Posted in Action, Friendship, Romance

[Series] The Precious Thing -16-

the-precious-thing

Title           : The Precious Thing

Genre         : Action, Romance

PG             : 16+

Length        : on writing

Main Cast    :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast  :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author         :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe…

Dan, sekali lagi semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

Happy reading!

 

Sooyoung POV

Aku tidak percaya.

Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin Ayami adalah seorang anggota dari Black Dragon? Dan bukankah Black Dragon itu—

Aku tidak percaya.

Tapi, bukankah semua hal tentang Ayami memang aneh sejak awal? Dia bukan yeoja biasa, aku tahu itu. Kemampuannya memang luar biasa saat dia masih tinggal di Tsushima-do. Dia tahu banyak hal dan bisa melakukan banyak hal, juga. Dia menyimpan rahasia—aku juga tahu itu, tapi aku sama sekali tidak menyangka jika rahasianya itu adalah bahwa dia menjadi bagian dari orang-orang yang membunuh kedua orang tuaku dan orang tua Kyuhyun. Dia adalah bagian dari orang-orang yang sudah menyakitiku, membuatku tidak tenang dan bahkan beberapa kali mencoba membunuhku.

Aku menghela napas panjang beberapa kali, berusaha untuk menenangkan diriku sendiri meskipun aku tahu itu sulit. Aku selalu tak mengerti kenapa disaat aku mulai memberikan kepecayaanku pada seseorang, sebaliknya hal-hal buruk selalu terjadi dan merusak kepercayaan yang sudah aku berikan itu?

Mwoanya?” seruan itu tiba-tiba terdengar dari sampingku. Aku menolehkan kepala dan melihat Yoona berdiri disana dengan keadaannya yang sudah membaik. “Kita akan menunggu Kyuhyun-ssi terlebih dahulu atau—”

“Dia tak tahu apapun yang terjadi,” sahutku dengan cepat.

Mwo? Jinjja? Kau tak memberitahunya?”

Aku mengangguk.

Ya! Aku hampir saja mati dan kau tidak memberitahu orang yang bertanggung jawab menyingkirkan orang-orang itu?” seru Yoona sedikit menaikkan suaranya. Beberapa orang di dekat kami bahkan sampai menolehkan kepala ke arah kami dan kemudian mulai berbisik satu sama lain.

Aku bangkit dari kursiku, lalu tanpa pikir panjang menarik tangan Yoona dan mengajaknya keluar dari kafe. Dia sama sekali tidak melawan dan mengikuti sampai ke sebuah tempat dimana sangat jarang orang berlalu-lalang di sekitar kami. Temanku ini menatapku dengan tajam sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Melihat dari sikap dan cara memandangnya ini, aku tahu bahwa dia sedang meminta penjelasanku.

Aku kembali menghela napas, “Mianhae. Bukannya aku mengesampingkan keselamatanmu, tapi ada sesuatu yang membuatku enggan untuk memberitahu Kyuhyun oppa apa yang baru saja terjadi”

“Sesuatu? Apa?”

“Aku tak tahu apa aku harus memberitahumu terlebih dahulu, atau mengkonfirmasinya terlebih dahulu,” kataku jujur, “Tapi kau selalu tahu, cepat atau lambat, aku pasti akan memberitahumu”

Yoona menatapku dengan lekat. “Apa itu sesuatu yang penting?”

Aku mengganggukkan kepala sebagai jawabannya.

“Itu berhubungan dengan apa yang baru saja terjadi?”

Eo,” jawabku, “Lagipula aku sudah memberitahumu, ‘kan? Mereka hanya menggunakanmu untuk membuatku datang. Itu saja. Mereka tidak berencana untuk menyakitimu ataupun aku saat ini”

Yoona berpikir sesaat, lalu diapun berbicara. “Tapi… Bukankah itu aneh? Kenapa tiba-tiba mereka menjadi lembut seperti itu?”

“Itu bagus, ‘kan?” sahutku memilih untuk tidak memberitahu Yoona apa yang sebenarnya terjadi. “Kau tak tahu bagaimana takut dan khawatirnya aku saat tahu apa yang terjadi padamu. Aku bahkan sempat berpikir kau—” Aku menghentikan kata-kataku dengan cepat sambil menggelengkan kepalaku. “Apapun itu… aku bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada kita berdua”

Hagin…” kata Yoona sudah mengubah sikapnya. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Kita pulang sekarang? Aku takut mereka masih di sekitar sini dan berubah pikiran tentang menjadi baik pada kita”

Geurae?” sahutku cepat. Meskipun begitu, bukan itu yang sedang aku pikirkan sekarang. “Kajja, geureom

Yoona mengangguk singkat, lalu mengajakku kembali menyusuri jalan menuju ke jalan yang lebih besar untuk mencari taksi yang bisa kami naiki.

**

Begitu sampai di depan rumahku, aku tidak langsung masuk ke dalamnya. Aku sempat berdiri di depan gerbang beberapa saat dan melihat orang-orang yang berjaga mengawasi rumahku dari sudut mataku. Tidak ada dari mereka yang tahu bahwa sebenarnya ada anggota dari Black Dragon ada di dalam rumahku. Haruskah aku memberitahu mereka?

Aku memejamkan mata dan berpikir. Setidaknya aku harus tahu dan mendengar sendiri dari mulut Ayami, ‘kan? Apa penjelasannya dan kenapa dia merahasiakan ini dan untuk apa dia melakukannya? Apa dia juga mengincar cincin BAST ini dan akan membunuhku kemudian setelah dia mendapatkannya? Atau apa ada sesuatu yang lain yang dia rencanakan? Aku benar-benar harus tahu itu, tidak peduli apapun.

Aku mendesah lalu memutuskan untuk melangkah masuk ke halaman rumahku. Langkahku lebar, dan aku tidak menunggu apapun untuk mencari Ayami. Tempat pertama yang aku tuju adalah kamarnya—yang ternyata kosong, lalu aku pergi ke sekitar rumah. Setelah beberapa saat berkeliling, pada akhirnya aku menemukannya sedang duduk sendirian di taman kecil di bekakang rumahki. Untuk sesaat aku hanya diam di tempatku dan menatapnya. Tapi kemudian pandanganku jatuh ke sebuah pisau di atas meja tak jauh dari pintu. Aku mengambilnya sebelum melangkah menghampiri yeoja itu.

Seperti menyadari kedatanganku, Ayami menolehkan kepalanya dan berdiri dari bangku taman untuk menyambutku. Senyum lebar terlihat jelas tersungging di wajahnya, tapi aku tidak membalasnya. Pandanganku tajam, tegas. Langkahku mantap. Aku tidak boleh takut, meskipun apa yang ada di hadapanku itu seseorang yang mungkin berbahaya. Tidak ada pilihan bagiku untuk menghadapinya, ‘kan?

“Sooyoung-ah, aku tak tahu kau sudah pulang” katanya saat aku semakin dekat ke arahnya, Aku mencengkram erat pegangan pisau di balik punggungku dan memantapkan diriku sendiri untuk apa yang akan aku lakukan. “Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada—”

Tanpa ragu dan dengan gerakan cepat, aku mengacungkan pisauku ke arahnya. “Gojimal,” gumamku.

“Soyoung-ah, w—waegeurae?” seru Ayami terkejut. Pandangannya beralih dariku, ke arah pisau, lalu kembali lagi padaku. “Apa yang terjadi? Kenapa kau mengarahkan pisau ke arahku?”

Marhae..”  kataku, tak terpengaruh dengannya. “Neo… nuguya?

“Sooyoung-ah,”

Nuguya neo?!”

Ayami tersentak dengan suara keras dan tegasku. Dia menatapku dengan lekat. Memperhatikan wajahku dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku sama sekali tidak menurunkan pisauku. Selain untuk berjaga-jaga, itu juga sebagai bentuk dari ancaman yang aku lakukan. Aku juga tidak mau terlihat lemah meskipun pada akhirnya aku akan kalah karena tidak sebanding dengan lawanku.

Neo.. arra?” kata Ayami sedikit ragu.

Wae? Kau akan menyangkal bahkan jika aku tidak tahu apapun?” sahutku menantangnya. Apa kau akan terus menyembunyikannya dariku, kalau begitu?”

Ayami diam sesaat, dia masih terlihat berpikir. Sekarang pandangannya terus tetuju padaku, tidak lagi berganti-ganti dari pisau dan aku. “Apa yang… kau tahu dariku? Bahwa aku sebenarnya adalah—”

“Anggota Black Dragon,

“Huh?”

“Kau tak perlu menyangkal itu, Ayami-ssi,” kataku padanya. “Aku sama sekali tidak memerlukan penyangkalanmu. Aku hanya memerlukan penjelasan kenapa kau menyembunyikannya dariku dan apa tujuanmu tinggal bersamaku di rumah ini”

“Penjelasan,” celetuk Ayami terlihat tenang. Dia menghela napas sekali sebelum melanjutkan bicara. “Untuk alasan apa kau meminta penjelasan dariku?”

Mwo?” sahutku cukup terkejut dengan tanggapannya.

Ayami melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Membuatku mau tak mau semakin memperat cengkramanku pada pisau yang mengarah padanya. “Jika kau ingin penjelasan dariku, singkirkan dulu pisaunya. Itu benda berbahaya, kau bisa terluka jika kau tidak berhati-hati”

“Aku? Atau kau?”

“Sooyoung-ah, aku tidak sedang bermain-main—”

“Kau pikir aku sedang bermain-main sekarang?!” bentakku memotong perkataannya. “Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!”

“Choi Sooyoung!”

“Jangan sebut namaku! Dasar kau jalang!”

Ayami berhenti melangkah setelah mendengar umpatanku itu. Dia kembali menatapku dengan lekat. “Ini tidak akan berhasil karena kau sedang dibawah emosi. Penjelasan dariku tidak akan bisa meredakan emosimu, bahkan sekalipun aku mengatakan kebenaran”

“Kebenaran bahwa kau sebenarnya juga mengincar cincin eomma-ku dan menginginkanku mati?”

Aniya. Aku sama sekali tak menginginkan itu—”

Gojimal!” sahutku. “Aku sama sekali tidak percaya lagi dengan perkataan jalang ba—$%^& sepertimu!” Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, bersiap dengan pisau di tanganku, tapi kemudian seseorang menahan lenganku yang bebas dari pisau. Aku menolehkan kepala dengan cepat dan menemukan Kyuhyun-lah orang yang melakukannya. Dia menatapku dengan tajam, sama seperti tatapanku sekarang. “Lepaskan! Aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum dia membunuhku!” seruku meronta.

Kyuhyun diam saja, tapi dia mempererat cengkramannya di lenganku. Dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya dariku.

“Lepaskan!”

“Kyuhyun-ah,

“Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji bahwa kau tidak akan melakukan apapun yang berbahaya,” kata Kyuhyun pada akhirnya, “Jauhkan pisau itu”

Oppa! Apa kau tak tahu apa yang—”

“Aku tahu,” Kyuhyun menyahut dengan singkat.

Mwo?” seruku terkejut. Aku menatap namjachingu-ku sekali lagi, lalu pandanganku beralih ke Ayami yang masih berdiri di tempatnya. “Apa-apaan ini? Kenapa kau—” Aku dengan cepat menyentakkan lenganku darinya tapi dengan cepat pula dia menyambar pisauku dan membuangnya jauh dari jangkauanku. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Kyuhyun lakukan kni. Apa dia membela Ayami dan menyelematkannya?! Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua? Tidak mungkin ada sesuatu yang—

“Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ada di kepalamu sekarang, Sooyoung-ah,” kata Kyuhyun, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

“Apa maksudmu dengan itu?”

“Kyuhyun-ah,”

Aku menatap tajam Kyuhyun, lalu Ayami dan kembali lagi pada Kyuhyun. Pisauku benar-benar jauh dariku sekarang, dan aku enggan untuk memungutnya kembali karena aku sudah tidak membutuhkannya.

Marhaebwa, oppa. Apa yang kau tahu tentang yeoja ini dan kau sembunyikan dariku?” kataku pada akhirnya setelah diam beberapa saat. “Kau tahu dia adalah anggota dari Black Dragon, benar?”

Kyuhyun mengangguk. “Mantan anggota,”

“Kelompok itu yang sudah membunuh orang tuamu dan orang tuaku, dan selalu berusaha untuk membunuhku. Kau tahu itu,”

Arra,

Geureom—” Aku mengambil jeda sesaat untuk menghela napas panjang dan memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya. Lalu akupun kembali berbicara, “—apa kau memberitahuku bahwa kau sekarang sedang berusaha menyelamatkannya dariku? Kau tidak percaya padaku bahwa aku juga bisa membunuhnya? Animyeon… Kau menyelamatkannya karena dia pernah menyelamatkanmu dan aku?”

Kyuhyun tidak langsung menjawab. Tapi beberapa kali aku sempat melihatnya mencuri pandang ke Ayami, seakan-akan mereka sedang saling bertukar informasi yang sama sekali tidak aku ketahui. Dan itu semakin membuatku marah. “Biar aku jelaskan padamu, Sooyoung-ah,” katanya kemudian.

Dwaesseoyo, Kyuhyun-ah” sahut Ayami dengan cepat. “Kurasa kau tak akan bisa menjelaskan apapun padanya disaat pikirannya sedang tertutup dengan emosinya”

Ya!’ seruku keras. “Beraninya kau—”

“Choi Sooyoung!” Kyuhyun menyela perkataanku dan sama kerasnya dengan suaraku. Aku sempat terkejut dengan itu. Terkejut dengan nada bicaranya dan bagaimana dia bersikap sekarang. Aku benar-benar tidak percaya namjachingu-ku sama sekali tidak membelaku kali ini. Apa yang terjadi padanya? Apa yang sudah Ayami lakukan padanya?

Tanpa menunggu penjelasan dan perkataan apapun dari mereka berdua—dan akupun tidak mengatakan apa-apa lagi, aku memutuskan untuk membalikkan badan dan melangkah pergi. Aku mengabaikan panggilan semua orang, termasuk pasangan Kang dan bahkan Yoona yang baru saja masuk ke dalam rumahku. Aku bergegas keluar rumah, membanting tertutup pintu di belakangku dan segera melajukan mobilku menjauh dari kawasan rumahku.

__

Kyuhyun POV

Eotteyo? Kau menemukannya?”

Aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan Ayami itu. “Aku sudah pergi ke semua tempat yang biasa dia kujungi saat suasana hatinya sedang tidak bagus. Tapi dia tidak ada dimanapun,”

“Tempat seperti apa itu?”

“Buam-dong, makam orang tuanya… Yah tempat-tempat seperti itu,” jawabku sambil mengeluarkan ponselku dan mencoba untuk menelepon Sooyoung kembali. “Masih tidak aktif,” Aku memberitahunya.

Ayami terlihat gelisah di sebelahku. Ini sudah lebih dari 6 jam sejak kejadian di rumah Sooyoung, dan kami masih mencari keberadaannya sampai sekarang. Aku khawatir—tentu saja, jika dia pergi begitu saja tanpa ada penjagaan. Bagaimana jika pada saat itu dia di serang? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Meskipun aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mencarinya, tetap saja aku khawatir.

Aku mendesah panjang, “Seharusnya aku tidak berkata keras padanya, ‘kan?” kataku meminta pendapat Ayami.

“Em,” jawabnya. “Kyuhyun-ah,” panggilnya kemudian.

Aku menoleh ke arahnya dari kursi kemudiku. “Waeyo?”

“Kenapa kau membelaku?” tanya Ayami. “Kenapa kau membelaku di depan yeojachingu-mu meskipun apa yang dia katakan itu benar?”

“Kenapa lagi?” sahutku kembali fokus pada kemudiku. “Itu karena kau sudah seperti kakakku sendiri. Adik mana yang tidak membela keluarganya? Meskipun dia yeojachingu-ku dan aku sangat mencintainya, tapi seharusnya dia tidak sekasar itu padamu. Dia tidak tahu apa yang sudah kau lalui, dan bagaimana kau membantuku”

Ayami diam saja. Saat aku kembali menoleh ke arahnya, dia sedang menundukkan kepalanya. “Sebenarnya… Ada satu hal yang belum aku katakan padamu, Kyuhyun-ah

Aku tersenyum tipis. “Kau akan memberitahuku?”

Ayami menganggukkan kepalanya. Dia menghela napas singkat sebelum berbicara. “Sebenarnya aku berencana memberitahumu dan Sooyoung mengenai hal ini, tapi yah—kurasa aku tidak memiliki kesempatan untuk memberitahunya, ‘kan?”

Oh? Tentang apa?”

“Keluargaku,”

Aku diam. Ayami memang tidak pernah sekalipun membahas tentang keluarganya saat bersamaku dan akupun tak pernah mencoba untuk mencari tahu. Karena aku pikir membicarakan suaminya yang sudah meninggal saja sudah membuatnya sedih, apalagi saat membicarakan orang tuanya? Meskipun aku tak pernah bertanya, tapi aku tahu bahwa orang tuanya sudah tidak ada lagi bersamanya. Entahlah bagaimana aku tahu, tapi mungkin karena perasaan dan nasib kami yang sama tentang orang tua kami membuatku tahu begitu saja tentang keluarganya.

“Itu aneh karena aku mengetahui kabar tentang appa-ku setelah aku menginjakkan kakiku di Seoul,” kata Ayami melanjutkan. “Aku tahu dia pasti di kota ini di suatu tempat, tapi aku tak pernah menyangka jika dia sedekat ini”

Appa?”

“Aku memanggilnya begitu meskipun dia bukan appa kandungku,”

Ah, geurae? Nugu—?

“Choi Jin Ho,”

Mwo?!” seruku terkejut. Aku bahkan sampai menginjak pedal rem dan membuat mobil berhenti begitu saja. Untungnya jalanan sedang tidak begitu ramai karena ini sudah lewat tengah malam dan kami tidak berada di pusat kota. “Choi Jin Ho? Maksudmu… Appa-nya Sooyoung?”

Ayami mengangguk. “Dunia memang sempit, ‘kan?”

Ani… Tapi bagaimana—”

“Bagaimana appa-nya Sooyoung menjadi appa-ku?” sahut Ayami dengan cepat. “Choi appa itu dulu adalah anak buah appa kandungku, di pasukan khusus pada saat itu. Appa-ku orang Korea, dan eomma-ku orang Jepang,” Ayami memberitahuku. “Aku menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuaku kehilangan nyawa di depanku. Choi appa adalah orang yang menyelamatkanku pada saat itu. Membawaku pergi jauh dari tempat mengerikan itu dan kemudian merawatku. Aku memanggilnya appa sejak saat itu karena aku ingin melupakan semua kenangan buruk tentang apa yang terjadi pada orang tuaku”

“Siapa yang membunuh mereka?”

“GAIA,” katanya menjawab. “Aku bergabung dengan kelompok itu untuk membalas kematian orang tuaku sebelum kemudian aku memutuskan untuk bergabung dengan Black Dragon

Aku tidak memberikan tanggapan apapun kali ini. Cerita Ayami itu hampir sama denganku. Appa Sooyoung, Choi Jin Ho, adalah orang yang menyelamatkan kami dari kejadian buruk yang menimpa keluarga kami. Aku tak menyangka jika aku dan Ayami memiliki cerita yang hampir sama tentang Choi Jin Ho.

“Jika kau bertanya siapa appa-ku dan bagaimana dia… Aku akan menjawab appa-ku adalah Choi Jin Ho dan dia seorang tentara di pasukan khusus,” kata Ayami melanjutkan ceritanya. “Karena semua yang aku ingat adalah Choi appa. Ada kilasan-kilasan kecil tentang appa kandungku, tapi tidak sebanyak Choi appa

Aku masih diam.

“Aku tak pernah menyangka jika aku pada akhirnya akan bertemu dengan putri dari Choi appa. Aku bahkan tinggal bersamanya selama beberapa bulan ini”

Ponselku tiba-tiba berbunyi, padahal saat itu aku baru akan memberikan tanggapan pada Ayami. Aku mengambilnya dari dalam sakuku, melihat namanya di layarnya lalu menekan tombol jawabnya. Itu dari salah satu anak buahku dan aku harap dia memberikan kabar yang bagus padaku tentang keberadaan Sooyoung.

“Kau yakin?” Aku memastikan setelah mendapatkan informasi yang aku perlukan. “Arraseo, aku akan segera memeriksanya” kataku sambil menutup sambungan teleponnya.

Waeyo? Sooyoung ditemukan?”

Aku mengangguk seraya menyalakan kembali mesin mobilku. “Dia di rumahku,”

Oh?

“Kita harus bergegas kesana dan—”

Aniyo, Kyuhyun-ah,” Ayami menyela perkataanku sebelum aku selesai bicara dan menginjak pedal gasnya. “Lebih baik aku tidak ikut denganmu. Aku akan turun disini saja,”

“Kau mau kemana? Aku akan mengantarmu”

“Tidak. Kau temui saja Sooyoung. Aku tak mau dia semakin salah paham. Kau harus menjelaskannya semampumu dan menenangkannya,” kata Ayami. “Dia membutuhkanmu saat ini, jadi kau pergilah temui saja”

Aku diam sesaat dan menatap Ayami lekat-lekat. “Kalau begitu, aku akan telepon Sungjae dan memintanya untuk menjemputmu. Kau tunggu disini saja, aku yakin dia akan bergegas kesini begitu aku memintanya”

“Tapi—”

Tanpa menunggu Ayami selesai bicara, aku segera menghubungi Sungjae dan memintanya datang ke tempat dimana kami berada. Aku juga menghubungi anak buahku yang berada tidak jauh dari tempat ini untuk menjaga Ayami sampai Sungjae datang. Setelah memastikan semuanya sesuai keinginanku, aku baru meninggalkan Ayami dan mengemudikan mobilku ke arah rumahku. Apapun yang terjadi, dan siapapun Ayami, satu hal yang pasti adalah dia tidak boleh ditinggalkan sendirian. Aku tak tahu kenapa tapi perasaanku mengatakan bahwa dia juga berhubungan dengan semua ini terlepas dari fakta bahwa dia adalah mantan anggota Black Dragon.

**

Begitu sampai di rumahku, aku baru bernapas lega saat melihat Sooyoung tertidur di salah satu sofa di rumahku. Aku menghampirinya dengan perlahan, berhati-hati untuk tidak membangunkannya. Aku duduk di dekat kepalanya, merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Matanya bengkak. Dia baru saja menangis, dan aku masih bisa melihat sisa air matanya di pipinya. Saat mendekat ke wajahnya, aku bisa mencium aroma alkohol darinya. Apa dia minum? Aku benar-benar tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang dan merasa bersalah padanya atas apa yang aku lakukan tadi.

Aku menghela napas panjang. Apa yang akan terjadi jika seandainya dia tahu bahwa Ayami juga berhubungan dengan appa-nya? Apa aku harus memberitahunya atau membiarkan Ayami sendiri yang memberitahunya? Satu sisi hatiku ingin memberitahunya, tapi disisi lain mengatakan bahwa itu bukanlah hakku untuk memberitahunya. Bukankah akan lebih baik jika Ayami sendiri yang memberitahunya? Meskipun itu akan sulit untuk Ayami menjelaskan segalanya pada Sooyoung, tapi dialah yang seharusnya melakukannya. Tapi, bagaimana Sooyoung tahu bahwa Ayami itu juga berhubungan dengan Black Dragon?

Aku menatap wajah Sooyoung lama sekali, memikirkan apa yang harus aku lakukan sekarang. Tanganku terangkat dengan sendirinya dan membelai pipi yeojachingu-ku ini. Apa yang aku lakukan ini justru membuatnya membuka matanya dengan perlahan. Aku terkejut—dan merasa bersalah, tapi aku melemparkan senyum ke arahnya. Awalnya dia hanya menatapku, tapi kemudian dia bangun ke posisi duduk dan memelukku dengan erat. Mau tak mau aku membelas pelukan itu sambil menepuk-nepuk belakang punggungnya untuk menenangkannya.

“Kau kemana saja?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Aku memegangi wajahnya dengan kedua pipiku. “Apa kau tak tahu bagaimana khawatirnya aku? Kau pergi begitu saja dalam suasana hati yang sedang tidak baik, dan kau mematikan ponselmu. Aku mencarimu kemana-kemana, tapi kau tidak ada dimanapun”

Mianhaeyo,” Itu adalah apa yang pertama kali Sooyoung katakan untuk menanggapi semua pertanyaanku. “Aku seharusnya tidak melakukan itu. Mianhaeyo, oppa” Dia menundukkan kepalanya.

Gwenchana?”

An-gwenchanayo,

Aku mendesah pelan, lalu mengangkat wajahnya untuk menemui mataku. “Mianhae, nado. Aku tak memberitahumu apapun tentang Ayami,”

Waeyo? Kenapa kau melakukannya?”

Geunyang—” Aku mengambil jeda, berpikir apa Sooyoung terlalu mabuk atau tidak untuk aku memberitahukan segalanya sekarang. Tapi melihat dari wajahnya yang merona merah dan bau alkohol yang menyengat, sepertinya dia benar-benar mabuk. “Sebenarnya berapa botol yang kau minum, Sooyoung-ah?” tanyaku pada akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

“Tidak banyak,” jawab Sooyoung tersenyum. Matanya sudah tidak fokus lagi sekarang, pengaruh dari alkohol yang dia minum.

“Kau tak biasa minum. Kau tahu itu, ‘kan?”

“Itu satu-satunya cara untuk aku melupakan segalanya,” gumamnya. Dia kembali lunglai dan aku dengan sigap menangkap tubuhnya. Aku masih bisa mendengar dia bergumam tapi tidak jelas.

Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamarku untuk dia berbaring disana. Aku meletakkannya dengan pelan diatas tempat tidurku dan melepaskan sepatunya. Setelah itu, aku menutupi tubuhnya dengan selimut dan memegangi tangannya sambil mengusap-usapnya. Itu pasti sangat berat bagi Sooyoung sampai dia harus meminum alkohol untuk melupakannya. Aku benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padanya.

“Itu bagus kau tidak apa-apa, Sooyoung-ah,” kataku seraya membelai wajahnya dengan tanganku yang bebas. “Aku sangat mengkhawatirkanmu dan aku merasa lega sekarang terlepas dari keadaanmu yang seperti ini”

Ponsel di sakuku bergetar, aku segera mengambilnya dan bangkit dari tempatku. Aku menjauh dari Sooyoung—meskipun masih di kamar ini, untuk tidak membangunkannya lagi meskipun aku tahu bahwa dia sudah benar-benar tidak sadarkan diri sekarang karena mabuk berat.

Oh, Yeojin-ah?”

“Bagaimana Sooyoung? Sudah ditemukan?”

“Sudah, jangan khawatir”

“Keadaannya?”

Aku menatap Sooyoung sesaat, lalu menjawab. “Dia baik-baik saja meskipun dia sangat mabuk. Ini salahku sampai dia menghilang selama beberapa jam”

“Seharusnya kau tidak melakukannya jika kau tahu,” sahut Yeojin dengan cepat, “Nyawanya masih dalam bahaya karena dia masih memiliki cincin itu, kau jangan sampai lupa”

“Aku tahu,”

“Omong-omong, apa sudah tahu apa yang akan Sooyoung lakukan dengan cincin itu?” tanyanya. “Dia bisa menyerahkan pada kami dan biar kami yang mengurus segalanya untuknya jika memang dia enggan berurusan dengan CIA. Aku akan memastikan cincin itu aman dan sampai di tangan yang tepat jika dia khawatir”

“Kurasa bukan masalah itu kenapa dia menahan cincin itu bersamanya,”

Oh? Wae?

Aku mendesah pelan, “Kurasa dia ingin tahu apa yang ada di dalam cincin itu sebelum dia memutuskan apa yang harus dia lakukan selanjutnya berkaitan dengan cincin itu. Biar bagaimanapun, cincin itu adalah buatan eomma-nya, dan diapun kehilangan kedua orang tuanya karena cincin itu. Jika aku menjadi Sooyoung-pun, aku akan melakukan hal yang sama sepertinya”

“Kau benar,” sahut Yeojin. “Itu pasti berat untuknya. Cincin itu cincin peninggalan eomma-nya satu-satunya. Apalagi pesan eomma-nya untuk menjaga cincin itu sebaik-baiknya. Akupun akan ingin tahu apa yang ada di dalam cincin itu yang sampai ‘membuatku kehilangan orang tuaku’, jika aku menjadi Sooyoung,”

“Itulah kenapa…” kataku kembali menatap Sooyoung. “Apapun itu, kita masih tetap pada rencana. Sungjae masih berusaha memecahkan kodenya, dan kita akan menunggu apa dia bisa melakukannya atau tidak”

“Kita bisa mengandalkannya, ‘kan?”

“Memang. Itulah kenapa aku menyerahkan semua hal tentang pemecahan kode ini padanya karena dia ahlinya” sahutku. “Kita bertemu lagi setelah aku menyelesaikan semuanya dengan Sooyoung”

Geurae. Aku akan memberitahu appa-ku apa yang terjadi, dan memintanya untuk memberimu waktu libur 1 atau 2 hari untuk menemaninya”

“Luar biasa memang jika memiliki teman yang appa-nya memiliki kuasa penuh pada hal-hal seperti itu” Aku mencoba mencairkan suasana. “Katakan pada appa-mu bahwa aku akan bekerja lebih keras lagi dan menjadi anak buah yang patuh dan setia”

Yeojin tertawa. “Kau beruntung memiliki teman sepertiku, dan hubungan spesialmu dengan appa-nya Sooyoung dan Sooyoung sendiri. Itulah kenapa kau sedikit dipermudah untuk urusan ini”

Aku ikut tertawa. “Geurae, katakan saja begitu. Aku tutup dulu teleponnya,”

Eo,

Setelah mendapat balasan seperti itu dari Yeojin, akupun menutup sambungan teleponku. Aku kembali berjalan ke arah tempat tidur dan duduk disamping Sooyoung. Setelah beberapa saat memandangi wajahnya, akupun merebahkan kepalaku dan memejamkan mataku sambil memeluknya dengan erat.

__

Sooyoung POV

Aku duduk disamping jendela, menatap keluar rumah Kyuhyun tanpa melakukan apapun. Ini hari kelima aku berada di rumah namjachingu-ku karena aku enggan pulang ke rumahku sendiri. Sebenarnya bukan karena ‘enggan pulang’, tapi karena aku tidak mau bertemu dengan Ayami disana. Aku tidak mengusirnya secara langsung—memang, aku hanya berharap dia pergi sendiri dari rumahku tanpa aku menyuruhnya. Aku sendiri tak tahu apa dia sudah pergi atau belum, dan aku tak mau bertanya apapun pada Kyuhyun tentang yeoja itu meskipun aku yakin namjachingu-ku pasti tahu tentang dia.

Dari sudut mataku, aku melihat Kyuhyun datang dan kedatangannya itu mengalihkan semua perhatianku. Aku tersenyum singkat padanya saat dia melangkah ke arahku sampai akhirnya duduk di depanku. Untuk beberapa saat, kami hanya duduk seperti itu, hanya saling bertatapan tanpa melakukan apapun. Mungkin kami sama-sama sedang memikirkan harus membahas apa saat ini.

“Kau pulang cepat?”

“Kau sudah makan?”

Aku menahan senyumku karena kami saling bertanya di waktu yang bersamaan. “Kau dulu, oppa,” kataku pada akhirnya.

Kyuhyun mengangguk. “Aku akan menjawab pertanyaanmu, kalau begitu,” katanya. “Em. Aku pulang cepat hari ini, karena menjaga dan melindungimu juga merupakan bagian dari tugasku. Apa kau lupa itu?”

Aniyo, aku tidak lupa, tentu saja. Itu hanya pertanyaan basa-basi,”

Arra, mian,” sahutnya. “Apa kau masih marah padaku?”

Oh? Tentang apa aku marah padamu?”

“Yah… Kejadian terakhir kali, mungkin” jawab Kyuhyun terdengar berhati-hati. “Apa kau… masih marah?”

Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa cepat atau lambat pembahasan ini akan terjadi. Karena sejak aku meninggalkan rumahku hari itu, aku sama sekali tidak membahasnya dengan siapapun, termasuk Kyuhyun,

Em… Jokkeum…”

Geureom… Apa kau mau mendengar penjelasanku kenapa aku melakukannya?”

Shirreoyo,

Wae?

Geunyang… Shirreoyo,

Kyuhyun mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Melihat dari ekspresinya, dia terlihat sangat ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi aku benar-benar enggan mendengar apapun tentang kejadian itu dan apapun yang berhubungan dengan Ayami. Rasanya seperti kemarahanku akan kembali memuncak jika memikirkannya.

Oppa,” kataku berusaha mengalihkan pembicaraan. “Mau melakukan sesuatu denganku?”

Oh?” celetuk Kyuhyun, terkejut. “Mwoga?

“Ayo kita pergi ke suatu tempat dulu,” ajakku sambil beranjak dari tempatku. “Apa yang aku inginkan ada di tempat itu”

Kyuhyun tersenyum tipis, dan diapun ikut bangkit berdiri. “Kajja, geureom

Aku menggenggam tangan Kyuhyun keluar dari rumahnya dan melangkah kemana mobilku berada. Sebelum meninggalkan kawasan rumahnya, aku meminta padanya untuk memerintahkan anak-anak buahnya untuk tidak mengikiiti, karena aku benar-benar ingin menghabiskan waktuku hanya dengan namjachingu-ku saja. Lagipula apa yang perlu dikhawatirkan jika namjachingu sendiri adalah seorang Soryeong? Dan aku tidak membutuhkan perlindungan siapapun lagi jika ada Kyuhyun disampingku. Itu sudah jelas.

Aku memberitahu Kyuhyun kemana aku akan membawanya pergi, tapi tidak memberitahunya kenapa aku ingin pergi ke tempat itu. Perpustakaan Jeongdok, di distrik Jongno. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa aku ingin pergi ke tempat itu. Aku hanya ingin pergi dengannya, melakukan sesuatu dengannya dan itu adalah hal yang belum pernah kami lakukan. Pemilihan tempatnya juga tidak spesial, hanya karena perpustakaan ini adalah perpustakaan yang jam tutupnya paling malam saja, aku memilihnya. Selain itu, tidak ada alasan lainnya.

“Kau yakin ingin pergi ke tempat ini?” tanya Kyuhyun sekali lagi saat pada akhirnya kami berhenti di halaman parkir perpustakaan. “Apa yang ingin kau lakukan di perpustakaan?”

“Membaca buku, tentu saja” jawabku sebelum keluar dari mobil. Kyuhyun mengikutiku dan akupun bergegas menghampirinya. “Kita bisa juga mencari tahu tentang kode cincin dan Albireo di perpustakaan, bukan?”

“Aku sudah meminta—”

Arrayo, akupun percaya Sungjae-ssi. Tapi bisakah kita berpura-pura mencarinya?” sahutku menyela perkataan Kyuhyun. “Kau tahu, aku hanya ingin menyibukkan pikiranku saja, dan entah kenapa ini satu-satunya hal yang aku pikir bisa bekerja dengan baik”

Kyuhyun menatapku sesaat, lalu aku melihatnya menghela napas panjang. “Kau—” Dia menghela napas lagi, “—geurae, dwasseo. Jika menurutmu begitu, baiklah”

“Kau tidak suka, oppa?”

Aniya, bukan tidak suka. Hanya saja aku tidak terbiasa dengan perpustakaan” jawabnya. “Lupakan itu, dan kita masuk saja. Kajja”

Aku mengangguk, dan kamipun berjalan bersama memasuki perpustakaan itu.

Suasana di perpustakaan tidak terlalu ramai tapi juga tidak sepi. Mungkin karena ini sudah mendekati jam tutupnya makanya sudah sangat berkurang pengunjungnya. Itu tidak masalah bagiku, asalkan aku bisa menyibukkan pikiranku.

Jujur saja, aku tak tahu apa yang harus aku baca dan apa yang harus aku lakukan. Tidak ada buku yang menarik perhatianku karena akupun tidak begitu suka membaca buku diluar buku-buku kuliahku. Mencari arti kode cincin itu hanyalah sebuah alasan, dan aku sudah jelas memberitahu Kyuhyun sebelumnya. Itulah kenapa selama bermenit-menit yang cukup lama, aku hanya berjalan-jalan diantara rak, mengarahkan mataku ke setiap buku yang ada disana, dan berharap ada satu buku yang menarik minat bacaku.

“Sooyoung-ah,” celetuk Kyuhyun tiba-tiba dengan suaranya yang sangat pelan. Aku menoleh ke belakang dan melihatnya sedang memegangi sebuah buku dan menunjukkannya padaku. “Mau baca ini?”

Aku menyipitkan mata untuk membaca judul bukunya. “Romeo and Juliet?”

Kyuhyun mengangguk, lalu dia melangkah menghampiriku. “Ayo cari tempat yang sepi. Aku tak mau orang-orang terganggu,” Tanpa menunggu persetujuanku, dia menarik tanganku ke sebuah tempat yang benar-benar sepi karena tempat ini khusus untuk anak-anak dimana sudah ditutup berjam-jam yang lalu.

Oppa, kita tidak boleh disini” seruku setelah melihat tanda larangannnya. “Lihat itu!”

Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke arah yang aku tunjuk. “Aku akan menganggap aku tidak mengtahuinya,” ucapnya dengan santai dan itu cukup mengejutkanku. “Kemari, duduk disini,” katanya kembali menarikku dan sedikit memaksaku untuk duduk di tangga kecil.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Bukankah tadi dia bilang dia tidak terbiasa dengan perpustakaan? Kenapa tiba-tiba dia sekarang bahkan ingin membaca buku? Aku benar-benar tidak menyangka jika dia lebih antusias dariku sekarang, bahkan saat dia mulai membuka halaman bukunya. Untuk beberapa saat, aku hanya bisa diam dan memperhatikan Kyuhyun yang mulai membacakan isi buku itu untukku.

Oppa,” kataku menyela sesi pembacaan Kyuhyun. Dia berhenti dan mendongak ke arahku. Ekspresi bingung terlihat jelas di wajahnya, jadi akupun melanjutkan perkataanku. “Kau tidak lelah? Aku bisa membacanya sendiri, bersamamu. Kau tidak perlu membacakannya untukku,”

“Itu benar. Tapi aku ingin melakukannya untukmu”

Waeyo?

“Bukankah katamu kau ingin menyibukkan pikiranmu? Dengan cara seperti ini, aku yakin pikiranmu pasti sibuk membayangkan apa yang aku bacakan untukmu. Benar?”

Aku mencelos. Apa yang Kyuhyun katakan itu benar, jika aku memang mendengarkan semua yang dia bacakan. Tapi aku tidak akan memberitahunya bahwa aku hanya mendengarkannya setengahnya saja. Sebagian pikiranku tetap saja di tempat lain, dan itu selalu sama yang mengganggu pikiranku.

Geureom, kita mulai lagi?” celetuk Kyuhyun, yang aku jawab hanya dengan anggukkan kepala. “‘Bagaimana menakjubkannya, pandangan sekejap dari seorang kekasih dapat memberikan kebahagiaan. Rasa cinta yang telah tertanam dalam hati, dapat menimbulkan kesedihan atau kebahagiaan. Hati yang menyatu akan selalu bersama, walaupun sang kekasih pergi jauh dari pandangan—’

Aku tersenyum mendengarkan itu, entah kenapa. Kyuhyun terus melanjutkan membacanya dan akupun terus mendengarkan, bahkan membayangkan apa yang terjadi. Setelah beberapa saat kami seperti itu, aku bergerak untuk mengubah posisiku. Aku menekuk lututku, meletakkan tanganku diatasnya dan kemudian menyandarkan kepalaku sambil memandangi Kyuhyun yang begitu serius membacakan isi buku itu padaku.

‘Kesedihan yang menyiksa pikiranmu bukan milikmu seorang, sebab ketika engkau mengalami penderitaan, maka aku juga ikut merasakan—’

Geuraeyo?” celetukku menyela Kyuhyun. “Apa kau juga begitu, oppa?”

Kyuhyun menoleh ke arahku, sedikit terkejut karena posisiku sekarang meskipun dia tidak begitu menunjukkannya. “Mwoga?”

“Apa yang kau bacakan itu… apa kau juga sama seperti Romeo?”

“Tentu saja,” jawab Kyuhyun tanpa ragu. “Itulah kenapa meskipun kau tidak memberitahuku apapun yang sedang kau rasakan, aku bisa ikut merasakannya hanya dengan melihatmu. Apa kau juga begitu?”

Aku mengangguk pelan.

“Omong-omong, kenapa kau duduk seperti ini? Apa tidak nyaman kita membaca di tempat seperti ini? Kau ingin kita pindah ke meja?”

Aniyo, gwenchanayo” sahutku. “Aku hanya sedang membayangkan seperti apa yang kau katakan”

“Apa yang kau bayangkan?”

“Selain cerita yang kau bacakan, aku juga membayangkan yang lainnya”

Ah, geurae?” celetuk Kyuhyun menutup bukunya tapi menandainya dengan salah satu jarinya. “Seperti apa itu?”

Aku tersenyum tipis, “Oppa tahu—” kataku memulai. “—di film dan drama-drama yang aku tonton, ada adegan seperti ini juga. Yeoja dan namja duduk bersama, menikmati kebersamaan itu dan kemudian mereka akan saling mendekat dan berciuman. Yah, seperti itu yang—”

Belum selesai aku berbicara, Kyuhyun dengan gerakan cepat mendekatkan tubuhnya ke arahku dan memiringkan wajahnya untuk kemudian mencium bibirku. Untuk sesaat aku cukup terkejut dengan apa yang terjadi dan aku hanya bisa tertegun di tempatku. Terlepas dari keterkejutanku, Kyuhyun sama sekali tidak menjauhkan tubuhnya dariku. Dia terus menciumku, dan mau tak mau akupun menaikkan kepalaku untuk balas menciumnya. Pada saat itulah tangannya yang sedang memegang buku segera diarahkan ke bagian depan kami untuk menutupi kami yang sedang berciuman.

__

Kyuhyun POV

Malam ini, aku kembali meninggalkan markas lebih awal. Alasannya adalah karena Sungjae. Dia memberitahuku bahwa dia sudah berhasil membuka program BAST dengan kode kunci yang kata ‘Albireo’ yang aku beritahukan padanya. Itulah kenapa sekarang aku, Sungjae, Yeojin dan Sooyoung berada di rumahku, di depan komputer yang berisi program BAST yang sudah dimodifikasi oleh orang tuaku dan orang tua Sooyoung. Kami berempat penasaran, tentu saja, terlebih lagi Sooyoung yang memiliki cincin itu dari eomma-nya.

“Kau tahu, aku belum membuka isinya sama sekali—”

“Tapi katamu kau bisa membukanya. Apa kau menipu kami semua saat ini?!” seru Yeojin menyela perkataan Sungjae. “Ya, kau mau mati?!”

Aigoo, bukan begitu maksudku” kata Sungjae tidak percaya. “Benar, aku memang bisa membukanya. Tapi program ini tetap membutuhkan Kyuhyun dan Sooyoung-ssi,”

“Wae wae wae?”

“Karena ada sandi tertentu yang dipasang di program ini. Lihatlah,” Sungjae melakukan sesuatu di depan komputer lalu tiba-tiba sebuah pemberitahuan muncul. “Lihat? Ada sandi sidik jari dan mata”

“Lalu kenapa harus Kyuhyun dan Sooyoung?”

Sungjae menatap kami bertiga, lalu dia mengalihkannya padaku. “Orang yang membuat program ini adalah orang tua mereka, dan itu adalah hasil kesimpulanku sendiri. Sebenarnya, program ini hanya bisa dibuka dengan sidik aslinya, tapi bisa dilihat disini bahwa eomma-mu, Sooyoung-ssi, membuat sandi cadangan dengan sidik jari dan mata yang lainnya”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Sungjae-ssi,” kata Sooyoung. “Bagaimana bisa seperti itu?”

“Bisa saja. Kau tahu, eomma-mu adalah programmer yang luar biasa. Itulah kenapa dia direkrut sebagai agen CIA” jawab Sungjae menjelaskan. “Sebenarnya bukan cincin itulah yang penting disini, tapi program untuk membukanya”

“Jelaskan lebih jauh,” sahutku.

Ya! Naega wae—” celetuk Sungjae terdengar tidak sabar. Tapi kemudian dia menghela napas panjang dan melanjutkan bicara. “Kalian tahu, cincin BAST ini ada tiga. Nah, menurut analisaku, isi BAST ada di cincin Sooyoung-ssi, sementara dua yang lainnya adalah program untuk membukanya. Ingat apa yang dikatakan oleh Sung Dong-Il?”

“Tanpa dua cincin itu, satu cincin bisa digunakan untuk membuka program BAST” sambung Yeojin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Jadi, bisa disimpulkan bahwa Black Dragon, GAIA dan satu mafia lainnya mengincar cincin Sooyoung karena itu? Entah Black Dragon maupun GAIA sendiri sudah memiliki dua cincin itu, ‘kan?”

Aku mengangguk. “Mereka hanya memiliki programnya, tapi tidak BAST-nya. Begitu maksudmu?”

“Apa program di dua cincin itu adalah program yang sama yang ada di komputer ini?” tanya Sooyoung kemudian.

“Bisa iya, bisa tidak,” Sungjae menjawab. “Tapi menurutku, itu tidak sama. Sebelum kalian bertanya kenapa, aku akan menjawabnya. Itu karena orang tua kalian telah memodifikasi program itu. Jadi kemungkinan program itu berbeda sangatlah besar. Meskipun begitu, cincin di tanganmu itu tetap menjadi kunci utama untuk membuka keseluruhan programnya. Sudah bisa dipahami?”

Geureom—kodenya?”

“Itu yang harus kita lakukan sekarang, ‘kan?” celetuk Sungjae. “Kemarilah, aku mungkin butuh sidik jarimu dan Sooyoung-ssi untuk melakukannya. Sidik jari tidak akan pernah berubah dari kau kecil sampai kau menjadi tua, jadi jangan tanya aku bagaimana sidik jarimu dan Sooyoung-ssi bisa membuka program ini”

Aku mendekat ke arah Sungjae, dan mengikuti semua perintahnya. Sooyoung-pun melakukan sama. Tapi tidak ada apapun yang terjadi, jadi kami bertukar posisi. Dari yang awalnya jariku yang di scan dan mata Sooyoung yang di scan, kami berganti peran. Anehnya, bunyi ‘beep’ tiba-tiba terdengar dari komputer dan program lainnya pun terbuka. Aku cukup takjub dan terkejut dengan apa yang terjadi, karena apa yang dikatakan Sungjae itu benar. Dia memang luar biasa.

“Nah… Sekarang berikan kode itu,” ucap Sungjae kemudian.

“A3.1 5.1,” kata Sooyoung yang memang sudah hapal tanpa memeriksa ke cincin yang dia pakai. “Atau mungkin Albireo?”

“Bukan keduanya,” sahut Sungjae berhenti sejenak dan menjauhkan jarinya dari keyboard komputer. “Aku mencari tahu kode yang diberikan Kyuhyun padaku, dan dia bilang dia sudah mencoba kedua kode itu sebelumnya tapi tidak berhasil. Tahu, kenapa?”

“Sidik jari dan mata,”

“Itu benar, Yeojin-ah. Tapi selain itu?”

Aku menatap Sungjae, lalu beralih ke Sooyoung yang menggelengkan kepalanya, lalu ke Yeojin yang terlihat tidak tahu. Setelah itu, aku kembali lagi ke Sungjae yang terlihat tenang tapi ingin sekali memberitahu kami apa yang dia tahu. “Apa? Kau menemukannya, ‘kan?”

“Bukan Choi Sungjae namanya jika aku tidak menemukannya. Kau tahu aku pintar, itulah kenapa aku bekerja di NIS” kata Sungjae, dan aku hanya bisa menghela napas karena tahu dia akan seperti ini.

Ya! Jika kau tidak segera memberitahu, aku akan memukulmu” seru Yeojin kemudian. “Apa ini waktunya kau menyombongkan diri? Huh? Kami tahu kau memang bisa diandalkan dalam hal ini, tapi kau selalu mengulur-ulur waktu, membuat kami penasaran”

Aigoo, aigoo… Baiklah, kau tidak menyenangkan sama sekali” sahut Sungjae menanggapi. Dia memutar kursinya, jadi dia menghadap kami semua sekarang yang memang berada di belakangnya. Lalu, diapun melanjutkan bicara, “A3.1 5.1 dan Albireo itu sama. Kalian tahu bintang albireo? Bintang ganda dimana bintang pertama bermagnitudo 3.1 dan bintang kedua bermagnitudo 5.1. Aku pikir kode di cincin itu memang menunjuk pada bintang Albireo”

“Lalu?”

“Kau tahu, kode itu selalu tidak mudah untuk dipecahkan dan biasanya akan dihubungkan dengan hal-hal lainnya. Jadi aku mencoba banyak hal untuk ini,”

“Dan?”

“Dan sekarang kita perlu mengujinya, bukan?” sahut Sungjae dengan cukup tenang. “Sebenarnya aku tidak begitu banyak mencarinya. Hanya hal-hal yang berhubungan dengan bintang albireo itu sendiri karena dua kode itu mengarah pada bintang itu, jadi kupikir pasti ada hubungannya dengan bintang itu”

“Baiklah, aku mengerti” kata Sooyoung. “Sejujurnya aku juga berpikir jika kedua kode itu saling berhubungan, entah bagaimana”

“Kalau begitu kita bisa fokus pada bintang Albireo, ‘kan?” Sungjae melanjutkan apa yang ingin dia katakan pada kami. “Aku mengumpulkan banyak informasi tentang bintang itu. Seperti misalnya, di rasi mana bintang ini berada, magnitude-nya, longitude-nya dan hal-hal lainnya”

“Kita bisa langsung mencoba memasukkannya?”

Sungjae mengangguk. “Jadi, hal pertama yang kita masukkan adalah rasi mana bintang Albireo itu berada,” katanya. “Cygnus. Kita akan mencobanya dulu,” Dia mulai mengetikkan kata itu ke komputer dan tidak terjadi apapun.

“Ingat, hanya ada kesempatan beberapa kali, Sungjae-ya!” Aku memperingatkan. “Kau tak bisa begitu saja memasukkan semua kata yang berhubungan dengan Albireo atau kode angka itu”

Arra, arra. Aku hanya memberi satu kali contoh karena aku yakin password-nya tidak akan semudah itu,” sahutnya membalas perkataanku. “Kriptografi tidak semudah itu, kau tahu, dan aku yakin kedua orang tua kalian seorang kriptografer yang handal. Mereka mungkin berharap kalian—atau CIA, akan memecahkannya, jadi mereka meninggalkan dua kode itu. A3.1 5.1 dan Albireo,”

“Teruskan,” kata Yeojin yang sedari tadi diam dan menyimak.

“Jadi, aku mencoba untuk memecahkan kodenya dengan sandi-sandi yang aku tahu. Meskipun aku mendapatkan beberapa kode, entah kenapa aku masih tidak yakin dengan kode yang aku dapatkan” Sungjae melanjutkan menjelaskan. “Aku masih yakin jika kedua kode yang ditinggalkan itu adalah sesuatu yang penting. Karena itulah aku mencari informasi tentang eomma-mu, Sooyoung-ssi,”

“Informasi?”

Sungjae mengangguk. “Aku cukup terkejut saat menemukan fakta bahwa eomma-mu membuat sebuah kode sandi yang sering digunakan oleh agen-agen CIA meskipun kode itu belum mendunia seperti kode-kode lainnya” katanya. “Itu artinya hanya kalangan CIA saja yang mengetahui itu, tapi—tentu saja, tidak semua agennya. Itu hanya kode sandi sederhana yang digunakan oleh agen-agen seperti Kim Jiyeon-ssi saat berkirim pesan”

“Kode seperti apa?” tanyaku penasaran.

“Hampir seperti kode Caesar, Polialfabet dan sebagainya. Tapi kode ini dinamakan kode Albireo,” jawab Sungjae terlihat takjub dengan apa yang baru saja dia katakan. “Aku mempelajari kode Albireo itu, dan tidak mudah untuk mempelajarinya. Aturannya bisa dibilang rumit, tapi juga tidak. Yah, aku benar-benar penggemar eomma-mu, Kim Jiyeon, Sooyoung-ssi

Geureom… Bagaimana kau tahu harus memakai ini atau itu dan menghubungkan segalanya seperti itu?”

“Intuisi,” sahut Sungjae dengan penuh keyakinan. “Aku sering memecahkan kode dan membantu memecahkan kode selama bekerja di NIS. Aku juga mempelajari Kriptografi dan kode-kode yang biasa digunakan untuk memecahkan sesuatu. Itu pekerjaanku, Sooyoung-ssi, selalu berhubungan dengan hal-hal seperti itu”

“Itulah kenapa aku menyerahkan semua ini pada Sungjae, karena dia memang bisa diandalkan untuk semua hal yang berhubungan dengan pemecahan kode. Bisa dibilang itu seperti makanan Sungjae setiap hari,” Aku menambahkan agar Sooyoung tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

“Kembali ke kode itu,” celetuk Yeojin kemudian agar pembahasan tidak menyimpang jika dilanjutkan. “Jadi apa yang kau dapatkan?” tanyanya pada Sungjae.

The Swan Beak,” kata Sungjae sambil mengambil satu kertas dan pensil lalu menuliskan tiga kata itu. “Ini adalah kunci pertamanya. The Swan Beak itu adalah julukan atau nama lain dari bintang Albireo. Intuisiku yang pertama mengarah pada kedua kode yang ditinggalkan itu, jadi yah—aku mendapatkan itu mengingat Kim Jiyeon-ssi sudah pasti tidak akan menggunakan bahasa lain selain bahasa Inggris. Aku tidak perlu menjelaskan kenapa dan bagaimana karena itu akan terlalu panjang. Tolong percaya saja pada intuisi dan kemampuanku dalam hal ini. Kalian mengerti?”

Aku mengangguk, begitupula Sooyoung dan Yeojin. Meskipun dalam hatiku, aku bertanya-tanya kenapa dan bagaimana dia menyimpulkan begitu, tapi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Sungjae bisa dipercaya, dan kemampuannya sudah diakui oleh militer kami untuk memecahkan kode. Jadi tidak perlu banyak bertanya padanya untuk saat ini.

“Aturan pertama sandi Albireo, kita harus mengubah huruf menjadi angka. Terlihat biasa, ‘kan?” Sungjae melanjutkan. Lalu diapun menulis alfabet dan angka di bawahnya, kemudian mulai menuliskan angka yang menunjukkan huruf yang dia maksud. “Dari The Swan Beak ini, kita mendapatkan kode angka 1974182201313010. Tidak sampai disini karena disinilah sandi Albireo baru akan diterapkan”

“Baiklah, kami mengerti”

“Aturan kedua sandi Albireo adalah untuk membagi kode angka yang didapatkan menjadi bagian-bagian berisi empat angka,”

“Kenapa empat? Tidak dua, tiga, lima atau yang lainnya,”

“Karena eomma menyukai angka empat, mungkin” sahut Sooyoung tiba-tiba.

Sungjae menoleh ke arah Sooyoung sesaat, lalu berkata. “Yah, aku tidak tahu kenapa harus empat, tapi itu mungkin alasannya. Bukankah sandi ini dibuat oleh eomma-nya? Jadi aturannya terserah pada orang yang membuatnya, ‘kan?”

Tidak ada yang memberi tanggapan kali ini.

Sungjae mulai menulis lagi. “Sekarang kita mendapat empat bagian angka dengan isi empat angka. 1974, 1822, 0131, dan 3010. Aturan selanjutnya, kita perlu menambahkan angka-angka itu dengan masing-masing angka di depannya,” katanya. “Aku akan langsung saja disini, jadi kalian akan langsung mengerti. Nah, angka 1 ditambah angka 9 itu akan menjadi angka 10. Tapi, sandi Albireo ini tidak menganut dua angka penjumlahan, hanya satu angka di belakang. Jadi, disini kita akan menulis angka 0 dari angka 10 itu,”

Aku mengangguk.

“Kita lanjutkan dari penjumlahan itu, 0 dari 10. Kemudian 7 ditambah sembilan… Kita tulis angka 6, lalu 7 ditambah 4, kita tulis 1. Kita mendapatkan angka 061 disini,” kata Sungjae tidak lupa menuliskannya di kertas di depannya. “Lanjutkan dengan angka lainnya, untuk bagian kedua kita akan mendapatkan angka 904, lalu bagian ketiga kita mendapat 144 dan terakhir kita mendapat angka 311,”

“061904144311,” ucap Yeojin membaca angka yang didapatkan dan ditulis oleh Sungjae. “Itu kodenya?”

“Awalnya aku pikir begitu, sayangnya tidak sama sekali. Kenapa?”

Aku mengangkat bahu, dan tidak ada yang menjawab pertanyaan Sungjae itu. “Katakan saja tanpa perlu bertanya. Kau satu-satunya yang tahu disini,” komentarku.

Sungjae tersenyum tipis. “Setiap sandi pasti memiliki kunci, ‘kan? Dan masing-masing kunci itu berbeda meskipun sandi yang dipakai sama. Jadi semua ini tergantung pada kunci apa yang ditinggalkan oleh pembuatnya. Seharusnya dari sini ada yang bisa memberitahuku kunci apa yang ditinggalkan oleh eomma Sooyoung-ssi,”

Aku diam dan berpikir.

“A3.1 5.1?” celetuk Sooyoung setelah beberapa saat.

“Benar sekali!” seru Sungjae senang. “Kuncinya adalah A3.1 5.1. Kita tahu bahwa kunci itu akan menentukan kode terakhir yang kita dapatkan,”

“Dan?”

“Awalnya aku cukup kesulitan mengerti, karena tidak ada aturan lainnya dalam sandi Albireo yang berhubungan dengan kunci. Tapi kemudian aku mengerti bahwa kita perlu untuk menghilangkan angka-angka dalam kode yang kita dapatkan dengan angka yang sama yang ada di kunci. Ini saran dari Yoon sunbae sebenarnya, kau tahu kriptografer senior kita”

Mwoya… Kau memberitahunya?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya meminta sarannya saja,”

“Dan itu yang dia sarankan?”

Sungjae mengangguk. “Aku memutuskan untuk mengikuti sarannya itu, jangan tanya padaku,” katanya. “Kita lanjutkan dengan menghilangka angka yang ada dalam kunci itu.

“061904144311. Kita perlu menghilangkan angka 1 dan 3 dan 5. Tapi tidak angka 5 disini, jadi kita hanya akan menghilangkan angka 1 dan 3 saja. Dari sana kita akan mendapatkan angka 0690444,” lanjut Sungjae. “Terakhir, kita perlu mengembalikan angka itu menjadi huruf kembali. Aku tak perlu menjelaskan ini, jadi aku akan langsung saja, 0690444 akan menjadi AGJAEEE. Dan seperti sebelumnya, kuncinya memiliki huruf A disana, jadi kita hilangkan huruf A-nya, maka akan menjadi GJEEE,”

“Itu passwordnya?”

Sungjae mengangkat bahu. “Kita akan tahu jika kita mencoba memasukkannya, ‘kan?”

Aku mengangguk, lalu memperhatikan Sungjae yang mulai mengetikkan kode huruf itu ke komputer. Itu luar biasa saat bunyi ‘beep‘ kembali terdengar, dan program BAST itupun benar-benar terbuka. Aku tak tahu harus mengatakan apa dan berekspresi bagaimana untuk menunjukkan kepuasanku pada pekerjaan Sungjae ini. Yah, aku memang harus mengakui Sungjae itu seorang ahlinya bidang ini.

“Ya! Kau berhasil, Sungjae-ya!” seru Yeojin sambil menepuk bahu Sungjae dengan keras. “Kau hebat! Hebat sekali! Aku senang kau adalah temanku!”

Aigoo, aigoo… Ini belum selesai, kau tak perlu menyanjungku seperti itu” sahut Sungjae kemudian. Dia menoleh ke arah Sooyoung yang justru terlihat tegang daripada senang karena program itu terbuka. “Nah, Sooyoung-ssi, sekarang berikan cincin itu. Kurasa kita perlu men-scan-nya untuk membaca apa yang ada di dalamnya”

Sooyoung menurut. Diapun melepas cincinnya dan menyerahkannya ke Sungjae yang langsung melakukan sesuatu dengan komputer dan cincin itu. Awalnya aku ingin tahu apa yang dia lakukan, tapi kemudian perhatianku teralihkan pada Sooyoung yang benar-benar tegang. Aku memutuskan untuk mendekatinya dan meraih tangannya. Dia menoleh ke arahku sambil melemparkan sebuah senyuman tipis yang dipaksakan.

Gwenchana?” tanyaku pelan. “Kau terlihat tegang,”

Gwenchanayo. Geunyang—” Dia mengambil jeda sesaat untuk menghela napas panjang. “Aku tak tahu apa aku benar untuk melihat ini atau tidak. Rasanya seperti aku terlalu berani dan sembarangan jika membukanya”

“Kenapa kau pikir begitu?”

“Yah… Bukankah katamu ini daftar rahasia CIA? CiA itu organisasi besar, dan aku adalah orang biasa. Meskipun eomma yang membuat dan menyimpannya, rasanya tidak benar jika aku melihat-lihat itu”

Aku bisa mengerti maksud Sooyoung, tapi memilih untuk tidak mengatakan apapun. Lalu bunyi ‘beep’ ketiga kembali terdengar, membuat perhatianku dan Sooyoung kembali beralih ke komputer. Sungjae bangkit berdiri dan dia berdiri di samping Yeojin dengan melipat kedua tangannya ke depan dada. Dia menatapku dan Sooyoung, lalu ke arah komputer yang dia biarkan begitu saja.

“Lihatlah apa yang ada di dalamnya,” katanya padaku dan Sooyoung.

Sebelum aku melangkah ke arah komputer, aku sempat menatap Sooyoung tang masih terlihat ragu. Jika memikirkan lebih jauh memang kami seharusnya tidak membukanya dan mengetahui apa isinya, tapi bukankah kami sudah sejauh ini? Mengherankan memang karena tiba-tiba Sooyoung merasa ragu di menit-menit terakhir ini. Kalau begitu, apa dia hanya akan menyimpan cincin itu, diburu oleh orang-orang jahat tanpa mengetahui apa yang mereka cari sebenarnya?

“Aku akan melihatnya,” kataku pada akhirnya. “Kau juga harus melihatnya, Sooyoung-ah. Kita tidak perlu melihat secara keseluruhan, hanya garis besarnya saja. Eotte?

“Waegeurae?”

“Sooyoung merasa ragu untuk melihat isi di dalam cincin itu,” kataku menjawab pertanyaan Yeojin. “Dia merasa tidak berhak melakukannya,” Aku menambahkan.

“Justru kau yang lebih berhak, Sooyoung-ah. Kenapa kau bahkan merasa seperti itu?” kata Yeojin menghadap Sooyoung. “Itulah kenapa aku dan Sungjae menyingkir sekarang, karena kau adalah orang yang seharusnya melihat itu, bukan kami”

“Tapi apa yang akan aku dapatkan?”

“Informasi. Itu lebih dari cukup, ‘kan?” sahut Yeojin. “Alasan eomma-mu meninggal itu mungkin memang karena dialah yang membuat program yang cukup menyusahkan ini, tapi apa kau tidak ingin tahu kenapa appa-mu juga menjadi korban mereka? Tidak mungkin hanya karena dia adalah suami eomma-mu, ‘kan?”

Aku memperhatikan Sooyoung sambil mendengarkan perkataan Yeojin itu. Aku bisa melihat perubahan ekspresi Sooyoung di wajahnya dengan sangat jelas. Aku tahu sedang ada pergolakan di hatinya untuk melakukan dan atau tidak melakukan semua ini. Tapi kemudian—setelah beberapa saat hanya berdiri diam, diapun melangkahkan kakinya ke arah komputer dan pandangannya terpaku pada layar komputer sekarang.

Aku ikut mendekat, hanya sekedar untuk menemani Sooyoung. Aku membiarkannya yang mengoperasikan komputer. Isinya daftar, ada banyak daftar. Aku hanya sempat membaca daftar nama seseorang, negara, tujuan, pelaku dan saksi. Sisanya tidak begitu jelas dibaca dengan sekilas. Sesekali aku menatap Sooyoung, ingin tahu bagaimana reaksinya pada isi daftar ini. Dia terlihat serius sekarang dan aku sama sekali tidak mau mengganggunya.

“Mungkin kau bisa mengetikkan nama yang kau inginkan jika kau ingin lebih cepat. Biasanya program seperti ini sudah di desain sedemikian rupa untuk hal-hal seperti itu,” Sungjae memberitahu dari arah belakang kami.

Sooyoung diam di tempatnya untuk beberapa saat. Tapi kemudian dia mulai mengetikkan nama appa-nya, Choi Jin Ho disana dan tak lama kemudian suara ‘beep’ berikutnya terdengar diikuti dengan munculnya dua baris yang berhubungan dengan nama yang diketik Sooyoung. Itu adalah baris informasi dan foto orang yang bersangkutan. Kali ini aku ikut membacanya dan cukup terkejut karena nama Choi Jin Ho ada dalam daftar nama saksi yang dilindungi oleh CIA. Ada nama eomma Sooyoung dan nama Sooyoung juga disana dengan keterangan hubungan keluarga, dan satu nama lagi yang membuatku mengerutkan kening.

“Choi Jin Kyung?” gumam Sooyoung yang sepertinya juga memperhatikan hal yang sama denganku. “Siapa Choi Jin Kyung?”

Aku diam saja karena aku memang tidak tahu apapun.

Sooyoung mengetikkan nama ‘Choi Jin Kyung’ dengan keyboard, lalu muncul barisan informasi tentang orang dengan nama itu. Foto seorang anak kecil dengan rambut sebahu sedang berdiri menempel pada appa Sooyoung. Aku membaca informasi anak itu dan kembali terkejut saat membaca hubungan yang tertulis disana. Anak itu adalah anak perwalian dari appa Sooyoung, apa itu berarti dia adalah Ayami? Bukankah Ayami pernah memberitahuku sesuatu seperti itu?

Mwoya igeo….” gumam Sooyoung. “Anak perwalian? Saksi?”

“Sooyoung-ah,”

Oppa, apa ini artinya appa-ku memiliki anak lain selain aku?” tanya Sooyoung padaku. “Lihat, kau juga membacanya sendiri, ‘kan?”

Aku menatap sekilas Yeojin dan Sungjae yang juga terlihat terkejut dan gelisah, lalu menatap Sooyoung yang sedang membaca lagi informasi yang ada di depannya. Haruskah aku memberitahunya sekarang? Tapi aku masih tidak yakin jika Choi Jin Kyung itu memang Ayami atau bukan. Lagipula fotonya adalah foto anak kecil, ‘kan? Bisa saja itu bukan Ayami.

“Kita harus mencarinya, oppa” celetuk Sooyoung tiba-tiba. “Terlepas dari dia masuk ke dalam daftar ini, aku harus menemukannya dan mencari tahu—”

Geureom… Bagaimana kau akan menemukannya?” potongku dengan cepat. “Foto ini tidak akan cukup untuk menemukannya, Sooyoung-ah. Kita bahkan tidak tahu apa dia masih hidup atau nasibnya sama dengan saksi-saksi lainnya. Ada kemungkinan itu, ‘kan?”

“Meskipun begitu, aku akan tetap mencarinya”

“Sooyoung-ah, jangan gegabah”

“Ini bukan masalah gegabah atau tidak, oppa. Appa-ku… Appa-ku—”

“Aku tahu, itulah kenapa kau harus tenang sekarang,” kataku mencoba menenangkan Sooyoung. Aku menoleh ke arah Sungjae di belakangku, “Sungjae-ya, bisakah kau mematikan program itu dan menyimpan informasi tentang Choi Jin Kyung. Kita akan mencari tahu, tapi tidak sekarang. Untuk saat ini, kita cukup tahu sampai itu saja”

“Geurae, arraseo,”

“Oppa,”

“Ayo kita keluar dari sini,” Aku meraih tangan Sooyoung dan mengajaknya untuk meninggalkan ruangan. “Aku tahu kau sangat ingin tahu tentang anak itu. Kau juga sangat ini mencarinya. Tapi kau juga harus tahu, kita tidak memiliki informasi apapun terkait hal itu. Tidak ada yang bisa kita jadikan sebagai sumber informasi mengenai hal itu. Akan membutuhkan waktu untuk mengetahuinya, Sooyoung-ah

“Tapi—”

“Dia anak perwalian appa-mu, aku juga tahu. Aku akan mencari tahu itu, dan kau tak perlu melakukan apapun selain menjaga dirimu sendiri. Ingat, kau sedang menjadi incaran kelompok-kelompok mafia yang tidak akan berhenti memburu cincin itu sampai mereka mendapatkannya. Semuanya akan semakin berbahaya jika sampai mereka tahu bahwa kau tahu bagaimana untuk membuka program itu dan kau mengetahui apa isinya”

Sooyoung diam saja.

“Kyuhyun benar, Sooyoung-ah. Kau harus mendengarkannya kali ini. Nyawamu adalah prioritas. Aku akan membantu mencari kebenaran informasi itu,” Yeojin membantuku menenangkan Sooyoung. “Ini memang mengejutkan, tapi kita tidak boleh ceroboh dan gegabah untuk saat ini”

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan, eonni

“Kita tenangkan diri sekarang setelah mengetahui hal yang mengejugkan ini,” kataku mengalihkan pembicaraan. “Sungjae-ya, menyusullah ke kafe di biasa di dekat sini. Kami akan menunggumu disana. Kajja, Yeojin-ah,” Aku mengajak Yeojin sambil menarik pelan Sooyoung untuk mengikutiku.

“Eo, arraseo,”

__

Sooyoung POV

Appa datang menemuiku semalam di dalam mimpiku. Ini pertama kalinya aku memimpikannya bahkan sejak aku meninggalkan rumah beberapa tahun yang lalu. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba datang datang ke mimpiku atau kenapa aku memimpikannya. Tapi itu mungkin karena aku memikirkan daftar yang ada di dalam cincin BAST yang beberapa hari yang lalu berhasil dibuka oleh Sungjae. Bagaimana tidak? Nama Choi Jin Kyung selalu ada dipikiranku sejak itu, dan aku tak bisa menyingkirkannya dari pikiranku sekeras apapun aku mencobanya.

Sebenarnya sudah cukup lama aku tidak datang berkunjung, jadi mungkin saja appa datang menemuiku karena dia ingin aku mengunjunginya. Itulah kenapa saat ini aku mengunjungi appa-ku.

Aku keluar dari mobil tepat saat ponselku bergetar. Aku mengambilnya dari tasku dan memeriksa nama yang ada di layarnya. Setelah memeriksanya, akupun menjawab panggilan itu sambil mengambil bunga di kursi belakang lalu melangkahkan kaki menuju monumen appa-ku.

Eo, Yoona-ya. Waegeurae?

Eodiya jigeum?

“Aku mengunjungi appa sekarang. Sudah lama aku tidak datang,” jawabku jujur.

“Ah, pantas saja. Aku ke rumahmu, tapi ahjumma bilang kau tidak di rumah bahkan sejak seminggu ini,”

Eo, aku di rumah Kyuhyun. Ada sesuatu yang harus aku lakukan mengenai cincin itu, jadi yah—aku menginap beberapa hari disana”

Geurae?” celetuk Yoona terdengar biasa. “Geureom... Apa yang akan kau lakukan setelah mengunjungi appa-mu? Jika tidak ada yang kau lakukan, datanglah temui aku”

Wae?

“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Lebih tepatnya namjachingu-ku,”

Aku tertawa kecil, “Aigoo…. Nugu?

“Kau akan tahu nanti,” sahut Yoona. “Jadi, kau akan datang, ‘kan?”

Eo, aku akan datang”

“Baiklah, kalau begitu. Aku tutup teleponnya dan sampaikan salamku untuk appa-mu,”

Eo. Jalja…

Aku menutup sambungan telepon itu sambil menggelengkan kepalaku karena tidak menyangka sahabatku akan semudah itu berganti pasangan. Cukup disayangkan dia tidak bertahan lama dengan namjachingu-nya yang terakhir, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin saja dia memang tidak bahagia dengan namjachingu-nya sebelumnya. Apapun itu, asalkan Yoona bahagia itu sudah cukup untuk membuatku bahagia juga.

“Dasar gadis bodoh,” gumamku setelah memikirkan Yoona dan semua hal yang dia lakukan yang bisa aku ingat.

Aku mempercepat langkahku, tapi kemudian berhenti saat dari kejauhan aku melihat seseorang sedang berdiri di depan monumen appa-ku. Itu seorang yeoja, sudah pasti, tapi siapa? Keningku berkerut, berpikir siapa kira-kira yeoja yang datang mengunjungi appa itu. Mungkinkah anak buahnya di militer? Tapi melihat dari pakaiannya, sepertinya bukan. Lalu siapa?

Aku kembali melangkah sambil terus berpikir. Setelah mengambil jarak tertentu, akupun kembali menghentikan langkahku dan mengamati yeoja itu dari belakang. Tidak ada satu halpun yang menandakan bahwa aku mengenal yeoja ini. Dan kemudian—dengan tiba-tiba, aku mencelos. Apa dia anak kecil itu?

“Choi Jin Kyung-ssi?” panggilku pelan dan ragu. Jantungku berdegup kencang menunggu reaksi yeoja itu. Sebagian hatiku penasaran, tapi sebagiannya lagi takut dan khawatir. Bagaimana jika itu benar dia? Apa yang harus aku lakukan jika memang itu dia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar di otakku.

Untuk beberapa saat, yeoja di depanku hanya diam mematung memunggungiku. Tapi kemudian, dengan perlahan diapun membalikkan badannya dan semua kekhawatiran yang aku rasakan menghilang karena dia adalah Ayami. Dia bahkan tidak terkejut melihatku, seakan-akan sudah tahu bahwa dia bisa bertemu denganku kapan saja disini. Justru akulah yang terkejut melihatnya. Apa yang dia lakukan disini? Apa dia mengenal appa-ku? Bagaimana dia bisa tahu tempat ini?

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku pada akhirnya setelah hanya diam di tempatku sambil memandanginya tidak percaya.

“Senang melihatmu disini, Sooyoung-ssi,

Aku menaikkan satu alisku, “Apa kau merasa bersalah karena sudah menjadi bagian dari kelompok yang membunuhnya jadi kau datang kesini? Kau pikir itu akan mengubah segalanya dengan datang dan berlutut disini?”

“Apa kau benar-benar berpikir aku orang yang seperti itu?”

“Tentu saja,” sahutku dengan tegas. “Kau tahu, semua hal tentang dirimu itu adalah kebohongan. Aku tidak percaya Kyuhyun sangat mempercayaimu sampai dia membelamu di depan yeojachingu-nya sendiri,”

“Kurasa Kyuhyun belum memberitahukan apapun padamu—”

“Kau pikir aku mau mendengar apapun tentangmu?!” seruku menyela perkataannya. “Mendengar namamu saja sudah membuatku ingin memuntahkan isi perutku, apalagi jika aku harus membicarakan—”

“Sooyoung-ssi,” Kali ini giliran Ayami yang menyela perkataanku. “Kurasa kita harus pergi dari sini” lanjutnya sebelum aku sempat mengatakan apapun lagi.

Wae? Appa-ku berhak tahu bahwa orang yang terlibat dalam pembunuhannya sekarang disini, jadi kenapa kita harus pergi dari sini? Kenapa aku harus ikut pergi denganmu?”

“Tidak ada waktu lagi,” Ayami menarik tanganku dan memaksaku untuk berlari dengannya. Dia bahkan membuatku harus menjatuhkan bungaku yang seharusnya aku berikan pada appa, dan dia sama sekali tidak memedulikan itu.

Ya!” protesku marah dengan apa yang dilakukan Ayami. “Siapa kau melakukan hal seperti ini padaku?!”

“Aku eonni-mu,” jawabnya terus menarikku dan mengabaikanku yang berusaha untuk melepaskan diri darinya. “Kau diikuti. Jika kau tidak percaya padaku, kau bisa lihat ke belakang dan sekitarmu”

Aku mengikuti apa Ayami katakan, dan mengarahkan pandanganku ke sekelilingku. Memang ada banyak orang yang sepertinya sedang mengajarku sekarang. Mereka berlarian dari segala arah dan terus menunjukkan tangannya ke arahku dan Ayami yang berlari menjauh dari mereka.

“Mengerti sekarang kenapa kita harus pergi dari sini?” celetuk Ayami setelah beberapa saat. Tapi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya. “Kau bawa mobil?”

Eo,

Eodi?

“Disana,” kataku menunjuk ke arah utara.

Ayami segera mengubah arah. Ada sekitar tiga orang yang menghadang kami dan aku cukup terkejut saat dia memilih untuk melawannya sementara aku dibiarkan berdiri di belakangnya dan jauh dari jangkauan tiga orang itu. Lalu kelompok lainnya datang, dan aku mulai panik. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin melawan mereka, dan begitupula Ayami. Mereka banyak, dan kami hanya berdua. Sehebat apapun Ayami, dia pasti akan kalah dengan orang-orang ini. Aku bahkan ragu Kyuhyun akan bisa mengalahkan mereka jika saat ini dia yang bersamaku, bukan Ayami.

“Pergilah dulu ke mobilmu, dan nyalakan mobilmu,” kata Ayami menghindari serangan salah satu namja dan berlari ke arahku untuk menarikku menghindari serangan namja lainnya. Dia menahan namja itu, lalu mendorongnya dengan kakinya. “Jika kau percaya padaku, kau akan menungguku. Jika tidak, lakukan saja sesuai dengan apa yang kau inginkan. Aku akan berusaha menahan orang-orang disini,”

Aku tak tahu harus menaggapi bagaimana dan hanya bisa diam di tempatku. Mungkin karena aku masih terkejut dengan apa yang saat ini terjadi.

Palli. Sigani eobseo,” seru Ayami kemudian.

E—Eo,” sahutku, tersadar dari keadaanku. “Aku akan menunggumu di pintu keluar,”

Ga!

Aku bergegas memutar badan, dan berlari secepat yang aku bisa menuju mobilku. Ada beberapa orang yang mengejarku juga, tapi aku tidak menyempatkan waktuku untuk memeriksa itu. Begitu sampai di mobil, aku segera memasukinya, menyalakannya dan meninggalkan kawasan itu. Mereka melakukan hal yang sama, seakan-akan mereka tidak mau membiarkanku pergi begitu saja. Aku terpaksa harus memutar akalku untuk menjauh dari kejaran mereka. Aku memilih untuk mengelilingi kawasan itu dan melihat Ayami sedang berlari dengan sekitar 7 orang di belakangnya.

Aku memutuskan untuk mengikuti Ayami, ke arah mana dia belari. Lalu, setelah memastikan dia melihatku, aku segera membuka pintu mobil dan menghentikannya dalam jarak tertentu yang dekat dengannya. Ayami masuk ke mobil, dan tanpa menunggu apapun lagi aku bergegas meninggalkan kawasan itu, menghindar dari kejaran mobil-mobil yang tidak kenal lelah untuk mengejarku.

Gomawo,” kata Ayami masih terengah-engah karena dia baru saja berlari.

Aku menoleh sekilas ke arahnya, melihat punggung tangannya yang berdarah juga lengannya. Tapi aku tetap tidak mengatakan apapun untuk memberinya tanggapan meskipun aku sangat ingin menanyakan keadaannya sekarang. Biar bagaimanapun, dia sudah membantuku kali ini, ‘kan?

“Apa kau pernah mengemudi cepat dan menghindari kejaran mobil lainnya?”

“Tidak, tidak pernah”

“Kalau begitu, kita tukar posisi”

Huh? Eotteoke?

Ayami setengah bangkit dari kursinya, lalu memegangi kemudi mobilnya. Perlahan, dia meletakkan satu kakinya ke dimana kakiku yang menginjak kopling berada. “Lepaskan saja pedal gasnya, dan pindah dari kursimu secepat yang kau bisa”

Eotteoke—

“Percaya saja padaku,” sahut Ayami dengan penuh keyakinan. “Dalam hituungan tiga, kau akan beranjak dari kursimu lalu berpindah ke kursiku. Hana, dul, set—

Meskipun gugup dan ragu, akupun beranjak dari tempatku, dan entah bagaimana sekarang aku sudah duduk di kursi penumpang sementara Ayami di kursi pengemudi. Mobil sempat oleng sesaat, tapi Ayami dengan sigap meluruskannya dan kembali ke jalurnya semula. Aku takjub dengan apa yang baru saja kami lakukan ini, tapi tidak mengatakan ketakjubanku ini. Aku memilih untuk memeriksa di belakang mobilku dan melihat mobil-mobil yang sama masih berada tepat di belakang kami.

“Mereka tidak akan melepaskanmu sampai mereka benar-benar mendapatkanmu,” kata Ayami memberitahu.

“Orang-orangmu?”

Black Dragon, maksudmu?” celetuknya kemudian. “Mereka bukan orang-orangku, dan aku tidak ada hubungannya dengan mereka. Tapi bukan, itu bukan Black Dragon, melainkan GAIA”

Mworaguyo? GAIA?”

“Aku yakin kau tak akan bisa membedakannya, tapi itu mereka” kata Ayami memepercepat laju mobilnya sambil membantingkan kemudinya ke arah kiri untuk menyalip mobil yang lainnya. “Ini akan menjadi tidak mudah,” komentarnya kemudian.

“Kenapa memangnya?”

“Sudah aku katakan, mereka tidak akan melepaskanmu” sahutnya singkat. “Kita harus mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini,”

“Apa maksudmu dengan itu? Dan darimana kau tahu GAIA yang mengejarku?”

Ayami tidak menjawab kali ini. Beberapa kali dia terus menatap ke arah dua spion samping lalu ke spion di depannya. Dia sering membanting kemudi untuk menghindari mobil lain atau menyalipnya. Dia terkadang juga memutar kemudi tiba-tiba untuk berganti arah. Mau tak mau, akupun harus berpegangan dengan erat karena aku tak tahu apa lagi yang akan dilakukan Ayami. Terlepas dari itu semua, aku harus mengakui bahwa kemampuan mengemudinya luar biasa untuk seorang yeoja. Dia melaju dengan kecepatan penuh, meliuk-liuk di jalanan dan bahkan memutar. Kemampuan seperti ini jarang dimiliki oleh yeoja, kecuali memang untuk yeoja-yeoja seperti Yeojin dan yeoja lainnya yang bekerja di bidang yang sama dengannya.

“Pegangan erat,” seru Ayami tiba-tiba, dan akupun dengan cepat berpegangan. Tepat pada saat itu, Ayami memutar kemudi mobilnya dan berbalik arah. Dia bahkan tidak memedulikan rambu jalanan dan tetap melaju ke arah yang dia inginkan.

Apa yang dia lakukan ini cukup memberikan kami waktu untuk menjauh dari mobil-mobil yang mengejar kami. Meksipun begitu, Ayami tidak memperlambat laju mobilnya. Dia justru mempercepatnya dan kami mengarah ke Ansan. Dia sama sekali tidak mengajakku berbicara selama perjalanan itu, dan matanya terus memperhatikan kanan-kiri, depan-belakangnya. Dia terlalu sibuk memperhatikan jalanan di sekitarnya, sementara aku sibuk memperhatikan lengannya yang berdarah semakin banyak.

“Kau terluka,” kataku pada akhirnya setelah banyak mempertimbangkan untuk mengatakannya atau tidak mengatakannya. “Mereka berhasil melukaimu,” kataku lagi untuk mengalihkan perhatiannya sesaat.

Arrayo,” Ayami menjawab tanpa menoleh ke arahku. “Aku akan mengatasi ini setelah semuanya baik-baik saja”

“Kau mau pergi kemana?”

Ayami tidak menjawab kali ini, tapi tidak lama kemudian dia menghentikan mobilnya di dekat sebuah hotel di distrik Dangwon. Aku tidak mengerti apa maksudnya dengan berhenti disini. Apa sekarang dia tinggal di daerah sini? Di Ansan? Atau bagaimana? Aku baru akan bertanya padanya, tapi dia dengan cepat mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang—entah siapa. Aku mencoba untuk tidak mencuri dengar apa yang dia katakan, tapi dia memberitahukan lokasi kami sekarang dan bagaimana keadaanku dan dia. Jadi, aku yakin orang yang dia hubungi adalah orang yang kami berdua kenal. Apa itu Kyuhyun?

“Kau keluar disini dan bersembunyilah di hotel itu,” kata Ayami menunjuk ke arah sebuah gedung disana. “Cari tempat persembunyian yang aman dan berikan ponselmu. Kupikir mereka tahu kau dimana karena kau menggunakan ponselmu”

Aku mengambil ponselku dan segera memberikanya padanya tanpa banyak mendebat. “Tapi kenapa hotel—?”

“Tidak ada tempat lain yang bisa aku pikirkan untuk sekarang. Kafe atau restoran itu terlalu terbuka, dan tidak ada banyak tempat untuk bersembunyi,” sahut Ayami sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Sementara hotel, kau bisa bersembunyi dimana saja, dan kau bisa berpura-pura sebagai tamu disana jika memang ada orang yang mencurigakan”

“Sungguh? Kau pikir semudah itu?”

“Aku sudah menelepon Kyuhyun, dan dia akan segera datang kesini untuk menjemputmu,” Ayami mengabaikan pertanyaanku. “Sekarang keluarlah. Aku perlu mengalihkan perhatian mereka,”

“Kau mau kemana?”

“Menjauhkan mereka dari tempat ini,” jawabnya. “Tetap bersembunyi dan tunggu sampai Kyuhyun menemukanmu. Dia pasti akan menggunakan segala cara untuk menemukanmu, jadi kau tidak perlu khawatir meskipun kau tidak bisa menghubunginya”

“Tapi kau akan kemana dan apa yang akan—“

Ayami membuka paksa pintu mobilnya dari dalam, melepaskan sabuk pengamanku dan sedikit mendorongku untuk keluar dari mobil. Mau tak mau akupun keluar dari mobilku sendiri. Tidak lama kemudian—tanpa mengatakan apapun, dia langsung meninggalkanku di sana sendiran dan melaju dengan kecepatan penuh begitu bergabung dengan mobil-mobil lainnya di jalanan. Aku hanya bisa diam di tempatku sambil memperhatikan mobilku di bawa pergi tanpa aku bisa melakukan apapun.

Aku menghela napas panjang, tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi padaku. Aku tidak punya ponsel sekarang, dan aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Tapi jika memang Ayami sudah menghubungi Kyuhyun dan dia memintaku untuk bersembunyi di hotel ini sampai Kyuhyun datang menemukanku, maka aku harus melakukannya. Jika aku begitu saja, aku akan membuat Kyuhyun kesulitan untuk menemukanku. Karena aku tidak memiliki ponsel untuk memberitahunya dimana lokasiku, dan akupun tidak bisa menggunakan telepon hotel karena takut akan dilacak kembali.

Aish, jinjja.. eotteoke?” gumamku pada diri sendiri.

Aku mengacak pelan rambutku, lalu kembali menghela napas panjang. Entah kenapa aku memikirkan Ayami. Apa dia akan baik-baik saja? Dia terluka, ‘kan? Kenapa dia melakukan semua ini untukku? Apa maksudnya yang sebenarnya dengan melakukan hal-hal ini untukku? Rasa bersalah pada appa atau yang lainnya?”

“Aku eonni-mu,”

Aku teringat jawabannya beberapa saat yang lalu. Aku mendesah panjang dan merasa bersalah padanya. Aku memang pernah menganggapnya sebagai eonni-ku sebelum aku mengetahui siapa dia sebenarnya. Apa hanya karena alasan itu dia membantuku menyelamatkan diri dari pengejaran yang sangat mengejutkanku itu? Tapi untuk apa dia melakukannya?

-TBC-

Halo-halo… mian, lama banget…

Banyak urusan jadi yah… maaf karena lama lanjutin FF ini, hiks T.T

Ah, fyi… sebenarnya aku mau akhiri FF ini di part 16 ini, tapi ternyata dalam prosesnya akan panjang part ini, jadi aku putusin untuk nambah satu atau dua lagi (tapi kemungkinan satu) Aku berharap kalian masih mau nunggu FF yang lama update ini yah, huhu…

Anyway… jangan lupa komentarnya&&

Gomawoyo!

 

Advertisements

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

6 thoughts on “[Series] The Precious Thing -16-

  1. Telat aku baca nya tp ttp ngikutin ko ka ..
    Cerita nya makin tegang aku nya semakin penasaran ?? Apa lagi ql Sooyoung tw dy bener kakak nya???

  2. ashhhhh jinjjha!!!! part yng in ko bkin jantungan yaa 😮 jdi bner kko suami ntu ank wakil’a tn.choi appa soo eonni? ahhhhh feel’a bner” great bnget!!!! jdi pnasaran sma next’a, jga sma nasib ayami & soo eonni yng terpisah dri kejaran orng” GIA…… ttep d tunggu next part’a min

  3. yahh selalu spot jantung dan tegang di buatnya kalau baca ff ini eonii moment kyuyoung di banyakin eonii lain kali ne next part di tnggu ku harap gak terlalu lama ne

  4. huaaaaa akhirnya di post juga 😭😭😭 setiap hari kemari buat liat kelanjutannya udah ada apa belum 😢😢😢.
    ah jadi bener ayami ada hubungannya sama appanya sooyoung. wahh I have bad feeling about this, ayami bakal selamat atau engga. kalo dia ngga selamat kasian pasti, dia baru nemu keluarganya.
    kak ini keren banget asli 😍😍😍 kode2 itu bikin pusing 😂😂😂 makin seru deh, ditunggu pake banget kak kelanjutannya 😙😙😙

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s