Posted in Fantasy, Romance

Heart-beat #1

Untitled-1-horz

Title                      : Heartbeat

Genre                    : Fantasy, Romance, Mystery

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast               :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             : Find it

From Author          :

Annyeong!

Cerita lama tapi baru!

Jangan kaget ya kalau genre FF-ku kali gg jauh berbeda dari yang sebelumnya. Jujur, sebenarnya aku sama sekali gg ada niat buat posting FF ini karena satu dan dua hal. Tapi karena ada permintaaan (gg mau sebut nama), jadi aku putusin buat post FF ini.

FF ini seperti yang udah aku bolang sebelumnya, lama tapi baru… Kenapa? Yah, kalian bakal tahu lah maksudku kalau mau menyempatkan baca. Kalian pasti gg akan asing dengan genre ini di awalnya, aku yakin. Tapi tenang, alurnya beda, isinya juga beda hanya genre-nya yang sama.

 

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

 

Kyuhyun POV

(Naples, 22 Mei 2014)

PIANIS KOREA SELATAN SHIN HYE JOO MENJADI YANG TERBAIK DI SIGISMUND THALBERG INTERNATIONAL PIANO PRIZE

 

Hari Rabu lalu, pianis asal Korea Selatan berusia 27 tahun, Shin Hye Joo, memenangkan penghargaan di Sigismund Thalberg International Piano Prize. Kompetisi yang diikuti lebih dari 50 pianis dari seluruh negara ini adalah adalah kompetisi internasional pertama dan menjadi yang terbesar yang pernah diikutinya selama karirnya menjadi seorang pianis.

Lahir di Seoul, 16 Agustus 1990, Shin Hye Joo sekarang dianggap sebagai salah satu musisi paling berbakat di generasinya.

Shin menerima pendidikan musiknya di IES Abroad di Vienna, Austria. Perkenalannya dengan Craig Schumann telah membukakan pintu bagi karir internasionalnya. Dia kemudian mementaskan beberapa resital bersama kelompok-kelompok orkestra paling terkemuka, tapi karena kehilangan feel pada musik klasik, dia—

 

(Seoul, 3 Januari 2015)

PIANIS BERBAKAT SHIN HYE JOO MENGADAKAN RESITAL TERBESAR DI SEOUL

 

Kerumunan orang berdesak-desakkan kemarin malam di Seoul Art Center.

Menyusul gambar-gambarnya di media, musisi muda yang cemerlang ini terus membangkitkan rasa penasaran. Banyak orang yang berkata itu adalah pertunjukkan piano klasik paling berkelas yang pernah diadakan selama 10 tahun terakhir ini. Shin Hye Joo—

 

(Namyangju, 25 Desember 2015)

PIANIS SHIN HYE JOO MENGALAMI KECELAKAAN MAUT

 

Jumat pagi ini, sekitar pukul 2 dini hari, pianis berbakat yang baru mengadakan resital-nya di Seoul Art Center menyusul kesuksesannya di Sigismund Thalberg International Piano Prize, mengalami kecelakaan mobil di perlintasan Seoul-Namyangju. Mobil yang dikendarai yeoja yang dikabarkan dekat dengan salah satu pewaris perusahaan terbesar di Korea ini melaju kencang tanpa kendali sebelum akhirnya menabrak pagar pembatas jalan.

Polisi yang langsung mendatangi lokasi kejadian belum bisa memberikan keterangan apapun mengenai kecelakaan yang menewaskan pianis yang paling dikagumi di Korea ini.

Aku terus menatap ke arah sebuah foto, dimana ada aku dan seorang yeoja bernama Shin Hye Joo sedang berada dalam ayunan kayu di halaman rumahnya. Di sebelah foto itu, tergeletak beberapa artikel surat kabar yang menyebutkan namanya yang aku kumpulkan sejak pertama kali aku mengenalnya. Semua itu—sebenarnya, tersimpan dengan rapi dalam sebuah folder tapi malam ini aku membuatnya berantakan hanya karena aku teringat padanya.

Aku masih tidak percaya bahwa ini sudah tepat dua bulan sejak aku kehilangannya. Meskipun aku berusaha keras untuk menerima keadaan, tapi tetap saja aku tidak bisa begitu saja melakukannya. Ingatanku masih sangat segar tentang yeoja yang aku temui dua tahun lalu di Naples saat aku sedang berlibur disana. Aku tidak menyangka jika pada akhirnya aku jatuh cinta padanya dan menjalin hubungan dengannya selama setahun terakhir ini meskipun kami menyembunyikan hubungan kami itu dari publik mengingat bagaimana karirnya saat ini.

Aku tak pernah tahu bahwa pertemuanku di malam natal itu akan menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Jika aku tahu apa yang akan terjadi padanya, aku akan mengantarnya malam itu, memastikan dia kembali ke rumahnya dengan aman. Tapi aku membiarkannya sendirian hanya karena dia meyakinkanku bahwa aku tidak perlu mengantarnya karena aku harus segera pulang untuk menemui keluargaku. Aku tidak tahu bahwa pada akhirnya aku akan kehilangannya malam itu.

Tanpa terasa air mataku menetes, membasahi pipiku. Sampai saat ini, hanya ada dua orang yang bisa membuatku menitikkan air mata, dan keduanya sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mereka adalah eomma-ku, dan Hye Joo. Sangat ironis memang, bahwa orang-orang yang paling aku sayangi justru lebih dulu pergi dariku, membiarkanku tinggal sendirian disini hanya dengan kenangan-kenangan tentang mereka yang tidak bisa aku lupakan. Meskipun terkadang aku berharap aku masih bisa melihat mereka, tapi mereka tidak pernah sekalipun muncul di hadapanku dan itu membuatku semakin merasa sedih dan kehilangan.

“Tto ureo?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, dan dengan cepat aku mengusap pipiku lalu menolehkan kepala untuk mencari siapa yang berbicara padaku. “Aigoo… aku tahu bahwa namja jarang sekali menangis, tapi ini sudah kesekian kalinya aku melihatmu menangis seperti yeoja. Huh?”

“Jangan mengajakku bicara jika kau tidak menampakkan dirimu” sahutku ketus.

“Oh, baiklah” katanya, dan seketika sosok seorang yeoja dengan gaya pakaiannya yang kasual dan rambut panjangnya yang tergerai muncul di depanku. Membuatku sempat terlonjak karenanya, meskipun aku masih bisa mengendalikan diriku untuk tidak menunjukkannya di depannya. “Sudah puas?” Dia berkata lagi sambil melangkah ke seberang ruangan.

“Kau lagi,” celetukku. “Sudah aku katakan untuk tidak datang padaku, kan? Aku tidak mau berurusan dengan cheonyeo gwishin sepertimu,”

“Kau tidak mau berurusan denganku karena kau tidak mau aku memergokimu sedang menangis, kan?” balasnya. “Yah, aku tahu kau memang sedih kehilangannya, tapi bukankah kau tetap harus bergerak maju dan melanjutkan hidupmu?”

“Mudah saja kau bicara. Cheonyeo gwishin sepertimu pasti tidak merasa kehilangan, tapi pikirkan saja tentang keluargamu. Dia pasti kehilanganmu”

“Mungkin saja,” katanya dengan santai. “Aku tidak tahu itu—”

“Apa yang kau tahu, cheonyeo gwishin-ssi?”

“Astaga, aku punya nama” serunya dengan cepat sambil menunjuk ke arah nametag yang terkalung di lehernya. “Berhentilah memanggilku cheonyeo gwishin, dan apa kau tahu? Aku bukan gwishin

“Jika bukan gwishin, lalu apa? Cheonsa?” sahutku tak kalah cepatnya. “Hanya karena kau merasa masih hidup, bukan berarti kau bukan gwishin

“Hanya karena kau merasa masih hidup, bukan berarti kau bukan gwishin” Dia mengulangi dan menirukan gaya bicaraku, lalu menjulurkan lidahnya ke arahku. “Aku sudah bosan berdebat denganmu apa aku ini gwishin, cheonsa atau roh lainnya. Apa kau sama sekali tidak memiliki topik lain untuk diperdebatkan denganku? Kau ini pebisnis, kan? Bagaimana kalau kita berdebat tentang bisnis?”

Aku tertawa kecil, “Apa yang kau tahu tentang bisnis?”

Ya! Aku ini reporter bidang bisnis, tentu saja aku tahu” protesnya sambil melangkah kembali mendekatiku. Aku menatapnya dengan lekat, lalu dia meringis. “Mungkin… Kau tahu, namaku dan pekerjaanku tertulis disini” katanya kembali menunjuk nametag-nya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengalihkan pandangan untuk menatap nametag itu dan membaca nama Choi Sooyoung tertulis disana beserta fotonya meskipun aku sudah pernah melihatnya. Aku mendesah singkat sebelum kemudian bangkit dari tempatku dan pergi ke arah dapur untuk mengambil minuman tanpa mengatakan apapun padanya. Tidak akan ada habisnya jika aku terus menanggapinya, jadi lebih baik aku yang menjauh darinya.

Ya! Eodiseo?” Sooyoung berseru. “Ya! Cho Kyuhyun!”

Aku sama sekali tidak menggubrisnya. Jujur saja, aku sama sekali tidak mau berurusan dengan gwishin—jika tidak terpaksa, meskipun aku bisa melihat mereka sejak aku kecil. Mereka lebih sering mempermainkanku saat tahu bahwa aku bisa melihat mereka, jadi sekarang aku memilih untuk tidak menanggapi apapun yang berhubungan dengan mereka. Bukankah segala sesuatu yang berhubungan dengan gwishin selalu berakhir dengan tidak baik?

Ya! Kau mungkin bisa mengabaikan yang lainnya, tapi kau tak bisa mengabaikanku. Jika tidak aku benar-benar akan membuatmu—”

“Ancaman seperti itu tidak berlaku untukku,” Aku menyela perkataannya sambil mengambil sekaleng bir dari dalam lemari es. Aku membalikkan badan, melihatnya berdiri di belakangku. “Dan omong-omong, sejak kapan kau bicara banmal padaku? Aku tidak ingat kita pernah sedekat itu sampai kau melupakan jondaemal. Lagipula sepertinya aku lebih dewasa darimu. Aku benar, kan?”

“Darimana kau tahu jika kau lebih dewasa dariku?”

“Hanya menebak,” jawabku seraya membuka keleng bir di tanganku lalu meneguknya sekali. “Melihat dari pakaianmu, tentu saja. Aigoo…” Aku menambahkan sebelum duduk kembali di kursiku sebelumnya.

Aku tersenyum tipis dari kaleng birku saat melihat gwishin ini memeriksa pakaiannya sendiri dengan ekspresinya yang terlihat menggelikan.

“Bagaimana bisa kau menilai seseorang dari cara berpakaian mereka?”

“Apa kau tak tahu pepatah yang mengatakan bahwa penampilan mencerminkan siapa dirimu?”

“Aku tahu,”

“Lalu?”

Sooyoung diam saja, dan aku tahu bahwa kali ini aku menang darinya. Aku kembali meneguk minumanku, menunggu tanggapan apapun darinya tapi sepertinya dia kehilangan kata-kata. Karena detik berikutnya, dia memilih untuk menjauh dariku dan melangkah ke depan jendela. Aku memperhatikannya untuk sesaat, sebelum akhirnya kembali mengalihkan perhatianku pada kenanganku bersama Hye Joo. Tapi belum lama, perhatianku beralih lagi ke arah gwishin yang sudah lebih dari satu bulan ini mengganggu hidupku.

Aku tidak tahu kenapa dia terus mengikutiku saat pertama kali dia mengetahui bahwa aku bisa melihatnya dan berbicara padanya. Awalnya aku pikir dia akan meminta bantuanku, seperti gwishin-gwishin lainnya tapi selama dia mengikutiku, dia tidak pernah sekalipun meminta bantuanku. Bahkan saat aku bertanya padanya, dia hanya menjawab bahwa dia hanya ingin mengobrol denganku karena dia merasa kesepian. Itu saja, tidak ada yang lainnya. Mengherankan, memang, karena aku tak pernah bertemu gwishin sepertinya sebelumnya jadi aku membiarkannya saja mengikutiku tanpa pernah benar-benar berusaha untuk mengusirnya. Aku tak pernah tahu bahwa dia akan mengangguku seperti ini.

“Kau masih tidak ingat apapun?” tanyaku setelah beberapa saat kami hanya diam. “Satu hal pun tidak bisa kau ingat?” Aku bertanya lagi.

Sooyoung menoleh ke arahku, lalu menggelengkan kepalanya.

“Jangan khawatir, kau pasti akan mengingatnya” komentarku kemudian. “Aku memang pernah bertemu gwishin yang amnesia sepertimu—”

“Lalu apa yang terjadi? Apa pada akhirnya dia bisa mengingat apa yang terjadi padanya?”

Geurissae…” sahutku sambil mengingat-ingat. “Aku tidak mau berurusan dengan gwishin, jadi aku tidak tahu apa yang terjadi padanya”

“Setidaknya, dia pasti ingat nama dan keluarganya kan? Sementara aku tidak,” kata Sooyoung menanggapi. “Aku bahkan tidak akan tahu namaku jika tidak ada nametag ini” tambahnya.

Aku kembali menatap nametag di lehernya, lalu mendesah panjang. Memang benar ada informasi sedikit tentangnya di nametag itu tapi hanya sebatas nama dan pekerjaannya saja. Meskipun aku sudah pergi ke tempat kerja gwishin itu sekedar untuk mencari tahu—tanpa diminta, aku tidak bisa menemukan informasi apapun selain dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu dua bulan sebelumnya. Bahkan tidak ada informasi tentang keluarganya, padahal biasanya perusahaan memiliki data-data para pegawainya walaupun tidak banyak.

“Baiklah, tidak perlu dipikirkan lagi” celetukku untuk menghindari keheningan yang lama bersama gwishin di rumahku ini. Akan lebih baik jika dia pergi dan meninggalkanku, jadi aku bisa kembali mengalihkan perhatianku pada apa yang sedang aku pikirkan sebelumnya. “Sudah kukatakan kau pasti akan mengingatnya nanti. Tapi omong-omong, apa yang membuatmu berpikir bahwa kau masih hidup?”

Sooyoung tidak langsung menjawab, dan aku bisa melihatnya sedang merenungkan sesuatu. Tapi kemudian dia pun berbicara, “Detak jantung”

Mwo?”

Mwogin? Terkadang aku masih bisa merasakan detak jantungku sendiri meskipun itu samar. Itulah kenapa aku berpikir aku masih hidup,”

Aku cukup terkejut dengan apa yang dia katakan. Aku tidak pernah tahu bahwa ada gwishin yang masih bisa merasakan detak jantungnya sendiri sebelumnya. Jika apa yang dia katakan benar, apa mungkin dia sebenarnya memang masih hidup? Bagaimana aku bisa membuktikan itu?

“Itu jawaban yang tidak aku sangka, sebenarnya” kataku menanggapi. “Baiklah, kau mungkin merasakan detak jantungmu. Tapi kau benar-benar yakin apa yang kau rasakan itu?”

Wae? Kau meragukanku?”

Aku mengangkat bahu, lalu kembali beranjak dari tempatku. “Aku bukannnya meragukanmu, tapi—” Aku berhenti sesaat, memikirkan kata yang setidaknya tidak terlalu menyinggung gwishin. “—aku tidak sepenuhnya percaya pada perkataanmu, kecuali kau tidak ingat apa yang terjadi padamu karena sepertinya kau mengatakan jujur tentang hal itu”

“Bagaimana kau—”

“Aku mau tidur saja,” sahutku dengan cepat. “Jangan masuk ke kamarku atau aku akan memasang jimat agar kau tidak bisa berbicara denganku lagi. Arraseo?”

Tanpa menunggu balasan darinya, aku bergegas melangkah ke kamarku dan memasukinya. Aku tahu, Sooyoung tidak akan pernah mengikutiku ke dalam kamarku apalagi jika aku sudah mengancamnya seperti itu. Aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur, tapi entah kenapa pikiranku tidak berhenti memikirkan tentang apa yang gwishin itu katakan. Detak jantung. Aku tidak mengerti kenapa kata-kata itu terus melekat di kepalaku sekarang.

Aku menghembuskan napas panjang, berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu dariku. Aku terus mengingatkan diriku untuk tidak melibatkan diri dalam urusan gwishin, termasuk memikirkannya. Lebih baik sekarang aku memikirkan Hye Joo, yang meskipun itu menyedihkan tapi juga membahagiakan karena kenanganku bersamanya benar-benar sangat berharga untukku. Aku berharap dia akan hadir di mimpiku malam ini, jadi aku bisa mengurangi kerinduanku padanya.

__

Sooyoung POV

14 hari sebelum insiden—

“Ayolah, Choi Sooyoung, kau harus membantuku kali ini. Aku benar-benar harus mendapatkan beritanya malam ini, bagaimanapun caranya”

“Astaga, apa kau tak tahu ini malam natal? Aku ingin pulang ke rumah dan menghabiskan malam natalku dengan damai” jawabku terus menolak permintaan salah satu teman baikku sesama reporter. “Lagipula itu pekerjaanmu, kenapa harus aku yang melakukannya?”

“Aku harus melakukan sesuatu malam ini, tapi Seo sunbae memberitahuku bahwa target kami akan berkencan malam ini. Aku sudah terlanjur berjanji untuk tidak pergi kemanapun—”

“Dengan siapa kau berjanji? Jisung-ssi?”

Anigotten,” sahutnya dengan cepat. “Eomma. Aku sudah berjanji pada eomma untuk menemaninya malam ini”

Aku mendesah panjang, “Astaga… kau ini” komentarku. “Kau tahu kan, aku tidak bisa melakukannya. Mana bisa reporter bisnis mencari berita untuk masalah pergosipan? Pekerjaan kita memang sama, tapi bidang kita berbeda, Hwang Miyoung gisa-nim

“Bagiku itu sama saja. Kita sama-sama reporter, dan kita sama-sama mencari berita”

“Ya! Bagaimana bisa kau menyamakan kita?” protesku tidak terima. “Sudah kukatakan, meskipun pekerjaan kita memang sama, tetap saja—”

“Apapun itu, kau harus membantuku. Kali ini saja, eo? Aku mohon,” Miyoung menyela perkataanku. “Kau hanya perlu mendapatkan foto-foto mereka saja, sisanya itu urusanku. Aku benar-benar tidak bisa pergi, eomma akan membunuhku jika aku membatalkan janjiku untuk tetap di rumah malam ini”

Aku kembali mendesah, “Memang kau mau melakukan apa dengan eomma-mu? Sepertinya penting, kan? Apa kau akan menikah?”

Miyoung tidak menjawab, tapi sepertinya aku benar karena tiba-tiba saja dia tersenyum. “Pokoknya kau harus membantuku malam ini, aku pasti akan membantumu lain kali sebagai gantinya”

Jamkkaman—kau memintaku untuk mencuri foto seseorang?” tanyaku memastikan lagi apa yang Miyoung ingin aku lakukan. Dia menjawabnya dengan anggukkan kepala. “Astaga… aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau harus melakukan itu untuk menulis artikelmu?”

“Jika aku tidak mencurinya, bagaimana aku bisa bekerja? Tidak mungkin juga kan mereka dengan sukarela mau di foto dan mengatakan hubungan mereka secara terbuka. Mereka artis, tentu saja mereka berusaha keras menyembunyikan itu dan tugasku-lah untuk mencari mereka yang berkencan tapi menyembunyikannya dari publik”

“Itu melanggar privasi seseorang, kau tahu” kataku.

“Aku tahu, tapi kau juga tahu bagaimana orang-orang bekerja di bidangku. Seharusnya kau tak perlu memprotesnya”

“Aku tidak memprotes—”

“Pada intinya, kau mau melakukannya kan?”

Aku diam sesaat, lalu menghela napas panjang. “Ya, baiklah. Hanya foto, kan? Aku tidak mau lebih dari itu”

Miyoung mengangguk-angguk senang, “Gomawo—”

“Dengan satu syarat,” sahutku dengan cepat sebelum temanku ini menyelesaikan kalimatnya. Miyoung menatapku dengan tidak percaya, tapi aku melanjutkan bicara. “Kau harus menuliskan artikel yang bagus untukku tentang Hanlim Group. Kau tahu, mereka saingan terbesar Choyoung Group dan aku harus menulis sesuatu untuk mereka”

“Hanlim Group?”

Aku mengangguk. “Semua data dan informasinya ada padaku. Kau hanya tinggal menjadikannya sebagai artikel yang bagus dan menarik dan tidak menyinggung apapun. Sebagai gantinya, aku akan melakukan pekerjaanmu malam ini. Eotte?”

Miyoung tidak langsung menjawab dan aku membiarkannya untuk berpikir karena aku sendiri pun tidak memaksanya untuk melakukannya. Aku hanya ingin bertukar pekerjaan dengannya, dan kurasa itu tidak masalah bagiku sekalipun aku tidak menyukai apa yang dia lakukan—tapi bukan berarti aku membencinya.

“Baiklah,” celetuk Miyoung pada akhirnya.

“Omong-omong, siapa itu?” tanyaku kemudian. Miyoung terlihat bingung, jadi aku kembali berkata. “Siapa yang kau ingin aku ambil fotonya? Siapa targetmu?”

Ah, Shin Hye Joo”

Mworago?”

Miyoung mendekat ke arahku, “Shin Hye Joo, pianis terkenal itu. Kabarnya dia berkencan dengan penerus salah satu perusahaan terbesar di Korea dan kami tidak tahu itu siapa. Aku mendapat informasi bahwa mereka akan bertemu malam ini di restoran Gae Hwa Oak di Gangnam jam sepuluh malam”

“Darimana kau tahu—”

“Itu rahasia,” potong Miyoung dengan cepat. “Kau pergilah kesana, ini sudah hampir jam sepuluh” katanya sambil menatap ke arah ponselnya untuk memeriksa jam.

Jigeum?”

“Jika kau mau mendapatkan sesuatu, kau harus pergi sekarang. Semuanya akan lebih sulit jika mereka sudah bertemu saat kau baru saja datang”

Aku mengangguk mengerti, “Arraseo. Kalau begitu aku pergi sekarang,”

Ah, ini” Miyoung mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tasnya lalu memberikannya padaku. “Pakailah kameraku untuk mengambilnya, ini tidak terlalu besar jika dibandingkan milikmu. Ambil gambar mereka seperlunya dan setelah itu awasi mereka untukku. Aku perlu tahu apa saja yang mereka lakukan untuk menulis artikel tentang Shin Hye Joo”

“Aku harus melakukan itu juga?” seruku terkejut.

“Tentu saja. Foto saja tidak cukup, kan?”

“Astaga… baiklah,” sahutku tidak percaya. Aku mengambil kamera itu, lalu memasukkannya ke dalam tasku. “Aku pergi sekarang,”

Em. Pastikan kau tidak terlihat”

Aku hanya memberikan tanggapan dengan anggukkan kepalaku, lalu melangkah pergi dari kafe yang biasa aku datangi bersama Miyoung jika sedang memiliki waktu luang. Aku sempat melirikkan mataku ke arah jam di tanganku sebelum akhirnya menghentikan taksi dan memasukinya. Aku segera meminta supirnya untuk mengantarku ke restoran Gae Hwa Oak untuk melakukan pekerjaan mendadakku di malam natal ini.

Ya, ini memang malam natal dan seharusnya aku berada di apartemenku sambil berusaha menulis beberapa artikel tentang Hanlim Group. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terpaksa melakukan ini untuk sahabatku itu meskipun sebagai gantinya dia akan menggantiku menulis artikel yang aku yakin hasilnya akan jauh lebih baik dariku. Karena—jujur saja, aku tidak terlalu bagus membuat artikel dan selalu kehilangan kata-kata pertamanya. Sangat berbeda dengan Miyoung yang hampir selalu bisa menghasilkan artikel yang bagus dan menarik untuk dibaca.

Aku sampai di restoran Gae Hwa Oak dan bergegas masuk ke dalamnya. Aku sempat mengamati keadaanku di sekitarku untuk beberapa saat, lalu memutuskan untuk bertanya pada salah satu pelayan yang ada disana. Aku harus berpura-pura menjadi orang lain—manajernya, tentu saja, agar tidak mencurigakan dan ternyata Shin Hye Joo sudah datang ke restoran ini dan berada di ruangan nomor enam di dalam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera mencari ruangan nomor enam itu.

“Ini dia, ruangannya” seruku setelah mencari. “Tapi bagaimana aku masuk? Tidak mungkin aku masuk begitu saja, kan?”

Aku kembali menolehkan kepala ke sekelilingku, berusaha mencari cara yang bisa aku lakukan dan menemukan sebuah ruangan, nomor tujuh yang baru saja di tinggalkan. Aku cepat-cepat masuk ke ruangan itu, lalu menutup pintunya agar terlihat seperti masih ada orang di dalam ruangan jadi pelayan tidak akan datang untuk membersihkan ruangan ini. Aku segera mencari celah, di pintu dan menemukannya meskipun itu sangat kecil. Meskipun begitu, aku masih bisa mengintip dari sana ke dalam ruangan nomor enam dan cukup terkejut menemukan Cho Kyuhyun sedang duduk disana bersama seorang yeoja.

“Cho Kyuhyun dan Shin Hye Joo?” gumamku masih tidak percaya. “Apa namja itu yang dikatakan Miyoung tadi? Jadi—jadi Shin Hye Joo sebenarnya berkencan dengan penerus Choyoung Group?”

Aku kembali mengintip, melihat kemesaraan mereka di dalam sampai aku tidak tahan melihatnya. Meskipun begitu, aku berusaha mengambil beberapa gambar yang tidak terlalu bagus mengingat itu diambil dari celah yang sangat sempit. Karena tidak ada gambar bagus yang bisa aku hasilkan, aku lebih memilih untuk mengamati mereka daripada mengambil gambar mereka.

Mereka sedang berbicara, tentu saja. Sesekali aku melihat senyuman di wajah Cho Kyuhyun yang entah kenapa selalu membuatku terpesona sejak pertama kali aku bertemu dengannya dengan salah satu rekanku untuk melakukan wawancara. Aku bahkan berpendapat dia adalah penerus perusahaan paling tampan dan pintar dari banyak penerus perusahaan besar lainnya yang sudah aku temui dan wawancarai. Aku juga menikmati saat kami memawancarainya meskipun aku bukanlah orang yang langsung melakukannya karena tugasku hanyalah mencatat. Aku tidak yakin Cho Kyuhyun memperhatikanku saat itu, mengingat perhatiannya tertuju pada orang yang mewawancarainya daripada aku.

“Oh, mereka sepertinya mau pergi” seruku pelan saat melihat Cho Kyuhyun beranjak dari tempatnya lalu mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Shin Hye Joo. “Aku belum mendapatkan foto apapun dari mereka,”

Cepat-cepat aku keluar dari ruangan—dengan diam-diam, keluar dari restoran lalu memilih bersembunyi disamping sebuah mobil. Aku menunggu beberapa saat sampai akhirnya melihat pasangan itu berjalan dengan langkah cepat dan terpisah tapi menuju mobil yang sama. Setelah mobil hitam itu pergi, aku segera menghentikan taksi dan meminta supirnya untuk mengikuti mobil yang aku tunjukkan padanya. Tidak henti-hentinya aku mengingatkan pada supir taksi ini tentang mobil mana yang harus diikuti karena aku sama sekali tidak mau kehilangannya.

Melewati beberapa distrik, akhirnya mobil itu berhenti di sebuah jalan yang tidak banyak dilewati mobil, jadi akupun segera meminta supir taksinya untuk menghentikan taksi beberapa meter di belakangnya. Aku menunggu beberapa saat karena siapa tahu mereka berdua akan keluar dari mobil tapi tidak ada apapun yang terjadi. Setelah mempertimbangkan langkahku berikutnya, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari taksi dan hanya mengamati mobil itu sambil mengambil beberapa gambarnya. Aku sempat kebingungan harus melakukan apa karena aku tidak mungkin hanya terus berdiri diam disini dan tidak menghasilkan apapun. Tapi apa yang harus aku lakukan itulah yang tidak aku tahu.

Aish, haruskah aku bertindak sejauh itu?” kataku berpikir. “Biar bagaimanapun, aku harus mendapatkan sesuatu malam ini” kataku lagi sambil mengambil masker—yang selalu aku bawa untuk berjaga-jaga, dari dalam tasku dan memakainya.

Aku kembali mengambil kameranya dan mempersipakan penampilanku sekali lagi sebelum akhirnya mulai melangkah mendekati mobil itu. Jantungku berdegup kencang mengiringi langkah kakiku karena ini pertama kalinya aku bertindak senekat ini bahkan selama aku bekerja sebagai seorang reporter. Saat pada akhirnya aku melewati mobil itu, aku sempat ragu untuk membalikkan badan. Aku bahkan memegangi dengan sangat erat kamera yang ada di tanganku dan juga sempat untuk kembali melangkahkan kakiku. Tapi sesuatu menahanku dan mau tidak mau aku membalikkan badan, berlari ke arah depan mobil itu dan mulai mengambil beberapa gambar mereka.

Aku sempat melihat keduanya terkejut dengan apa yang aku lakukan. Saat aku menyadari jika Cho Kyuhyun akan keluar dari mobilnya, cepat-cepat aku memutar badan, dan melarikan diri dari tempat itu. Aku bisa tahu bahwa namja itu mengejarku tanpa menolehkan kepala ke belakang. Karena aku tidak mungkin terus berlari—yang tentu saja membuatku khawatir dia mungkin berhasil menangkapku, aku memilih bersembunyi diantara semak-semak yang cukup tinggi yang aku lewati. Aku diam disana untuk beberapa saat, tidak berani untuk menggerakan badanku bahkan untuk sesenti sekalipun.

Cukup lama aku bersembunyi, sampai akhirnya aku berani melongokkan kepala untuk memastikan tidak ada siapapun disekitarku. Aku baru keluar dari persembunyianku setelah itu, lalu memasukkan kamera, melepas masker bahkan mengganti kardiganku. Aku beruntung aku membawanya pulang dari mejaku malam ini, padahal aku berniat untuk mencucinya sesampainya di rumah tapi justru aku kembali memakainya meskipun sudah beberapa kali aku membiarkannya begitu saja di mejaku.

Aku duduk sebentar di salah pagar rendah yang ada di dekatku, lalu kembali mengeluarkan kamera untuk melihat hasil tangkapanku. Itu cukup banyak dan aku benar-benar puas karena Miyoung juga pasti akan sangat senang. Saat pada akhirnya tiba di satu foto, mataku membelalak karena aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang berhasil aku tangkap. Mataku mengerjap, bahkan sampai aku memperbesar fotonya beberapa kali untuk memperjelasnya.

Wanjeon daebak,” gumamku tidak percaya dengan hasil pekerjaanku sendiri. “Mereka… mereka… astaga—”

Kepalaku menggeleng tidak percaya. Ini bisa menjadi sebuah skandal yang besar jika sampai publik mengetahuinya. Haruskah aku memberikan ini juga pas Miyoung? Dia pasti akan senang, kan? Haruskah aku menelepon sekarang?

Aku kembali melirik ke arah jam tanganku dan cukup terkejut karena ini sudah menjelang tengah malam. Karena sedikit khawatir dengan jalanan yang sepi, aku memutuskan untuk mencari taksi dan menelepon Miyoung di dalam taksi saja dalam perjalananku kembali ke apartemen. Menunggu lama, akhirnya taksi kosong yang aku tunggu datang. Aku menyebutkan alamatku pada supir taksi itu, lalu merogoh tasku dan mengeluarkan ponsel dari sana.

“Jika aku menelepon sekarang, mungkin Miyoung sudah tidur kan?” gumamku pada diri sendiri. “Dia benar-benar curang karena melakukan ini padaku. Seharusnya aku sudah tidur nyaman di kamarku sambil menunggu malam datang dan dia yang bekerja seperti ini”

Aku mendengus kesal sambil mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Tepat saat itu, aku melihat Shin Hye Joo baru saja keluar dari mobil dan sedang berjalan ke sebuah restoran yang buka 24 jam. Spontan, aku meminta supir taksi untuk berhenti lalu bergegas keluar setelah membayarnya.

“Apa yang dia lakukan disana? Apa dia melanjutkan berkencan setelah aku mengambil gambarnya? Yah, dia memang—” Kata-kataku terhenti karena seorang namja tiba-tiba datang menghampirinya begitu mobil yang lainnya datang. “Oh, nuguji? Sepertinya itu bukan Cho Kyuhyun”

Aku memperhatikan dari kejauhan, dan terkejut karena dua orang itu bahkan tidak masuk ke dalam restoran melainkan pergi ke tempat yang lainnya. Rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul, dan tanpa aku minta, kakiku sudah melangkah sendiri mengikuti kemana mereka pergi. Keningku berkerut tajam karena mereka justru memilih pergi ke sebuah lorong sempit diantara dua bangunan, yaitu restoran dimana mobil mereka terpakir dan toko roti yang berada persis di sebelahnya.

“Itu aneh,” gumamku.

Aku mengendap-endap saat mendekat dan menemukan sebuah tiang lampu besar yang bisa aku jadikan tempat untuk bersembunyi. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menimbulkan suara atau terlihat saat menyelinap ke lorong itu. Begitu sampai, aku sangat puas dengan apa yang aku lakukan karena—jujur saja, ini benar-benar pertama kalinya aku melakukan ini. Meskipun begitu, aku cukup yakin aku bisa mendengar pembicaraan mereka atau apa yang mereka lakukan di tempat gelap seperti ini.

“Bagaimana mungkin kau melakukan itu padaku? Aku sangat percaya padamu, Hye Joo-ya” Suara namja yang bersamanya-lah yang pertama kali aku dengar. “Kau tahu itu, kan? Kenapa kau justru mengkhianati kepercayaanku? Kau melakukannya karena namja itu, kan?”

“Aku tidak melakukannya karena Cho Kyuhyun. Aku melakukannya karena aku sudah muak padamu” Shin Hye Joo menjawab. “Kau seharusnya tahu bahwa aku sudah tidak mau berhubungan denganmu, tapi kau terus menghubungiku, memintaku untuk menemuimu, dan kau bahkan mengancamku”

“Aku menyukaimu—”

“Itu dulu, Dong Jin-ah. Sekarang kau dan aku tidak memiliki hubungan apapun, dan perasaanku padamu pun sudah tidak ada lagi”

“Itulah kenapa kau melakukannya di belakangku? Kau ingin menghancurkanku karena aku menghancurkan perasaanmu?”

“Kau pikir aku melakukannya karena alasan itu? Tidak,” sahut Shin Hye Joo yang mulai terdengar menaikkan nada bicaranya. “Aku memerlukan sesuatu untuk melindungi diriku dari dirimu, dan aku menemukannya. Kau tidak akan menyentuhku saat aku memilikinya. Jika aku mengungkapkannya, tidak hanya kau yang hancur, semua yang berhubungan denganmu juga akan hancur bahkan termasuk diriku sendiri. Kau—”

“Shin Hye Joo!”

Aku terlonjak kaget karena kerasnya suara namja itu. Aku bahkan sampai menjatuhkan ponselku dan membuat suara yang cukup keras, yang aku yakin mereka pasti mendengarnya. Tanpa menunggu apapun, aku segera menyelinap keluar tanpa sempat mengambil ponsel dan memedulikan apa mereka melihatku aku tidak. Satu hal yang ada dipikiranku saat ini adalah aku harus menyembunyikan diriku, dan satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan adalah dengan masuk ke dalam restoran.

Aku segera menempatkan diriku sebagai pelanggan yang baru datang, dan terpaksa memesan minuman di tempat ini. Untuk lebih meyakinkan—karena aku datang sendirian di jam seperti ini, aku mengeluarkan buku catatanku dan buku-buku lainnya yang ada di dalam tas lalu mulai berpura-pura menulis sesuatu. Aku sering melihat anak-anak muda yang melakukannya saat mereka berada di kafe atau restoran sendirian, itulah kenapa aku menirukan mereka. Aku berharap, benar-benar berharap, kedua orang itu sama sekali tidak melihatku saat aku melarikan diri tadi. Itu akan sangat berbahaya jika aku sampai ketahuan.

Cukup lama aku di dalam restoran karena aku khawatir mereka masih mencariku. Tapi setelah minumanku habis, aku langsung membereskan buku-bukuku, memasukkannya kembali ke dalam tas dan membayarnya. Sempat ada keinginan untuk langsung pulang, tapi kemudian aku teringat ponselku jadi aku berniat untuk memeriksa keadaan terlebih dahulu sebelum kemudian mengambil ponselku. Sayangnya, baru saja aku membalikkan badan dari meja kasir, aku bertabrakkan dengan seseorang. Beberapa buku-bukuku terjatuh—aku cukup merasa lega karena kamera Miyoung tidak ikut jatuh, jadi dengan cepat aku mengambilnya.

Mianhaeyo,” ucap suara orang yang bertabrakan denganku. “Aku tidak sengaja”

Gwenchana—” Aku mendongakkan kepala dan terkejut karena di depanku adalah Shin Hye Joo sendiri. Aku sempat kehilangan kata-kata, tapi dengan cepat aku menyadarkan diriku sendiri. “Gwenchanayo,” kataku sambil tersenyum sedikit canggung.

“Ini,” Dia memberikan buku catatanku padaku.

Ah, kamsahamnida

Shin Hye Joo mengulurkan tangannya, dan mau tidak mau aku meraihnya, membiarkannya untuk membantuku kembali berdiri. Aku baru akan berterima kasih dan pergi, tapi dia menahanku dan bahkan mendekat ke arahku. Seakan-akan dia ingin berbicara padaku tapi dengan berbisik. Jantungku berdegup kencang, aku gelisah. Bagaimana jika dia tahu aku? Entah saat aku mengambil gambarnya dengan Cho Kyuhyun atau saat aku melarikan diri dari lorong itu.

“Aku menemukan ponselmu,” bisiknya yang membuatku terkejut untuk kedua kalinya. “Aku tidak akan melakukan apapun, tapi untuk sementara aku menahan ponselmu karena aku khawatir kau mengambil sesuatu yang tidak seharusnya”

“Aku—”

“Itu tidak masalah bagiku entah kau mendengar banyak atau tidak tentang apa yang baru saja terjadi. Tapi kau perlu tahu bahwa aku memasukkan sesuatu ke dalam buku catatanmu” Shin Hye Joo menyela perkataanku, dan sekarang dia terlihat seperti orang yang sedang tergesa-gesa. “Aku akan mengambilnya kembali saat aku mengembalikan ponselmu, jadi jagalah itu untuk beberapa saat. Kau bisa melakukannya?”

Ne?”

Shin Hye Joo menjauhkan dirinya dariku, lalu dia tersenyum. “Buthakeyo,” katanya lagi, membuatku sama sekali tidak bisa mengatakan apapun. “Geureom—” Dia mengangguk singkat ke arahku, dan menatapku dengan ekspresi yang membuatku membeku. Seakan menyadari bahwa dia cukup menarik banyak perhatian di restoran ini, dia dengan cepat membalikkan badannya untuk melangkah keluar dari restoran.

Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa selain hanya memandangi Shin Hye Joo yang sudah masuk ke dalam mobilnya lagi. Aku tidak percaya apa yang baru saja aku alami ini sampai aku hanya bisa berdiri diam untuk waktu yang cukup lama. Sebelumnya aku hanya tahu bahwa Shin Hye Joo adalah seorang pianis yang sedang naik daun belakang ini. Tapi sekarang aku justru tahu bahwa di balik senyumannya dan keramahannya di depan banyak orang, ternyata dia memiliki rahasia dan sepertinya rahasia itu ada di dalam buku catatanku. Apapun itu.

__

Kyuhyun POV

Aku menghela napas panjang untuk kesekian kalinya sambil melirik ke arah samping kiriku beberapa kali dimana satu gwishin sedang duduk seraya menatap ke luar jendela. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan gwishin ini karena sekalipun aku memintanya untuk tidak menggangguku atau mengikutiku, tetap saja dia mengikutiku. Aku tidak senang—jujur saja, jika ada gwishin yang berada sangat dekat denganku bahkan jika mereka bisa berbicara padaku. Rasanya seperti aku sedang berada di dunia yang bukan duniaku. Meskipun 49 hari sejak Hye Joo pergi, aku justru berharap—untuk pertama kalinya, aku bisa melihat gwishin dan berbicara dengannya tapi tetap saja itu tidak terjadi dan sebagai gantinya aku mendapatkan gwishin lain yang lebih banyak menggangguku daripada membiarkanku sendiri.

Ya, gwishin yang aku bicarakan, yang sedang duduk disampingku itu adalah Choi Sooyoung. Seingatku, aku sudah mengancamnya dengan jimat—dan aku pernah memakainya sekali atau dua kali, dan itu berhasil. Tapi beberapa hari kemudian, tapi dia kembali datang dan kembali menggangguku. Karena aku tidak mungkin memakai jimatnya setiap hari—apalagi saat hari-hari kerja, dia menggunakan kesempatan itu untuk datang padaku, mengikutiku dan menggangguku.

Kenapa aku berkata dia menggangguku?

Itu karena dia terus berusaha mengajakku mengobrol, tidak peduli apa tempat itu ada banyak orangnya atau tidak. Mungkin itu tidak masalah baginya, tapi tidak bagiku. Selama ini aku sudah berusaha keras untuk tidak menunjukkan pada orang lain bahwa aku bisa melihat apa yang tidak bisa mereka lihat, dan aku selalu menahan diri untuk tidak berkomunikasi dengan gwishin-gwishin lainnya di tempat umum meskipun mereka terus memaksaku untuk berbicara dengan mereka. Hanya karena gwishin yang satu ini, aku tidak mau mengacaukan apa yang sudah aku lakukan itu.

“Apa enaknya ada tiga orang di mobil tapi suasananya sangat hening dan canggung seperti ini” celetuk Sooyoung masih menatap ke luar jendela. “Aku tahu kau ini bos-nya, tetap saja kau seharusnya mengobrol dengannya. Apa kau sama sekali tidak merasa canggung tidak melakukan pembicaraan apapun?”

Aku berdehem pelan, lalu memilih untuk mengalihkan pandanganku ke luar jendela juga.

“Cih, kau mengabaikanku lagi?” ucap Sooyoung lagi. “Kalau kau tak mau mengobrol dengannya, kau bisa mengobrol denganku. Sekalipun kau membicarakan tentang bisnis atau pekerjaanmu, aku akan berusaha untuk mengerti. Kau tahu, aku ini reporter bisnis, kan?”

Aku mendengus kecil, “Reporter bisnis apanya—”

Ne? Anda mengatakan sesuatu, Busangjangnim?”

Aku mencelos, lalu segera menatap supirku ini dari kaca spion di tengah. “Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Emm—tentang reporter bisnis. Aku rasa mereka tidak pernah mengganggu atau mengusik kehidupan orang semau mereka, kan? Tidak seperti reporter gosip yang selalu mencari kesempatan untuk membongkar rahasia kita, khususnya saat kita berkencan dengan seorang artis”

Heol~ apa kau berkencan dengan artis? Jigeumeun?” sahut Sooyoung sambil mengalihkan perhatiannya padaku. “Ah, benar. Pianis itu—”

“Shin Hye Joo,” potongku dengan cepat pada perkataan Sooyoung, tapi kemudian aku menyadari tatapan supirku dari spion. “Dulu, aku dengar dia sering berhadapan dengan reporter gosip seperti itu, dan malam itu—” Aku tidak melanjutkan kata-kataku, karena teringat apa yang terjadi di malam natal yang lalu dimana aku dan Hye Joo berurusan dengan satu reporter gosip yang diam-diam mengambil foto kami. Sampai sekarang aku masih belum menemukan reporter itu, meskipun pada akhirnya tidak ada artikel apapun tentang hubunganku dengan Shin Hye Joo kecuali artikel-artikel tentang kematiannya.

“Malam itu apa? Kau tidak menyelesaikan perkataanmu?” kata Sooyoung sambil menyenggol sikuku. “Apanya yang malam itu?”

Aku diam saja.

“Astaga…” celetuk gwishin itu. “Aku tahu, kau memiliki hubungan khusus dengan mendiang pianis—maksudku Shin Hye Joo-ssi, tapi sepertinya tidak banyak yang tahu, kan? Hoksi… aku satu-satunya orang yang mengetahuinya?”

Aku terus menutup mulutku.

“Oh, baiklah. Kau tidak akan mengatakan apapun tentang mendiang Shin Hye Joo-ssi jika ada orang lain selain aku. Aku bisa mengerti, sungguh” Dia menyentuh bahuku dan menepuk-nepuknya dengan pelan, seakan-akan dia sedang menenangkanku. Dia melakukannya beberapa kali dan aku cukup terkejut karena aku bisa merasakan sesuatu yang hangat dalam sentuhannya padahal dia adalah gwishin.

Kepalaku menoleh dengan cepat ke arahnya, dan aku menatapnya dengan lekat karena aku masih tidak percaya dengan apa yang aku rasakan ini. Bagaimana bisa sentuhan gwishin terasa hangat seperti ini? Bukankah gwishin biasanya terasa dingin? Bahkan saat tidak bersentuhan dengan gwishin pun, aku atau orang lain bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat ada gwishin disekitar. Tapi kenapa gwishin ini tidak? Jika dipikir-pikir, aku memang tidak pernah merasakan hawa dingin saat dia berada disekitarku. Itu aneh, kan?

Wae? Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Menyadari kesalahanku, cepat-cepat aku mengalihkan pandangan.

“Cih, kau ini benar-benar aneh” kata Sooyoung berkomentar. “Jika kau ingin mengatakan sesuatu padaku, katakan saja. Tidak perlu menatapku seperti itu dan membuatku salah paham”

“Taesuk-ah, apa kita masih jauh?” Aku memilih untuk bertanya pada supirku, Oh Taesuk. “Aku tidak mau kita terlambat, jadi sebaiknya kau mengemudi lebih cepat”

Ne, Busangjangnim

Aku bisa merasakan kecepatan mobil bertambah, dan kemudian merasakan getar ponselku di dalam saku jasku. Aku langsung mengambilnya, terkejut karena appa yang menelepon. Tanpa menunggu apapun, aku langsung menggeser tombol jawabnya dan mendekatkannya ke telingaku.

Ne, appa” kataku kemudian.

“Kau sudah dalam perjalanan?”

Ne, aku sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mungkin sampai,” jawabku. “Appa tidak usah khawatir, aku sudah mengenal Changmin lama. Lagipula proyekku bersamanya sudah berjalan, dan kami ingin membicarakan proyek selanjutnya”

“Baiklah, appa mengerti. Hanya saja bukan Changmin yang appa khawatirkan, melainkan Hanlim Group

“Kenapa dengan Hanlim Group?”

“Mereka sudah terlalu sering mencuri proyek kita. Kau harus lebih berhati-hati, Kyuhyun-ah. Apalagi kau bertemu Changmin tidak di kantor, tapi di tempat umum. Appa khawatir akan ada yang mendengarnya dan kemudian mereka bergerak mendahului kita,”

Aku tersenyum tipis, “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi” kataku seraya menatap Sooyoung yang ikut mendengarkan. “Aku punya sesuatu yang bisa memberitahuku apa ada yang mencuri dengar atau tidak”

Na?” Sooyoung menyadari maksud perkataanku itu adalah dia. “Maldo andwae… shirreo!”

Aku mengabaikan itu, dan kembali mendengarkan perkataan appa yang terus menasehatiku untuk tetap berhati-hati. Setelah menyakinkannya, aku mengakhiri sambungan telepon itu tepat saat mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti di depan sebuah restoran tradisional di Suseo-dong. Aku tidak langsung keluar dari mobil tapi menunggu sesaat untuk memeriksa ponselku karena ada pesan dari sekretarisku yang memang tidak aku ajak kali ini karena ada Sooyoung. Mengingat biasanya aku pergi bersamanya untuk urusan bisnis, rasanya sedikit aneh karena aku pergi sendirian—meskipun tidak benar-benar sendiri. Sebenarnya itu tidak masalah, apalagi rekan bisnis yang akan aku temui kali ini adalah teman lamaku.

Philkyungjae?” celetuk Sooyoung tiba-tiba, membuatku langsung menolehkan kepala ke arahnya dan melihatnya sedang membaca papan nama yang tertulis di depan pintu restoran itu. “Yah, yeoksi… orang-orang sepertimu memang selalu pergi ke tempat yang berkelas seperti ini. Apa semua orang kaya itu sama?”

Geurissae…” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari ponsel. “Mungkin itu sama atau mungkin juga tidak sama,”

Heol! Kau menanggapiku sekarang?”

Aku mendongak ke arah Taesuk yang sedang memperhatikanku, lalu kepalaku mengangguk. Seperti sudah mengerti, namja ini bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintunya untukku. Tanpa menunggu apapun, aku mengabaikan Sooyoung dan keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke restoran yang memang sering aku kunjungi ini.

Heol daebak… kurasa ini pertama kalinya aku datang ke restoran seperti ini” komentar Sooyoung yang mengikutiku dengan menembus pintu masuknya. “Lihat itu! Ada banyak sekali lukisan-lukisan kuno disini. Apa mereka asli atau tiruannya? Jika itu asli, bukankah seharusnya ada di museum?”

“Bisakah kau diam?” gumamku sambil menatap tajam sekilas pada gwishin ini. Aku berhenti melangkah, lalu melihat tempat dimana aku bisa berbicara dengan Sooyoung tanpa ada yang mengetahuinya. “Ikut aku,” kataku memberi isyarat padanya dan kembali melangkah menuju tempat itu.

Aku tidak perlu memeriksa apa gwishin ini benar-benar mengikutiku atau tidak, karena dia pasti mengikutiku. Benar saja, saat pada akhirnya aku membalikkan badan, dia ada di belakangku. Membuatku sedikit terkejut karena jarak kami yang sangat dekat. Tidak hanya aku yang terkejut, begitu pula dia. Bahkan dia sampai mundur beberapa langkah karenanya sementara aku tetap diam di tempatku.

Ya! Jangan berhenti mendadak dan berbalik seperti itu. Kau benar-benar membuatku terkejut” serunya sambil memegangi dadanya. “Apa kau akan bertanggung jawab jika aku mati? Huh?”

“Kau ini gwishin, mana mungkin bisa mati?”

“Aku bukan gwishin! Aku masih—”

“Hidup,” sambungku dengan cepat. “Kau sudah ratusan atau bahkan ribuan kali mengatakannya di depanku, dan kupingku sudah bosan mendengarnya”

“Benarkah sudah ribuan kali?”

Aku menghela napas pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku. “Itu tidak penting sekarang. Aku ingin memperingatkanmu kali ini, benar-benar memperingatkanmu”

Dia tertawa kecil, “Jimat lagi?” tanyanya. “Kau tidak memiliki ancaman lain selain itu, kan?” tambahnya dengan nada mengejek.

Aku diam untuk beberapa saat, memikirkan ancaman lain yang bisa aku gunakan pada gwishin ini tapi tidak bisa menemukan apapun. “Aku ingin kau diam dan berhenti membuatku berusaha untuk bicara padamu” kataku memilih untuk tidak menanggapi perkataan Sooyoung yang sebelumnya.

“Kenapa aku harus diam saat aku bisa berbicara padamu? Kau tahu kan? Hanya denganmu-lah aku bisa berbicara,” sahutnya. “Jika aku bisa berbicara dengan orang lain, aku pasti akan berbicara dengan mereka dan bukan dirimu”

“Bukan itu maksudku,” kataku menahan emosi. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa bicara baik dengannya karena pada akhirnya aku sendiri yang marah. Meskipun aku menggertaknya, mengancamnya atau menatapnya dengan tajam, tetap saja dia tidak terpengaruh. “Terserah kau saja” kataku lagi karena frustasi.

Aku memutar badan, lalu kembali ke dalam restoran. Seorang pelayan menghampiriku, jadi aku langsung bertanya padanya dimana ruangan atas nama Shim Changmin. Setelah mencari daftar namanya, dia segera mengantarku dengan Sooyoung yang masih terus berkomentar dengan interior restoran ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengarkan komentar-komentarnya meskipun sesekali aku tertawa kecil karenanya. Jujur saja, ini pertama kalinya aku tahu ada seorang yeoja yang sangat cerewet seperti Sooyoung meskipun dia gwishin. Dan meskipun dia selalu membuatku geram, tapi terkadang dia juga membuatku tertawa dengan komentar-komentarnya dan usahanya untuk membuatku menanggapinya. Bahkan karena gwishin itulah aku tidak begitu terlarut lagi dengan kesedihanku karena kehilangan Hye Joo, kecuali jika aku sendirian dan itu sangat jarang terjadi sejak dia mengikutiku.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami tiba di sebuah ruangan. Tempat ini memang sangat tradisional, bahkan yang paling tradisional dibandingkan dengan restoran-restoran lain. Karena saat datang disini, pengujung seperti dibawa ke jaman dinasti Joseon karena tidak ada apapun yang modern disini. Pelayan itu segera menggeser pintunya untukku, dan setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas memasukinya. Aku cukup terkejut karena Sooyoung sudah berada di dalam dan memandangi Changmin dengan mata berbinar.

Mwoanya?” tanyaku ke arah gwishin itu.

“Menunggumu, tentu saja” Changmin yang menjawab. “Memangnya apa lagi?” katanya seraya bangkit dari kursinya dan memelukku dengan singkat.

Aku menatap tajam ke arah Sooyoung, memintanya untuk pergi dengan gerakan kepalaku tapi dia hanya menjulurkan lidahnya dan duduk sambil menyandar dagunya dengan tangan.

Orenmanida, Kyuhyun-ah” kata Changmin begitu melepas pelukannya. “Jal jinaesseo?”

Aku mengangguk. “Kau bisa melihatnya sendiri, kan? Aku baik-baik saja”

“Bukan itu maksudku,” sahutnya seraya memintaku untuk duduk, dan mau tak mau aku duduk di samping Sooyoung yang tatapannya kembali terpaku pada Changmin. “Aku membaca beritanya di internet, Kyuhyun-ah. Itu mengejutkan bahwa dia harus pergi secepat itu dan seperti itu”

“Apa maksudnya Shin Hye Joo-ssi?” celetuk Sooyoung menyambung.

“Itu sudah menjadi takdirnya,” kataku meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membicarakannya. “Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padamu besok, kan?”

“Itu benar,” sahut Changmin. “Geundae… neo jinjja gwenchana?

Aku mengangguk sambil memaksakan sebuah senyuman. “Gomawo, Changmin-ah, karena kau sudah mengenalkan yeoja seperti Hye Joo kepadaku. Meskipun itu sebentar, tapi itu sangat berharga bagiku dan aku pasti tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun”

“Aku senang mendengarnya,”

Mwoya… jadi ada yang mengetahuinya selain aku? Aish, ini benar-benar tidak menyenangkan”

Aku diam sesaat, berusaha untuk tidak kembali memikirkan Hye Joo. Aku harus mencari cara untuk mengalihkan pikiranku darinya dan melawan keinginanku sendiri untuk mengenangnya seperti yang beberapa hari yang lalu sering aku lakukan. “Omong-omong, bagaimana dengan proyek kita di Amerika?” tanyaku pada akhirnya memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

Ah, benar, proyek itu” sahut Changmin yang sepertinya menyadari kenapa aku memilih topik yang lain. “Kita bertemu untuk membicarakannya, kan?”

Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

Tapi sebelum kami bahkan mengatakan apapun, beberapa pelayan masuk ke ruangan kami sambil membawa nampan yang penuh dengan makanan khas kerajaan yang menjadi ciri khas restoran ini. Dengan cepat mereka menghidangkannya di depan kami dan aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari Sooyoung saat melihatnya terpesona dengan makanan-makanan yang ada di atas meja. Aku tertawa kecil, tapi cepat-cepat menyamarkannya dengan batuk lalu tersenyum tipis.

Wanjeon daebak! Ini benar-benar seperti yang ada di drama-drama saeguk yang ada di televisi” celetuk Sooyoung kemudian. “Oh, lihat! Gogi-nya kelihatan enak”

“Ini daging terbaik,” komentarku, dan aku menyadari tatapan Changmin. “Sudah pasti, kan?” Aku menambahkan.

“Tentu saja ini daging terbaik. Restoran seperti ini selalu menyajikan bahan-bahan terbaik jadi rasa khas kerajaan Joseon tetap terjaga”

“Kau benar,” celetukku setuju. “Jadi, bagaimana dengan proyek kita?”

“Astaga… bagaimana kalau kita makan dulu, baru kita membicarakan tentang proyek kita? Jangan khawatir, aku memberikan kabar baik untuk kita”

Namja yang tampan ini benar. Makan dulu saja, dan berikan padaku sedikit” Sooyoung menyambung. “Aku ingin mencoba gogi-nya, jokkeum—”

“Tidak, tidak. Aku ingin tahu proyek kita bagaimana. Kau tahu, kan? Bagi pebisnis seperti kita waktu itu adalah uang”

“Bagi pebisnis seperti kita, waktu itu adalah uang” Sooyoung mengulangi perkataanku dan menirukan bagaimana aku mengatakannya. “Semua orang tetap membutuhkan makan, bahkan pebisnis. Apa kau tak tahu itu?”

Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda dia setuju padaku. Aku menolehkan kepala sekilas ke arah Sooyoung, berniat untuk meledeknya tapi mengurungkannya karena menurutku jika aku melakukannya maka aku akan sama dengannya. Lebih baik aku mengabaikannya saja, dan kali ini aku benar-benar tidak akan menanggapinya sama sekali. Biarkan saja apa yang akan dia lakukan padaku saat aku mengabaikannya, aku tidak akan peduli itu.

__

Sooyoung POV

Aku tidak pernah membayangkan jika sekarang aku hidup sebagai gwishin. Yah, meskipun aku tidak pernah mengakuinya, tapi gwishin adalah kata yang tepat untuk menyebutku sekarang. Bagaimana tidak? Semuanya akan berbeda jika tidak hanya satu orang yang bisa melihatku dan berbicara padaku. Tapi sayangnya satu-satunya orang itu cukup menyebalkan karena selalu mengabaikanku dan terkadang mengusirku dengan caranya yang aneh meskipun pada akhirnya aku akan kembali padanya.

Sampai sekarang—jujur, aku tidak pernah tahu kenapa aku mengikutinya. Ya, Cho Kyuhyun, namanya. Sejak pertama kali bertemu dengannya saat aku sedang berkeliaran mencari informasi tentang diriku, aku terus mengikutinya. Rasanya seperti ada sesuatu tentang dirinya yang berhubungan denganku, tapi aku tidak tahu apa itu. Bagaimana aku bisa tahu jika mengingat diriku saja aku tidak bisa? Meskipun begitu, perasaanku mengatkannya, dan aku harus terus bersamanya untuk bisa mengingat kembali diriku dan mungkin juga bisa kembali ke tubuhku yang aku yakin masih ada di suatu tempat.

Aku yakin aku masih hidup.

Pikiran itu terus aku tanamkan dalam diriku sejak pertama kali aku merasakan sesuatu yang menyakitkan di seluruh tubuhku, dan kemudian merasakan detak jantungku untuk pertama kalinya sejak aku tahu aku adalah gwishin. Saat itu aku cukup terkejut karena aku pikir aku benar-benar sudah tidak hidup lagi. Tapi aku merasakannya, detak jantungku dan bahkan aliran darahku meskipun itu hanya untuk beberapa detik saja. Meskipun begitu, itu sudah cukup bagiku untuk berpikir bahwa aku memang masih hidup di suatu tempat yang tidak aku ketahui dan dalam keadaan yang tidak aku ketahui.

“Apa gwishin memang selalu melamun jika mereka tidak sedang mengganggu manusia?” celetuk suara yang sudah aku hapal karena dia satu-satunya yang bisa berbicara padaku.

“Bukankah kau selalu mengabaikanku? Kenapa sekarang tiba-tiba kau mengajakku berbicara?” balasku tanpa menoleh padanya. “Aku akan membiarkanmu sendiri kali ini. Puas?”

“Aku bosan—”

“Karena kau bosan, jadi kau baru bicara padaku. Begitu maksudmu?” sahutku dengan cepat. Aku memutar tubuhku dan cukup terkejut karena dia berdiri persis di belakangku. Mataku mengerjap beberapa kali, lalu melangkah menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan di belakangku? Kau tidak sedang melakukan sesuatu di punggungku, kan?”

“Kenapa aku melakukannya? Lagipula hanya aku yang bisa melihatnya, dan itu tidak menyenangkan sama sekali”

Aku tak membalas perkataannya, dan memilih untuk memeriksa punggungku untuk memastikannya sendiri.

“Sudah kukatakan, tidak ada yang aku lakukan” seru Kyuhyun yang melihat apa yang aku lakukan. “Apa kau tidak percaya padaku?”

“Kenapa aku percaya padamu saat kau bahkan tidak percaya padaku?”

“Kau selalu pandai memutar-balikkan apa yang aku katakan,”

“Kau selalu pandai memutar-balikkan apa yang aku katakan—”

“Dan mengikuti perkataanku dengan gaya bicara yang berlebihan” tambahnya dengan cepat. “Apa kau selalu melakukannya saat kau masih hidup? Ah, benar… kau reporter, sudah pasti kau suka memutar-balikkan perkataan seseorang dan—”

“Aku bukan reporter yang seperti itu!” seruku menyela perkataannya.

“Bagaimana kau tahu? Kau bahkan tidak ingat siapa dirimu”

Aku menyipitkan mata, memandanginya dengan tajam. “Apa kau pikir itu menyenangkan? Kau pikir aku tidak mau mengingat siapa diriku? Jika bukan karena nametag ini, aku bahkan tidak tahu apapun tentang diriku. Kau pikir aku menginginkannya?”

Cho Kyuhyun diam saja kali ini, tapi jelas dia membalas menatapku. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda di mata itu, dan aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.

Lalu, tiba-tiba, jantungku terasa berdetak dan kemudian semakin cepat bahkan sampai aku merasa kesakitan. Aku bahkan sampai harus menyandarkan tubuhku dan memegangi dadaku karena rasa sakitnya luar biasa. Detakannya terasa sangat kuat, dan ini pertama kalinya terasa sangat nyata. Mataku terpejam, berusaha untuk sekuat tenaga menahan rasa sakit di dada dan tubuhku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saat aku kembali membuka mataku pun, semuanya terlihat gelap dan aku sama sekali tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan.

Aku meraba-raba sesuatu, mencoba mencari apapun yang bisa membantuku berjalan tapi aku tidak menemukan apapun. Tak lama kemudian, dua buah cahaya datang dengan cepat dan itu sangat menyilaukan mataku sampai aku bahkan berusaha menghalanginya dengan tanganku. Lalu semuanya kembali terang dan aku bisa melihat lagi langit-langit apartemen Kyuhyun yang berwarna putih.

Gwenchana?

Aku menolehkan kepala dengan cepat, dan terkejut—untuk kedua kalinya, melihat Kyuhyun sangat dengan denganku. Detak jantungku kembali terasa, tapi lemah dan sama sekali tidak menyakitkan—tidak seperti tadi. Aku menelan ludah, tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diriku.

Ya! Aku bertanya padamu, apa kau baik-baik saja?”

E—Eo, gwenchana” jawabku pelan.

“Kau tahu, ini pertama kalinya aku melihat gwishin kesakitan dan berkeringat sepertimu. Lihat, aku bahkan tidak bisa mengusapnya”

Mataku mengerjap melihat kain putih di tangan namja itu, dan kemudian aku sadar bahwa aku berbaring di tempat tidur. “Ini kamarmu?”

Eo. Wae?

Aku diam saja.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa saat melihatmu seperti itu, jadi tanpa pikir panjang aku membawamu kesini. Cukup mengejutkan karena aku seperti sedang membawa yeoja sungguhan, bukan cheonyeo gwishin” jelas Kyuhyun. “Maksudku… mana ada gwishin yang memiliki beban, kan? Kupikir, aku bahkan tidak bisa menyentuhmu apalagi membawamu, tapi ternyata aku bisa—”

“Menyentuhku?” sambungku dengan cepat. “Itu mungkin karena aku bukan gwishin, jadi kau bisa menyentuhku. Aku sudah mengatakan padamu beberapa kali”

Kyuhyun tidak langsung memberikan tanggapannya, tapi dia terus memandangiku. Membuatku sedikit tidak nyaman karenanya, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa. “Omong-omong, apa yang terjadi padamu barusan? Kau terlihat sangat kesakitan” tanyanya kemudian.

“Aku tidak tahu,” jawabku merasa tidak perlu untuk memberitahukan apapun padanya, mengingat dia masih tidak percaya padaku. “Aku tidak ingat,” Aku menambahkan meskipun sebaliknya, aku masih ingat dengan jelas apa yang baru saja terjadi. Dua cahaya menyilaukan itu tidak mungkin tidak berarti apa-apa, kan?

“Baiklah, kalau begitu” ucap Kyuhyun tidak memaksakan apapun—tidak seperti biasanya. Dia beranjak dari tempatnya, “Aku mau pergi ke restoran di depan. Perutku terasa lapar,” katanya sebelum melangkah keluar dari kamarnya.

Aku tidak menanggapi Kyuhyun. Aku memilih diam di tempatku untuk beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sebisa mungkin aku mengingat sesuatu sambil mengartikan dua cahaya itu yang bisa berarti apa saja. Lalu perasaan menyakitkan itu. Darimana asalnya? Kenapa rasa sakitnya sangat jelas aku rasakan? Apa yang sebenarnya terjadi padaku dan kenapa aku tak bisa mengingat apapun?

Aku mendesah panjang, menyerah pada usaha yang aku lakukan karena tidak menghasilkan apa-apa. Karena tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku memutuskan untuk keluar dari kamar Kyuhyun yang baru pernah aku masuki ini. Aku baru akan melangkah ke ruangan dimana biasanya aku menghabiskan waktuku di apartemen ini sebelum kemudian melihat Kyuhyun sedang duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Setengah terkejut, aku menghampirinya. “Bukankah katamu kau ingin pergi ke restoran di depan? Kenapa cepat sekali?” tanyaku ingin tahu.

“Aku pergi, dan memesan sup itu” katanya sambil mengacungkan kepalanya ke arah makanan yang ada di depannya di atas meja. “Tapi restorannya penuh, jadi aku terpaksa membawanya pulang” Dia menambahkan kemudian.

Aku mengerjapkan mata tidak percaya, tapi sebelum aku bahkan mengatakan apa-apa, dia beranjak dari tempatnya dan mengambil makanan itu bersamanya.

“Aku akan memanaskannya. Kau bisa ikut makan bersamaku kalau kau mau” kata Kyuhyun tanpa menolehkan kepalanya ke arahku saat berbicara dan melangkah begitu saja ke arah dapur yang sangat jarang dia gunakan.

Aku mengerutkan dahi dan masih berdiri di tempatku, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Bukankah dia tidak pernah membagi makanannya denganku? Kenapa tiba-tiba sekarang dia menawariku makanan? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya yang sampai membuatnya menjadi bersikap lebih baik padaku? Itu cukup aneh, jujur saja, melihatnya bersikap tidak seperti dia yang biasanya seperti itu apalagi untuk gwishin atau apapun sebutan untukku ini.

“Ya! Kemarilah jika kau mau memakannya!” seruan Kyuhyun terdengar tidak lama kemudian, dan itu cukup membuat pikiranku sendiri buyar seketika. “Aku tidak akan menawarkannya padamu untuk ketiga kalinya, jadi—”

“Aku datang!” Aku balas berseru, lalu cepat-cepat menyusulnya ke dapur. Tanpa menunggu apapun, aku segera duduk di hadapan Kyuhyun di meja makannya dan mengambil sup yang asapnya masih mengepul. “Yah, baunya sangat harum. Ini pasti enak!”

“Enak atau tidak enak bisa kau rasakan jika kau sudah memakannya,”

Heol~! Kau tahu apa tentang makanan?” sahutku. “Makanan enak atau tidak itu juga bisa dirasakan dengan baunya. Tanpa mencicipinya, jika bau makanan itu harum, kau bisa seketika tahu bahwa makanan itu enak”

Kyuhyun menatapku dengan lekat, lalu pandangannya berpindah ke makanan di mangkukku dan kembali lagi padaku. “Itu tidak akan enak jika kau tidak cepat memakannya sekalipun baunya harum”

Aku mencelos, lalu meringis ke arahnya, “Selamat makan!” seruku.

Aku mengambil satu suapan dan memasukkannya ke dalam mulutku. Sensasi hangat langsung terasa begitu makanan masuk ke tubuhku. Rasanya seperti sudah sangat lama aku tidak memakan makanan seperti ini, dan ini makanan terenak yang pernah aku makan sejak aku dalam keadaan seperti ini. Seakan-akan aku seperti hidup lagi dengan merasakan kehangatan dan kelezatan makanan ini karena perasaan itu benar-benar nyata aku rasakan begitu memakannya.

“Oh,” celetukku saat mendongak dari mangkuk supku ke arah Kyuhyun yang hanya duduk di depanku. Mangkuknya masih kosong, dan aku baru menyadari dia sama sekali tidak menyentuh makanan di depannya. “Kau tidak makan?”

Kyuhyun menatapku sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tiba-tiba merasa kenyang”

“Merasa kenyang atau karena kau tidak ingin berbagi makanan bersamaku?” sindirku tanpa menatapnya dan terus memakan makanan di depanku. “Mana ada orang yang makan bersama sesuatu sepertiku, ‘kan?”

“Bukan karena itu, neo babo gwishin

Aku menatapnya dengan tajam, “Kau memanggilku apa?”

“Babo gwishin,”

“Aku bukan—”

Gwishin, arra” sahutnya dengan cepat. “Kau selalu sensitif jika aku menyebutmu dengan gwishin. Tapi asal kau tahu, entah kau ini memang gwishin atau bukan, bagiku kau tetap gwishin, sama dengan gwishin lainnya yang membuat duniaku semakin ramai dan kacau”

“Kau seharusnya berterima kasih padaku karena sejak ada aku, tidak ada gwishin yang mendekatimu” kataku tanpa menghentikan aktifitas makanku.

Kyuhyun mendengus, “Berterima kasih padamu?”

Aku mengangguk, “Itulah kenapa sudah seharusnya kau sedikit bersikap baik padaku, dan—” Aku mengambil jeda sesaat untuk menelan makanan di mulutku, lalu aku mendongak padanya dan melanjutkan perkataanku. “—dan jadikanlah aku sebagai rekanmu. Aku siap membantumu dan menjadi teman yang kau butuhkan jika memang kau membutuhkan seorang teman”

“Sayangnya aku tidak membutuhkan—”

“Oh, kau membutuhkannya” sahutku memotong perkataannya sambil kembali mengambil makanan. “Kau hanya tidak mau mengakui bahwa kau membutuhkan teman untuk berbagi ceritamu, atau kesedihanmu atau apapun yang kau rasakan. Kau terlalu takut untuk mengingat kembali perasaan sakit, duka, sedih yang kau rasakan itu”

Kyuhyun diam saja. Tapi sebelum aku melanjutkan perkataanku, dia membuka mulutnya untuk menanggapi perkataanku sebelumnya. “Kau berbicara seakan-akan kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan”

Aku tertawa hampa, “Begitu? Kau pikir aku begitu?”

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya sebagai tanggapannya.

“Jika aku ingat apa yang terjadi padaku, aku pasti akan memberitahumu. Itu tidak menyenangkan jika kita terus menyimpan apa yang kita rasakan sendiri,” kataku. “Sayangmya, aku tidak ingat jadi aku tidak bisa berbagi ceritaku denganku”

Geureom, kau mau aku membantumu?”

“Oh?” celetukku terkejut. “Kau apa? Membantuku?”

Kyuhyun mengangguk, “Yah, siapa tahu kau ingin mengingat kembali siapa dirimu. Bukankah katamu kau bukan gwishin?”

“Memang. Aku bukan gwishin. Aku masih hidup, itu sudah pasti”

“Dan darimana katamu yang membuatmu yakin bahwa kau masih hidup?”

Aku menyentuh dadaku, mencoba untuk merasakan kembali degup jantung itu, lalu rasa sakit yang seperti sesuatu menekan dadaku dan membuatku sesak napas. Aku menunggu semua itu datang, tapi saat ini tidak ada apapun yang aku rasakan dan untuk pertama kalinya, aku kecewa karena perasaan-perasaan itu tidak aku rasakan sekarang.

“Itukah kenapa kau tadi seperti itu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba karena aku cukup lama diam. “Kau—hmm—terlihat berbeda dan aku sempat tak tahu harus melakukan apa saat melihatmu seperti itu”

Aku menundukkan kepala, lalu memejamkan mata. Sekilas, dua cahaya yang menyilaukan itu terlintas di pikiranku tapi dengan cepat menghilang. “Aku seperti itu saat aku merasakan degup jantungku sendiri” kataku pelan.

“Kau… apa?”

“Merasakan degup jantungku,” ulangku sambil mendongakkan kepala menghadapnya. “Dag-dig-dug… irohke. Itu sangat terasa olehku”

Kyuhyun menatapku dengan lekat, seakan-akan sedang memastikan apa yang aku katakan memang benar. Setelah beberapa saat, diapun berkata, “Itu memang aneh jika kau merasakan degup jantungmu seperti itu. Kita akan cari tahu kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi padamu”

Aku sempat ragu sesaat untuk langsung menanggapinya karena aku tidak yakin dengan apa yang akan aku katakan. Tapi melihat ekspresi Kyuhyun yang seperti sedang menungguku berbicara, pada akhirnya aku berkata, “Geureom, kau benar-benar mau membantuku?”

Kyuhyun mengangguk, “Itu jika kau mau aku membantumu,” katanya tanpa menatapku. Dia memilih untuk menatap ke arah lain bahkan saat melanjutkan perkataannya. “Aku bisa mencari tahu identitasmu, kurasa. Selama kau punya identitas, itu bisa mudah ditemukan”

Wae? Kappjaki?” tanyaku ingin tahu.

Geunyang—” Kyuhyun langsung bangkit berdiri, dan meninggalkanku tanpa mengatakan apapun lagi. Membuatku bertanya-tanya sendiri apa alasan dia sebenarnya untuk membantuku mengingat kembali siapa aku.

Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi padanya yang aku lewatkan? Dan sekalipun ada, kenapa aku sangat ingin tahu? Tapi bukankah penyebab apa yang terjadi padaku beberapa saat yang lalu itu juga karena dia? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

-TBC-

Jangan lupa komentarnya…

Terima kasih sudah mau membaca awal dari cerita dua kesukaan kita itu, hhe

Tunggu kelanjutannya yang mungkin lama karena sekarang kegiatanku banyak, tapi terima kasih sekali lagi kalau kalian mau nunggu aku update ini.

Terima kasih!

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

3 thoughts on “Heart-beat #1

  1. haaaa kak occy akhirnya up juga 😢😢😢
    kali ini sooyoungnya yang jadi makhluk astral wkwkwk
    apa jangan2 kematian hyejoo berhubungan sama mati surinya sooyoung??
    semangat kak nulisnyaaa 😄😄😄
    ㅡ your admirer (lol)

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s