Posted in Fantasy, Romance, Sad

Sound of My Dreams [Epilogue]

dream

A story by Soshinism

—–

RatingPG 13

GenreRomance, Psychological, Fantasy

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Yes, this is not an actual epilogue. Well, you can say it is, tapi isinya tentang background story dari dua protagonis kita. Haha, hope you enjoy it!

Please do not read this if you haven’t read the previous chapters! Haha joking. It’s up to you whether you’d want to read the first chapters first or this one first, but I STRONGLY suggest you to read these parts first, here goes:

[1 of 3] | [2 of 3] | [3 of 3]

—–

8 years ago.

Saat itu pukul delapan malam dan langit sudah menggelap, makin gelap dari biasanya. Awan-awan yang siap menurunkan hujan terlihat jelas meski juga segelap sekitarnya, menutupi sang bulan yang berusaha memberikan cahaya pada penduduk bumi. Satu rintik, dua, tiga, dan ribuan air selanjutnya turun begitu saja. Membasahi tanah yang kering, atap-atap rumah yang sudah beberapa hari ini belum bisa mengeringkan diri karena curah hujan yang tinggi.

Seorang gadis tersenyum lebar ketika matanya menangkap air-air itu terus turun tanpa ampun. Diambilnya hoodie biru tua miliknya yang ada di kursi kerja milik ayahnya. Dia hampir-hampir seperti berlari keluar dari ruangan serba putih dan abu-abu itu, ruangan berbau obat yang menjadi rumah keduanya. Ruang kerja milik ayahnya yang berada di sebuah rumah sakit di kota tempatnya tinggal.

Sebelum benar-benar keluar, dia memiringkan kepala ke belakang untuk melihat sebuah papan nama yang terpancang di atas meja ayahnya itu, tersenyum beberapa detik menyadari betapa bangganya dia memiliki seorang ayah yang bekerja untuk menolong orang lain.

Tubuhnya kemudian langsung terasa dingin ketika dia sampai di luar rumah sakit, hujan deras menghujamnya, tapi dia tidak peduli. Dia senang musim ini, dia senang ketika air-air dari langit itu terus-terusan mengenai tubuhnya. Dan juga, hujan tidak pernah membuatnya sakit. Tidak pernah.

Dia berlari-lari kecil lagi menelusuri jalanan yang mulai sepi, menerjang kerumunan orang-orang dewasa yang berlarian mencari tempat berteduh karena tidak membawa payung. Kios-kios di pinggir jalan mulai membereskan lapak, termasuk penjual bunga dan penjual koran favoritnya yang tidak bisa dia temukan di sepanjang jalan yang dia lewati karena sudah berteduh sejak tadi. Dia hanya mampu melihat sisa-sisa tempat dagang mereka, basah di beberapa sisi yang tidak tertutup plastik besar untuk perlindungan.

Dirasanya tubuhnya makin berat ketika hoodie miliknya sudah basah kuyup. Dia berlari lagi beberapa meter sebelum berhenti di depan sebuah toko obat. Ada sebuah senyum lega muncul di wajahnya dan ia menengadahkan kepala ke atas, menikmati air hujan sampai ke wajahnya. Setelah beberapa saat, dia paksa dirinya masuk ke dalam toko itu.

Seorang wanita yang berada di usia dua puluhan tersenyum padanya, sudah hapal dengan sang gadis. Sementara gadis itu tersenyum malu ketika sadar beberapa bulir air hujan dari rambut dan bajunya menetes di dalam toko itu.

“Ah, jeosonghamnida, Eonnie. Aku akan membersihkannya… uh… nanti?” ujarnya pada wanita yang lebih tua itu padanya. Yang diajak berbicara menaikkan satu alis dan menjawabnya, berusaha terdengar serius meski sebenarnya tidak, “Mengapa nanti dan tidak sekarang?”

Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senyum malu-malu masih ada di wajahnya. Kemudian melangkah mendekat pada wanita yang lebih tua, berdiri di depannya dengan pembatas lemari kaca yang setinggi tubuhnya dan dia harus mendongak untuk berbicara dengan seseorang di seberang itu, “Uh… Appa sedang membutuhkan obat ini, aku tidak bisa lama-lama,” ujarnya sambil menunjuk salah satu obat yang menjadi fokusnya sejak tadi.

“Hmm. Arraseo, kembali lagi nanti jika sudah selesai, ne?”

Sang gadis kembali tersenyum dan membungkuk untuk berterima kasih pada seseorang yang dipanggilnya Eonnie. Kemudian dia melangkah lagi keluar dari toko obat itu, membawa sekantong obat yang membuat hatinya tenang. Tanpa sadar dia mengusap kedua tangannya untuk menghilangkan dingin yang melanda dan kembali berlari sepanjang jalan.

Bibirnya memulai untuk bersenandung sejalan dengan cepatnya langkahnya. Ketika di tengah jalan, dia menemukan seorang lelaki tua, yang bisa dia duga adalah seorang tuna wisma, berlindung dengan seluruh kemampuannya dari hujan, menggunakan potongan-potongan kardus. Dia berhenti. Hatinya sakit melihat pemandangan itu. Dirinya mampu tinggal di rumah besar bersama ayah dan kedua saudaranya, berlindung dengan nyaman ketika hujan, tidak perlu mengkhawatirkan kebocoran terjadi.

Perlahan ia berjongkok di hadapan lelaki itu yang juga mulai menatapnya. Dia tersenyum kecil dan menyadari wajah lelaki itu sungguh pucat dan seperti sebuah bongkahan es menghujam kepalanya, dia mulai bertanya pada sang lelaki, bagaimana bisa dalam keadaan demikian, apa dia sedang sakit, dan sebagainya. Hingga beberapa kesimpulan dapat dia tarik, salah satunya, benar, lelaki itu sedang sakit.

Kedua matanya menjelajah pelan menuju obat yang ada di tangannya. Dan tanpa ragu dia berikan obat itu pada sang lelaki, kemudian membawanya ke tempat yang lebih teduh dari tempatnya tadi dan hendak berbincang dengannya lagi untuk beberapa saat sebelum sebuah suara di tepi jalan memanggilnya. Ayahnya memunculkan kepala dari jendela mobil, wajahnya basah terkena air, suaranya agak tertimbun saking derasnya hujan itu, tapi dia masih mampu mendengar jelas apa yang dikatakan sang ayah.

“Choi Sooyoung! Cepat kembali!”

Sang gadis pun hanya mampu menurut mendengar suara tegas itu keluar dari bibir ayahnya, ada sesuatu pasti yang terjadi sampai pria yang sangat dia hormati itu menjemputnya kala hujan mendera sederas ini. Dia berlari kecil untuk mempercepat sampai di mobil setelah meminta maaf pada sang tuna wisma.

Appa, waegurae?” tanyanya setelah menyadari raut wajah pria itu tidak seperti biasanya. Tapi tidak ada jawaban yang didapatnya. Dan dia tahu itu adalah tanda untuknya tetap diam, menunggu sampai sang ayah berkata sendiri padanya apa yang sedang terjadi sampai dia seperti ini.

Sooyoung, gadis kecil itu terdiam dengan tidak nyaman. Otaknya masih melayang dan bahkan sempat sampai pada sebuah pikiran yang sangat dia benci: ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya, penyakit ibunya akhirnya merenggut wanita itu darinya, atau segala macamnya kemudian dia mengusir jauh-jauh pikiran itu.

Kepalanya menggeleng beberapa kali untuk mengaburkan pikirannya tadi, ketika dia mendengar sebuah suara hantaman keras datang dari depannya. Matanya menangkap sebuah mobil lain yang ada di depannya tergelincir, berputar beberapa kali karena jalanan yang licin dan berliku. Dia menengok ke arah ayahnya, keterkejutan dan ketakutan muncul di wajahnya. Semua itu terjadi begitu cepat. Dia bahkan tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi.

Dan belum selesai semua keterkejutan itu menghantamnya, mobil yang ada di depannya berputar untuk sekali lagi. Dia bisa merasakan mobil yang dikemudikan ayahnya tidak mampu menahan laju yang begitu cepat, rem sudah tak mampu dikendalikan, dan mobilnya menabrak mobil yang berputar-putar dengan mengerikan itu, membuatnya terjatuh pada sungai yang ada di bagian kiri karena jalanan yang lebih miring ke arah sungai dan juga ditambah hantaman yang terjadi dengan mobilnya, juga membuat mobil yang ditumpanginya tak terkendali, berbalik arah, dan menabrak tebing di sisi kanan.

Sooyoung merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Dahinya terasa basah karena ada cairan yang mengalir deras. Dia masih sadar, kemudian dilihatnya seluruh tubuhnya yang tidak terlalu mengalami banyak luka, hanya lecet di beberapa bagian. Kemudian matanya menelusuri dashboard mobil yang tak karuan dan sampai pada ayahnya.

Matanya terpejam, tapi napas masih terlihat dari pergerakan dadanya yang konstan. Dari bagian pelipisnya keluar darah segar dan mengalir hingga lehernya. Badannya terhimpit dengan tebing dan kakinya terjepit di antara kemudi dan seat tempatnya duduk. Dia berusaha membangunkan ayahnya, tapi gagal, tidak ada respons. Hampir saja dia menangis keras ketika menyadari apa yang baru saja terjadi padanya, namun kemudian teringat perkataan ayahnya tentang bagaimana bertindak dalam situasi seperti ini.

Dengan gerakan cepat dia ambil ponsel yang selalu ayahnya simpan di saku bagian dalam jas miliknya kemudian menghubungi nomor polisi dan ambulans yang sudah dia hapal di luar kepala, kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada operator dan menutup ponsel itu setelah selesai. Perlahan ada kedua mata yang mulai terbuka dan ayahnya tersenyum lembut ketika melihat gadis kecilnya masih berada di hadapannya.

G-gwenchana?” ujarnya terbata, berusaha mengambil napas. Sooyoung mengangguk pelan, dia menyadari dia hanya bisa terdiam di tempatnya sampai petugas datang untuk membantu ayahnya yang berada dalam posisi mengerikan itu.

“S-Sooyoung. Mo-mobil yang l-lain, k-kau cari m-mere-ka…” ujar ayahnya lagi. Dan Sooyoung membelalakkan matanya. Sejenak teringat mobil yang tadi di depannya dan apa yang terjadi pada penumpang di dalamnya.

“C-cepat, aku harus mengeluarkan diri dari sini,” napas ayahnya mulai kembali dan kesadarannya pun begitu. Sooyoung bernapas lega menyaksikan hal itu. Dia mengangguk perlahan, mengetahui dengan pasti ayahnya memiliki tingkat kekerasan kepala yang sama dengannya dan akan terus memerintahkannya untuk berlari mencari mobil tadi meski tahu bagaimana akhir yang akan terjadi.

Gadis itu mengeluarkan dirinya secepat kilat dan berlari menuju daratan yang berada di tepi sungai, selebar sekitar dua atau tiga meter. Matanya berkelana di dalam kegelapan dan dia menangkap buih-buih air yang membuat bentuk lingkaran beberapa meter dari tempatnya berdiri. Mobil itu jatuh di titik itu. Tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menyelam? Tidak mungkin, di musim itu air sungguh dingin dan dia tidak tahu bagaimana harus menyelamatkan sekumpulan manusia dari dalam mobil.

Dia berjalan lebih dekat pada air ketika sesuatu tertangkap lagi oleh matanya. Sebuah tubuh muncul di permukaan. Seorang wanita. Dan kali ini dia menerjang dinginnya air, menarik tubuh wanita itu untuk sampai di daratan sebelum dirasanya ada sesuatu yang menyenggol lengannya. Dia membalikkan kepala hanya untuk mendapati tubuh seorang lelaki yang kiranya umurnya hampir sama dengannya, mengambang juga dengan tenang. Dan diputuskannya untuk menarik dua tubuh itu sekaligus.

Tubuhnya sendiri terasa berat, oleh air yang membasahi pakaiannya, oleh dua beban manusia lain yang harus dibawanya. Kemudian dia bernapas lega ketika kakinya menyentuh daratan lagi, meski masih terengah-engah. Samar-samar didengarnya suara ayahnya dan ia mendapati pria itu berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Kakinya penuh darah, tangannya penuh darah, dari bagian dadanya juga keluar darah segar yang mengerikan.

Tapi setidaknya ada kelegaan ketika dia dapat melihat lagi pria itu di depannya, berhasil keluar dari mobil mereka. Mengira darah-darah pada tubuh ayahnya tidak terlalu memberikan efek yang berarti, dia tidak tahu pemikirannya itu salah.

Gadis itu menyadari ayahnya membawa tas berisi peralatan operasi daruratnya dan tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Sooyoung hanya terdiam ketika ayahnya memberinya sebuah senyuman kecil dan berlanjut untuk memeriksa kedua tubuh wanita dan lelaki yang ditariknya tadi.

Dilihatnya sang ayah menjahit beberapa luka pada tubuh lelaki dan wanita itu serta membalutnya dengan kain atau apa yang ada di dalam tas peralatannya. Dari jauh dapat didengarnya bunyi ambulans dan mobil polisi datang saat dirinya memutuskan untuk membantu ayahnya dalam menangani dua orang asing itu.

Sooyoung tersenyum lega ketika beberapa petugas dengan cepat menuju ke arahnya, menerima perintah dari ayahnya yang seorang dokter untuk secepatnya membawa mereka ke rumah sakit, menjelaskan tindakan apa saja yang sudah dia lakukan sebagai pertolongan pertama, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Gadis itu berlari kecil menuju ayahnya dan memeluknya erat untuk beberapa saat hingga dia bisa merasakan tubuh ayahnya mulai lemas. Dijauhkannya tubuhnya dari ayahnya untuk melihat wajah pria itu. Pucat pasi. Darah masih mengalir dari sebagian tubuhnya seperti tadi. Dia tahu apa yang terjadi. Sejak kecil dirinya selalu suka membantu pria itu sehingga setidaknya tahu ciri-ciri orang kehilangan banyak darah. Tapi saat ini, dia hanya mampu berteriak pada petugas ambulans untuk menolong ayahnya.

***

Lampu-lampu di rumah sakit sangat terang –terlalu terang– untuk Sooyoung saat ini. Rasanya matanya seperti tertusuk jarum-jarum kecil karena tingkat keterangan yang sangat tinggi itu. Suara-suara di sekitarnya yang dahulu tidak mengganggunya, sekarang terdengar seperti sesuatu yang akan terus menghantuinya sepanjang hidupnya. Roda brankar dorong yang menggema di seluruh penjuru lorong, alat-alat rumah sakit bodoh, para perawat menutupi rasa panik dalam diri mereka. Sooyoung tidak pernah menyukai suara-suara itu, meski hampir seluruh hidupnya dia habiskan di dalam tempat bau kimia itu.

Tidak, dia tidak menyukai momen yang sedang terjadi. Dia menyukai rumah sakit, tapi tidak dengan sesuatu yang terjadi di dalamnya –ketika korban kecelakaan datang, atau seorang kakek tua yang akhirnya menyerah pada kanker.

Sepanjang waktunya di rumah sakit, dia selalu menghindar ketika kejadian-kejadian itu atau sejenisnya terjadi, hanya mengamati dari jauh, dan hanya mendekat lagi ketika ayahnya menginginkannya untuk melihat proses operasi yang dilakukan sang lelaki.

Tapi di sinilah dirinya sekarang. Punggung menempel pada sandaran kursi keras yang sama sekali tidak ada rasa nyamannya, kaki menggantung dan membuat jarak beberapa sentimeter dari tanah yang dipijaknya, hoodie biru tuanya sudah berganti menjadi sebuah selimut tidak cukup tebal yang diberikan petugas ambulans, dan yang paling dia benci, tanda berwarna putih dengan tulisan hijau mencolok terang yang berbunyi ‘Operation Room’ menggantung pada langit-langit di seberangnya.

Matanya memandang lurus pada apapun yang ada di depannya, dinding sekalipun. Beberapa orang berlalu lalang di depannya tapi semua itu tidak masuk ke dalam otaknya. Dia hanya terngiang-ngiang apa yang dikatakan petugas ambulans setelah petugas itu mendengar teriakan seorang gadis kecil meminta bantuan.

Dia kehilangan banyak darah, transfusi sepertinya sudah tidak mungkin.

‘Dia kehilangan banyak darah.’

Saat itu dia ingin sekali marah dan menyalahkan ayahnya sepenuhnya. Karena lebih mementingkan nyawa dua orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya, memaksa dirinya untuk berjalan ke tepian sungai, tertatih-tatih, darah mengucur dari mana-mana, berusaha menyelamatkan dua korban kecelakaan tunggal itu daripada menjaga dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak bergerak dan membuang darahnya terus menerus.

Dia ingin sekali marah. Tapi kekuatannya tidak ada. Tidak sepenuhnya ada.

‘Dia kehilangan banyak darah.’

‘Dia kehilangan banyak darah.’

‘Dia kehilangan banyak da–.’

“Choi Sooyoung-ssi?”

Lamunannya seakan ditarik begitu saja ketika seorang lelaki yang berpakaian putih seperti ayahnya ketika bekerja memanggilnya. Berdiri tinggi di hadapannya. Sang gadis mendongak, tidak berniat berdiri dari duduknya, meski ia harus terus menengadahkan kepala. Dia melihat wajah dokter jaga malam itu, kemudian beralih pada kedua matanya, dan seketika itu dia tahu apa yang akan dikatakan sang dokter. Dia terlalu hapal raut wajah itu. Sebuah ekspresi yang diberikan para dokter ketika memberitahukan keluarga pasien yang ditanganinya bahwa–

“Stop. Jangan berkata apapun,” ujarnya tegas dengan suara khas seorang gadis kecil. Dia mengalihkan pandangan lagi dari sang dokter menuju ke sebuah pot tanaman yang diletakkan begitu saja di sudut ruangan sebagai pemanis.

“Aku ingin bertemu dengannya. Bisa, kan?” tanyanya, kali ini sedikit melembut. Tubuhnya berdiri dan ia melanjutkan langkah setelah mendapat sebuah anggukan dari dokter yang menangani ayahnya.

Langkahnya terhenti ketika sebuah suara yang sangat familiar berdengung di telinganya, memanggil namanya, penuh dengan kebingungan, dan juga… ketakutan. Untuk beberapa detik dia tidak ingin mengubah arah tubuhnya untuk melihat dan mengkonfirmasi pemilik suara itu. Inginnya semua ini hanya mimpi buruknya seperti biasa.

“Sooyoung?” tapi akhirnya dia terpaksa menoleh dan benar saja. Soojin, kakak perempuannya ada di sana. Beberapa ubin darinya. Di sampingnya, seorang lain berdiri dengan tegang. Kakak lelakinya, Minho.

Dia bisa merasakan getaran di lantai yang dipijaknya yang muncul akibat dua orang itu berlari kecil menujunya dengan tidak sabar. Minho menyejajarkan tubuhnya pada gadis itu dan meletakkan tangannya pada bahu adiknya. “Appa eodiga?”

Huh?

Maksudnya? Apa maksud pertanyaan itu? Sooyoung mengernyit kecil, kebingungan melandanya. Bukankah kedua kakaknya datang karena mengetahui apa yang terjadi pada ayah mereka? Bukankah mereka datang untuk menjemput adik terkecil mereka dan menenangkannya setelah apa yang baru saja terjadi? Bukankah mereka mengetahuinya?

Soojin menyadari kehadiran sosok lain di belakang adiknya dan wanita itu mendatangi dokter yang bisa dia duga sudah bersama Sooyoung sejak tadi, bertanya padanya apa yang terjadi. Dan Sooyoung berdoa saat itu juga kalau telinganya menjadi tuli untuk sementara waktu, tidak mau mendengar apa yang akan dikatakan dokter itu pada kakak perempuannya. Tapi gagal. Telinganya dipaksa mendengar itu semua. Meski sang dokter sudah berusaha memelankan suara sekecil mungkin dan melangkah beberapa ubin darinya.

Dokter Choi kehilangan banyak darah ketika menyelamatkan korban kecelakaan lain.

Dari sudut matanya Sooyoung mampu melihat kakak perempuannya melemas. Begitu pun dengan kakak lelakinya meski dia masih pada posisinya. Kedua saudara kandungnya saling berpandangan, memberikan sesuatu pada satu sama lain dalam pandangan itu yang Sooyoung tidak pahami.

Kemudian sesuatu tertangkap telinganya lagi.

“Bagaimana dengan ibu kalian?”, suara sang dokter menggema di indera pendengarannya.

Ibu? Apalagi maksudnya kali ini? Eomma? Ada apa dengannya?

Soojin menumbukkan pandangan pada adik perempuannya kali ini, sesaat setelah mendengar pertanyaan itu dilontarkan padanya, dia tidak menjawabnya. Tapi sesuatu seperti menampar Sooyoung dengan keras dan dia mulai meletakkan potongan puzzle satu per satu dengan benar.

Mengapa ayahnya menjemputnya saat hujan sederas itu, padahal biasanya tidak pernah karena dia sendiri yang meminta ayahnya untuk tidak menjemputnya. Mengapa raut wajah ayahnya seperti memendam sesuatu dan tidak siap untuk memberitahunya pada anak terkecilnya. Mengapa pria itu diam saja selama perjalanan. Mengapa kedua kakaknya juga berada di rumah sakit itu.

Semua itu datang pada Sooyoung seperti badai di tengah samudera. Menghujamnya begitu kuat.

Pikiran kejamnya yang bermain-main pada otaknya hanya beberapa menit sebelum kecelakaan tadi menimpa dirinya ternyata benar. Dia tidak salah dan tidak hanya menduga. Dia tahu pasti apa yang terjadi.

Perlahan dirasanya tangan kakak lelakinya melemah dan jatuh. Minho mendengar berita tentang ayahnya. Menyadari ketiganya saat ini sudah tidak memiliki pelindung yang kokoh lagi. Sooyoung mengalihkan pandangan, dari Soojin, kemudian kembali ke Minho, dan begitu beberapa kali. Dan dia tidak lagi mampu menahan sebuah air untuk keluar dari ujung matanya.

Minho memeluknya seketika itu. Berusaha menenangkannya meski air matanya keluar dalam diam, meski dia tidak meronta kegilaan meminta dilepaskan. Kehangatan menyelimuti tubuhnya yang dingin. Tapi kehangatan itu, kehangatan yang seharusnya mampu membuatnya tenang, kali itu tidak lagi bekerja padanya.

Sumber kehangatan utamanya sudah pergi selamanya.

Dua sumber kehangatan utamanya.

Ayah dan ibunya.

Di hari yang sama, di tempat yang sama.

Ayah dan ibunya, pergi meninggalkannya.

***

Lamat-lamat panas yang diberikan sang surya di pagi hari meresap masuk ke dalam kulit halus milik Sooyoung, memaksa sebagian tubuhnya menghangat. Matanya perlahan terbuka, kanan mendahului, kemudian yang kiri mengikuti. Dia membukanya lebih lebar lagi setelah menyadari dirinya berada di mana. Kepalanya memutar, memandang sekeliling, melihat satu per satu barang yang ada di ruangan itu, menghapalnya di dalam otaknya.

Hembusan napas berat keluar dari indera penciumannya ketika dia hampir lupa kalau semalam dirinya meminta pada kedua keluarga terdekatnya yang masih ada untuk membiarkannya tinggal di ruangan kerja ayahnya. Untuk yang terakhir kali. Dia memang selalu lebih dekat dengan ayahnya, meski kedekatannya dengan ibu yang melahirkannya juga tak kalah besar.

Kemudian sebuah suara dihasilkan dari jam yang ada di meja kerja ayahnya, yang semua bagiannya terbuat dari kayu, bahkan sampai ke jarumnya, kecuali mesinnya yang tertutup semacam kompartemen yang juga terbuat dari kayu. Matanya menatap jam itu. Pukul tujuh pagi. Kurang beberapa menit.

Gadis kecil itu berdiri. Meregangkan otot tubuhnya yang cukup kaku setelah beberapa jam tertidur di kursi kerja sang ayah, kepala menempel di mejanya. Matanya menangkap seorang lain ada di ruangan itu. Minho. Akhirnya memutuskan untuk menemaninya bermalam di tempat itu. Lelaki yang hanya lebih tua dua tahun darinya itu tertidur pulas di sofa panjang berwarna putih tulang, kakinya hampir-hampir melebihi panjang sofa itu. Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya sebelum dirinya memutuskan untuk menghirup udara segar.

Langkahnya terasa berat. Dan pelan. Kepalanya menunduk, sesekali memperhatikan ke depan ketika dirasanya akan ada kehadiran orang lain di dekatnya. Dia bisa merasakan tatapan beberapa orang yang dilewatinya. Dia bisa merasakan pula jenis-jenis tatapan itu. Sedih, kasihan, kehilangan. Hampir semua perawat dan dokter di rumah sakit itu mengenalnya, paling tidak, tahu mengenai dirinya. Choi Sooyoung, anak dari Dokter Choi Jungnam, dokter spesialis bedah nomor satu di tempatnya tinggal.

Dia berhenti ketika rumput hijau, pergola, dan beberapa hiasan lain yang ada di taman rumah sakit terlihat oleh matanya. Mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk merasakan segarnya udara pagi itu. Tanpa disadarinya, ada seseorang yang memperhatikannya beberapa langkah di belakangnya.

Kedua mata milik sang gadis tertumbuk pada langit yang mulai membiru, biru muda seperti warna salah satu baju kesukaannya. Dadanya tiba-tiba cukup terasa sesak ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Dia tidak mau mengingatnya. Tapi otaknya memaksanya untuk melakukannya.

Air matanya mengalir terus-terusan ketika kalimat-kalimat yang dia tidak pernah tahu akan dibencinya dengan sangat keluar dari bibir kakaknya. Ayahnya menjemputnya di tengah hujan deras setelah mendapat kabar bahwa ibunya jatuh pada koma setelah bertahun-tahun melawan kanker otak yang dimilikinya. Pria itu menjemputnya untuk menemui ibunya yang mungkin sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup.

Tetapi, semua itu terjadi di tengah perjalanan. Jalan licin, hantaman keras dengan mobil yang tergelincir di depannya, ayahnya terhimpit di tempatnya, kemudian lebih menolong orang lain daripada dirinya sendiri, dan selanjutnya dan selanjutnya lagi.

Dan ibunya akhirnya pergi setelah melawan kankernya, tidak memberikan kesempatan sedikit pun pada Sooyoung untuk bertemu dengannya untuk yang terakhir kali.

Itulah mengapa dia bertemu dengan kedua kakaknya di rumah sakit. Mereka datang terlebih dahulu untuk bersama dengan ibunya, Eommanya. Tidak mengetahui apa yang terjadi padanya dan ayahnya.

Sooyoung memeluk tubuhnya sendiri ketika dirasanya air matanya memaksa untuk keluar lagi. Dua kelopak matanya terpejam erat dan dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum. Pikirnya, hal itu bisa membuat dorongan air untuk keluar dari matanya itu untuk berhenti. Ya, setidaknya begitu hingga suara seseorang mengganggu telinganya.

“Bodoh.”

Hanya satu kata itu, hanya satu kata. Sooyoung tidak mampu mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Tercengang, tak percaya, dia diam di tempat untuk beberapa saat. Baru berbalik untuk mencari sumber suara itu ketika didengarnya langkah kaki orang tersebut mulai menjauh. Dia ingin berteriak memanggilnya, tapi tidak, tidak ada tenaga untuk melakukan itu. Meski sedikit amarah muncul di hatinya.

Lagi pula, dia tidak mampu menemukan sumber suara yang dia percaya adalah seorang lelaki muda. Hilang begitu saja di tengah manusia yang berada di taman itu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk kembali, menemui Minho, melanjutkan apa yang akan dilakukannya setelah ini, apa yang harus dilakukannya.

***

Lorong-lorong rumah sakit terasa begitu menyesakkan bagi Sooyoung, meski dipenuhi cat berwarna putih, krem, dan beberapa sisi memiliki abu-abu. Dia tidak berusaha mempercepat langkahnya. Kepalanya menunduk lagi, sama seperti tadi ketika dia keluar dari ruangan ayahnya dan menuju taman. Terus menunduk hingga dia mendengar suara yang sama dengan yang tadi mengatakan bodoh padanya.

Dari sebuah ruangan rawat inap dia mendengar suara itu. Perlahan dia melangkah mendekat, berusaha untuk mendapat sedikit gambaran siapa yang berani mengatakan kata itu padanya begitu saja, ketika dirinya sedang dalam keadaan seperti itu.

Yang dilihatnya, dua punggung lelaki besar, mengenakan seragam Search and Rescue serta seorang polisi. Dia menunggu untuk beberapa saat, berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang di dalam. Dia tahu tidak seharusnya melakukan hal ini. Tapi rasa penasarannya terlalu besar untuk mengetahui lelaki itu.

Dan sebuah kalimat tertangkap telinganya.

“Kami menemukan jasadnya.”

Diam menyelimuti untuk beberapa saat sebelum salah satu petugas itu beralih dari tempatnya, mengambil sesuatu yang ada di meja sebelah ranjang rumah sakit, sesuatu di dalam plastik. Sooyoung menggunakan kesempatan itu untuk melihat lawan bicara lelaki-lelaki besar itu. Dan ketika matanya menangkap dua sosok yang familiar dengannya, dadanya lagi-lagi terasa sesak.

Seorang wanita dan adik lelakinya, mungkin. Wanita dan lelaki yang dia tarik dari sungai untuk menyelamatkannya sebelum hipotermia menyerang. Wanita dan lelaki yang dia percaya ada di dalam mobil yang tergelincir di depannya dan jatuh ke sungai. Dua manusia yang mendapat pertolongan pertama dari ayahnya di malam bulan Desember yang dingin.

Hampir saja dia menabrak pintu rumah sakit itu dan menghantam kepala lelaki itu dengan tangannya. Dia sudah menolongnya, ayahnya sudah menolongnya, mengorbankan nyawanya untuknya dan yang bisa dia katakan adalah bodoh untuknya. Hampir saja, hingga sebuah palu dalam imajinasinya memukul kepalanya sendiri.

Tunggu dulu. Jasadnya? Jasad siapa yang mereka temukan?

Belum selesai keterkejutan menguasai dirinya, seseorang dari dalam kamar rumah sakit itu keluar, salah satu dari petugas Search and Rescue. Lelaki besar itu menyadari keberadaan gadis lain di sekitarnya dan menaikkan salah satu alisnya.

“Ada yang kau perlukan dengan mereka?” tanyanya. Suaranya berat dan dalam, seperti milik ayahnya, hanya lebih kasar, seperti ketika radang menyerang.

Sang gadis menengadahkan kepala untuk melihat lelaki besar itu di depannya, “Jasad… siapa?” dan tak mampu lagi menahan rasa penasaran yang sudah membuncah di dadanya. Sementara petugas itu diam untuk berpikir beberapa detik sebelum menjawab dengan raut wajah penuh empati, “orang tua mereka. Those poor kids. Kuharap mereka masih memiliki keluarga yang mau merawat,” dia berhenti sebentar, seperti menyadari suatu hal, kemudian melanjutkan, “kau… kenal mereka?”

Tapi gadis itu hanya melanjutkan langkah setelah mendengar apa yang saat ini tidak ingin dia dengar sama sekali, setelah membungkukkan kepala sedikit dan mengucap sebuah gamsahamnida yang lemah.

***

Sooyoung menggenggam erat bagian bawah hanbok hitam miliknya ketika dia menyaksikan pemandangan di depannya. Ingin sekali kakinya dia bawa pada keluarga yang sedang berduka itu –pada dua orang yang dia kenal wajahnya, hanya untuk membagikan dan merasakan hal yang sama yang sedang terjadi padanya. Tidak, tidak. Dia tidak bermaksud untuk mengintip, atau apapun. Hanya ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan padanya untuk berkunjung ke rumah duka yang berada satu lantai di bawah tempatnya berada sebelumnya. Setelah dia menangkap dua sosok familiar itu berjalan lunglai di depannya.

Kedua matanya kemudian tertumbuk pada laki-laki yang kemarin ditariknya dari air. Dia tidak menangis, tidak pula menunjukkan kesedihan.

Kosong, hanya kosong.

Pandangan matanya kosong, seperti tidak ada lagi jiwa yang hidup di dalam tubuh itu. Seperti hidupnya pergi dari raganya yang masih berfungsi tepat setelah dia mendengar kalimat-kalimat mengerikan itu dari orang-orang asing di sekitarnya.

Sang gadis benar-benar ingin berlari dan menerjang laki-laki itu, menariknya ke dalam sebuah pelukan, sekali lagi, hanya untuk memberitahunya ada orang lain yang sedang merasakan hal yang sama dengannya.

Hampir saja dia benar-benar melakukan hal itu ketika matanya menangkap lagi sesuatu. Sesuatu yang benar-benar tidak diduganya akan keluar dari ujung kelopak mata lelaki itu. Sebulir, hanya sebulir dan langsung hilang ketika tangan lelaki itu dengan cepat menghapusnya, sebelum orang-orang di sekitarnya menyadari.

Setelah itu, tidak ada lagi.

Hanya kekosongan lagi yang dilihatnya.

***

Jadi… kau juga kehilangan orang tuamu hari itu?

Naega Choi Sooyoung. Aku… juga baru kehilangan kedua orang tuaku.

 

 

 

—–

[Epilogue]

END.

Author’s Note

Hope you enjoy it! Sebenernya saya pengen kasi sedikit scene pas di present day mereka… tapi entah kenapa pengen begini aja, cukup misterius, dan hanya ceritain background story Sooyoung sama Kyuhyun yang ternyata saling berhubungan satu sama lain, ternyata mereka ga hanya sekadar dua orang asing yang ketemu dalam mimpi. Hehe, semoga suka!

Advertisements

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

2 thoughts on “Sound of My Dreams [Epilogue]

  1. Sekarang paham deh, kenapa mereka bisa saling ketemu di alam bawah sadar(?)
    Feelnya dapet lah, bikin sedih :’)
    Good job and keep writing!

  2. Ya ampunnn… Ternyata mereka saat kecil sudah saling ketemu… Dan ternyata yang nolong Kyuppa dan ahra ayahnya soo eon…

    Wah ff yang benar-benar tidak bisa diprediksi… Hwaiting for writing unni-ya… Gomawoyo masih bertahan dengan KyuYoung pairing.

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s