aku meraih tangannya lalu menggenggamnya dengan erat.

“Aku yakin Yoona-ssi tidak akan merasa terluka atau bagaimana,” kataku mulai memberikan tanggapan. “Dia memberitahumu tentang Jinyoung-ssi, dan dia tidak pernah bermaksud untuk membuatnya tertarik padamu ataupun sebaliknya. Aku juga tidak akan menyalahkanmu jika kau dekat dengannya atau orang lain—“

“Kau tidak cemburu atau kesal saat pertama kali aku memberitahumu tentang Jinyoung-ssi dan perasaannya padaku” Sooyoung menyela perkataanku dengan cepat. “Apa kau tidak memiliki perasaan cemburu?”

“Tentu saja aku cemburu,” jawabku sambil menepuk-nepuk pelan tangannya yang tergenggam erat di tanganku. “Aku bahkan cemburu saat pertama kali melihatmu bersamanya. Tapi kemudian aku tahu, bahwa perasaanmu itu hanya untukku. Aku benar, ‘kan?”

Aigoo… kau benar-benar percaya diri,” komentarnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Aku tertawa pelan, “Geureom… apa kau pernah cemburu padaku?”

Oh? Cemburu padamu dengan siapa? Ayami-ssi?”

Aku mengangkat kedua bahuku tanpa mengatakan apa-apa.

Jokkeum,” celetuk Sooyoung sambil menggerakkan tangannya. “Aku sedikit cemburu jika kau hanya berbicara dengan Ayami-ssi tanpa mengajakku meskipun aku tahu kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius,”

“Kau cemburu karena aku berbicara pada Ayami-ssi atau karena aku tidak mengajakmu?”

“Menurutmu sendiri?”

Geurissae…” sahutku dengan cepat. “Keduanya?” Aku menebak.

Sooyoung tertawa kecil tanpa mengatakan apa-apa selain hanya anggukkan kepala.

Selanjutnya, kami sama-sama diam sambil menikmati pemandangan laut dan juga menatap ke arah teman-teman kami yang masih menikmati waktu mereka sendiri. Aku menyunggingkan senyum saat yeojachingu-ku ini menyandarkan kepalanya di pundakku. Saat aku memeriksanya, dia sedang memejamkan matanya menikmati suasana di pantai ini.

“Apa kau mengijinkanku jika aku ingin bicara dengan Jinyoung-ssi?” tanyaku saat melihat Jinyoung memisahkan diri.

Sooyoung langsung menegakkan kepala dan menatapku dengan lekat. “Mwo?

“Hanya berbicara padanya saja, bukan menantangnya untuk berkelahi. Jadi kau tidak perlu menatapku seperti itu” kataku lagi, bergurau. “Jadi, apa kau mengijinkannya?”

“Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?”

Emm—mungkin tentang kenapa dia menyukaimu. Yah—hal-hal seperti itu,”

Mwo? Kenapa kau—“

Aku bangkit berdiri yang langsung membuat Sooyoung berhenti berbicara dan mengikutiku berdiri. “Hanya pembicaraan sesama pria,” kataku. “Jadi, sementara aku berbicara dengannya, kau bermainlah dengan mereka. Eotte?

Untuk sesaat, Sooyoung tidak memberikan tanggapan. Tapi kemudian, dia mendesah panjang dan menganggukkan kepalanya. Aku mengulas senyum, lalu mengusap pelan kepalanya sebelum pergi untuk bergabung dengan Jinyoung yang sedang duduk di atas pasir putih sambil menatap lurus ke arah laut. Meskipun begitu, dia menyadari kedatanganku karena pandangannya seketika beralih ke arahku sampai akhirnya aku duduk disampingnya.

Aku menyunggingkan segaris senyum tipis ke arahnya, yang dia balas hanya dengan sebuah anggukkan singkat. “Apa aku mengganggumu disini?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan.

“Tidak,” jawab Jinyoung. “Meskipun aku tidak tahu kenapa kau lebih memilih menghampiriku daripada menghabiskan waktumu dengan yeojachingu-mu” katanya seraya menolehkan kepala dan memandang jauh ke arah Sooyoung yang sedang bersama Naomi.

Aku menatap ke arah yang sama, “Aku bisa melakukannya lain kali karena akan ada banyak waktu yang bisa aku habiskan bersamanya”

Jinyoung tidak memberikan tanggapan apapun kali ini, hanya sebuah dengusan kecil. Diapun masih menatap Sooyoung tapi aku sama sekali tidak melihat ekspresi apapun di wajahnya, sangat berbeda dari yang aku ingat saat pertama kali aku melihatnya bersama yeojachingu-ku di pulau ini. Sikapnya juga sedikit dingin padaku—yang bisa aku maklumi, meskipun kami sudah tinggal dalam satu kamar selama beberapa hari ini sejak dia datang lagi ke sini.

“Omong-omong, aku tahu kau menyukai yeojachingu-ku” ucapku berusaha untuk terus bicara dengannya karena jika suasananya hening maka rasanya akan sangat canggung.

Jinyoung menoleh ke arahku, dan menatapku lekat dengan wajahnya yang sedikit tegang. Meskipun begitu, aku akan tetap menanggapinya dengan tenang karena jujur, aku memang tidak pernah bermaksud untuk bersitegang dengannya. Lagipula apa yang harus dipertengkarkan? Sooyoung milikku, dan akan selamanya menjadi milikku.

“Menurutmu bagaimana dia?” tanyaku kemudian. “Sooyoung maksudku… jika kau bertanya padaku siapa yang aku maksud”

“Penuh rahasia,” Kali ini Jinyoung langsung menjawab dan kali ini juga aku yang menatapnya dengan lekat. “Dia adalah yeoja yang memiliki paling banyak rahasia yang pernah aku kenal”

Aku mengangkat satu alisku mendengar itu, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Kau tahu, aku harus mencari tahu sendiri semua hal tentangnya meskipun sepupuku adalah sahabatnya. Tapi, seperti yang kau juga tahu—“ Dia mengambil jeda sesaat, lalu melanjutkan. “—untuk mencari tahu itu tidak semudah yang dikatakan. Untuk pertamanya, aku menahan keinginan untuk melakukan sesuatu untuk yeoja yang menarik perhatianku”

“Jadi, apa itu yang membuatmu tertarik padanya? Karena dia memiliki banyak rahasia dan kau kesulitan untuk mencari tahu, jadi kau tertarik padanya?”

Amado,” jawab Jinyoung. “Dia juga satu-satunya yeoja yang berhasil membuatku kembali ke diriku yang lama meskipun aku belum lama mengenalnya”

Aku tersenyum, mendengar bagaimana yeojachingu-ku di mata orang lain. Sooyoung memang memiliki pesona tersendiri, aku tahu. Dan sepertinya bukan hanya aku yang merasa seperti itu, karena orang lain pun merasakannya.

“Kau sendiri?” celetuk Jinyoung dengan tiba-tiba. “Apa yang membuatmu tertarik padanya?” tanyanya.

Geurissae…” kataku sambil memikirkan satu jawaban. “Em—mungkin karena aku ingin melindunginya, aku tertarik padanya. Dan karena aku tertarik padanya, aku ingin melindunginya”

“Aku tidak mengerti—“

“Aku ingin melindunginya karena aku tidak mau kehilangannya seperti aku kehilangan orang tuaku, Jinyoung-ssi” kataku. “Dia tidak hanya putri dari seseorang yang sudah seperti ayahku, tapi dia juga seseorang yang sangat berharga bagiku”

“Jadi apa yang membuatmu tertarik adalah karena kau ingin melindunginya?”

Aku mengangguk, “Bisa dikatakan begitu” kataku. “Aku bahkan tidak tahu bahwa rasa ingin melindungi bisa menjadi daya tarik tersendiri,”

“Kalau begitu, kenapa kau meninggalkannya selama lima bulan?”

Aku diam dan berpikir bagaimana untuk memberitahukan ini pada Jinyoung. Karena itu sama saja aku memberitahunya tentang misiku, cincin BAST, mafia-mafia itu dan hal-hal yang berhubungan lainnya. Satu-satunya orang—masyarakat biasa, yang tahu diluar dari semua yang terlibat itu adalah Yoona—karena aku membutuhkannya saat itu, dan aku tidak akan memberitahu siapapun lagi.

Onii-san! Onii-san!” Panggilan Naomi tiba-tiba terdengar diikuti sosoknya yang berlari ke arahku dengan ekspresi sedikit ketakutan. “Onii-san, Sooyoung onee-sanOnee-san… Di kejar seseorang! Ada orang yang mengejar onee-san!

Mwo?” celetukku terkejut sambil bangkit berdiri. “Dimana? Apa yang terjadi?”

“Aku… aku sedang membeli sesuatu dengan onee-san di dekat pelabuhan. Lalu… tiba-tiba saja ada orang yang datang, dan—dan onee-san menyuruhku untuk lari dan memberitahumu” Naomi memberitahuku dengan napasnya yang tersenggal dan ekspresi yang sama. “Aku—aku melihat onee-san berlari dan orang itu mengejarnya. Aku sangat takut onii-san,”

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku mendengar perkataan Naomi ini. Tanpa memikirkannya lebih lama, aku tahu siapa yang mengejar Sooyoung. Itu pasti Kang Dae Shik! Aku benar-benar tidak bisa diam saja! Aku harus mengejar Sooyoung dan melindunginya dari namja itu karena aku takut dia akan melakukan sesuatu pada Sooyoung—yang sama sekali tidak aku inginkan.

“Kemana dia lari?” tanyaku pada Naomi, berusaha untuk tidak menunjukkan kepanikanku meskipun aku sangat khawatir tentang apa yang terjadi pada Sooyoung jika aku tidak segera menyusulnya.

“Ke tebing kerinduan, onii-san! Aku melihatnya berlari menuju ke—“

Tanpa menunggu Naomi menyelesaikan kalimatnya, bergegas aku pergi meninggalkan pantai. Aku berlari secepat yang aku bisa untuk mengejar Sooyoung, mencegah Kang Dae Shik melukainya. Aku benar-benar berharap Sooyoung bisa melarikan diri atau—setidaknya, melakukan pertahanan diri yang dulu pernah aku ajarkan sampai aku berhasil menyusulnya dan melindunginya.

Sooyoung-ah, gidaryeo…

-TBC-

Semoga aku bisa selesaiin FF ini yah -____-

Jangan lupa komentarnya ^^

Gomawo!

Advertisements

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

10 thoughts on “[Series] The Precious Thing -13-

  1. Sedih banget kenapa ff yg ini ga dilanjut lagi😭😭
    Kayanya ini komentar gue yg ketiga di part ini..
    Ayolah semangat!!

  2. @soocyoung The precious thing kapan dilanjut lagi, udah hampir sebulan ga pernah dilanjut.. biasanya post seminggu sekali
    Ayooo semangat melanjutkan 🙋🙋🙌🙌

  3. Akhirnya Ada moment Kyuyoung jga.
    Gk sia² Kyuhyun berTVahmman akhirnya bsa blik lgi sm Sooyoung .
    Wah Soo d kejar² sma Kang Dae Shik ya???

  4. Annyeong….😄
    Wooaaahhh…… akhirnya bersatu juga nih Kyuyoung…
    Moment yang aku suka saat pertemuan kembali setelah semua peristiwa… dan saling bertanya apakah saling cemburu… yaoloh itu…. cute banget….
    Selalu nih ada yg bikin penasaran saat tbc uuuu itu Soo semoga Kyu gak terlsmbat ya…
    Part berikutnya juseyo…
    Gomawo

  5. Akhirnyaa kyuyoung bersamaa 😆😆😆
    Hmm tapi perjalanan masih panjang
    Ditunggu kelanjutannya~

  6. Akhirnya kyuyoung bersatu kembali setelah sekian lama.. cobaan lagi2 datang menghadang 😤
    Semoga Jinyoung suka sma Soo beneran suka, dalam arti gaada maksud lain kaya SEO in guk..
    Siapa yg ngejar Soo, kang Dae Shik kah?? Semoga Soo secepatnya terselamatkan 😓

  7. Seneng deh kyuyoung bisa bersatu lagi, tapi kenapa masih banyak aja cobaannya,, srmoga kyu bisa nyelamatin soo,,, jangan lama ya kak update nya penasaran banget soalnya

  8. wahh senengnya hubungan kyuyoung sudah membaik dan harmonis jeongmal eoni daebak next di tunggu takut ad apa2 sama sooeoni smoga kyuppa bsa menyelamatkannya sblum apa2 terjadi padany next part di tunggu eoni jgn lama2 ne

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s