Posted in Fantasy, Mystery, Romance, Series

Sound of My Dreams [3 – end]

dream

A story by Soshinism

—–

RatingPG 13

GenreRomance, Psychological, Fantasy

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Playlist wajib buat chapter ini! Click here and here! Play on repeat ya, because this song is really really beautiful I think I might gonna cry in fetal position lol.

One more, don’t forget to check my own blog here, hehe gomawo.

—–

3 months later.

“Hey…”

Dia tersenyum lembut di balik kaca sebelum membalas panggilanku untuknya. Rambutnya masih seperti di awal saat aku bertemu dengannya, hanya saja, kali ini lebih panjang, sudah hampir mencapai bahunya. Bajunya masih seperti pertama kali aku bertemu dengannya, hanya saja, kini sudah tak serapi dulu. Garis-garis kusut terlihat di setiap jengkal kainnya. Wajahnya masih menawan seperti pertama kali aku melihat wajahnya, hanya saja, sekarang dia terlihat lebih lelah. Sangat lelah. Kulitnya lebih pucat dari sebelumnya. Lingkaran hitam nampak malu-malu muncul di bawah matanya.

Tanganku menemukan jalannya ke kaca, ke arah wajahnya, seperti menggambar bentuk tiap ornamen wajahnya di kaca itu.

Ya Tuhan, aku ingin sekali memeluknya.

“Apa yang terjadi padamu?”

Dia menundukkan kepala sembari mengusir beberapa helai rambut yang mengganggu di wajahnya sebelum menatapku lagi. Matanya mulai berair dan kesedihan terpancar dari wajahnya.

“Aku tidak tahu, Kyuhyun… Kurasa aku semakin melemah. Udara di dalam kotak ini semakin sedikit. Tubuhku tidak mampu lagi bertahan… sepertinya.”

“Huh? Maldo andwae!”

Sooyoung memundurkan tubuhnya perlahan setelah mendengar teriakanku. Aku tidak peduli lagi. Amarah mulai membuncah di kepalaku. Apa yang dia katakan? Bagaimana bisa dia bertambah lemah? Semua kata-kata itu berputar di kepalaku dan kutemukan tanganku memukul kotak kaca miliknya.

“This is bullshit!” teriakku lagi, masih sambil berusaha memecahkan kotak itu.

“Bullshit! Bullshit! Bull–.”

“Kyuhyun…” aku tetap memukul dan memukul, mengacuhkan suaranya yang terdengar lembut memohon di telingaku. Shit. Aku hanya ingin memeluknya. Meski untuk yang terakhir kali.

“Kyuhyun, hentikan. Kau akan melukai tanganmu,” dan enam kata darinya itu akhirnya membuatku benar-benar berhenti.

Dia kembali menatapku. Satu-dua bulir air jatuh dari matanya yang indah. Aku ingin menghapusnya dari wajahnya. Dia tersenyum penuh arti, tangannya seperti hendak menggenggam tanganku yang menempel di kaca.

“Aku ingin memelukmu, Sooyoung,” ujarku. Persetan dengan harga diri. Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini.

“Yeah, aku juga ingin memelukmu,” jawabnya. Dan aku hanya mampu tersenyum seperti orang bodoh di hadapannya.

“Kajima…” pintaku padanya. Dia mengangguk. Air mata terus jatuh dari pelupuknya.

I can’t do this anymore.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tidak ingin pergi, Kyuhyun. Aku ingin bertemu denganmu…”

“Hey, hey… gwenchana, gwenchana… Aku di sini, aku tidak akan pergi. Gwenchana, Sooyoung.”

***

Dan aku berada di sekolah lagi pada akhirnya. Ahra menuntutku untuk tetap fokus pada pendidikan meski apapun yang terjadi pada kehidupan kami. Dan aku hanya mampu menurutinya. Seorang guru sedang menjelaskan tentang sesuatu yang tidak terlalu kuperhatikan di depan kelas. Hanya beberapa kata saja yang mampu masuk ke dalam otakku.

Sooyoung… kapan aku bisa bertemu denganmu, eoh? Aku ingin menyentuhmu, melihat mata indah milikmu, memelukmu, mendengar suaramu, mengacak rambutmu. Apa kabar kau saat ini? Hanya beberapa jam belum bertemu dan aku sudah tak tahan ingin melihatmu lagi.

Haruskah… haruskah aku meminum obat tidur lagi sekarang agar aku bisa melihatmu?

“Psst.”

Sebuah suara mengganggu lamunanku. Minho menekan pensil yang ada di genggamannya pada lenganku seperti berkata: Oi, Cho Kyuhyun. Tidak, kau tidak bisa melakukan itu. Sadarlah dari lamunanmu dan tunggu beberapa jam untuk bertemu dengannya.

“Kyuhyun!” Minho berbisik keras sambil berkali-kali merubah pandangan dariku ke guru yang ada di depan. Aku menoleh padanya dan menaikkan satu alis.

“Kau mau menemaniku?” tanyanya.

“Ke mana?”

“Ke rumah sakit. Setelah sekolah selesai.”

Rumah sakit? Minho sakit?

“Untuk apa?”

“Bantu aku membawa beberapa barang milik adikku.”

Meski masih bingung, aku menganggukkan kepala pada permintaannya. Entah mengapa, ingin saja.

Hampir satu jam berlalu dan pada akhirnya, bel tanda usai sekolah berbunyi. Cepat-cepat Minho menarik tanganku untuk membantunya.

***

Minho berjalan di sampingku dengan langkahnya yang tenang. Kedua tangannya penuh dengan beberapa barang yang adiknya perlukan. Begitu juga dengan sepasang tangan milikku. Kami baru dari rumah Minho yang bisa dibilang sangat besar untuk mengambil barang-barang itu dan membawanya ke rumah sakit.

Sebelumnya aku tidak pernah tahu Minho memiliki seorang adik. Sepanjang perjalanan, dia bercerita tentang adiknya. Bagaimana adiknya mengalami suatu peristiwa sehingga membuatnya koma sejak beberapa bulan yang lalu dan belum sadar hingga sekarang. Dia sangat yakin adiknya suatu saat akan sadar.

Tak lama, kami sampai. Rumah sakit yang sama setelah aku dihajar para preman itu dan bertemu Dokter Eno. Dia melangkahkan kaki dengan mantap. Aku mengikutinya dari belakang.

Kami sampai lagi depan sebuah ruangan VVIP yang terlihat sepi. Minho membuka pintu kamar rawat itu dengan tangannya dan menahannya untukku agar bisa masuk. Dia meletakkan satu kardus yang dibawanya di bagian kosong di lantai dan aku lagi-lagi mengikutinya. Tidak ada siapapun di dalam.

“Tidak ada yang menjaganya?” rasa penasaranku terlalu besar untuk tetap diam.

“Ah, tidak. Kakak perempuanku sedang ke kafetaria sebentar. Dia akan kembali sebentar lagi, sepertinya,” jawab Minho.

Aku tidak bisa melihat rupa adik Minho karena punggungnya mengarah padaku, sehingga yang tertangkap mataku hanya garis luar tubuh adiknya. Katanya, beberapa jam sekali, perawat mengubah posisi tidurnya agar otot-otot pada tubuhnya tidak kaku.

Sesaat kemudian, telingaku mendengar pintu terbuka dan seorang wanita yang bisa kutebak adalah kakak dua manusia di dalam ruangan ini adalah yang dimaksud Minho. Mataku singgah di wajahnya hanya untuk mendapati seseorang yang sudah pernah kulihat sebelumnya berada di hadapanku.

“Oh? Cho Kyuhyun…?” ujarnya. Teman wanita Ahra yang waktu itu berada di rumahku. Dia tersenyum padaku dan aku membungkukkan badan padanya.

“Kau kenal dengan Soojin Noona?” suara Minho mengalihkan perhatianku dari wanita itu.

“Yes. Kyuhyun adalah adik lelaki teman dekatku,” jawab wanita yang ternyata bernama Soojin itu sebelum aku mampu menjelaskan. Dan Minho hanya memberikan pandangan mengerti padaku.

Kurasakan kehadiranku yang sepertinya sudah tidak lagi dibutuhkan di tempat itu. Dan dengan sesopan mungkin, aku berpamitan pada mereka. Minho dan kakaknya mengucapkan terima kasih padaku sembari aku melenggang dari ruangan itu.

***

Ahra tidak dapat kutemukan lagi saat aku sampai di rumah. Pintu lemari pendingin terbuka oleh tanganku, tapi tidak ada apa-apa pula yang bisa kumakan. Ah, lagi pula aku tidak terlalu lapar. Tubuhku sampai di kamar dan aku berpikir apa yang harus kulakukan setelah itu.

Ah, Sooyoung.

Bogoshipda.

Aku ingin bertemu lagi dengannya. Kucoba untuk memejamkan mata tanpa mengganti pakaian. Satu menit, lima, sepuluh. Belum juga mampu terlelap. Dengan menghela napas berat, tanganku meraih sebuah tempat berbentuk silinder dari laci nakas meja di samping ranjang. Dan dengan cepat meminum obat tidur itu. Tidak hanya satu, tapi langsung beberapa karena ketidaksabaranku.

Aku tidak tahu berapa banyak pil yang masuk ke dalam tubuhku.

Yang kutahu, setelah itu, semuanya gelap.

***

Aku terbangun lagi dari yang kupikir sebuah tidur panjang ketika sinar fajar sore hari mengenai kedua mataku. Mataku mengarah pada langit-langit ruangan tempatku berada. Kemudian ke beberapa benda yang lain yang memenuhinya. Tunggu. Aku mengenal ruangan ini. Ini… kamarku? Ugh. Aku tidak mengingat apapun yang terjadi sebelum ini. Aku bahkan tidak akan tahu ini jam berapa kalau sinar matahari tadi tidak menunjukkan batang hidungnya padaku.

Pintu terbuka dan kulihat Ahra muncul dari baliknya. Tangannya membawa nampan berisi segelas air dan tempat obat. Obat apa?

Dia mendekat padaku dan duduk di tepi ranjang. Aku mendudukkan tubuh. Nampan sudah berada di atas nakas. Ahra tidak memandangku. Matanya berisi tatapan kosong. Kurasa aku tahu apa yang menyebabkannya seperti ini. Sekali lagi, aku siap mendengarkan segala kemarahannya.

“Minumlah.” Eh? Hanya itu?

“Kita harus bicara, Kyuhyun.”

“Tentang?”

Aku meminum air yang dibawanya. Sebenarnya tahu akan mengarah ke mana pembicaraan ini.

“Kumohon jangan berbohong padaku kali ini. Aku akan menanyakan padamu sesuatu dan jawablah sejujurnya,” dia berkata sambil memberikan sebuah senyuman. Aku mengangguk. Sungguh, tidak mengira kalau Ahra akan bersikap seperti ini.

Dia meraih sesuatu yang ada di kantong baju formalnya dan menunjukkannya padaku. “Tolong jelaskan ini,” katanya. Obat tidurku. Dia menemukannya. Dia mengetahuinya. Tapi dia tidak mengetahui alasanku meminumnya.

Aku terdiam seribu bahasa sebelum berusaha mengucapkan tiga kata berikut, “Obat tidur milikku–.”

“Aku tahu,” putusnya, “sejak kapan kau menggunakannya?” Suaranya terdengar seperti dipaksakan untuk keluar, dia hampir menangis.

“Setelah Appa dan Eomma pergi.” Ahra diam beberapa saat. Mungkin berusaha mencerna apa yang baru saja kuucapkan.

“Dan mengapa kau menggunakannya?”

“Tidak ada alasan yang pasti. Aku hanya ingin,” bohongku padanya. Aku tak mampu menatapnya. Mataku mengarah pada apapun di ruangan itu selain matanya. Dia memundurkan badannya dariku. Kemudian tangannya sampai di pipiku. Dengan keras. Aku tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya.

“Kau sembunyikan ini semua dariku selama bertahun-tahun dan katamu kau hanya menggunakannya untuk memenuhi keinginanmu?! Geojitmal! Geojitmal Cho Kyuhyun!” tangannya kembali menamparku. Kali ini lebih keras.

“Kau tidak paham, Noona…”

“Huh?! Tidak paham?! Omong kosong macam apa yang kau katakan?! Kau baru saja tidak sadarkan diri selama dua hari dan beraninya kau mengatakan padaku aku tidak paham?!”

Aku diam lagi. Kata-katanya ada benarnya juga.

“Kau tahu apa yang terjadi jika terus-terusan mengonsumsi obat-obatan ini?” suaranya mulai melembut. Air matanya sudah terburai di wajahnya. Maafkan aku, Ahra.

“Aku tahu,” jawabku sekenanya, “aku bisa bertemu Appa dan Eomma jika meminum itu,” lanjutku. Ahra menatapku tak percaya. Bibirnya sedikit terbuka dan alisnya hampir menyatu.

“Aku bisa terbebas dari segala kegilaan dunia ini, darimu yang selalu pulang dini hari dalam keadaan mabuk, dari seluruh peninggalan Appa dan Eomma yang menyakitkan,” ujarku pelan tanpa menatap Ahra, kemudian melanjutkan, “dan gadis itu… Aku bisa bertemu gadis itu jika aku meminumnya.”

“G-gadis…?”

Ada setitik keberanian yang muncul dari dalam diriku ketika pada akhirnya aku menatap kakak perempuanku, “Itulah mengapa aku melakukan ini. Hidupku hanyalah sebuah dataran membosankan yang perlahan akan membeku menjadi diorama tak berwarna dan tanpa ruh kehidupan. Setidaknya, begitu yang kurasa, sampai aku bertemu dengannya. Dia membebaskanku dari kesengsaraan ini. Dia telah melepaskanku dari penghancuran terhadap hidupku sendiri. Dia selalu datang dalam mimpiku, menemaniku, berbicara denganku. Terkadang ucapannya menyakiti hatiku, tapi tidak mengapa. Yang terpenting aku bisa melihatnya lagi.”

Langit mulai berubah gelap dan serangga bermunculan dengan suaranya yang khas dari balik rimbunan pohon. Air mata Ahra sudah berhenti. Digantikan sebuah ekspresi tak terbaca pada wajahnya.

“Aku menyukainya, Noona. Sangat menyukainya. Maka dari itu, aku harus tidur lagi, dengan obat ini, aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku tidak harus berpisah dengannya.”

Ahra kembali mendekat dan duduk di tepi ranjangku lagi. Tangannya kemudian menggenggam tanganku. Dia menatapku lekat, pandangannya sendu. “Kyuhyun-ah… apakah dia juga menyukaimu?”

Pertanyaan itu seperti menusuk hatiku dengan beribu jarum.

Ya… apakah dia juga menyukaiku?

Kuarahkan pandangan pada lantai kayu kamarku, “Aku… aku tidak t-tahu.” Kakak perempuanku tersenyum tulus. Sebulir air mata jatuh lagi, membuat wajahnya yang mulai kering menjadi basah lagi.

“Kau tahu, Kyuhyun… Mimpi bukanlah sesuatu yang nyata.”

Huh? Apa yang kau katakan? Dadaku terasa berat dan kurasakan tubuh ini sulit mengambil oksigen dari sekitar. “Mwo…?” tanyaku pelan.

“Gadis itu… Kau hanya membayangkannya, membuatnya ada dalam mimpimu. Dia tidak nyata, Kyuhyun. Dia hanya imajinasimu. Gadis itu tid–.”

“DIA NYATA!”

Ahra terdiam sedetik setelah bentakanku sampai padanya.

“DIA NYATA, AHRA!” bentakku lagi. Wanita yang ada bersamaku sekarang berdiri perlahan. Aku mampu melihat keterkejutan muncul di matanya. Aku sendiri tidak percaya bisa menaikkan suara seperti itu padanya.

“Dia sama seperti kita, Noona. Dia hidup di suatu tempat, aku tahu itu, aku tahu… Dia bukan imajinasiku, dia nyata, Noona.”

Ahra masih diam. Aku berkata lagi padanya sebelum dia menyelaku, “Tolong keluar. Sebelum aku membentakmu lagi.”

Dengan itu dia benar-benar keluar. Tanpa kata. Tanpa apapun diucapkan lagi padaku. Sebelum wujudnya hilang di balik pintu, aku berhasil mengucapkan sebuah mianhae padanya, pelan, tapi kupastikan dia masih mampu mendengarnya.

Kamarku terasa hening setelah itu. Aku tidak yakin apa yang kulakukan. Matahari sudah tenggelam. Malam menjelang. Napasku perlahan kembali tenang. Dari ujung mataku, aku melihat sesuatu di atas nakas.

Obat tidurku. Ahra lupa membawanya.

Sejenak aku terdiam dan memikirkan keputusan yang akan kubuat dalam beberapa menit berikutnya.

Tanganku meraih botol obat itu. Memutarnya sehingga aku bisa melihat semua sisinya. Menghitung jumlah lingkaran yang masih tersisa di dalam botol itu.

Dan pada akhirnya, aku mundur lebih jauh ke dalam kegelapan.

Mianhae, Noona.

***

Indera penglihatanku terbuka pada suatu ruang yang gelap. Hitam. Semuanya hitam. Andwae… Ruang kosong itu sudah berubah menjadi hitam. Aku tidak dapat menemukan apapun, tidak dapat melihat apapun. Lamat-lamat suara seorang perempuan menggema dan makin terdengar jelas ketika kulangkahkan kaki mencari sumber suara itu.

Gadis itu masih berada di dalam kotak kacanya. Sebuah cahaya muncul di salah satu sudut kotak itu, memberiku sedikit gambaran apa yang ada di hadapanku. Dia memakai sebuah gaun putih tulang yang menerus hingga lututnya. Wajahnya semakin pucat dari sebelumnya. Lingkaran hitam membesar dan semakin jelas nampak. Rambutnya tidak lagi setebal dulu.

“Apa yang terjadi?” ujarnya. Suaranya penuh ketakutan. Dia bergetar.

“Ada yang salah dengan tempat ini!” katanya lagi, suaranya mengeras. Aku tidak membalasnya.

Kemudian aku menangkap sesuatu lain yang ada di dekat kotak kaca. Sebuah kapak. Dia membulatkan matanya saat tahu apa yang akan kulakukan.

“Tidak, tidak, andwae, Kyuhyun…”

Dan kuayunkan kapak itu pada kotak kacanya. Terus-terusan hingga membuat suara pecah menggema di seluruh penjuru ruang. Kapak itu kulempar ke manapun dan aku beralih menggunakan tanganku.

Dengan segala kekuatan yang kupunya, aku menemukan kepalan tanganku lagi dan lagi menghantam kotak kaca yang sudah retak, membuatnya terlihat seperti jaring laba-laba. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga keseluruhan sisi kaca itu retak.

Dia terus memintaku untuk berhenti sambil mengatakan betapa inginnya dia menyentuhku, tapi juga tidak ingin menghilang secepat itu. Dia ada di ambang hidup. Untuk tetap berada di dalam kotak itu, tidak tahu apa yang akan terjadi. Atau bersamaku, meski tidak juga tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Aku mundur perlahan, dia mengikuti. Kukuatkan niat dan menghantamkan kepalan tanganku sekali lagi dengan keras. Kotak itu pecah. Darah mengalir dari tanganku. Dia terbebas.

Tapi tepat saat itu juga, sesuatu menariknya dengan kuat. Menjauh dariku. Mataku membalalak dan aku berusaha meraihnya.

“Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun!”

Aku berusaha meraihnya…

Namun hanya teriakannya memanggil namaku yang kudengar.

Dia menghilang. Lagi.

—–

“Kau mau menemaniku, kan?” suara seorang gadis kembali memenuhi telingaku.

“Aish, Yuri-yahNe, ne. aku akan menemanimu,” kali ini seorang gadis lain. Setelah beberapa menit yang terasa seperti setahun, mataku menangkap dua orang gadis, dengan pakaian sekolahnya, berjalan bergandengan tangan, berbicara satu sama lain.

Heuh? Berada di mana aku?

Assa! Kau memang yang terbaik! Janjiku padamu, aku akan mengenalkanmu pada temanku, kau tahu, yang tampan itu.”

“Ey! Diamlah!”

Wae? Aku hanya memberitahukan padamu. Dia juga punya sesuatu yang menarik di bawah sana, kau pasti akan suka,” ujar salah satu gadis itu sambil menunjuk bagian bawah tubuhnya, bagian privatnya.

Yya! Neo jinjja byeontae! Jugeulae?!”

Aku tertawa melihat tingkah dua gadis itu. Kemudian, salah satu di antara keduanya, gadis berambut panjang yang lebih pendek dari temannya berpamitan pulang. Dan menyisakan gadis yang lain berjalan seorang diri di bawah naungan langit biru bersalju. Dia membalikkan badan dan melambaikan tangan pada temannya. Wajahnya tertangkap mataku saat itu. Dia terlihat sangat familiar.

Tunggu. Tunggu dulu.

Rambut itu…

Mata itu…

Bibir itu…

Tubuh itu…

Andwae…

Kedua kaki milikku terasa lemas saat itu juga. Trotoar tempatku berdiri seperti tidak memiliki kekuatan apapun untuk membantuku berdiri. Gadis itu… dia sangat mirip dengannya, terlalu mirip.

Apakah ini mimpi? Lagi?

Di mana aku?

Aku berteriak, berusaha memanggilnya. Untuk melihat wajahnya sekali lagi. Untuk meyakinkan otakku. Tapi dia tidak mendengar teriakanku sama sekali. Dia tetap berjalan, kepalanya lurus ke depan, salah satu tangannya masuk ke dalam saku jaketnya.

Dia menengadahkan kepala ketika menyadari tubuhnya terkena salju yang turun. Sebuah senyuman terpampang di wajahnya. Senyum yang begitu lebar sampai giginya terlihat. Dia menyukai salju, eoh?

Gadis itu terus berjalan. Terkadang dia membuka kedua tangannya, menikmati udara yang cocok dengannya. It was not a gloomy day. Musim ini adalah musim kesukaannya.

Aku mempercepat langkah agar dapat berjalan di sampingnya. Kepalaku mengarah padanya. Dan kuperhatikan setiap detail wajahnya. Rambutnya… rambutnya pendek dan berwarna cokelat-merah muda, seperti buah persik. Persis seperti miliknya. Gadis ini… dia terlalu mirip dengannya.

Dia tersenyum sekali lagi, tulus, dengan sangat tulus.

Gadis ini…

Keyakinanku memuncak.

It is her. Gadis dalam mimpiku.

Dia tetap berjalan. Dan aku tetap mengikutinya, di sampingnya. Ke mana dia akan pergi? Sesekali dia membuka ponselnya. Aku melihat layar ponsel itu dan tertera tanggal yang pasti. Desember. Bulan Desember.

Huh? Bulan Desember? Saat preman-preman itu menyerangku? Apa maksud semua ini? Apa ini? Mimpi? Mimpi milik siapa? Miliknya?

Dia tersenyum setelah membaca pesan singkat dari temannya, yang dia panggil Yuri. Aku tidak tahu apa isinya. Tapi aku senang melihatnya tersenyum seperti ini. Dia bahagia, dia tidak memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya. Rambutnya nampak sehat, tubuhnya nampak sehat.

Aku senang melihatmu seperti ini…

Kali ini sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya. Jantungku berdebar lebih cepat menyaksikan pemandangan ini di depanku. Dia benar-benar menawan. Ah, ya ampun, aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Langkah-langkah ringannya berhenti ketika dia sampai di depan sebuah terowongan. Aku kenal terowongan ini. Dengan sigap dimasukkannya ponsel miliknya ke dalam ransel. Kemudian dia menghembuskan napas dan mulai berjalan lagi. Entah mengapa, kali ini ada bunyi kehati-hatian dari suara yang ditimbulkan dari sepatunya bersentuhan dengan aspal.

Dari kejauhan, di tengah terowongan, terdengar suara beberapa lelaki yang sepertinya tengah mabuk. Gadis di sebelahku berhenti lagi. Aku melihat wajahnya. Dia… terlihat takut. Tapi berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.

Tidakkah dia ingin berbalik saja? Ketimbang terpaksa harus bertemu dengan brengsek-brengsek itu. Tapi, kupikir lagi, percuma saja. Dia sudah di tengah terowongan. Dan jikapun berbalik, lelaki-lelaki itu pasti akan tetap mendapati dirinya, seorang gadis  yang sendirian.

Kepalanya menunduk ketika dia berada di dekat lelaki-lelaki itu. Tapi usahanya sia-sia. Lelaki itu tetap menyadari kehadirannya. Dan dalam sekejap mendekatinya. Mereka berusaha menarik ransel miliknya, salah satu yang lain menyentuh dadanya. Saat itu, kemarahan muncul di wajahnya. Dia memukul lelaki yang menyentuh dadanya dengan ranselnya, sekuat tenaga. Tapi hanya berpengaruh kecil bagi lelaki yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya itu.

Kemudian, yang lain tiba-tiba menggenggam kedua tangannya dan menariknya ke belakang, membuatnya kesulitan bergerak. Ada seorang lain, lelaki berambut panjang sebahu yang membuka jaketnya dan membuangnya ke belakang. Gadis itu berteriak sambil memukulkan kepalanya pada lelaki yang melepas jaketnya. Kakinya ia tendang ke belakang, berusaha membuat lelaki yang menahannya lepas. Dan berhasil. Dia bersiap pada posisi bertahannya, ketika seorang lelaki dengan seragam sekolahnya dan earphone di telinga muncul di kejauhan.

Lelaki itu… Huh? Tunggu dulu… Lelaki itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengan seragam milikku. Rambut yang sama, cara jalan yang sama, semuanya sama denganku…

Wait, hold on…

Hari itu…?

Hari itu ketika…

Lelaki yang melepas jaket gadis itu mengeluarkan sebilah pisau ketika targetnya lengah. Aku membelalakkan mata. Dan tambah melebar lagi kedua mataku ini ketika menyadari diriku yang lain yang berada di seberang sana tidak melakukan apapun untuk menolong sang gadis. Dia bahkan mundur dan melindungi dirinya sendiri pada bagian terowongan yang tidak terlihat preman-preman itu.

“Cho Kyuhyun! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?! Bantu dia?! Cho Kyuhyun!” teriakku pada diriku sendiri. Tentu dia tidak menyadari. Dan dia tetap bersembunyi, hingga gadis itu mendapatkan berkali-kali tusukan dari musuhnya.

Cho Kyuhyun mengangkat ponselnya ke telinga dan berbicara. Diriku, sambil berlindung, melaporkan segala hal yang sedang terjadi. Tapi tidak menolongnya.

Pecundang.

Sampah.

Kau tidak menolongnya, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar brengsek. Kau tau itu? Padahal kau punya kekuatan dan kesempatan untuk menolongnya. Tapi apa yang kau lakukan? Kau melindungi dirimu sendiri. Oh, lihatlah! Bahkan kau mulai berjalan mundur setelah panggilan yang kau lakukan selesai.

Kau tinggalkan dia sendirian menghadapi lelaki-lelaki menjijikkan itu.

Kau meninggalkannya, Cho Kyuhyun.

Mataku terasa memanas ketika aku menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Lelaki yang sama dengan yang membuka jaketnya, yang menusuknya berkali-kali, ia memberikan sebuah tendangan yang amat keras pada kepala Sooyoung. Amat keras, hingga gadis itu langsung tak sadarkan diri.

“Dia mati?”

“Uh… kurasa iya. Ayo pergi saja, sebelum ada yang datang.”

Panik, lelaki-lelaki itu akhinya meninggalkanmu sendirian.

Kau sendirian.

Darah mengalir dari semua luka di tubuhmu dan membanjiri tubuhmu.

Aku… aku meninggalkanmu sendirian.

***

Eh? Suara aneh apa ini?

Kulitku terasa dingin, udara di sekitarku dingin. Kurasakan sinar matahari memancar tepat ke tubuhku yang tertutup selimut, mampu meminimalisir dingin yang kurasa. Perlahan mataku terbuka. Dan langit-langit berwarna membosankan lah yang pertama menjadi pemandanganku.

Apa yang terjadi?

Ruangan ini? Di mana ini? Dinding abu-abu? Rumah sakit? Wae?

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?”

Mataku terbuka lebar ketika suara seseorang yang familiar memenuhi gendang telinga. Aku menatapnya heran sambil mendudukkan tubuhku yang terasa pegal luar biasa. Lelaki di sebelahku ini, Minho, menggaruk tengkuknya yang kutebak tidak gatal sambil tersenyum penuh kelegaan.

“Apa yang terjadi?” kataku padanya, “mengapa kau di sini?”

Dan dia mulai menceritakan padaku bahwa Cho Kyuhyun kolaps lagi untuk yang kedua kalinya. Karena penggunaan obat tidur berlebih. Ah, jadi sekarang dia tahu. Tunggu, di mana Ahra? Mengapa Minho yang kulihat?

“Ahra NoonaEodiga?”

“Dia sedang mengambil beberapa bajumu yang ada di rumah. Aku sedang mengunjungi adikku ketika Ahra Noona bertemu dengan kakakku, kemudian dia meminta tolong padaku untuk menjagamu sebentar sembari dia pergi.”

Aku hampir lupa Minho memiliki adik yang masih dirawat di rumah sakit ini juga.

Gomawo, Minho. Maaf merepotkanmu,” kataku. Kepalaku menunduk.

“Ey, sudahlah. Yang penting kau sudah sadar.”

Setelah itu kami terdiam. Aku merebahkan tubuh lagi. Ugh, rasanya otot-otot di tubuhku pegal luar biasa. Minho mengatakan padaku bahwa aku tidak sadarkan diri selama tiga hari.

“Kyuhyun,” panggilnya. Kutatap matanya yang besar itu namun tidak mengucap sepatah kata.

“Kau bisa percaya padaku. Jika ada apa-apa, jangan ragu menceritakannya padaku, ne?”

Tiba-tiba dia berkata seperti ini? Well, aku tidak bisa menolak dan mengangguk sambil memberinya sebuah senyuman, yang rasanya sudah lama sekali tidak kuberikan pada siapapun, termasuk… dia.

“Omong-omong. Bagaimana adikmu? Belum sadar?” tanyaku tiba-tiba merasa penasaran karena Minho masih terus ke rumah sakit ini meski tiga bulan lebih sudah berlalu.

Dia tersenyum kecut, pandangan matanya sendu, kemudian menjawab, “Ne. Dia belum sadar. Tapi aku yakin suatu saat dia akan bangun lagi. Dia gadis yang kuat.”

Kadang, aku merasa iri pada banyaknya harapan baik yang dimiliki lelaki ini.

***

Ahra membawaku pulang dari rumah sakit hanya sehari setelah aku sadar. Dokter yang bertanggungjawab merawatku juga berkata aku sudah tidak perlu berada di rumah sakit. Kakak perempuanku tersenyum kecil sembari memindahkan beberapa tas yang dibawanya dari rumah saat aku tak sadarkan diri.

Mianhae, Noona.”

Dia berlari kecil ke arahku, kemudian memelukku erat. Kubalas pelukannya dan kurasakan tangannya bergerak naik turun di punggungku. Heh. Aku tertawa kecil ketika menyadari tinggi tubuhnya sudah kusaingi.

Gwenchana. Kau di sini sekarang. Dan itu yang terpenting untukku.” Dia kemudian melepas pelukannya dariku dan menarikku untuk duduk di sofa ruang tamu kami.

Pandangannya penuh harap sementara aku hanya memberikan raut bertanya-tanya.

“Aku akan menawarkanmu sesuatu. Tapi jangan marah setelah mendengarnya.”

Mwoga?”

Ahra memejamkan matanya sebentar dan menghembuskan napas, bersiap untuk menerima reaksi yang akan diterima olehnya dariku setelah dia menawarkan sesuatu yang dimaksudnya padaku.

“Okay. Bagaimana kalau kau melanjutkan pendidikan di Jepang?”

Huh? Apa? What the heck?

Kurasakan kelopak mataku berkedip beberapa kali sebagai reaksi pertanyaan Ahra. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga akan terngiang di telingaku. Kakak perempuanku masih menatapku lekat hingga rumah kami terasa sangat sunyi dan memaksaku terfokus pada pertanyaan itu.

***

Kegelapan menyambutku dari dalam kamarku. Kutatap ruangan itu dari ujung satu hingga ujung yang lain. Tidak melewatkan sedikitpun, sejengkalpun. Senyum di wajahku mengembang dan kurasakan hembusan napas pelan keluar dari lubang hidungku. Aku melepas beberapa pasang pakaian yang melekat di tubuh sehingga hanya tersisa sebuah kaos polos dan celana kain di atas mata kaki.

Lelah kurasa dan kurebahkan tubuh pada ranjang milikku. Tidak, aku belum ingin tidur. Aku sudah tertidur lama sekali tiga hari kemarin. Sejenak langit-langit kamar itu terlihat sangat menenangkan. Ditambah angin pelan yang masuk dari jendela kamar dan bunyi daun bergesekan dengan ranting. Kedua tanganku terlipat dan menemukan jalannya di belakang kepalaku, bekerja sebagai pemberi tumpuan tambahan selain bantal.

Kemudian…

Hey, kau di mana sekarang? Aku rindu. Sangat. Apa kau sudah bebas? Kalau iya, aku ingin mengetahui bagaimana dan di mana kau meluapkan kebebasanmu dari penjara kaca itu.

Mianhae. Aku tidak menolongmu waktu itu. Aku meninggalkanmu sendirian. Bahkan ketika kau telah meminta pertolongan dariku. Kau melihatku. Dan aku mengacuhkanmu begitu saja. Kalau ada mesin waktu, aku ingin memutar lagi semua kejadian ini dan menolongmu saat itu.

Tapi…

Kalau waktu itu aku menolongmu? Akankah aku bisa mengenalmu seperti sekarang? Akankah aku bisa menyukaimu seperti aku menyukaimu sekarang? Apa kita akan mengenal satu sama lain, atau hanya menjadi stranger semata? Akankah aku berubah menjadi diriku yang sekarang?

Ah, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apalagi yang harus kulakukan.

Dan sekarang, aku harus meninggalkanmu lagi?

Aku ingin berbicara denganmu. Dan mendengar suaramu.

Aku harus bagaimana agar bisa mendengar suaramu lagi, Sooyoung?

Apa yang harus kulakukan?

Serangga-serangga malam mulai bersuara dari balik rimbunan semak belukar yang ada di luar rumah. Bulan cukup terlihat meski tertutup awan di beberapa bagiannya. Aku tidak berniat untuk menekan saklar lampu kamarku, ingin menikmati kegelapan yang menenangkan ini setelah cukup waktu kuhabiskan dalam kamar rumah sakit.

Pikiranku masih cukup berkecamuk atas tawaran Ahra tadi. Tapi… hatiku sudah condong pada salah satu pilihan yang tersedia untukku.

Dan pada detik-detik terakhir pergantian hari, aku menetapkan keputusanku.

***

3 years later.

“Cho Kyuhyun!”

Sebuah suara familiar berteriak di antara lautan manusia, dia sama sekali tidak memedulikan pandangan orang lain. Dengan malas aku berjalan ke arahnya. Senyum lebar nampak di wajahnya, sangat lebar untuk ukuran seorang teman yang akhirnya bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dia memelukku dan memukul-mukul pelan punggungku. Tawa kecil terdengar di telingaku.

“Kau tidak berubah, Minho,” kataku padanya.

“Tentu saja! I’m still as handsome as ever,” dengan itu aku menemukan tanganku memukul kepalanya dan dia hanya meringis kesakitan beberapa saat.

Kajja,” ajaknya.

Minho berada di kursi kemudi dan aku di sebelahnya. Tas-tas besar milikku ada di belakang. Beberapa menit dalam kesunyian sebelum aku memutuskan untuk memecah suasana.

“Bagaimana kabarmu?” Lelaki itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dari sebelumnya, entah apakah itu bisa terjadi atau tidak.

“Aku sangat senang seminggu ini.”

Wae?”

Well. Aku bertemu lagi denganmu dan adikku sadar dari koma seminggu yang lalu!”

Oh. Adiknya. Dia baru sadar setelah tiga tahun lamanya… Astaga, aku tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap jika menjadi Minho. Lelaki di sampingku ini juga bercerita setelah enam bulan dirawat di rumah sakit, dia dan Soojin memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah dan menjalani perawatan di rumah.

“Senang mendengarnya,” ujarku. Minho hanya tersenyum.

Aku baru sadar aku tidak pernah tahu dan tidak pernah melihat adik Minho itu. Miripkah dia dengan Minho? Atau Soojin? Well, kita akan mencari tahu sebentar lagi.

Lewat sekitar sepuluh menit, Minho berhenti di sebuah coffee shop yang juga menjual donat dan croissant serta pastry lain setelah memberitahuku dia akan membelikannya untuk adiknya. Aku hanya menurut saja, lagi pula, aku yang menumpang mobilnya saat ini, apalagi yang bisa kulakukan? Haha.

Oh ya. Aku tidak kembali ke rumahku untuk beberapa saat. Ahra masih berada di Jerman untuk mengurus bisnis keluarga kami dan rumah kami, well…. bagaimana aku menjelaskannya? Tiga tahun tidak berpenghuni, ternyata makhluk-makhluk kecil bernama serangga membanjiri. Hal itu ditemukan Ahra sehari sebelum kepulanganku dari Jepang. Dan akhirnya, dia memanggil petugas kebersihan untuk melakukan pembersihan total rumah kami. Jadilah, Minho menawarkan rumahnya untukku singgah sementara waktu.

Minho terlihat keluar dari coffee shop membawa dua kotak donat dan croissant di tangannya. Dan setelah kuperhatikan lagi, aku mengenal tempat ini. Tempat terakhirku bersama kedua orang tuaku. Tempatku melihat seorang gadis yang bahagia bukan main kala hujan menimpa tubuhnya. Aku tersenyum mengingat hal itu. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku menempatkan diri di sini.

Tepat setelah lamunanku selesai, Minho memasuki mobil dan meletakkan bawaannya di kursi belakang. Kemudian dia kembali mengemudi pulang.

Tak berselang lama, kami sampai. Rumah Minho yang baru sekali aku kunjungi, itupun terpaksa karena dia yang meminta.

Aku membuka pintu dan turun dari mobil. Kemudian mengambil beberapa barang milikku. Minho memimpin jalanku masuk ke dalam rumah itu dan menunjukkanku kamar tamu yang untuk sementara waktu akan kugunakan.

Soojin muncul dari dapur bersih di dekat ruang tengah yang menghubungkan beberapa ruangan di sampingnya. Aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada wanita itu telah memperbolehkanku tinggal. Katanya, santai saja, Ahra sudah membantunya juga dalam banyak kesempatan. Kemudian dia menghilang lagi dengan pakaian formalnya.

Minho menyenggol lenganku dan memberikan satu kotak berisi donat dan croissant yang tadi dibelinya. “Bisakah kau antarkan ini pada adikku? Kalau tidak salah Soojin Noona tadi berkata dia ada di taman belakang.”

“Kenapa tidak kau?”

“Dokter yang merawat adikku baru saja menelepon untuk membicarakan kelanjutan perawatan ini dan biayanya, segala macam. Aku akan meneleponnya balik. Mungkin akan lama. Adikku tidak tahan lapar, dia sudah menunggu ini sejak tadi, tidak apa kan?” ujarnya sambil menunjuk pada kotak makanan yang sudah ada di tangankku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.

Minho juga menghilang dari pandangan setelah itu. Kurasakan kedua kaki milikku melangkah ringan di rumah itu, mencari jalan untuk mencapai taman belakang yang dimaksud. Ah, akhirnya.

Ada seorang gadis yang terduduk di kursi taman. Menikmati segarnya udara di sekitarnya. Rambutnya melambai-lambai dengan tenang. Warna rambut itu membuatku teringat pada seseorang. Aku hanya bisa melihat punggungnya dari tempatku berdiri.

“Lama sekali kau datang, Oppa. Aku hampir tidak tahan lagi,” katanya. Suaranya… terdengar begitu penuh hidup. Dan di beberapa penekanan kata, nada suaranya mirip dengannya.

“Ah, mian. Aku bukan Minho,” balasku sambil melangkah ke arahnya.

“Oh? Nuguse–.“

Dia membalikkan badan dengan cepat, kemudian berhenti seketika saat melihatku. Dan langkahku juga terhenti begitu saja ketika wajahnya tertangkap olehku. Sekotak makanan yang berada di tanganku menemukan tempatnya pada rumput di bawah.

Tidak, tidak. Tidak mungkin.

Kurasakan badan milikku berbalik, berusaha menghindari tatapannya, berusaha membuang jauh-jauh pikiran-pikiran aneh yang muncul di otakku. Tapi usaha yang kulakukan itu gagal. Gagal semua. Pecah, berhamburan seperti roti kering yang dihancurkan begitu saja ketika suaranya terdengar lagi di telingaku, memanggilku, memanggil namaku.

“Cho Kyuhyun…”

Anniya. Anniya. Maldo andwae. Aku hanya sedang berimajinasi. Ini semua hanya imajinasiku. Ya, Kyuhyun, hanya imajinasimu. Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi? Tidak mungkin, kan? Bangun, Cho Kyuhyun. Bangun dari –

“Hey, Cho Kyuhyun…”

Shit. Aku mengakuinya. Aku kalah. Tubuhku kembali mengarah padanya.

Dalam detik-detik kekalahanku itu, masih berusaha dengan kuat aku mengusir pikiran itu tapi tetap saja ada sesuatu dalam hati yang memaksaku mempercayai pemandangan yang ada di hadapanku saat ini. Pemandangan yang biasanya hanya dapat kunikmati ketika tidur. Rambutnya, wajahnya, badan, hingga kakinya, semuanya, semua miliknya.

Dan aku pun tak mampu lagi menolak kenyataan bahwa dia benar-benar berada di hadapanku. Sama terkejutnya denganku. Sama gugupnya denganku.

It is her.

Aku tidak sedang bermimpi kan?

Gadis di depanku ini…

Maldo andwae

Mataku tak lepas darinya. Dia berdiri dari duduknya. Kurasakan tubuhku memaksaku berjalan mendekat ke arahnya. Angin datang, perlahan berhembus dengan lembut bersamaan dengan jatuhnya lembaran-lembaran daun dari ranting pohon. Udara terasa hangat. Sang surya menunjukkan cahayanya sembari dirinya memulai bersembunyi di balik langit senja.

Jantungku berdetak tak karuan ketika jarak antara diriku dan dia hanya beberapa sentimeter. Mengapa aku merasakan hal seperti ini? Gugup? Takut? Aku memiliki banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu, Sooyoung. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.

Yes, it is her. It is really her.

Aku tidak perlu memanggil namanya dengan keras untuk tahu bahwa gadis di depanku ini adalah dia. Dan dia tidak perlu memanggil namaku dengan keras untuk tahu bahwa lelaki di hadapannya saat ini adalah Cho Kyuhyun, yang ditemuinya dalam mimpi.

“Apa aku sedang bermimpi lagi?” aku bahkan lupa baru saja mengucapkan itu dengan keras. Masih tidak percaya sepenuhnya. Dia tertawa kecil dan menggeleng pelan. Oh my God. Serasa seorang bidadari baru saja memberikan senyum terbaiknya untukku.

Dia begitu cantik dan aku tidak mampu menahan rasa yang sudah berusaha untuk kupendam selama ini. Selama 3 tahun ini.

Kedua kaki milikku terasa bergetar ketika dia meletakkan tangannya pada wajahku, ragu. Dadaku terasa sesak dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua yang di hadapanku terlihat kabur dan menyisakan gadis ini, gadis dalam mimpiku. Satu-satunya yang jelas telrihat pada indera penglihatanku.

“Aku bisa menyentuhmu…” ujarnya. Saat ini jemarinya berada di kedua pipiku. Tanpa sadar, aku melakukan hal yang sama dengannya. Menjejaki setiap jengkal wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, semua miliknya.

Dia benar-benar gadis dalam mimpiku.

“Kau tidak berubah…” kataku. Rasanya mataku panas sekali dan ada dorongan air yang meminta dikeluarkan. Tapi aku berhasil menahannya.

Dia benar-benar tidak berubah. Rambutnya masih sependek dulu, dengan warna menawan yang membuatku tertumbuk padanya. Matanya masih seindah dulu, hanya saja, lingkaran hitam itu tidak lagi terlihat di sekitarnya, dan pandangannya kali ini jauh lebih hidup sejak terakhir kali aku melihatnya.

Dia ada di depanku. Gadis dalam mimpiku.

Dia nyata.

Dia tersenyum di depanku.

Dia masih semenawan dulu.

Aku melihatnya lagi, bedanya, kali ini tidak dalam mimpiku.

I am not dreaming again, Sooyoung.”

Dia tersenyum lebar ketika sebulir air keluar dari matanya. Dan badanku terasa terlonjak sedikit ketika kurasakan dia memelukku. Erat. Sangat erat. Seperti yang selalu kuinginkan sejak bertemu dengannya. Aku membalas pelukannya. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak sama kencangnya dengan milikku, dan terus berdetak sedemikian cepat sembari aku merasakan kehangatan yang sudah kurindu sejak lama.

“Aku berharap… aku tidak lagi sedang bermimpi,” kataku sembari meletakkan bibirku pada dahinya.

Tangannya bergerak mengelus punggungku, dia mengeratkan lagi pelukannya padaku, dan aku mengistirahatkan kepalaku pada bahunya. Kurasakan baju yang kukenakan mulai basah karena air matanya. Tidak masalah, semua ini tidak lagi menjadi masalah.

Pada akhirnya, aku menemukanmu.

Aku menemukanmu, Sooyoung.

—–

[3 of 3]

END.

Author’s Note

Ah, finally. Akhirnya cerita ini selesai, yey! Mohon maaf karena chapter ini panjang banget, ada kayanya sekitar 5000 words, saya ngga bisa berhenti banget waktu nulisnya, suka banget sama karakter Kyuhyun sama Sooyoung di sini, entah kenapa haha. Maybe this is my favourite story of all the stories I’ve wrote for the past few years.

How is it? All critics and opinions are my motivation to write more. Haha, gomawo!

Thank you so much for reading!

Oh ya, anyway, masih ada epilogue buat story ini, so keep the wait a little more xD.

Advertisements

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

One thought on “Sound of My Dreams [3 – end]

  1. Padahal mereka stranger yang nggak pernah saling sapa di dunia nyata, tapi kenapa endingnya manis sekali.. sukaaak
    Love this story, keep writing author

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s