Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Horror, Mystery, Romance, Series

Switch Off the Light: 3

lihgt

A story by Soshinism

—–

RatingPG 17 (Violent and disturbing content.)

GenreRomance, Fantasy, Supernatural

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Please kindly check out my own blog for more stories and about myself, just click the link down below.

Soshinism

—–

— If I spilled my guts, the world would never look at you the same way. And now I’m here to give you all of my love, so I can watch your face as I take it all away.” -Switch Off the Light —

Saat itu jam menunjukkan pukul dua belas siang lebih beberapa menit dan kafetaria mulai dipenuhi murid-murid yang kelaparan. Ada yang langsung memosisikan tubuhnya dalam antrean untuk mendapatkan makanan dari sekolah, ada yang membawa dari rumah sendiri, dan ada pula yang hanya membeli satu-dua gelas milkshake atau jus jeruk kemudian menghabiskan waktu istirahat dengan bersantai.

Pintu kafetaria terbuka lebar, menampkakkan Kyuhyun dan Donghae dengan jaket tim football sekolah –ya, meski ketua geng, ia juga ikut dalam tim football sekolah. Keduanya mengambil posisi di sisi kanan kafetaria sambil membawa kotak minuman milik masing-masing yang diambil dari vending machine di kafetaria. Murid-murid penggemar Kyuhyun saling berbisik satu sama lain ketika menyadari ada yang aneh dari lelaki itu hari ini –ia tidak bersama teman-teman satu gengnya yang lain dan hanya bersama Donghae.

Maklum saja, dari semalam, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kyuhyun. Kali ini saja, pandangannya melayang entah ke mana, tidak seperti biasanya yang penuh keyakinan atas dirinya sendiri. Bahkan tersenyum untuk membalas panggilan para penggemarnya saja tidak.

Ia kembali pada fokusnya ketika Donghae menyenggol sikunya dan memberinya pertanda untuk melihat seseorang yang ada pada jarak beberapa meja di sebelah kirinya. Tempo napasnya mulai berubah cepat ketika menyadari siapa yang dimaksud Donghae. Dan tanpa pikir panjang, ia berdiri dari duduknya, berjalan dengan langkah-langkah tegas menuju seseorang yang sudah memenuhi pikirannya sejak beberapa hari yang lalu.

Suara-suara seperti, waah, aww, atau hanya suara para murid berbisik satu sama lain mulai terdengar ketika Kyuhyun mendudukkan tubuhnya tepat di depan Sooyoung yang sedang mengunyah makanannya sembari sesekali berbicara dengan wanita di sebelahnya, Yoona. Bagaimana tidak, dua orang yang banyak digilai murid-murid lain sedang bersama dalam satu meja, dan sudah bukan menjadi rahasia bahwa Kyuhyun memang mendekati wanita itu sejak beberapa bulan terakhir –hampir dua atau tiga bulan.

Yoona yang menyadari ada seorang lain yang bergabung dengannya dan Sooyoung, ditambah menyadari orang tersebut adalah Kyuhyun, ia ingin sekali pergi dari meja itu, tidak mau mengganggu dua orang di hadapannya yang sedang menatap satu sama lain. Ia hampir berdiri ketika tangan Sooyoung menahannya dengan kuat untuk pergi, bahkan akibat terlalu keras pegangannya, Yoona sampai mengeluarkan jeritan kecil dan sang wanita yang satunya hanya meminta maaf sambil menarik tangannya dari Yoona tanpa mengalihkan pandangan dari Kyuhyun.

“Pergilah, Yoona,” ujar Kyuhyun.

Kajima, Yoona-yah.”

Mendengar hal itu, Kyuhyun meletakkan tangannya di atas tangan Sooyoung yang bebas dan menggenggamnya erat, tak memedulikan pandangan serta bisik-bisik murid lain yang memperhatikan itu semua. Sooyoung paham apa maksud perlakuan Kyuhyun padanya kali ini, jika ia mempersilakan Yoona pergi, maka tangannya tidak akan lagi berada dalam genggaman lelaki itu. Menjadi pribadi yang seperti Sooyoung, perlahan akhirnya ia memerintahkan Yoona untuk pergi dan setelah itu, tangannya bebas lagi dari tangan sang lelaki.

“Apa yang kau inginkan?”

“Mengapa kau tidak datang semalam?”

Sooyoung hanya menaikkan salah satu alisnya, kebingungan, kemudian perlahan kedua matanya menyipit berkebalikan dengan bibirnya yang membuka sedikit. Ia mendekatkan kepalanya ke arah Kyuhyun, maju seperti akan membisikkan sesuatu pada lelaki itu.

So that was you behind the letters and the chocolate box?”

“Siapa lagi kau pikir?”

Wanita itu mengeluarkan hembusan napas tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya membuat sebuah senyuman akibat rasa tak percayanya begitu besar. Jujur saja, ia tidak memiliki bayangan siapa yang ada di balik surat-surat itu. Kepalanya menunduk, entah mengapa ia rasakan wajahnya memerah dan senyuman masih menghiasi, ada sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dalam hatinya, seperti… senang karena Kyuhyun lah yang ternyata mengiriminya surat-surat itu.

Belum selesai ia menenangkan diri dan berusaha terlihat dingin lagi di hadapan Kyuhyun, ia rasakan sebuah tangan menempel pada dagunya, dan memaksanya untuk menengadahkan kepala ke atas. Matanya membelalak sempurna dan tiba-tiba suaranya hilang, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menolak perlakuan lelaki itu padanya.

“Ternyata usahaku beberapa bulan ini sudah mulai menunjukkan hasil,” ujar sang lelaki saat menyadari raut wajah Sooyoung.

Dengan cepat wanita itu merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin lagi dan menampik tangan Kyuhyun dari dagunya.

“Di mana kau sepulang sekolah?” Sooyoung menghembuskan napas malas.

“Kau pikir aku akan memberitahumu?” jawabnya dengan penuh kekesalan dan ia memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu begitu saja di meja. Sebuah senyum kecil muncul di wajah Kyuhyun setelah Sooyoung meninggalkannya.

***

Hari itu, Sooyoung memutuskan untuk tidak pulang langsung meski kedua kakak lelakinya memaksanya untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang masih belum benar-benar sembuh. Jam sekolah usai yang ditandai dengan bunyinya bel selama beberapa detik. Sooyoung bersiap dan mengangkat tas punggungnya, berjalan sebentar menuju dua kelas yang ada di sebelah kelasnya untuk menemui Minho. Ia menemukan lelaki itu dan menghampirinya.

I’m going rock climbing while waiting for your training,” ungkapnya. Minho memajukan bibirnya sedikit, alisnya hampir menyatu.

Your wound. Tidak, aku tidak mengizinkan,” tukas lelaki itu cepat sambil membereskan barang-barangnya, menolak dengan keras permintaan Sooyoung untuk menunggu latihan berlarinya selesai dengan rock climbing alias panjat tebing.

Sang wanita hanya mengangkat bahunya dan memiringkan kepalanya ke kanan sedikit, tanda bahwa ia tidak akan memedulikan larangan Minho dan tetap akan melakukan apa yang diinginkannya. Minho menghela napas melihat tingkah adiknya dan hanya mengangguk pelan serta berkata, “Fine. But do not overdo it, or else aku tidak akan mengizinkanmu rock climbing lagi.” Sooyoung memberikan dua jempol untuk lelaki itu seraya meninggalkannya menuju tempat latihannya.

***

Keringat mengucur cukup deras di berbagai permukaan tubuh Sooyoung setelah ia kembali menginjakkan kaki di tanah. Dahi, punggung, perut, kaki, hampir tenggelam dalam keringatnya sendiri. Ia melepas peralatan yang digunakannya untuk panjat tebing dan meletakkannya lagi ke tempatnya. Malam sudah menjelang ketika ia menyelesaikan kegiatannya. Setelah semua selesai, ia menuju ruang ganti yang ada di bagian belakang sekolahnya.

Didorongnya pintu ruang ganti itu dengan lengan kirinya dan menahan sakit yang tiba-tiba menyerang abdomennya, melupakan kalau kemarin baru saja pedang milik lelaki brengsek itu menusuknya. Sooyoung tersenyum kecil ketika segerombol wanita berjalan keluar dari ruang ganti setelah menyelesaikan latihan cheerleading mereka. Ia sampai di depan loker miliknya ketika menyadari kalau dirinya hanya sendirian di ruangan besar itu.

Tangannya perlahan membuka pintu loker dan memasukkan beberapa barang yang sekiranya tidak terlalu penting untuk ia bawa pulang. Lokernya yang ini berbeda dengan lokernya yang berada di lorong bagian utama gedung, khusus didapatkannya karena menjadi bagian dari klub panjat tebing sekolahnya.

Sooyoung melihat sekeliling dan memastikan tidak ada siapapun lagi yang ada di sekitarnya –tidak mau jika manusia-manusia itu melihat luka di tubuhnya dan menyadari bagaimana bisa ia tetap beraktivitas dengan luka mengerikan seperti itu– kemudian melanjutkan untuk melepas t-shirt berwarna hitam polos yang basah karena keringat dari tubuhnya dan menampakkan sports bra yang juga berwarna hitam terpasang di tubuhnya.

Samar-samar ia mendengar suara pintu ruang ganti terbuka lagi. Bodohnya, ia tidak pikir panjang dan hanya menduga kalau itu hanyalah satu-dua anggota cheerleader yang kembali untuk mengambil barang tertinggal. Dengan cepat ia kenakan jaket yang ada di lokernya untuk menutupi luka tubuhnya yang masih terlihat di punggungnya dan menaikkan ritsleting. Belum selesai dengan apa yang dilakukannya, ia merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya, menyebabkan tubuhnya untuk berputar dan menghadap pada seseorang itu. Kedua mata Sooyoung membesar ketika tau siapa orang tersebut.

Cho Kyuhyun.

Wanita itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun untuk menutup jaketnya yang belum sempurna tertutup, dengan tetap berhati-hati untuk tidak menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya mudah saja untuk mengalahkan Kyuhyun. Lelaki itu menyadari apa yang akan Sooyoung lakukan, tapi genggamannya semakin erat, bahkan tangannya yang masih bebas juga beralih pada tangan Sooyoung agar ia tidak bisa bergerak. Kyuhyun menunduk, menatap pada tubuh sang wanita yang terbuka dan ia tidak mampu lagi menahan keinginannya. Dengan tubuhnya yang besar ia dorong Sooyoung dan menghimpitnya pada deretan loker yang tertutup, menghasilkan hantaman keras yang menggema di seluruh penjuru ruang ganti tersebut. Kedua tangan Sooyoung ia genggam erat dan diletakkan di kedua sisi kepalanya, membuat sang wanita makin sulit untuk lepas.

Yang tidak disadari Kyuhyun, sang wanita yang ada di depannya itu menundukkan kepala dan menahan sakit yang dirasa. Kyuhyun menghantamkannya terlalu keras, sayangnya, tepat di bagian lukanya yang belum sembuh dan mengenai handle pintu loker, menyebabkan rasa sakit yang teramat menjalar di seluruh tubuhnya dan luka itu terbuka lagi di kedua sisi –perut dan punggung. Saat itu, ia tersadar, ia terlalu lemah untuk melawan Kyuhyun.

Sooyoung menengadahkan kepalanya dan lelaki yang masih terus menghimpitnya menampakkan raut wajah terkejut ketika ia lihat wanita itu tersenyum padanya. Bukan senyum sarkastik atau setengah hati seperti yang biasanya wanita itu berikan, tapi satu yang tulus. Kedua matanya menatap dalam mata wanita itu. Sementara Sooyoung merasakan pandangan Kyuhyun yang tadinya penuh nafsu perlahan berubah melembut.

Tidak ada suara lain yang dapat didengar Sooyoung ketika Kyuhyun mendekatkan kepalanya dan memiringkannya ke kanan sedikit dengan kepala sang wanita kecuali detak jantung sang lelaki yang hampir-hampir terdengar seperti hendak meledak saat itu juga –dan detak jantungnya juga yang tidak bisa ia atur untuk tenang. Entah mengapa, ia tidak memberhentikan Kyuhyun dari aksinya, bahkan ingin sang lelaki untuk segera melakukannya. Tapi, harapannya pupus ketika Kyuhyun berhenti, wajahnya sangat dekat hingga ia bisa merasakan napas lelaki itu berhembus di kulit wajahnya sendiri.

Genggaman lelaki itu perlahan melemah dan lama-lama terlepas, beralih untuk menyentuh wajah sang wanita di hadapannya, dengan lembut membelainya.

Yeppeuda… Neo neomu yeppeuda,” Sooyoung tersenyum kecil mendengar pujian yang dilontarkan lelaki itu padanya, tak menyangka seorang ketua geng pembuat kegaduhan yang awalnya sangat ia benci bisa berkata demikian.

Why didn’t you come?” ujar Kyuhyun lagi. Merujuk pada kejadian semalam yang membuatnya harus menunggu berjam-jam di taman seorang diri. Yang ditanya terdiam beberapa saat, masih menahan rasa sakit di tubuhnya tanpa mau memberitahu Kyuhyun kalau ia tidak sengaja melukainya, sebelum menjawab lelaki itu.

I camejust that, I didn’t meet you.” Tubuh Kyuhyun mundur perlahan untuk membuat ruang agar ia dapat melihat wajah sang wanita. Keterkejutan menghantam hatinya ketika Sooyoung berkata bahwa dirinya datang ke taman itu. Hanya beberapa detik setelah itu, tubuh Sooyoung jatuh ke tubuhnya, lemas dan sama sekali tak bertenaga. Belum selesai ia terkejut atas jawaban wanita itu, ia kembali dikejutkan dengan pingsannya sang wanita.

“C-Choi Sooyoung,” panggilnya. Tak ada jawaban. Ia menahan tubuh Sooyoung yang terasa ringan dengan tubuh dan kedua lengannya sendiri agar tidak jatuh. Ketika tangannya beralih ke punggung sang wanita untuk mengangkatnya, sesuatu yang basah terasa di tangannya. Matanya membelalak ketika ia melihat tangannya berlumur darah. Ia mencari sumber darah itu dan menemukan yang dicarinya itu di bagian bawah punggung Sooyoung.

Y-yya, C-Choi Sooyoung.”

Masih tidak ada jawaban. Perlahan dan dengan berusaha untuk hati-hati, ia lihat wajah wanita itu. Hampir tidak berwarna akibat terlalu pucat. Hal yang bisa ia lakukan saat itu dan yang hanya ada di pikirannya adalah untuk membalut sumber darah itu. Kyuhyun melihat sekelilingnya dan menemukan t-shirt yang tadi dikenakan Sooyoung yang ada di dalam lokernya dan dengan cepat menutup luka itu dengannya. Tak lupa ritsleting jaket yang berlumur darah itu ia naikkan hingga menutup seluruh tubuh bagian depan milik sang wanita.

Untuk beberapa saat lelaki itu tidak tau harus membawa sang wanita ke mana, namun kemudian teringat informasi yang diberikan salah satu penggemar Sooyoung, yang menerangkan bahwa hari itu, saudara kembarnya, Minho, sedang melakukan training klub Track and Field dan biasanya Sooyoung menunggu lelaki itu untuk selesai dari latihannya. Ia putuskan untuk mencari Minho dan membawa Sooyoung dengan menggendongnya, sangat berhati-hati untuk tidak melukai wanita itu lagi.

***

Setelah beberapa saat dalam langkahnya yang hampir seperti berlari, Kyuhyun menangkap sesosok manusia yang ia yakin adalah Minho. Ia sedang bersama beberapa lelaki lainnya yang juga anggota klub Track and Field. Secercah harapan muncul dalam dirinya dan ia berlari ke arah lelaki itu, tidak memedulikan beban tambahan yang sedang ia bawa saat ini.

“Minho-ssi!” teriaknya ketika langkahnya hanya tinggal beberapa meter dari lelaki itu.

Sang lelaki yang dipanggil membalikkan badannya, awalnya ia tidak begitu sadar siapa yang bersama dengan lelaki yang memanggilnya, sebelum lelaki itu berhenti tepat di sebelahnya, napas tersengal-sengal, wajah penuh dengan kekhawatiran, dan tangan serta bajunya penuh darah. Lelaki-lelaki lain yang ada di sebelah Minho membelalakkan matanya tidak percaya apa yang sedang dilihat mereka di depan mata, Minho menyadari hal itu dan dengan sigap memberi Kyuhyun perintah, “Bawa dia ke mobilku,” tangannya merogoh ke dalam tasnya dan sedetik kemudian menyerahkan sebuah kunci mobil pada Kyuhyun, ia mendekatkan kepalanya pada telinga lelaki itu dan melanjutkan, “aku harus menyelesaikan sesuatu dulu.”

Yang diberi perintah hanya mengangguk dan kembali dengan langkah cepatnya untuk menuju mobil yang dimaksud. Ia buka pintu belakang mobil itu dan meletakkan Sooyoung di pangkuannya dengan hati-hati. Tak lama, Minho datang menyusul, masih mengenakan pakaian trainingnya yang basah karena keringat. Mesin mobil menyala dan ketiganya terdiam sepanjang perjalanan. Minho tidak ada niatan untuk bertanya mengapa hal seperti ini bisa terjadi, setidaknya, tidak sekarang. Ia melihat ke arah dua orang yang berada di kursi belakang dari kaca dan menghela napas ketika menyadari salah satu tangan Kyuhyun berada di wajah adiknya, membelainya lembut, memperlakukannya seakan ia adalah gelas kaca yang hampir retak, sementara lengannya yang satunya ia gunakan untuk menutup luka wanita itu.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari wanita yang ada di pangkuannya ke luar jendela, menyadari mobil itu mulai memasuki halaman sebuah mansion besar, yang sudah sering ia dengar sebagai rumah milik Sooyoung dan kakak lelakinya.

Ia mengangkat Sooyoung masih dengan kehati-hatian dan mengikuti Minho yang ada di depannya, melewati beberapa ruangan besar di rumah itu. Rumah sebesar ini hanya ditinggali tiga orang, batinnya yang kemudian dengan cepat ia usir pikiran itu dan kembali fokus pada Sooyoung. Minho membuka pintu sebuah ruangan yang Kyuhyun duga adalah kamar Sooyoung, ia masuk perlahan sambil memiringkan tubuh untuk menghindari kaki wanita itu menabrak pintu, kemudian meletakkannya ke ranjang.

Kyuhyun hanya terdiam ketika Minho keluar dari kamar itu dan kembali hanya dalam beberapa detik membawa peralatan untuk membersihkan darah dari tubuh Sooyoung dan piring berisikan sepotong daging dan… sebuah kantong darah. Matanya memperlihatkan keterkejutan, kebingungan, dan ketakutan ketika melihat kantong darah itu.

M-mworaguyo?” suaranya terputus-putus dan napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Ia tidak begitu tau bagaimana harus bersikap. Otaknya terasa berputar-putar dan berbagai macam pertanyaan muncul. Mengapa Sooyoung membutuhkan daging dan darah setelah mengalami hal seperti itu? Efek apa yang akan terjadi padanya? Untuk apa? Makhluk apa kalian sebenarnya?

Minho hanya terdiam sembari menyuapkan daging yang ada di piring yang dibawanya dan meminumkan apa yang ada di dalam kantong darah itu pada adiknya. Setelah selesai, ia baru mengeluarkan suaranya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya dingin pada Kyuhyun. Nada bicaranya tenang, tapi seperti hendak membunuh Kyuhyun saat itu juga. Ia berdiri dari sisi ranjang Sooyoung dan menempatkan tubuhnya sejajar dengan Kyuhyun.

Kesusahan mencari kata-kata kembali menimpa Kyuhyun ketika mengingat apa yang dilakukannya pada wanita itu. Pertama kali dalam hidupnya, ia menundukkan kepalanya di hadapan seseorang, bola matanya berbolak-balik dari kanan ke kiri, terpaksa ia lupakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang memutar-mutar dan terngiang di kepalanya tentang Sooyoung, kemudian dipejamkan kelopak matanya sebentar, “Aku menghimpitnya pada loker ruang ganti.” Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki di sebelahnya. Kyuhyun tau lelaki itu sudah ada di puncak amarahnya ketika mendengar perkataannya tadi.

“Aku sangat ingin menghabisimu saat ini juga, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun terdiam sebentar, rasanya ada sekarung besar rasa bersalah yang ditimpakan padanya saat itu juga. “Tolong, lakukan saja,” ujarnya, tanpa menyadari apa yang baru saja dikatakannya, ia hanya merasa perlu mengatakannya, menginginkan agar Minho menghabisinya saat itu juga. Hening menguasai lagi sebelum terdengar suara bugh keras yang dihasilkan dari pukulan Minho pada pipi Kyuhyun, membuat darah keluar dari tepi bibirnya dan hidungnya.

I’ll just do that, for now. Jika aku tidak berhenti sekarang juga, aku takut aku akan berakhir dengan membunuhmu,” ujar Minho.

Lelaki di hadapannya tersenyum kecil, tangan kanannya naik ke arah wajahnya dan mengusap darah yang masih basah di wajahnya, “Gomawo.”

“Bersyukur saja Siwon tidak di sini, jika iya, kau sudah habis saat ini,” tukas Minho lagi, dirinya juga sedikit lega karena Siwon sedang berada di kota sebelah untuk mengurus sesuatu dan tidak akan kembali sampai dua hari ke depan. Kyuhyun mengangguk beberapa kali, tatapan matanya terpancang pada wanita yang masih terdiam lemas di atas ranjang, ia berharap kalau Siwon ada di situ dan menghabisinya saat itu juga, rasa bersalahnya pada wanita itu terlalu besar.

Perlahan ia mendekat pada Sooyoung, ia melihat ke arah luka yang ada di perut wanita itu dan hal itu mengingatkannya pada suatu hal ketika tadi menutup luka sang wanita, “Apakah seseorang baru saja menusuknya beberapa waktu yang lalu?” Minho terlihat cukup terkejut dengan pertanyaan Kyuhyun, tak menyangka lelaki itu menyadari apa yang terjadi pada adiknya, orang biasa hanya akan menganggap luka itu sebagai luka kecelakaan, bukan luka tusuk, apalagi hampir tidak ada bekas jahitan yang tersisa karena luka itu beregenerasi sendiri tanpa perlu penanganan dokter bedah manusia.

“Bagaimana kau tau?”

Yang ditanya kembali menarik salah satu ujung bibirnya, tanpa sadar ia mengarahkan tangannya pada wajah wanita yang ada di depannya, menyingkirkan beberapa helai rambut pendeknya ke belakang telinganya, dan akhirnya menjawab pertanyaan Minho, “Aku sudah cukup lama berada di jalanan. I know how stab wounds look like.”

Lelaki itu terdiam lagi, masih sambil memperhatikan Sooyoung, kemudian karena rasa penasarannya yang tinggi, ia bertanya, “Ah, mengapa kau memberikan Sooyoung daging dan darah? What kind of meat and blood are they? Pasti hewan kan? Apa kegunaannya untuk luka Sooyoung?”

Ia tidak mendapat jawaban dari lelaki lain yang ada di ruangan itu selain dirinya.

‘Daging, darah… Milik hewan kan? Makhluk apa yang memakan ini semua? Manusia meminum darah hewan?’, batinnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang diceritakan salah satu anggota gengnya yang sudah lama tinggal di kota tempat ia tinggal saat ini. Tentang makhluk-makhluk yang memakan manusia, meminum darahnya, dan hanya keluar saat malam. Ia mencoba menghilangkan segala pemikiran aneh yang ada dalam otaknya sebelum sebuah kata muncul dan terlekat, kali ini ia tidak bisa menghilangkannya lagi.

What, kalian sekeluarga adalah vampire? Or something else?” ujarnya sambil tertawa kecil. Suaranya terdengar penuh ketidakpercayaan dan penolakan.

Tiba-tiba sesuatu tertangkap matanya. Luka di tubuh Sooyoung tertutup sendiri, meski perlahan, tapi ia mampu melihatnya. Daging-daging, otot, dan kulit mulai menyatu seperti benang disatukan dengan benang lainnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, bahkan manusia super saja tidak bisa mengalami proses penyembuhan secepat ini kan? batinnya. Ia tidak bisa percaya apa yang dilihatnya, hatinya menolak untuk percaya, otaknya menolak untuk percaya, seluruh tubuhnya menolak untuk mempercayai.

Ia berbalik untuk melihat Minho, lelaki itu tak berekspresi. Dan keheranan mengonsumsinya, bagaimana mungkin ia tidak terkejut dengan hal seperti ini? batinnya lagi, merujuk pada Minho yang nampak seperti sudah biasa dan tak terpengaruh melihat hal itu. Tiba-tiba badannya terasa bergidik dan Kyuhyun berdiri dari ranjang Sooyoung. Ia melangkah ke belakang perlahan mencoba untuk menghindari Minho yang terus mendekat ke arahnya.

“Eyy, maldo andwae, itu hanya mitos, maldo andwae, maldo and–,”

Suaranya terputus saat ia merasa pergelangan tangannya tak bisa bergerak, ia melihat ke bawah dan menemukan Minho menggenggamnya erat, sangat erat sampai ia rasa tulangnya hampir patah saat itu juga. Kedua matanya membelalak dan suaranya tercekat di tenggorokan, ia tidak bisa menemukan sepatah kata pun untuk dikeluarkan.

Ia mencoba melihat sekitarnya untuk mencari celah keluar, tapi tidak ada. Dan sebelum ia berhasil melakukan apapun, ia merasa ada sesuatu yang menusuk kedua bola matanya dan terus dirasakannya untuk beberapa saat.

Kyuhyun mengedipkan matanya beberapa kali sebelum tersadar ia sedang berada di mana. Alisnya mengerut sempurna, kebingungan melanda dirinya. Ia melihat pada lelaki yang ada di depannya beberapa langkah, kemudian matanya memutar ke seluruh ruangan dan menemukan Sooyoung, wanita yang sudah beberapa minggu ini berusaha ia dekati tapi selalu gagal. Ia merasa pusing dan tubuhnya hampir jatuh ke belakang sebelum berhasil tersadar dari lamunannya dan berpegangan pada lemari pakaian setinggi pinggangnya yang ada di belakangnya.

“Apa yang baru saja terjadi?” tanyanya pada Minho. Rasanya seperti ada sebagian memori dari otaknya yang hilang, tapi ia tidak tau memori apa itu dan bagaimana bisa terjadi.

“Kau tidak ingat apa yang terjadi?” kali ini Minho mengembalikan suaranya setelah beberapa menit diam.

Lagi, Kyuhyun mengerutkan alis dan dahinya, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Yang ia ingat hanyalah ia membawa Sooyoung dari ruang ganti wanita dengan keadaan sangat buruk, bertemu Minho yang baru saja selesai dengan trainingnya, ke rumah kedua saudara itu, meletakkan Sooyoung di atas ranjangnya, dan setelah itu, blank. Tidak ada lagi yang diingatnya. Benar-benar seperti sepotong memori dipaksa diambil darinya.

“Terima kasih sudah menolong Sooyoung. Jeongmal gamsahamnida. Kau bisa pulang, Cho Kyuhyun-ssi, aku akan merawatnya setelah ini.”

Seakan mendapat sebuah tamparan keras di kedua pipinya, Kyuhyun tersadar dari pikirannya dan menumbukkan pandangan pada Minho.

“Huh? O-oh, ne…,” kali ini sudah mampu menahan beban tubuhnya kembali dan mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Langkahnya terhenti ketika Minho memanggilnya kembali.

“Tolong jangan beritahukan kejadian ini pada siapapun di sekolah,” Kyuhyun hanya mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu, meski kepalanya masih terasa berat dan berputar-putar. Tanpa disadarinya, Minho hanya menghembuskan napas lega kemudian mendekat ke arah ranjang Sooyoung, membersihkan darah yang ada di tubuhnya, menarik selimut sampai ke bahu wanita itu, dan memberinya lagi sedikit potongan daging untuk mempercepat regenerasi.

***

Ada setidaknya suara beberapa burung di pagi hari yang diperlukan untuk Sooyoung bangun dari tidur lelapnya setelah dua hari tidak sadarkan diri. Kedua matanya perlahan terbuka, berusaha menghindari sinar matahari yang menerjang kamarnya tanpa ampun. Setelah beberapa menit, akhirnya kedua mata itu terbuka sempurna. Ia berdiri dari posisi awalnya dan sedikit menahan sakit di sekitar lukanya yang sejak kemarin belum sembuh. Dan tiba-tiba hal itu membuatnya teringat apa yang terjadi semalam, semuanya. Termasuk fakta bahwa Cho Kyuhyun, lelaki yang mengganggunya beberapa bulan terakhir itu hampir menciu–, “Stop it, Choi Sooyoung!” ujarnya pada diri sendiri sambil menggelengkan kepala beberapa kali, berusaha menghilangkan ingatan itu dari kepalanya. Entah mengapa, ada setitik rasa kekecewaan ketika teringat lagi lelaki itu tidak jadi melakukan apa yang akan dilakukannya.

Hembusan napas kesal keluar dari mulutnya sebelum ia berdiri dan keluar, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan karena sejak tadi, ia tidak mendengar suara kakak-kakak lelakinya satu pun. Ia mengetuk pelan pintu kamar Minho yang berada tepat di seberang kamarnya dan memanggil lelaki itu, “Minho-yah?” dan didengarnya lelaki itu berdeham menjawab panggilannya.

“Bisakah aku masuk?”

Wait a second, Soo. Aku sedang ganti baju.”

Tak berselang lama, ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya dan pintu terbuka, menampakkan sang lelaki yang sudah siap dengan pakaian sekolahnya.

Wae?”

“Aku sudah bosan tapi kau pasti melarangku masuk sekolah hari ini.”

Minho menaikkan salah satu alisnya, arah pandangannya berubah ke kanan atas, seakan-akan ingin terlihat berpikir sebelum menjawab sang adik, “Hmm… Padahal aku baru mau memberitahumu kau bisa masuk sekolah hari ini. Sudah dua hari kau tidak sadar.”

Jeongmal?! Dua hari?!” dan yang ditanya hanya mengangguk pelan sambil memberikan senyum terbaiknya pada wanita itu.

Palli, masih ada dua puluh menit sebelum masuk, I’ll wait,” Sooyoung mengangguk dengan penuh semangat dan menghilang ke dalam kamarnya untuk bersiap, meninggalkan sang lelaki berpikir di belakangnya.

Should I tell her about… apa yang terjadi?” gumam Minho pelan.

—–

Chapter 3 ends here.

Thanks for reading, have a nice nice day tomorrow and always haha!

Advertisements

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

One thought on “Switch Off the Light: 3

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s