Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Mystery, Psychology, Romance

Sound of My Dreams [2]

dream

A story by Soshinism

—–

RatingPG 13

GenreRomance, Psychological, Fantasy

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Please kindly check out my own blog for more stories and about myself, just click the link down below.

Soshinism

—–

Seseorang benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya pagi buta tadi. Kakak perempuanku belum pulang dan rumahku masih gelap, kecuali beberapa bagian yang dinyalakan asisten rumah tangga kami yang aku tidak tahu namanya, kalau tidak salah marganya Lee. Tanpa sadar aku menempatkan diri di depan lemari pendingin, mencari steak ayam yang disebut-sebut Ahra dalam catatan kecilnya, kemudian memanaskannya dalam microwave.

Bunyi ding memenuhi ruangan setelah beberapa menit dan kuhabiskan makanan itu dengan lahap. Aku tidak bisa menolak kebenaran bahwa isi perutku meronta minta diberi nutrisi setelah Minho mampu membuatku bertahan lebih lama di sekolah, membantunya mengerjakan satu tugas dan mengerjakan perintah seorang guru untuk menyortir sebuah berkas yang aku tak terlalu paham apa isinya.

Piring kotor kemudian menemukan jalannya pada mesin pencuci piring dan aku pada kamarku. Kuputuskan untuk langsung berpetualang ke dalam mimpi lagi akibat lelah yang melanda.

***

Mataku terbuka karena merasakan tekanan yang luar biasa. Kelopak mataku menyipit lagi ketika menyadari aku berada di sebuah ruangan berwarna putih. Semuanya putih. Tanpa apapun di dalamnya. Tidak-tidak, ini tidak bisa disebut ruangan, aku tidak bisa melihat ujung dari tempat ini. Yang kulihat hanya putih, itu saja. Aku bahkan tidak mengerti kedua kaki milikku sedang menginjak bidang di bawah atau tidak.

Lamat-lamat ada sesuatu yang terbuka di depan mataku, seperti ada sekumpulan kabut yang membuka diri mereka dan memberikan jalan pada indera penglihatanku untuk melihat lebih jelas apa yang ada di hadapanku. Huh? Ada seseorang lain di sini?

“Chogi…” ujarku mencoba memanggilnya.

Seseorang itu terlihat sedang tidur. Dalam sebuah kotak yang terbuat dari kaca jernih. Tubuhnya yang ramping menempel pada sisi kaca bagian kanan, dia tidur dalam posisi duduk. Aku tidak ingin mengganggunya, tapi aku terlalu penasaran untuk tidak melakukan hal itu. Belum lagi, ditambah fakta bahwa sepertinya hanya ada aku dan dirinya di ruang kosong itu.

Tok tok tok.

Hasrat untuk mengetuk kotak kaca itu tidak mampu kutahan. Dan perlahan sang gadis membuka matanya. Saat dia sadar ada seorang lain bersamanya, kedua matanya yang aslinya sudah lebar bertambah lebar. Senyum mengembang di wajahnya.

“Whoa… yeppeuda.” Hah? Apa yang baru saja kuucapkan? Aku benar-benar tidak sadar mengucapkan pujian itu padanya. Tapi jujur saja, dia benar-benar menawan. Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya ketika mendengarku.

Aku baru sadar dia mengenakan seragam sekolah, sepertinya dia berada di tingkat yang sama denganku, atau lebih muda dua tahun, entahlah, tak terlalu penting untukku. Dia bahkan masih membawa ransel miliknya. Rambutnya berwarna cokelat muda, hampir seperti warna buah persik, tapi juga mengarah ke merah muda dan hanya mencapai pertengahan lehernya, tapi cukup bervolume sehingga nampak sangat pas dengannya.

“Kau bisa melihatku?” tanyanya. Aku mengernyit. Tentu saja?

“Tempat apa ini?”

Dia mengendikkan bahu, ternyata sama-sama tidak tahunya denganku.

“Aku tidak tahu apa yang kulakukan di sini. Dan… mengapa ada dirimu di sini? Nu-nuguseyo?”

Ini pasti mimpi, kan? Mimpi jenis apa ini? Seorang gadis tiba-tiba muncul di hadapanku. Hah. Tertawalah sepuasmu dan sebahagiamu Kyuhyun, kapan lagi kau mendapatkan kesempatan semacam ini.

“Oi, aku berbicara denganmu.”

Kudengar suaranya lagi, ada nada kekesalan di dalamnya karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Cho Kyuhyun. Kau?”

“Sooyoung,” dia berkata sambil tersenyum.

Shit. She is gorgeous.

Lalu rasa penasaranku membuncah ketika ingat dia berada di dalam sebuah kotak kaca sedangkan aku bebas berkeliaran di sekitarnya.

“Sedang apa kau di dalam sana? Tidak mencoba keluar?”

Dia terlihat menunduk sebentar, seperti agak sensitif dengan pertanyaan itu. Tubuhnya dia dirikan dan salah satu tangannya menempel pada satu sisi kotak kaca. Kemudian kepalanya menengadah untuk melihatku lagi.

“Aku sudah berada di sini beberapa hari. Mungkin, dua hari sebelum kau datang. Hari pertama kuhabiskan untuk lepas dari kotak ini dan pada percobaan yang entah keberapa kali, aku berhasil,” dia menunjuk sesuatu di kejauhan yang nampak seperti palu kemudian menjelaskan padaku bahwa dirinya berhasil menghancurkan kotak pertama tempatnya berada dan membebaskan diri, membawa palu itu keluar bersamanya.

“Tapi kebebasanku tak berlangsung lama. Hanya lewat beberapa menit, kurasakan napas mulai melemah. Lalu bagai ada tornado mengelilingi, aku terhempas lagi. Ke dalam kotak lain yang identik dengan kotak pertama.”

Kali ini telunjuknya mengarah pada sesuatu yang lain, berada di seberang palu tadi. Sebuah kapak tergeletak begitu saja tanpa perlawanan apapun. Dan dijelaskannya lagi dia berhasil keluar dari kotak kedua yang memenjara dirinya dengan kapak itu. Tapi hal yang sama terjadi lagi. Napasnya mulai tercekat setelah hanya beberapa menit berjalan tanpa arah dalam ruang kosong itu dan tubuhnya lagi-lagi dipaksa masuk ke dalam kotak kaca yang lain. Yang dia tidak tahu dari mana datangnya.

“Lalu aku tersadar. Aku tidak bisa keluar dari kotak ini. Kalau iya, aku akan mati.”

Mataku membelalak mendengar pernyataan itu keluar darinya, akhirnya memahami sesuatu. Sumber napas gadis itu hanya ada di dalam kotak.

“Kuharap aku saja yang berada di posisimu,” kataku dan mendapatkan pandangan aneh darinya. Alisnya naik satu dan bibirnya sedikit membentuk lengkungan ke bawah sebelum kemudian dia kembali pada raut wajahnya yang tenang.

“Molla,” ujarnya lagi.

“Huh? Molla?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku bahkan tidak tahu sekarang berada di mana.”

“Kau berada di dalam mimpiku.”

Gadis itu tampak terkejut. Matanya tepat mengarah pada milikku. “He?! Dalam mimpimu?!” suaranya naik beberapa oktaf. Aku bisa melihat dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan apa yang sedang terjadi.

“Yep. Ini mimpiku. Dan kau ada di sini.”

Dia berjalan berbalik-balik dari ujung kaca ke ujung yang lain. Berpikir. Tangannya kemudian berada pada dagunya, “Artinya kau tertidur di kehidupan nyata?” Aku mengangguk.

“Artinya aku ada di dalam kepalamu?” Aku mengangguk lagi, agak ragu kali ini. Alisnya mengerut. Nampaknya dia benar-benar terkejut. Tidak tahu, aku sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu.

“Apakah aku mengenalmu? Apa kau mengenalku? Sedang apa sebenar–.”

Beep beep beep.

Huh? Terbangun? Ya, Cho Kyuhyun, kau terbangun dari mimpi indahmu. Tanganku meraih sumber suara menyebalkan itu dan mematikannya. Jam di ponsel baru menunjukkan pukul tiga pagi. Kurasakan raut wajahku berubah mengingat yang baru saja datang dalam mimpi. Bukan yang biasanya, bukan yang biasa menerjang selama lima tahun belakangan.

Wae? Mengapa berbeda? Mengapa kali ini? Apa yang terjadi? Siapa gadis itu? Mengapa dia datang dalam mimpiku?

Holy shit. Aku tidak tahu lagi apakah aku masih waras.

***

“Apa yang kau baca?” Minho tiba-tiba bersuara, tepat di samping telingaku dan mampu membuatku melonjak dari posisiku beberapa sentimeter, “buku yang kemarin.” Pada kenyataannya aku belum selesai membaca buku itu. Minho mendudukkan diri di kursinya yang berada di samping kursiku kemudian dia diam. Dan aku teringat sesuatu. Entah mengapa aku mendapat dorongan untuk mengatakan hal ini padanya.

“Minho.” Lelaki itu menoleh tepat setelah aku memanggilnya.

“Hm?”

“Aku bermimpi bertemu seorang gadis tadi malam. Dia terlihat sangat nyata sampai kukira aku tidak bermimpi pada awalnya.” Matanya melebar. Perlahan sebuah seringai terbentuk di wajahnya. Kemudian dia tertawa. Jahil.

“Gadis impianmu, huh?”

“Hah?” Ugh, aku tersadar apa yang ada di otak lelaki itu dan meraih rambutku untuk mengacaknya, gusar. Maksudku bukan seperti itu, Minho.

“Tidak-tidak. Bukan mimpi semacam itu maksudku. Aku bahkan tidak mengenalnya. Dia hanya tiba-tiba muncul di kepalaku.”

Well, mimpi yang seperti itu pun juga bukan masalah, kan?” Aku menatapnya malas. Buku yang kubaca sudah tertutup di atas meja. Dan Minho terlihat sangat penasaran dengan gadis itu. Tapi aku tidak ada niatan untuk memberitahunya lagi saat itu.

“Bagaimana dia? Yeppeuda? Seksi? Beritahu aku, Kyuhyun.”

Aku pergi dan meninggalkannya sendiri di dalam kelas dan menuju kafetaria, masih ada beberapa menit sebelum waktu istirahat selesai dan otakku yang penuh dengan gadis itu harus mencoba memperhatikan apa yang disampaikan guru untuk beberapa jam ke depan. Minho tetap berteriak memanggilku. Aku tetap melangkah sendiri, tidak memedulikan dirinya ataupun suaranya yang terngiang di telinga.

***

Sepatu kuletakkan di raknya ketika telingaku menangkap ada dua buah suara sedang berbincang di dalam ruang tamu rumahku. Volumenya makin kencang dan aku mendapati Ahra sedang berbicara dengan wanita lain yang seumuran atau lebih muda beberapa tahun darinya. Sama-sama mengenakan pakaian formal. Aku membungkuk pelan sebagai formalitas pada tamu Ahra.

“Oh? Kau pulang telat lagi,” Ahra berkata sambil meletakkan sebuah berkas yang ada di tangannya ke meja. Teman wanitanya tersenyum padaku. Dia mirip seseorang, tapi entahlah. Dan yah, Minho berhasil lagi memperlama waktuku di sekolah. Kami menghabiskan beberapa jam bermain bola basket dan dua jam lagi untukku membantunya dengan pelajaran yang ia kesulitan mengikuti.

Ahra mengambil lagi berkas yang diletakkannya. “Kau tampak lelah. Istirahatlah, aku masih harus menyelesaikan ini,” katanya. Tangannya terangkat sedikit dan melambai-lambaikan berkas berwarna biru itu padaku. Aku tersenyum padanya dan pada temannya kemudian melangkah ke kamar.

Jendela di sisi ruangan itu masih terbuka menyebabkan angin masuk tanpa izin. Tapi kuputuskan untuk membiarkannya terbuka. Karena jujur saja, ada sesuatu yang menenangkan yang di bawa angin itu ketika menerpa kulitku.

Punggungku terasa lega ketika akhirnya menyentuh bidang lembut di bawahku. Dan pikiranku melayang entah ke mana.

Istirahat, huh? Terdengar menyenangkan.

***

“He? Kau lagi?”

“Holy sh–.”

Hampir saja aku mengumpat di depan gadis itu ketika kurasakan pantatku menyentuh tanah. Hasil dari keterkejutanku karena gadis itu tiba-tiba muncul di hadapanku, sangat dekat meski terlapis dinding kaca tempatnya berada. Kepalanya lebih maju dari badannya dan ia terlihat sangat penasaran.

“Lagi?” tanyaku pada diri sendiri. Menyadari aku berada di tempat yang sama seperti mimpiku yang kemarin. Sebuah ruang kosong yang seluruhnya berwarna putih, tanpa batas.

“Kau sedang tidur?” tanyanya kal ini.

“Uh… yeah. Dan kau ada di dalam mimpiku lagi.”

Dia akhirnya menegakkan tubuh. Kulihat seragam yang sama seperti kemarin masih menempel padanya. Dia masih terlihat sama juga. Kecuali rambutnya yang mulai terlihat kusut dan bercabang di mana-mana. Meski… dia masih terlihat cantik dengan rambut seperti itu. Sebuah ekspresi sedang berpikir dipasangnya di wajahnya untuk beberapa saat, seperti lupa akan kehadiranku di tempat itu.

“Bagaimana aku bisa berada di sini?” aku mengangkat bahu, tanda tak tahu juga bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di kepalaku, saat aku tidur.

“Mengapa di dalam mimpimu?” tanyanya lagi.  Dan aku hanya mampu menjawab, “Jinjja. Aku juga tidak tahu bagaimana atau mengapa kau berada di sini.” Kemudian dia terdiam. Aku pun mengikutinya. Dia terlihat menundukkan kepala dan sebuah helaan napas terdengar oleh telingaku.

“Mengapa aku berada di sini… Aku rindu kedua kakakku…” gadis itu bergumam, suaranya seperti tertahan di tenggorokan, tapi aku masih bisa menangkap jelas apa yang dikatakannya. Kemudian kepalanya terangkat. Ada sebuah senyuman di wajahnya. Bukan senyuman kebahagiaan.

“Bisakah kau membantuku?” kelopak mataku menutup dan membuka beberapa kali dengan cepat ketika mendengarnya mengajukan pertanyaan itu, “kakakku pasti mengkhawatirkanku,” lanjutnya.

Hah. Aku baru ingat dia pasti juga memiliki keluarga. Keluarga yang mengkhawatirkannya jika dia terus berada di sini. Aku iri padanya? Entah mengapa, tapi tidak. Ada simpati singgah pada diriku ketika kuperhatikan wajahnya, raut kesedihan dan ketakutan yang sangat terpancar darinya.

Aku ingin membantunya…

***

Aku kembali terbangun cukup pagi hari ini. Ya, semenjak dia muncul di mimpiku, waktu tidurku jadi lebih teratur. Dan aku bangun tidak dalam keadaan… murung, tidak semurung dulu, sebelum bertemu dengannya.

Tiba-tiba suara pintu terbuka memenuhi ruangan dan Ahra muncul dari baliknya. Pakaiannya sudah berganti menjadi yang lebih santai. Dia memiringkan tubuh dan bersandar pada kosen pintu itu. Aku baru sadar, aneh sekali melihatnya bangun sepagi ini.

“Hey,” katanya. Aku hanya tersenyum sebelum bersuara.

“Kau sudah bangun? Sedang apa?”

Appa dan Eomma datang. Aku rindu mereka.”

Ahra, aku juga merindukan mereka. Setiap saat.

“Kau mau mengunjungi mereka? Nanti, setelah usai sekolah.” Aku mengangguk mantap. Kupikir lagi, sudah lama tidak mengunjungi kedua orang tuaku.

***

Waktu untuk rencanaku dan Ahra menjelang. Kuganti pakaian sekolah yang masih melekat di tubuh dengan yang sesuai dan kami memulai perjalanan.

Ketika sampai, Ahra berjongkok dan meletakkan satu buket lili putih yang dia beli sebelum sampai di tempatku dan dirinya berada saat ini. Aku masih berdiri di belakangnya. Dia terlihat mengucapkan sesuatu yang tak bisa kudengar dengan pasti. Langit mulai berubah warna dan angin mulai berhembus, satu per satu, tanpa berhenti, menyebabkan rambut kakak perempuanku melambai-lambai meminta disatukan dalam sebuah ikatan. Ada satu kata yang mampu kubaca dari pergerakan bibirnya, “bogoshippeo.”

Tak berselang lama, dia berdiri, menghadapkan tubuh padaku dan memberi isyarat bahwa giliranku telah datang. Ahra mundur beberapa langkah dan aku maju menggantikannya di tempat yang sama dengannya tadi.

Aku tidak meletakkan bunga lain seperti Ahra. Bagiku, hal-hal seperti itu tidak terlalu berarti. Untuk apa? Kau membeli sesuatu yang hidup hanya untuk ditinggalkan membusuk sendirian. Kasihan sekali nasib tanaman-tanaman itu.

Tanganku kuletakkan pada tonggak pendek yang berfungsi sebagai penanda itu dan mengelusnya perlahan. Bogoshippeo, Appa, Eomma. Jeongmal bogoshippeo. Aku ingin bertemu kalian lagi dan menghabiskan waktu bersama, seperti dulu. Dunia ini keterlaluan. Aku ingin bersama kalian lagi…

Tapi, Appa, Eomma

Ada seseorang yang sudah beberapa hari ini hadir dalam kepalaku. Ya, meski hanya dalam mimpi, kurasa dia benar-benar ada di kehidupan nyata. Dia bukan hanya bayanganku, atau imajinasiku yang keterlaluan. Dia benar-benar ada. Dan aku ingin bertemu dengannya, bertemu dengannya bukan di dalam mimpi lagi.

Bisakah… kulakukan itu? Aku tidak akan melupakan kalian. Suatu saat, aku juga akan bertemu kalian lagi, benar kan?

Aku ingin bertemu dengannya, Appa, Eomma

***

“Ugh! Aku benci terus berada di sini.” Hatiku terasa sedikit sakit mendengar kalimat itu dari sang gadis.

“Kau benci bertemu denganku?” ujarku. Huh? Aku tak sadar lagi mengucapkan itu padanya.

Dia mengangkat kedua tangannya dan mengayun-ayunkan ke kanan dan kiri. Ada sedikit rasa bersalah terpancar dari wajahnya. “Anni, anni. Bukan itu maksudku, tapi–.”

“Mianhae,” gumamku. Tapi seperti dia masih bisa mendengar karena kemudian dia kembali bersuara.

“Mengapa kau meminta maaf?”

Aku menggaruk bagian belakang leherku yang benar-benar tidak gatal sebelum menjawabnya, “Eh… karena kau berada di dalam mimpiku… kurasa aku adalah alasan mengapa kau bisa di sini. Kau tahu, mungkin dulu kita pernah bertemu… dan aku melakukan sesuatu padamu, yang membuatmu harus berada di sini sekarang. Ah, molla, aku bahkan tidak tahu apa yang kukatakan.”

Sooyoung duduk di dalam kotak kacanya, mengalihkan pandangannya dariku, mencoba mengalihkan pandanganku darinya. Aku tahu yang dirasakannya. Sudah berhari-hari dia berada di dalam mimpiku, terjebak di ruang kosong ini, dan hanya bisa berbicara denganku. Dan kadang aku harus pergi, meninggalkannya seorang diri. Bagaimana dirinya ketika sendiri? Sepi kah?

“Mungkin jika aku tidak ada di dunia ini, kau tidak harus berada di dalam mimpi seseorang. Seseorang yang bahkan tidak pernah kau kenal sebelumnya,” kataku padanya.

Dia tersenyum kecil. Aku mendekat ke arahnya. Kepalaku menempel pada kotak kaca itu. Memperhatikan setiap lekuk tubuhnya, membuatnya terekam jelas dalam otakku. Gadis itu terlihat bahagia, tapi juga penuh kesedihan, keputusasaan, ketidakmampuan.

Aku… ingin memeluknya.

“Gomawo, Kyuhyun-ssi,” aku cukup terkejut dan dia hanya tersenyum lagi, matanya tepat memandangku, rasanya aku ingin meleleh saat itu juga.

“Kalau kau tidak ada, aku tidak punya siapapun untuk berbicara di sini. I would be so lonely. And I don’t like that. I hate that so much. Kau meluangkan waktu untuk bertemu denganku dan aku tidak tahu lagi harus berterima kasih bagaimana padamu.”

Kini giliranku untuk memberinya sebuah senyuman hangat sebelum tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik rasa penasaranku.

“Kau tidak pernah memberitahuku nama lengkapmu, Sooyoung.” Dia terlihat terkejut beberapa detik.

“Namaku? Namaku–.”

—–

“Cho Kyuhyun, ireona.”

Yaampun, seseorang berani-beraninya mengganggu mimpiku, membuyarkan segala perhatian yang kupusatkan pada gadis itu. Mataku terbuka perlahan sejalan dengan tubuhku yang berusaha kuangkat. Aku mendongak. Ada dua bayangan yang berdiri di depanku.

Ah, shit.

Kepala sekolah memasukkan salah satu tangannya pada saku celananya sebelum kembali bersuara, “Merasa bersalah telah meninggalkan kelas dengan sengaja dan tidur di sini, Cho Kyuhyun?”

Eh… tidak juga. Aku tidak merasa bersalah meninggalkan kelas dan memilih tidur di rooftop. Aku bisa bertemu dengannya. Gadis yang mencuri perhatianku meski aku tak tahu wujud nyata tubuhnya, suaranya, dan semua yang ada padanya. Gadis yang mencuri simpatiku meski aku baru bertemu dengannya beberapa kali. Aku ingin tertawa saat itu juga saat menyadari raut wajah kepala sekolah.

“Kau mau menjelaskan apa yang terjadi? Ini bukan pertama kalinya, Cho Kyuhyun-ssi,” katanya lagi. Ah iya juga. Bukan pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini. Dulu, sekitar satu tahun setelah orang tuaku pergi, saat penggunaan obat tidurku kurasa terlalu berlebih, sering kutemukan diriku terbangun di atas rooftop. Minho sering mencariku saat itu dan terkadang dia menemukanku terlebih dahulu sebelum guru atau kepala sekolah menemukanku, sehingga aku bisa mencari alasan ke mana perginya Cho Kyuhyun kala tidak ada di dalam kelas.

Berbicara tentang Minho, manusia satu itu ada di belakang sang kepala sekolah, kepalanya hampir menunduk tapi masih memperhatikanku dari kejauhan. Dia seperti meminta maaf padaku karena kali ini gagal menemukanku duluan. Well, aku tidak pernah memintanya membantuku. Dia juga tidak pernah bertanya padaku apa yang kulakukan di atas sini setelah meninggalkan kelas. Tidak-tidak, lebih pada, aku yang tidak pernah menceritakan padanya mengapa aku melakukan hal ini.

Aku membungkuk pelan dan mengucap sebuah jeosonghamnida pada kepala sekolah itu.

“Ikut aku ke kantor,” ujarnya.

Okay, hari ini kuakui aku sangat fucked up. Tambah kacau lagi karena aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kepala sekolah akan menghubungi Ahra. Dan Ahra akan menghabisiku nanti di rumah.

Masih dalam gelayut pikiranku yang berputar-putar seperti bianglala berputar secara horizontal, kutemukan diriku sudah berada di dalam kantor kepala sekolah setelah mengikuti pria tinggi itu di belakangnya. Keringat dingin mulai muncul di punggung dan tanganku bergetar sedikit. Wae, Cho Kyuhyun? Kau takut? Lucu sekali. Kau sendiri yang membuat kekacauan, kau pula yang takut sendiri.

“Aku sudah menghubungi kakak perempuanmu. Dia berkata akan sampai dalam waktu dua puluh menit,” kepala sekolah itu berhenti sejenak untuk mengambil napas, seperti sudah sangat done dengan sikapku, yang meskipun mendapat peringkat bagus, tapi sering melanggar peraturan sekolah ini.

“Kau sudah tahu apa yang akan terjadi kan?” lanjutnya. Aku mengangguk. Skors selama sehari, sepertinya.

“Skors untuk hari esok.” Benar kan.

***

Mobil yang kutumpangi terasa sangat mencekam saat ini. Ahra hanya diam saja padaku setelah dia datang menjemputku. Sebelumnya, kepala sekolah memerintahkanku untuk keluar dari ruangannya, agar dirinya bisa berbicara tentang sesuatu dengan Ahra saja. Yang pasti menyangkut tentang diriku. Kakak perempuanku itu cukup lama berada di dalam sebelum dia keluar dengan wajah yang bersungut-sungut. Dia menarik tanganku dan terus menariknya sampai kami sampai di tempat parkir.

Dan di sinilah sekarang kami. Aku sudah sangat siap menerima apapun yang akan terlontar dari bibir Ahra.

Tak lama, mobil berhenti. Jarak sekolah dan rumah memang tidak begitu jauh, itu pula sebabnya aku lebih suka berjalan ketika berangkat dan pulang. Dia tetap diam selama perjalanan dari mobil hingga ke ruang tamu. Aku mengikutinya duduk di salah satu sofa yang ada. Ahra terlihat sedang menenangkan pikiran dan emosi yang bercampur aduk di dalam hatinya.

“Kau mau tahu apa yang kepala sekolah katakan padaku? Tentangmu.”

Belum sempat otakku menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab, dia sudah bersuara lagi. “Beberapa guru sudah memperhatikanmu sejak tingkat pertama. Sampai sekarang kau di tingkat terakhir. Kau pintar, meraih nilai akademis yang baik. Bukan seorang perusuh atau murid yang nakal,” dia berhenti untuk mengatur lagi posisi duduknya, sekarang lebih tenang.

“Hanya saja kau sering berkelakuan agak aneh.” Hah? Aneh? Pendiam, iya. Tapi aneh? Baru kali ini aku mendengar seseorang menilai diriku seperti itu. Atau hanya aku saja yang tidak pernah mengetahui banyak manusia di luar sana yang sudah lama menilaiku seperti itu? Kau tahu apa? Sesungguhnya aku tidak peduli.

“Salah seorang guru yang sering memperhatikanmu melapor pada kepala sekolah. Dia suka mendapati Cho Kyuhyun melamun, seorang diri. Pandangannya benar-benar kosong. Baik di kelas atau saat sendiri di manapun di lingkungan sekolah. Kemudian kau yang suka pergi dari kelas dan tidur seorang diri. Kau sudah tidur terus di rumah dan di sekolah lagi?”

Aku cukup terkejut dengan itu semua. Tak menyangka ada yang memperhatikanku hingga seperti itu. Tugas seorang guru, eoh?

“Ada apa denganmu?” Seberapapun ingin aku memberitahumu apa yang terjadi padaku, tapi satupun kata tak mampu keluar dari bibirku, Ahra.

I am your sister, Kyuhyun. Kau bisa mengeluhkan padaku semua yang membuatmu seperti ini. Tolong, jangan simpan sendiri dan membuat dirimu tersiksa,” lanjutnya.

Pintu yang tertancap kokoh dalam diriku terbuka dengan kasar dengan semua perkataan Ahra, dia memasukinya dengan tergesa, memaksaku meruntuhkannya dalam sekejap. Aku mampu mendengar suaramu, Ahra, Appa, Eomma, mengatakan padaku untuk tidak menyiksa diri ini. Tapi bukan itu yang membuatku seperti ini. Maafkan aku, Noona.

Pada kenyataannya, ini hanya diriku saja.

***

“Cho Kyuhyun.”

Kurasakan ujung-ujung bibirku naik dan membentuk sebuah senyuman. Kemudian aku tertawa kecil. “Tolong, panggil aku lagi,” ujarku. Aku ingin mendengarnya memanggil namaku lagi. Rasanya seluruh bebanku runtuh saat itu juga, ketika namaku keluar dari bibirnya yang indah, dengan suaranya yang lembut.

Dia tertawa kecil membalasku sebelum menuruti perintahku, “Cho Kyuhyun.”

“Yeah, that’s my name,” kataku lagi sambil menamati wajahnya. Dia terlihat sangat cantik dari dekat.

Aku… aku ingin lebih dekat dengannya dan menyentuhnya.

“Kau tertidur di atap sekolah lagi kan?”

“Ne. Kepala sekolah memberiku skors satu hari untuk besok.”

“Mianhae. Karenaku, kau jadi harus–.”

“Uh… jangan merasa bersalah. Aku yang memutuskan untuk bertemu denganmu lagi. Dan lagi, aku senang bisa bersama denganmu lebih lama besok.”

Dia tersenyum mendengar pernyataanku. Kepalanya menunduk malu. Dia belum berubah sejak beberapa hari lalu bertemu denganku.

“Cho Kyuhyun?” panggilnya.

“Yeah?” balasku.

“Aku ingin bertemu denganmu.”

“Apa yang kau katakan? Kau sedang betemu denganku.”

“Di dunia nyata. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”

Huh? Apa indera pendengaranku sedang diuji? Apa yang dikatakan gadis ini? Dia ingin bertemu denganku? Dia ingin mengenalku lebih dekat? Oh sweet, sekarang aku jadi tak tahan untuk menyentuhnya.

Dia mendekatkan tubuhnya padaku. Tangannya yang lebih kecil dariku terangkat dan menempel pada kaca jernih yang ada di sekitarnnya. Tanpa sadar, aku mengikutinya. Membayangkan tanganku dengan tangannya, bersama. Kemudian, dia mulai berkata, suaranya terdengar lemah… dan penuh keputusasaan.

“Bagaimana jika aku keluar dari kotak ini? Kau tahu… dengan begitu, aku bisa bersamamu.”

“Jangan lakukan itu,” ujarku tegas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kala tubuhnya keluar dari penjara itu. Aku tidak mau tahu apa yang akan terjadi.

“Aku ingin keluar dari kotak ini, Kyuhyun…”

Napasku serasa tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa diam tak membalas kalimatnya.

“Apa yang akan terjadi? Kalau aku keluar dari kotak ini… Akankah aku benar-benar menghilang? Selepasnya diriku dari–.”

“Stop, Sooyoung.”

“Akankah aku hilang?”

—–

Napasku benar-benar terasa tercekat saat mataku terbuka lebar dan bidang lurus berwarna putih kecoklatan muncul di hadapanku. Oh, hanya dinding kamarku. Akankah aku hilang? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimana jika dia benar-benar hilang? Apa yang akan kulakukan? Bagaimana jika dia tidak pernah kutemukan? Apa yang akan kulakukan?

Apa yang akan kau lakukan, Cho Kyuhyun?

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan,” gumamku pada diri sendiri sebelum kembali terlelap.

—–

“Sooyoung?”

Tak ada jawaban. Tak ada suara dari mana pun.

“Sooyoung?”

Panggilku lagi. Lagi. Lagi dan lagi. Hingga beberapa menit, tapi tetap tak kutemukan gadis itu di mana pun. Kotak tempatnya berada saat ini kosong. Di dalamnya ada palu dan kapak yang dia tunjukkan waktu itu. Kemudian sebuah pikiran kejam memasukiku.

Andwae, andwae. Tidak, dia pasti masih ada di sini, di dalam mimpiku. Stop berpikir mengerikan, Cho Kyuhyun.

Satu jam hampir berlalu dalam kesunyian. Aku berjalan ke manapun mencari jejaknya. Hampir saja kakiku putus asa ketika dari ujung mataku, ada seseorang menatapku. Tubuhku membalik secara otomatis. Dan dirinya berada beberapa langkah dariku. Senyum tak mampu kutolak untuk muncul di wajahku ketika aku melihatnya.

Tapi, dia tidak bergerak. Sedikitpun. Seperti tubuhnya tertanam di tempat itu. Aku terus berjalan mendekat padanya. Tapi seluruh langkah ini terasa seperti tidak berguna. Aku tidak pernah mencapainya.

Aku terus melangkah, melangkah, dan melangkah.

Tapi tidak satu sentimeter pun kuraih.

Tiba-tiba, dua sosok lain muncul dari balik tubuhnya. Dua sosok yang mengenakan pakaian abu-abu gelap seluruhnya. Kuperhatikan kedua orang itu dari ujung kakinya, terus hingga ke ujung kepalanya. Saat wajahnya benar-benar jelas di hadapanku, mataku melebar sempurna.

Appa… Eomma… Apa yang kalian lakukan di sini?

Keduanya hanya menatapku tanpa ekspresi. Begitu pun gadis itu. Diam. Sunyi. Hingga orang tuaku menggenggam tangan Sooyoung, menariknya perlahan. Lebih jauh dariku. Pergi dariku. Aku kembali melangkah, berlari, hingga rasanya tubuhku seperti diremuk saat itu juga. Tapi tidak ada hasil yang berarti.

Aku tetap berada di tempatku.

Dan mereka semakin jauh dari genggamanku.

Appa, Eomma, Sooyoung… biarkan aku pergi bersama kalian.

—–

Mataku terbuka dengan tiba-tiba dan kurasakan kesusahan yang pasti untuk mencari udara. Rasanya oksigen hampir habis saat itu dan aku tidak mampu melihat jelas meski indera penglihatanku tidak tertutup. Seseorang berusaha menenangkanku dengan mengelus punggungku berkali-kali. Lamat-lamat, akhirnya aku mendengar suaranya.

“Cho Kyuhyun!”

Ahra Noona

Gwenchana, gwenchana. Kau hanya bermimpi buruk, gwenchana. Aku di sini.”

Jantungku terasa berdetak terlalu cepat. Tubuhku mengeluarkan keringat berlebih dalam pelukan kakak perempuanku. Dia terus menenangkanku dan meyakinku bahwa dirinya akan selalu ada untukku, tidak pernah pergi dariku.

Perlahan kurasakan diriku mulai tenang. Ahra mulai berhenti dari bicaranya, tapi masih mengelus punggungku. Dia menatapku, khawatir. Wajahnya sangat ketakutkan, takut jika terjadi apa-apa padaku. Aku tidak apa-apa, Ahra…

“Apa yang terjadi?” tanyaku. Cukup penasaran apa yang membuatnya terbangun menyadari aku sedang mengalami mimpi buruk.

“Kau berteriak berkali-kali, mengucapkan andwae, andwae dengan keras. Bahkan ketika aku sudah sampai di sini, kau masih seperti itu. Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?”

Aku tersenyum kecil padanya, berusaha meyakinkannya kalau yang kualami hanya sebatas mimpi buruk biasa. Tidak lebih. Tidak pula kukatakan padanya dengan siapa aku bertemu dalam mimpi itu. Dia membalas senyumku. Sebuah senyuman penuh kelegaan. Kemudian kembali menarikku ke dalam pelukannya.

Apa maksud mimpi buruk ini?

Di mana dirimu?

Sooyoung, apa yang terjadi padamu?

—–

[2 of 3]

Author’s Note

Yey, this chapter is done! Kira-kira Sooyoung kenapa ya? Hehe, stay tune and wait for the next (and last) chapter! Hope you like this story.

Oh ya, almost forgot, I’m sorry for the wait. Things in campus have been really busy and I was so caught up with it and only have the time to publish my stories now. Buat yang masih SMA, kuliah, atau apapun sekolah, semangat ujian-ujiannya ya!

Thank you for reading 🙂

Advertisements

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

2 thoughts on “Sound of My Dreams [2]

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s