Posted in Fantasy, Romance

Heart-beat #2

Untitled-1-horz

Title                : Heartbeat

Genre              : Fantasy, Romance, Mystery

PG                   : 16+

Length             : on writing

Main Cast         :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast       : Find it

From Author     :

Annyeong!

Cerita lama tapi baru!

Jangan kaget ya kalau genre FF-ku kali gg jauh berbeda dari yang sebelumnya. Jujur, sebenarnya aku sama sekali gg ada niat buat posting FF ini karena satu dan dua hal. Tapi karena ada permintaaan (gg mau sebut nama), jadi aku putusin buat post FF ini.

FF ini seperti yang udah aku bolang sebelumnya, lama tapi baru… Kenapa? Yah, kalian bakal tahu lah maksudku kalau mau menyempatkan baca. Kalian pasti gg akan asing dengan genre ini di awalnya, aku yakin. Tapi tenang, alurnya beda, isinya juga beda hanya genre-nya yang sama.

 

By the way, tentu saja, semua hal yang berhubungan sama nama sesuatu yang ada di FF ini adalah buatanku, kecuali tokoh dan beberapa lokasi tempatnya. Meskipun ada beberapa juga yang memang ada/real, tapi aku ubah sedikit demi kepentingan cerita.

So, happy reading ^^/

Kyuhyun POV

Mataku tidak pernah terlepas dari Choi Sooyoung yang diam dan terus memegangi dadanya. Seakan-akan dia sedang mencoba untuk merasakan sesuatu disana. Aku memilih untuk diam, menunggunya sambil terus mengamatinya. Apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu kembali terlintas di pikiranku. Bagaimana dia terlihat pucat, bagaimana dia terlihat seperti sedang kesakitan dan kemudian bagaimana dia tidak sadarkan diri. Aku tahu bahwa itu semua nyata terjadi, bukan pura-pura seperti yang terkadang dia lakukan untuk menarik perhatianku.

Sooyoung cukup lama diam, sampai pada akhirnya aku memilih untuk melanjutkan percakapan yang terhenti sesaat. “Itukah kenapa kau tadi seperti itu?” tanyaku pada akhirnya karena dia cukup lama diam. “Kau—hmm—terlihat berbeda dan aku sempat tak tahu harus melakukan apa saat melihatmu seperti itu” Aku menambahkan.

Sooyoung tidak langsung menjawab, tapi menundukkan kepalanya dan seperti itu untuk beberapa saat., lalu memejamkan mata. Aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan dan hanya bisa bertanya-tanya sendiri. “Aku seperti itu saat aku merasakan degup jantungku sendiri” katanya dengan suara yang sangat pelan.

“Kau… apa?”

“Merasakan degup jantungku,” ulang Sooyoung sambil mendongakkan kepala untuk menemui pandanganku. “Dag-dig-dug… ireohke. Itu sangat terasa olehku”

Aku menatap Sooyoung dengan lekat, memastikan apa yang dia katakan memang benar. Jujur saja, aku bahkan tak tahu jika dia bisa mengalami hal seperti yang tadi terjadi padanya. Akupun berkata, “Itu memang aneh jika kau merasakan degup jantungmu seperti itu. Kita akan cari tahu kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi padamu”

Sooyoung sempat terlihat ragu untuk langsung memberikan tanggapan. Tapi aku tetap menunggunya, sampai akhirnya diapun berkata, “Geureom, kau benar-benar mau membantuku?”

Aku cukup terkejut dengan tanggapannya itu, tapi dengan segera aku menganggukkan kepala. “Itu jika kau mau aku membantumu,” kataku memilih untuk mengalihkan pandanganku darinya. Aku menatap ke arah lain bahkan saat melanjutkan perkataanku. “Aku bisa mencari tahu identitasmu, kurasa. Selama kau punya identitas, itu bisa mudah ditemukan”

Wae? Kappjaki?” tanya Sooyoung.

Aku tak tahu harus memberikan jawaban apa untuk pertanyaan Sooyoung itu. Jujur saja, aku sendiripun tak tahu kenapa aku tiba-tiba ingin membantunya. Karena bingung, aku memilih untuk bangkit berdiri. “Geunyang—” Tanpa mengatakan apapun lagi, aku meninggalkannya sendirian di dapur.

Aku berjalan cepat ke arah kamarku, tidak menoleh ke belakang untuk memeriksa apa yang sedang Sooyoung lakukan. Aku tak tahu kenapa aku bersikap seperti itu, tapi satu hal yang pasti ada sesuatu yang lain yang aku rasakan saat aku menyentuh Sooyoung secara langsung. Seperti ada getaran aneh yang aku tidak yakin darimana dan bagaimana datangnya karena itu begitu tiba-tiba. Ini bahkan pertama kalinya setelah sekian lama aku merasa gugup saat bersama seorang yeoja-meskipun dia gwishin.

“Hye Joo-ya, naega waeirae?” gumamku setelah aku berada di dalam kamar. “Kurasa aku sangat merindukanmu, dan sangat berharap dia adalah dirimu jadi aku merasa seperti itu. Iya, ‘kan?”

Tidak ada jawaban-tentu saja.

Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku melakukannya beberapa kali sampai aku benar-benar merasa lebih tenang. Suasana begitu hening, baik di dalam kamar ataupun di luar kamar. Meskipun aku ingin tahu apa yang sekarang sedang dilakukan yeoja itu, tapi aku memilih untuk menahan diriku untuk tidak melakukannya. Bagaimana jika perasaan itu kembali padaku setelah aku berhasil meredakannya? Aku tidak mau mengkhianati Hye Joo, sungguh.

“Sedang apa?” celetuk sebuah suara tiba-tiba, diikuti dengan kemunculan sosoknya yang sedang duduk di tempat tidurku.

Aku sempat terperanjat, tapi berhasil mengendalikan diriku sendiri. “Ya! Berapa kali aku bilang untuk tidak masuk ke kamarku tanpa seijinku?”

Aigoo! Aku lupa!” serunya sambil bangkit berdiri. “Aku mendengar suara-suara disini, jadi kupikir ada yang mengganggumu. Aku hanya memeriksa saja,”

“Sekalipun ada gwishin yang menggangguku, aku bisa mengatasinya sendiri” sahutku mencoba untuk bersikap seperti aku yang biasa saat menanggapinya.

Sooyoung menyunggingkan senyum lebar ke arahku. “Oh, tentu saja. Kau ‘kan sudah seperti dukun yang bisa mengusir gwishin hanya dengan kata-kata dan sikap acuh tak acuhmu”

Aku menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa karena perkataannya itu. “Memang. Sayangnya—” kataku, mengambil jeda sesaat untuk melangkahkan kakiku mendekati Sooyoung. “—ada satu gwishin yang mencoreng reputasiku itu dimata giwishin yang lain. Ah, dia bahkan bukan gwishin

“Itu aku, ‘kan?”

Aku diam saja, tapi tidak mengalihkan pandanganku darinya.

Majayo, itu aku” kata Sooyoung lagi sambil menepuk tangannya sekali. “Aku memang ahlinya mencoreng rekor seseorang”

“Darimana kau tahu? Memangnya kau sudah ingat tentang dirimu?”

Aigoo… hanya karena perkataanku itu, kau menganggapku sudah ingat tentang siapa aku?” sahut Sooyoung terlihat terkejut. “Aku tidak ingat. Jika bukan karena kartu identitas ini, aku bahkan tidak tahu namaku. Terima kasih”

Aku mendengus kecil. “Kau ini—” kata-kataku terhenti karena aku tak tahu apa yang harus aku katakan selanjutnya. Tapi melihat ekspresi di wajah Sooyoung, dia seperti sedang menunggu apa yang akan aku katakan. “—benar-benar menjengkelkan dari awal kau mengikutiku” Pada akhirnya itu yang aku katakan meskipun sebenarnya bukan itu.

“Tidak, tidak. Aku tidak begitu,” Sooyoung tidak menerima pernyataan dariku itu. Dia bahkan beranjak dari tempatnya dan menghampiriku yang memang memilih untuk duduk di kursi di dekat tempat tidur. “Aku hanya senang mencari perhatianmu karena kau satu-satunya yang bisa melihatku, bisa berbicara denganku dan menanggapiku” Dia melanjutkan sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.

Aku kembali menahan diriku untuk tidak bereaksi apapun dengan apa yang dia lakukan meskipun sebenarnya ada sedikit rasa gugup karena tubuhnya sedekat ini denganku. Satu-satunya yeoja yang bisa membuatku merasakan seperti ini adalah Hye Joo, dan itu sudah cukup lama sejak terakhir aku merasakannya. Hanya karena aku bersentuhan langsung dengannya untuk pertama kalinya, tidak mungkin aku mulai merasakan sesuatu pada gwishin ini, ‘kan?

Waeyo? Kenapa kau terlihat kaku dan tegang?” celetuk Sooyoung tiba-tiba sambil menatapku dengan lekat. Ekspresinya terlihat bingung dan tidak percaya.

“Oh?”

“Kau bahkan terus menggelengkan-gelengkan kepalamu, ireohke” Dia melakukan gerakan menggelengkan kepala. “Apa lehermu sakit atau apa kau—”

“Bukan apa-apa,” Aku segera memotong perkatannya. “Menjauhlah dariku. Kau membuat suasana disekitarku menjadi dingin”

“Itu karena AC, bukan aku” sahut Sooyoung ketus, tapi dia tetap menjauhkan tubuhnya dariku. “Kau ini… aku sudah mencoba untuk bersikap lebih baik, tapi kau tetap menyebalkan. Aku ragu kau benar-benar akan membantuku dengan sikapmu ini”

Aku diam saja.

“Aku pergi saja. Kau mungkin akan selalu menyalahkanku jika aku terus—”

“Makananmu sudah habis?” Aku menyela perkataanya tapi tidak menatapnya saat mengatakannya. Meskipun begitu, aku bisa merasakan matanya terarah padaku sepenuhnya. “Aku bertanya padamu, apa kau sudah menghabiskan makananmu?” ulangku.

E—eo. Aku sudah memakan semuanya”

“Geureom, dwaesseo”

“Kau ingin aku pergi sekarang?”

Aku menggelengkan kepala, lalu dengan cepat mengangguk, lalu menggelengkan kepala lagi.

“Mwoya—”

Aku mendongak ke arahnya—pada akhirnya, dan dia terlihat bingung sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menutupi kartu identitas yang tergantung di lehernya seperti kalung.

“Kau tidak biasa hari ini,” komentarnya kemudian. “Mungkin aku hanya sedang bermimpi sekarang bahwa kau bersikap baik padaku, mengijinkanku untuk memakai kamarmu-sebentar, membelikanku makanan, menawariku bantuan dan tidak mengumpat untuk mengusirku. Geurae, geurae, ini hanya mimpi. Aku akan bangun, dan kau akan bersikap seperti biasanya lagi padaku. Seperti dukun pengusir hantu” Dia berkata tidak pada siapa-siapa tapi aku sangat jelas mendengarnya, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa kali ini.

“Kau tidak bisa tahu kau sedang bermimpi atau tidak,” kataku menanggapi pada akhirnya. “Aku benar, ‘kan?”

Sooyoung menatapku, lalu dia menerawang sebentar dan kembali menatapku. “Ah, benar! Aku yeonghon! Mana mungkin aku bisa tahu ini mimpi atau bukan. Kau benar-benar pintar, oppa!

Aku mencelos, “Oh? Apa katamu?”

“Apa?”

“Tadi kau memanggilku apa?”

Dia diam sesaat dan terlihat sedang berpikir atau mengingat apa yang baru saja dia katakan. “Oppa?” katanya kemudian.

Aku mengangguk singkat dan hanya memberikan pandangan ingin tahu kenapa dia tiba-tiba memanggilku dengan sebutan itu sekarang.

Wae? Apa itu salah?” seru Sooyoung yang sepertinya mengerti arti pandanganku padanya. “Aku memang di bawah usiamu, ‘kan? Jadi sudah seharusnya aku emanggilmu begitu. Lagipula itu semakin tidak nyaman untuk memanggilmu dengan nama atau ‘Ya!’ atau apapun selain ‘oppa’. Mudah dan singkat” jelasnya acuh tak acuh.

“Tapi—” Aku mencoba menjelaskan padanya, “—bukankah kita belum terlalu dekat untuk kau memanggilku seperti itu? Terlepas dari kau memang lebih muda dariku atau tidak”

Sooyoung menghela napas, “Geureom, kau mau aku memanggilmu ahjussi? Aimyeon harabeoji?

Aku menatap tajam padanya, lalu tertawa kecil tanpa memberikan tanggapan apa-apa.

“Sudah diputuskan, kalau begitu. Tidak ada perdebatan lagi bagaimana aku akan memanggilmu, atau kau akan memanggilku. Kau boleh memanggil namaku, hanya namaku tanpa sebutan apapun”

“Maksudmu… gwishin? Cheonyo gwishin? Yeonghon?”

Dia kembali menghela napas, tapi kali ini diikuti dengan anggukan kepalanya. “Katamu kau akan membantuku, ‘kan?”

“Memang. Wae? Shirreo?”

“Eotteoke?”

“Kau sudah bertanya padaku bagaimana. Haruskah aku mengulangi apa yang aku katakan sebelumnya padamu di luar kamar ini?”

“Bukan itu maksudku,” sahut Sooyoung dengan cepat. “Apa yang akan kau lakukan pertama jika kau ingin membantuku. Memeriksa namaku benar-benar ada atau bagaimana?”

Aku berpikir sesaat, ragu untuk memberitahunya atau tidak tentang apa yang sudah aku lakukan untuknya sebelumnya meskipun itu hanya untuk memastikan memamang ada identitas yeoja ini di daftar kependudukan. “Aku sudah memeriksanya,” kataku dengan pelan-pada akhirnya.

“Mwo?”

“Aku sudah memeriksa namamu, sebenarnya” Aku mengulang apa yang aku katakan. “Kau—hmmm—” Aku bingung bagaimana untuk mengatakannya karena jujur saja aku tak tahu reaksinya jika tahu aku sudah melakukan ini tanpa ijin dan tanpa sepengetahuannya.

“Apa?” celetuk Sooyoung terdengar tidak sabar. “Apa yang kau temukan dengan namaku?”

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Tidak ada,” katanya sambil menunggu reaksinya, tapi dia hanya menatapku dengan bingung.

“Apanya yang tidak ada?”

“Tidak ada informasi apapun tentangmu, seperti kau tidak pernah ada di negara ini atau bahkan dunia ini”

Maldo andwae!” sahutnya. “Orang yang sudah matipun, masih memiliki identitas mereka. Bagaimana mungkin?”

Geurissae” kataku tanpa mengalihkan pandangan darinya. “Mungkin ada seseorang yang sengaja menghapus atau menyembunyikan identitasmu. Seseorang yang memiliki kekuasaan untuk melakukannya”

Sooyoung diam saja.

“Kau tidak punya musuh atau seseorang yang sangat membencimu yang bisa melakukan segalanya untuk menghancurkanmu, ‘kan?”

“Aku tidak tahu,” jawab Sooyoung. Pandangannya kosong, dan itu membuatku sedikit khawatir-entah bagaimana.

“Gwenchana?”

“Em, geunyang—”

Aku tidak mengatakan apa-apa, dan membiarkannya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Bisa saja dia sedang mengingat kemungkinan orang yang bisa melakukan semua itu padanya, ‘kan? Meskipun begitu, aku tidak pernah melepas perhatianku darinya, dan aku sedikit-mulai terbiasa, dengan getaran-getaran kecil yang mulai aku rasakan. Karena semakin aku mengabaikannya atau mengelaknya, getaran itu justru akan semakin kuat dan aku khawatir jika aku tidak bisa mengendalikannya. Apapun penyebabnya.

__

Sooyoung POV

-12 hari sebelum insiden-

SHIN HYE JOO: THE GREATEST, IN MEMOIR

Mataku tak pernah lepas dari potongan artikel dan sebuah flashdisk yang ada disampingnya sejak lebih dari satu jam yang lalu. Aku masih tidak percaya bahwa pertemuanku malam itu-sekitar dua hari yang lalu, adalah malam pertama dan malam terakhir aku bertemu dengan seorang pianis terkenal yang menitipkan sesuatu padaku, seseorang yang bahkan tidak dia kenal. Jujur saja, sejak dia memberikanku flashdisk itu, aku sama sekali belum membuka isinya karena aku bukanlah tipe orang yang sangat ingin tahu urusan orang lain diluar pekerjaanku sebagai seorang reporter. Aku bahkan tak tahu kenapa aku pada akhirnya bekerja di bidang jurnalis karena mencampuri masalah orang itu benar-benar tidak aku sukai—jujur saja.

Aku menghela napas panjang, mengingat malam natal saat aku mengikutinya dan diam-diam mengambil fotonya saat dia sedang menghabiskan waktunya bersama namjachingu-nya. Siapa yang akan tahu jika malam itu juga akan menjadi malam terakhir mereka bersama? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada namjachingu-nya itu, Cho Kyuhyun, dan juga namja yang sempat bertengkar dengannya di restoran.

Kematian memang suatu kepastian yang selalu menjadi misteri. Karena semua manusia akan menghadapinya, cepat atau lambat. Siap atau tidak siap. Dan Shin Hye Joo sudah menghadapinya di usianya yang masih sangat muda. Patut disayangkan, memang, tapi itulah takdir.

“Apa yang sedang kau baca?” tanya Miyoung yang masuk ke dalam apartemenku tanpa aku mendengarnya karena terlalu sibuk memikirkan apa yang terjadi padaku dua hari yang lalu. Dia menghampiriku dan dengan cepat melihat artikel di depanku, “Oh, itu—” komentarnya kemudian.

“Kau tidak mengirim apapun dari foto yang aku berikan padamu, ‘kan?” tanyaku memastikan sekali lagi meskipun dia sudah memberitahuku sebelumnya.

“Tidak. Aku masih belum mengirimkan apapun,”

“Kau benar-benar keterlaluan jika sampai kau melakukannya, dan mungkin aku tidak akan menganggapmu sebagai temanku lagi

Aigoo… arraseo, arraseo” sahut Miyoung sambil menepuk-nepuk bahuku. “Biar bagaimanapun, aku masih punya hati nurani”

“Itu bagus jika kau memang masih memilikinya,”

Miyoung tidak menanggapiku, tapi dia memilih untuk duduk du sebelahku. “Berita yang mengejutkan, ‘kan? Kematian pianis berbakat dan terkenal itu,” katanya mengalihkan pembicaraan dengan tiba-tiba.

Eo. Tidak hanya negara kita yang kehilangan, sepertinya, tapi juga dunia” jawabku menanggapi perkataan Miyoung. “Bagaimana tidak? Dia sedang dalam masa keemasannya. Dia sangat sukses di dunia, memiliki namjachingu seorang penerus perusahaan besar. Itu sebuah pencapaian yang besar untuk seseorang yang masih muda sepertinya,”

Maja. Dia banyak membuat yeoja-yeoja seusianya iri padanya meskipun itu masih sekedar rumor tentang dia berkencan dengan Cho Kyuhyun itu,”

Aku diam saja.

Ah, coba saja aku bisa mengeluarkan apa yang berhasil kau dapatkan untukku. Itu akan menjadi sebuah ledakan besar. Tidak hanya untuk dunia musik, tapi juga dunia bisnis dan juga karirku”

Aku menepuk bahunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Arra, gokchongma” seru Miyoung terlihat ada raut kekecewaan di wajahnya. “Aku hanya membayangkan jika semua itu tidak terjadi pada Shin Hye Joo,”

“Jangan membayangkan. Kau hanya akan menerima kekecewaan pada akhirnya” sahutku sambil menatap ke arah flashdisk milik Shin Hye Joo. Jujur saja, aku juga membayangkan jika seandainya dia tidak mengalami kecelakaan itu. Mungkin sekarang aku tidak merasa ada beban di pundakku, seperti sekarang.

“Omong-omong, apa itu?” tanya Miyoung kemudian sambil menunjuk ke arah flashdisk di depanku. “Pekerjaan baru?”

Geurissae… Aku tidak yakin apa menyebutnya sebagai pekerjaan atau bukan,” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kedua benda yang ada di hadapanku sejak tadi. “Lagipula ini bukan milikku. Aku hanya menyimpannya saja sampai—” Aku tidak melanjutkan kata-kataku karena aku sendiripun tak tahu sampai kapan aku menyimpannya karena pemiliknya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Bukan milikmu… lalu milik Shi Woo oppa?”

Ani, bukan miliknya”

“Kim sunbae?”

Aku menggelengkan kepala.

“Ah, benar! Handphone! Kau sudah membeli yang baru?” seru Miyoung seperti teringat sesuatu yang dia lupakan melihat dari caranya berbicara. “Bagaimana mungkin kau lupa meletakkan ponselmu sampai dua hari? Kau mengalami gejala dimensia atau apa—”

“Aku akan segera membeli yang baru karena ponselku yang lama tidak akan kembali padaku” kataku teringat pada nasib ponselku di tangan Shin Hye Joo. Aku menghela napas panjang, “Ini benar-benar mengejutkan dan diluar dugaan,”

“Apa yang mengejutkan dan di luar dugaan?”

Aku memijat-mijat pelipisku, “Semuanya—” jawabku sekali lagi menatap foto Shin Hye Joo di artikel dan flashdisk di sebelahnya. “Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang,”

**

-Seoul, hari ini-

“Itu aneh ‘kan, eonni, karena tidak ada informasi apapun tentang aku” kataku stelah menceritakan tentang apa yang Cho Kyuhyun katakan padaku ke salah satu gwishin yang beberapa kali membantuku mencari informasi tentang diriku sebelum aku mengikuti namja itu pada akhirnya. “Bahkan orang yang sudah tiada pun masih memiliki informasi tentangnya, ‘kan? Kenapa aku tidak?”

Gwishin ini, Chae Bo Yeon, menganggukkan kepalanya. “Itu memang aneh,” komentarnya kemudian sambil mengusap-usap dagunya.

Aku menatap yeoja berambut panjang sebahu di depanku yang wajahnya cantik jika tidak ada darah disekitar dahinya. Maklum saja, dia memang meninggal karena tertabrak sebuah truk tidak jauh dari sini dan sudah berkeliaran di kawasan ini selama lebih dari lima tahun. Meskipun begitu, dia tahu dan ingat tentang siapa dirinya. Bahkan sekali aku pernah melihat salah satu keluarganya datang ke tempat dimana terjadi tabrak lari itu untuk memberikan penghormatan di upacara peringatan kematiannya.

“Apa kau masih belum ingat apapun?” tanyanya kemudian setelah kami sama-sama diam untuk beberapa saat. “Tidak ada yang bisa kau ingat bahkan setelah kau mengikuti CEO tampan itu?”

“Masih belum ada apapun kecuali kilasan-kilasan tidak jelas dan dua cahaya yang menyilaukan mata. Itu yang terakhir,”

“Paling tidak kau tahu bahwa kau masih hidup, ‘kan?”

“Memang, tapi jika seperti ini lebih baik aku mati saja jika memang dengan kematian aku tahu tentang siapa diriku”

“Jangan berkata seperti itu, Sooyoung-ah. Mungkin kau akan menyesalinya jika kau sudah sepertiku,” sahut Bo Yeon menatapku dengan lekat. “Kau pasti akan menemukan informasi tentang dirimu. Lagipula, bukankah katamu namja itu akan membantumu?”

Eo. Katanya begitu, tapi entah kenapa aku tidak begitu yakin. Selama ini dia selalu bersikap dingin padaku, tak pernah menganggapku ada, mengabaikanku dan sebagainya. Itulah kenapa aku tidak begitu berharap padanya, jujur saja”

Chae Bo Yeon tertawa kecil, “Kau tak pernah tahu tentang namja, ‘kan?”

“Tentu saja aku tahu,”

“Tapi bukan itu maksudku,” sahut Bo Yeon seakan bisa membaca isi pikiranku. “Akan sulit menjelaskannya padamu. Lebih baik kau tahu sendiri melihat dari sikap namja tampan itu padamu” katanya masih tersenyum menggodaku.

“Apa maksudmu, eonni?”

“Dengar, kau bercerita padaku bahwa dia bersikap dingin padamu, mengabaikanmu dan sebagainya itu, tapi yang sebenarnya dia bermaksud untuk membantumu,” Bo Yeon menjelaskan padaku. “Dia tidak menyukaimu, selalu mengusirmu tapi tetap saja dia masih membiarkanmu mengikutimu dan berada di sekitarmu. Itu maksudku,”

“Itu karena dia plin-plan. Itu sudah menjadi sifatnya begtu,”

Jinjja? Entah kenapa aku tidak yakin,” sahut Bo Yeon. “Menurutmu, dia sebenarnya peduli padamu. Dia ingin membantumu tapi dia tidak tahu caranya bagaimana, jadi dia memilih untuk bersikap dingin padamu. Aku juga mendengar dari beberapa gwishin yang pernah melihat seseorang beberapa kali membantu gwishin lainnya. Kau tahu, seseorang seperti CEO tampan itu,”

Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan selain hanya sebuah senyuman kecil. Aku memilih untuk lebih memikirkan tentang keadaanku sekarang. Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini? Tanpa ingatan sekecil apapun tentang aku ataupun keluargaku atau bahkan seorang teman.

“Tidak perlu bersedih seperti itu,” celetuk Bo Yeon sambil menepuk bahuku dengan ringan. “Sedikit demi sedikit, kau akan ingat siapa dirimu. Perlu waktu memang, tapi aku yakin kau pasti akan menemui jalan terbaik untuk dirimu”

“Sekalipun jalan itu berarti aku menjadi sepertimu?”

Bo Yeon diam sesaat, tapi kemudian dia menganggukkan kepala. “Selama tidak ada urusanmu yang tertinggal, kau bisa langsung pergi. Tidak sepertiku yang masih terus ada disini,”

“Pergi? Kemana?”

Geurissae…” jawabnya. “Tidak ada yang tahu, ‘kan?”

Kali ini, aku yang mengangguk. “Gomawo, eonni. Kau selama ini sudah mau membantuku, mendengarkan ceritaku dan keluh kesahku,”

“Tidak perlu berterima kasih padaku karena akupun tidak selalu ada untukmu,” balasnya. “Kau seharusnya berterima kasih pada namja itu karena dia yang selalu menemanimu, ‘kan? Meskipun katamu dia bersikap sangat dingin padamu, tapi dia tetap membantumu mencarikan informasi tentangmu. Diam-diam,”

“Aku? Berterima kasih padanya?” sahutku dengan cepat. “Dia akan menjadi besar kepala yang ada,”

“Meskipun begitu, kau tetap kembali padanya ‘kan? Kenapa?”

“Aku tak tahu,” kataku. “Kenapa aku terus kembali padanya, aku tak tahu. Itu hanya terasa seperti ada sesuatu yang menarikku ke sana, ke dia. Itu terasa seperti… rumah,”

“Mungkin sebelumnya kau pernah berhubungan dengannya?” tanya Bo Yeon sambil menaikkan satu alisnya.

“Mungkin saja. Biar bagaimanapun, aku reporter bisnis dan dia pebisnis,” Aku menunjukkan kartu identitasku pada gwishin di depanku ini. “Mungkin aku pernah menulis artikel tentangnya jadi aku merasa sudah mengenalnya atau mungkin juga tidak. Aku tidak tahu dan aku tidak ingat”

“Kemungkinan itu banyak,”

Aku mendesah panjang, “Ini benar-benar membuat frustasi. Bermain teka-teki, tapi tidak ada satu petunjuk pun untuk aku selesaikan—”

“Dan teka-teki itu terasa sangat nyata. Maja?

“E—Eo, maja,”

Gwenchana, gwenchana, semuanya akan berakhir baik pada akhirnya,” kata Chae Bo Yeon mencoba untuk menenangkan suasana. “Omong-omong, kenapa kau hari ini tidak mengikutinya seperti yang biasanya kau lakukan?” Dia mulai untuk menggodaku lagi.

“Dia sedang meeting, dan mengancamku jika sampai aku muncul di depannya dan mengganggu konsentrasinya”

“Lalu kau mengikuti perkataannya?”

“Tidak ada pilihan lain, ‘kan? Lagipula aku melihatmu sedang berkeliaran disini, jadi aku menghampirimu saja daripada harus mengikutinya tapi tidak bisa melakukan apapun”

Bo Yeon tertawa, lalu dia bangkit berdiri. “Mau ikut aku?”

“Eodi?”

“Geunyang—

“Tidak,” jawabku segera karena aku tahu dia hanya akan berkeliaran tanpa tujuan. “Lebih baik aku pergi ke perusahaan-perusahaan atau ke stasiun-stasiun TV. Siapa tahu aku menemukan namaku disana atau apapun yang berhubungan denganku”

Geurae. Mungkin kau juga bisa ingat sesuatu jika kau pergi mengunjunginya”

Aku mengangguk singkat, “Geureom. Annyeong, eonni”

Annyeong, Choi Sooyoung”

__

Kyuhyun POV

Aku keluar dari kamar, menyeret kedua kakiku dengan malas menuju dapur. Ini sudah hampir tengah malam. Aku tidak tahu kenapa belakangan ini aku sangat kesulitan untuk tidur. Langit yang kelihatan dari dinding kaca terlihat terang dan penuh bintang, dan memang mengundang siapapun untuk menghabiskan waktu di luar rumah meskipun hanya sebentar untuk menikmati keindahannya.

Aku membuka lemari es, tapi gerakanku terhenti saat sudut mataku menangkap sosok yang sudah sangat familier di halaman belakang dari dinding kaca transparan yang langsung memperlihatan bagian belakang rumah.

“Apa yang dia lakukan malam-malam begini di luar sana?” tanyaku pada diriku sendiri saat melihat Sooyoung sendirian duduk di sana.

Aku mengambil satu kotak susu pisang dan sekaleng kopi dingin dari dalam lemari es, lalu memutuskan untuk menghampiri gwishin itu meskipun aku tak tahu apa yang akan aku lakukan disana.

Sooyoung terlihat sedang duduk di pinggir kolam renang, menenggelamkan kakinya ke dalam air. Kedua tangannya di tarik ke belakang, digunakan sebagai tumpuan tubuhnya. Wajahnya menengadah ke atas dengan sepasang mata yang terpejam.

“Aku tahu gwishin memang tidak pernah tidur, tapi apa yang sedang kau lakukan disini?” kataku mengambil tempat di sebelah Choi Sooyoung, mengulurkan minuman yang aku bawa di tanganku. “Susu? Atau kopi?”

Sooyoung membuka matanya, lalu mengambil kopi di tanganku. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia terganggu dengan kedatanganku. Dia membuka kaleng kopinya, lalu meneguknya sekali dan kemudian mendesah lega.

Aku mengamatinya sesaat, sebelum menyesap susu pisangnya. Aku berinisiatif untuk ikut menenggelamkan kakiku ke dalam air seperti yang dilakukan olehnya, tapi baru sebentar ujung kakiku menyentuh air, aku sudah tidak tahan dan cepat-cepat menarik kembali kakiku karena airnya sangat dingin.

Sooyoung menangkap apa yang aku lakukan, dan dia tertawa kecil. “Dingin. Majayo?”

Eo,

“Kenapa kau belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur,” jawabku sambil menyesap kembali susu pisangnya. “Belakang ini aku memiliki masalah itu, jujur saja”

“Sejak kau kehilangan yeojachingu-mu?”

Aku menoleh ke arahnya dengan cepat lalu menatapnya tajam.  Tidak mau mengelak apa yang dia katakan, akupun menganggukkan kepala. “Kurasa begitu,”

“Mau aku bantu menemukan solusinya?”

Aku mendengus, “Apa yang bisa kau lakukan?”

“Aku bisa menceritakan sesuatu padamu sampai kau tertidur. Biasanya itu membantu untuk beberapa orang,”

“Dan kau pikir itu bisa membantuku tidur?”

Sooyoung mengangkat bahu. “Siapa tahu?” katanya. “Kau mau mencobanya?”

Aku diam dan berpikir, tidak tahu apa harus menerima idenya itu atau tidak. Bukankah ide-ide gwishin itu selalu tidak masuk akal? Tapi apa salahnya sesekali mencobanya? Kupikir itu juga tidak terdengar tidak masuk akal atau berbahaya. Mungkin saja ide-nya itu benar-benar bisa membantuku untuk tidur, ‘kan?

Eotte? Mau mencobanya?” ulangnya karena aku diam saja.

“Cerita apa yang kau punya?”

Sooyoung menerawang sesaat, lalu ada sebuah senyum kecil di wajahnya. “Kau tahu, saat aku masih kecil aku selalu suka dongeng-dongeng klasik seperti Tiga Pria Kecil di Hutan, Ratu Lebah, Jorinda dan Joringel dan sebagainya. Aku bahkan pernah punya satu buku yang berisi kumpulan dongeng yang—” Dia tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan melamun untuk sesaat.

“Kau ingat masa kecilmu,” celetukku mengerti apa yang terjadi padanya. Meskipun dia tidak memberikan tanggapan apapun, tapi aku tahu apa yang aku katakan itu benar karena itu jelas terlihat di wajahnya. Aku menghela napas singkat, lalu melanjutkan perkataanku. “Kalau begitu, lakukanlah”

Ne?”

“Ceritakan dongeng-dongeng yang pernah kau baca itu, dengan begitu kau mungkin bisa mengingat masa kecilmu. Sedikit demi sedikit? Bagaimana?”

Sooyoung menatapku.

Tanpa mengatakan apapun padanya, aku meletakkan susu kotak di sampingku lalu bangkit berdiri. “Aku akan menunggumu di kamarku dengan ceritamu,” kataku.

Aku tidak menunggu jawabannya dan memilih untuk pergi meninggalkannya, dan kembali ke kamarku. Aku tahu dia masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Entah itu hanya kebetulan atau memang dia tidak sengaja, tapi itu pasti mengejutkan saat ingatannya tiba-tiba muncul tanpa di sadari. Akupun akan sama terkejutnya. Itulah kenapa aku bisa mengerti jika dia tidak memberikan tanggapan apapun pada ucapanku. Meskipun aku akan menunggunya, itu juga tidak masalah jika seandainya dia tidak datang dengan cerita yang dia katakan tadi.

“Kau seharusnya menjadi gwishin atau yeonghon sepertimu, jadi kau tidak perlu berjalan,” ucap Sooyoung begitu aku membuka pintu kamarku. Aku terlonjak kaget karena dia berdiri tepat di balik pintu kamarku. “Lihat, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk berjalan dari taman belakang ke kamarmu ini?”

“Bisakah kau tidak selalu mengejutkanku saat kau muncul begitu saja?” protesku mengabaikan perkataannya. “Dan, aku tidak mau menjadi gwishin atau yeonghon sepertimu”

“Memangnya aku mau?”

Aku mengangkat bahu. “Apa cerita yang kau punya, kalau begitu?” tanyaku sambil melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan menaikinya. “Apapun yang terlintas di kepalamu,”

The Golden Bird,” celetuk Sooyoung. Dia mengambil tempat di ujung tempat tidurku, tapi menghadap ke arah jendela. Sementara aku duduk bersandar di sisi lain tempat tidur. “Aku tidak yakin dengan apa yang aku ceritakan, jujur saja, karena kau tahu—itu bagian dari masa kecilku jadi yah—”

“Perlahan,” sahutku, mengerti dengan keadaan Sooyoung. Aku juga tidak akan memaksanya jika memang dia tidak bisa ingat atau tahu ceritanya. “Anggap saja itu sebagai proses untuk mengingat kembali apa yang terlupa dari dirimu, dan aku akan mendengarmu”

Sooyoung kembali menatapku dengan cara yang sama, dan itu membuatku merasakan getaran kecil itu lagi yang kali ini menurun sampai ke tulang punggungku. Aku berusaha untuk bersikap biasa dan tidak menunjukkan sikap apapun di depan yeoja gwishin ini. Lagipula aku tidak mau ada hubungan apapun yang terjadi diantara aku dan dia sekalipun dia bukan gwishin seperti apa yang dia katakan padaku sebelumnya. Aku masih sedikit trauma jika harus merasakan perasaan seperti itu lagi—jujur saja.

“Pada jaman dahulu, di masa keemasan, ada seorang Raja yang memiliki sebuah taman yang indah di belakang istananya, yang mana ada sebuah pohon yang menghasilkan Apel Emas,” Sooyoung memulai ceritanya dan aku mendengarkan dengan baik. “Saat apel-apel itu matang mereka menghitungnya, tapi di satu pagi hari, satu apel hilang. Ini diberitahukan pada Raja, dan dia memerintahkan seorang pengawas yang ditugaskan untuk menjaga pohon itu setiap malam di bawah pohon”

Aku merasa sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya, tapi aku memilih untuk tidak memberikan komentar apa-apa. Aku membiarkan saja Sooyoung bercerita agar dia juga bisa mengingat masa kecilnya.

“Raja memiliki tiga putra, yang tertualah yang dia kirim, dan secepat malam datang, dia menjaga taman. Tapi saat itu tengah malam, dia tidak bisa menjaga dirinya untuk tetap terjaga, dan di pagi berikutnya, lagi satu buah apel hilang,”

“Di malam berikutnya, anak kedua yang menjaganya. Dia tidak lebih baik darinya. Secepat jam dua belas malam datang, dia tertidur, dan di pagi hari satu buah apel hilang,”

Aku tersenyum tipis, terkesan dengan cara Sooyoung membawakan cerita dari masa kecilnya itu. Dia begitu lancar menceritakannya, dan aku harap itu benar-benar bisa membantunya—cerita-cerita ini.

“Sekarang, datang waktunya anak ketiga yang menjaganya. Dia cukup siap, tapi Raja tidak memiliki banyak kepercayaan padanya, dan berpikir dia tidak akan jauh berbeda dengan kakak-kakaknya. Tapi pada akhirnya dia membiarkannya pergi,” Sooyoung melanjutkan tanpa menoleh ke arahku karena dia terus menatap ke luar jendela. Dia bahkan tidak tahu aku terus menatapnya atau terkadang tersenyum kecil tanpa aku tahu alasannya. Itu melegakan karena dia sama sekali tidak memperhatikannya. Dia kembali berbicara, “Anak muda itu berbaring di bawah pohon, tapi terus terjaga, dan tidak membiarkan tidur menguasainya. Saat itu jam dua belas malam, sesuatu berdesir di udara, dan dalam sinar bulan dia melihat seekor burung datang yang mana bulu-bulunya bersinar dengan keemasan. Burung itu terbang menurun dan hinggap di pohon, dan mengambil satu buah apel. Burung itu melayang terbang, tapi panaah telah melekat ke bulunya, dan salah satu bulu emasnya jatuh”

Aku mengubah posisiku, dan sedikit memejamkan mata saat aku pikir Sooyoung akan menolehkan kepalanya ke arahku.

“Anak itu mengambilnya, dan di pagi berikutnya dia membawanya ke Raja dan memberitahunya apa yang dia lihat di malam hari,” Suara Sooyoung kembali terdengar setelah beberapa saat. “Raja memanggil dewannya, dan masing-masing menyatakan bahwa sebuah bulu seperti ini berharga lebih dari seluruh kerajaan, dan—”

Sooyoung menghentikan kata-katanya, dan mau tak mau akupun membuka mata. Dia duduk diam sambil menundukkan kepalanya. Membuatku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya tiba-tiba. “Wae? Tidak bisa melanjutkan?”

Eo, mianhae—”

Aniya, gwenchana” kataku menenangkan. “Mau aku yang melanjutkan?”

Sooyoung menoleh ke arahku dengan cepat, “Oh? Geureom, kau tahu cerita itu?”

Aku tersenyum tipis, “Jujur saja, aku tahu” kataku. Aku berdehem pelan, lalu melanjutkan cerita Sooyoung itu. “Ketiga putra raja itu menawarkan diri untuk mencari Burung Emas itu, The Golden Bird. Ketiganya bertemu seekor Rubah, yang mana memberikan sebuah pilihan pada mereka masing-masing tentang dua buah penginapan di sebuah desa. Satu penginapan dengan tarian, nyanyian dan kesenangan, sementara penginapan yang lain itu lusuh, kotor, dan miskin”

Sooyoung terlihat terkejut karena aku melanjutkan ceritanya.

Aku mengabaikan itu, “Kedua putra tertua raja itu lebih memilih untuk pergi ke penginapan yang bagus dan pada akhirnya melupakan tugas yang diberikan pada mereka. Tapi tidak tidak bagi putra termuda Raja. Dia lebih memilih penginapan yang miskin itu, dan mengejutkan, Rubah yang memberikan pilihan padanya ternyata ada di penginapan itu. Pada akhirnya Rubah itu memberikan petunjuk lainnya untuk dia bisa bertemu dengan Burung Emas itu—”

’Pergilah lurus ke depan. Pada akhirnya kau akan datang ke sebuah kastil, di depan yang mana seluruh resimen tentara berbaris, tapi jangan membuat dirimu sendiri bermasalah dengan mereka, untuk mereka semua akan tidur dan mendengkur’

Aku menaikkan alisku karena Sooyoung menyela perkataanku, tapi tersenyum tipis setelahnya. “Kau bisa melanjutkan, dan biarkan aku tidur” kataku.

Sooyoung mengangguk. Untuk beberapa saat, dia diam tapi aku tetap menunggunya. “’Pergilah melalui mereka di tengah-tengahnya langsung ke kastil. Pergi melalui semua ruangan, sampai pada akhirnya kau akan datang ke sebuah kamar dimana seekor Burung Emas tergantung di sebuah sangkar kayu. Di dekatnya, berdiri sebuah sangkar emas kosong untuk pertunjukkan. Hati-hati mengeluarkan burung itu dari yang jelek dan memindahkannya ke yang bagus, atau itu mungkin akan menjadi buruk untukmu.’

Aku kembali memejamkan mataku, mencoba untuk tidur dengan suara Sooyoung sebagai pengantar tidurnya.

“Putra Raja itu—” Sooyoung mengambil jeda sesaat, dan aku baru akan membuka mataku lagi sebelum dia melanjutkan, “—menemukan semua yang Rubah itu katakan dan melakukan apa yang dia perintahkan. Tapi sayangnya, saat dia memindahkan burung emas itu, burung itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah tangisan yang nyaring dan itu membangunkan semua tentara. Dia ditempatkan di sebuah penjara karena itu, dan menghadapi sebuah pengadilan di pagi harinya”

Matamu mulai berat, jujur saja, tapi aku mencoba untuk terus mendengarkan cerita Sooyoung karena—entah bagaimana, aku mulai menikmatinya.

“Anak itu mengakui segalanya, dan dia dihukum mati oleh Raja kerajaan itu. Tapi raja itu memberikan kesempatan pada anak itu dengan satu syarat—yaitu, jika dia bisa membawakannya Kuda Emas yang mana berlari lebih cepat daripada angin. Maka dia akan menerima sebuah hadiah, seekor Burung Emas. Anak raja itupun dilepaskan, tapi dia mendesah dan bersedih, untuk bagaimana dia menemukan Kuda Emas?”

Suara Sooyoung benar-benar menguasaiku sekarang, dan tanpa aku sadari rasa kantuk mulai datang padaku. Awalnya itu sama sekali tidak terasa sampai akhirnya mataku benar-benar terpejam dan aku tak bisa lagi mendengar suaranya yang menceritakan tentang petualangan seorang anak raja yang mencari seekor Burung Emas itu.

__

Sooyoung POV

H-7 sebelum insiden

Aku tidak percaya jika aku ditugaskan untuk menghadiri sebuah konferensi pers yang diadakan oleh Choyoung Group sebagai wakil dari perusahaanku bersama salah satu rekanku, Kim Shi Woo. Saat perusahaanku mendapatkan undangan itu, aku sudah berharap ketua tim Park tidak akan menunjukku untuk pergi, tapi harapanku sia-sia. Aku pergi karena aku pernah melakukan riset tentang Choyoung Group dan bahkan melakukan interview dengan presidennya beberapa bulan yang lalu. Aku tidak bisa menolak tugas itu dengan alasan apapun karena biar bagaimanapun, Choyoung Group masuk ke dalam wilayah kerjaku selama ini jadi mau tak mau aku harus menerimanya terlepas dari apa yang sudah aku lakukan pada penerusnya saat malam natal.

Aku hanya berharap dia sama sekali tidak ingat padaku, Cho Kyuhyun itu.

“Kau terlihat tegang,” celetuk Shi Woo yang sedari tadi hanya diam sambil fokus untuk mengemudikan mobilnya. “Sedang ada masalah? Park timjangnim memarahimu lagi?”

“Ada masalah, memang. Tapi itu bukan Park timjangnim” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk menyingkirkan kilasan-kilasan kejadian beberapa hari yang lalu, khususnya di malam natal. “Masalah lain yang terus mengganggu pikiranku sejak malam natal”

“Dan apa itu?”

“Sulit untuk memberitahukannya, sunbae” jawabku, menghela napas panjang. “Aku bahkan tak tahu bagaimana untuk menyelesaikan masalah itu, jadi aku hanya membiarkannya saja dan berharap aku akan terlepas dari masalah itu dengan sendirinya,”

“Masalah tidak akan menghilang dengan sendirinya jika kau tidak berusaha untuk menyelesaikannya,” kata Shi Woo yang sesekali menoleh ke arahku di sela-sela mengemudinya. “Seberat apapun itu, lebih baik kau menghadapinya dan menyelesaikannya semampumu. Itulah bagaimana untuk melepaskan masalahmu,”

“Arrayo, sunbae,” sahutku dengan cepat. “Geunyang—”

Shi Woo tersenyum tipis, lalu mengacak pelan rambutku. Aku dengan segera merapikannnya kembali dan memberinya tatapan tajam.

“Wae? Shirreo?”

“Shirreo,” seruku terus merapikan rambutku. “Cobalah untuk menghilangkan kebiasaanmu itu untuk membuat rambutku berantakan. Lagipula, aku bukan lagi yeojachingu-mu, jadi tak bisakah kau bersikap biasa padaku, sunbaenim?

“Sekalipun kau bukan lagi yeojachingu-ku, bukan berarti kita tidak bisa bersama lagi, ‘kan?” celetuk Shi Woo dengan senyum lebar di wajahnya. “Kau tahu, aku akan selalu menunggumu untuk kembali padaku, dan pintuku terbuka lebar untukmu, Sooyoung-ah,”

“Aigoo,” komentarku. “Jika kau terus menungguku dan seperti ini, kapan kau akan memiliki yeojachingu lainnya, sunbae?

“Kenapa aku harus memiliki yeojachingu lainnya jika aku memilikimu?”

Aku mendesah panjang, dan memilih untuk tidak memberikan komentar apa-apa lagi. Lee Shi Woo, salah satu senior di perusahaanku ini memang namjachingu-ku sekitar setahun yang lalu. Tapi sekarang kami sudah tidak memiliki hubungan itu, hanya sekedar rekan kerja, sunbae-hoobae, meskipun kami masih sedekat yang dulu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa masih dekat dengannya padahal kami adalah mantan kekasih. Bahkan masih banyak orang di perusahaanku yang mengira kami masih berkencan karena kedekatan kami itu.

“Sooyoung-ah,” panggil Shi Woo tiba-tiba. “Tak bisakah kita kembali lagi seperti dulu?” Dia mengatakannya tanpa menolehkan kepalanya ke arahku. Dia memilih untuk menatap lurus ke depan, meskipun sekarang mobil sedang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.

“Seandainya kita kembali bersama, apa hubungan kita akan tetap sama?” Aku menanggapi. “Kita dekat, tapi terasa jauh. Itu yang aku rasakan di dalam hubungan kita yang dulu, sunbae

Geureom—” sahut Shi Woo masih belum menatapku. “—kau lebih suka yang seperti ini? Kau dan aku?”

Aku diam untuk sesaat, lalu menjawab. “Tidak,”

Pada akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arahku. “Apa maksudmu dengan tidak?”

“Aku—” kataku, mengambil jeda sesaat untuk berpikir harus mengatakan apa untuk tidak menyakitinya atau memberi harapan padanya. “Aku tidak bisa membicarakan ini denganmu, sunbae. Waktunya tidak tepat untuk kita membicarakan tentang hubungan kita—“

“Itu karena kau selalu menghindar setiap kali aku ingin berbicara padamu dan membicarakan tentang hubungan kita”

“Karena aku tidak mau, itulah kenapa aku menghindar”

“Tidak mau? Atau kau sudah tidak sayang padaku lagi?”

Aku kembali diam. Pandangan kami bertemu tapi aku masih tidak mengatakan apa-apa. Jika aku bisa mengatakannya, aku akan berkata bahwa aku masih sangat menyayanginya. Aku hanya takut perasaanku itu akan menjadi berlebihan dan itu akan menghancurkan hubunganku dengannya. Saat berkencan dengannya pun aku sempat merasakan itu tapi aku berhasil mengatasinya. Sebagai gantinya, kami jarang bertemu satu dan jarang berkomunikasi karena kami pikir dengan bekerja di perusahaan yang sama maka hubungan kami akan baik-baik saja. Tapi itu salah, karena justru itulah yang menjauhkan kami.

“Lampunya sudah hijau,” celetukku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Shi Woo padaku. “Kita akan terlambat jika kau tidak menjalankan mobilmu, sunbae” kataku sambil mengalihkan pandanganku kembali ke jendela di sampingku.

Tidak ada suara apapun yang terdengar selain hanya deruan mesin mobil yang kami naiki. Tapi aku tahu, dengan perlahan Shi Woo menaikkan kecepatan mobilnya, entah agar kami tidak terlambat atau karena dia sedang meluapkan emosinya. Aku hanya bisa diam dan berpegangan dengan erat pada kursiku karena kecepatan laju mobil ini.

Dalam beberapa menit, kami sampai di tempat konferensi pers diadakan. Aku segera keluar dari mobil, mengabaikan Shi Woo yang terlihat ingin mengatakan sesuatu. Aku sengaja berjalan dengan cepat memasuki aula yang cukup besar ini, tidak peduli entaj namja itu mengejarku atau tidak. Untuk sekarang aku hanya ingin fokus bekerja dan melupakan semua masalah serta beban yang terus menggantung di kepalaku. Terasa semakin berat memang karena aku tak tahu sampai kapan itu menghuni pikiranku selama aku belum menemukan solusi yang terbaik agar aku bisa—

“Oh, josanghamnida” seru seorang namja yang baru saja menabrakku dan membuatku hampir terjatuh jika dia tidak dengan sigap menarik tanganku.

Mataku membelalak, terkejut karena namja di depanku, namja yang baru saja menabrakku ini adalah Cho Kyuhyun.

“Gwenchanayo?” tanyanya kemudian karena aku tetap diam terpaku di tempatku. “Aghassi? Gwenchanayo?”

E-Eo,” sahutku setelah tersadar dari lamunanku sendiri. “Gwenchanayo,” Aku melanjutkan.

Kyuhyun melepaskan tanganku, lalu pandangannya mengarah ke nametag yang terkalung di leherku. “Pers?” tanyanya lagi.

“Ne,”

“Masuk saja, kalau begitu. Acaranya akan di mulai sebentar lagi”

Ah, ne. Kamsahamnida” kataku sambil menundukkan kepala untuk menghindari pandangannya. Itu juga untuk berjaga-jaga karena siapa tahu dia mengingatku dari malam natal itu. “Geureom—” Aku sedikit membungkukkan kepala dan berniat untuk pergi meninggalkannya.

Jamkkamanyo,” seru Kyuhyun kemudian saat aku baru saja berjalan beberapa langkah darinya.

Jantungku berdegup dengan kencang, tubuhku menegang. Apa dia mengenaliku? Perlahan, akupun membalikkan badan. “Ne?”

Kyuhyun melangkah menghampiriku, pandangannya lekat padaku. Tapi detil berikutnya, dia tersenyum. “Kau menjatuhkan ini,” katanya sambil menguluran buku kecilku yang biasa aku gunakan untuk mencatat sesuatu yang mudah aku lupakan. Aku mengambil itu dan cepat-cepat memasukannya ke dalam tas. “Selamat menikmati acaranya,” ucapnya kemudian.

“Ah, ne. Kamsahamnida,”

Kyuhyun segera membalik badannya dan pergi meninggalkanku untuk menyambut tamu yang lainnya. Aku kembali diam terpaku di tempatku, dan pandanganku tidak pernah terlepas darinya. Apa dia baik-baik saja sekarang? Kehilangan seseorang yang dicintai itu pasti akan meninggalkan luka yang dalam, ‘kan? Apa dia sudah bisa mengatasinya? Melihat dari sikapnya dan bagaimana dia tersenyum, kurasa dia baik-baik saja setelah kepergian yeojachingu-nya itu, Shin Hye Joo.

“Kau mengenalnya?” celetuk Shi Woo yang tiba-tiba sudah ada disampingku.

Pikiranku buyar, aku menoleh ke arah namja di sebelahku ini. “Geunyang—” kataku sambil memutar tubuhku dan bergegas masuk ke dalam ruangan pers.

**

Seoul, hari ini

“Ahjussi….” seruku begitu memasuki rumah yang sudah lebih dari sebulan ini menjadi rumahku. “Apa kau sudah pulang? Ahjussi?

Aku menoleh ke kiri, lalu ke kanan tapi tidak menemukan siapapun yang ada di rumah ini. Suasana rumah benar-benar sepi, membuat bulu kudukku berdiri meskipun aku bukan manusia.

Ahjussi? Kau sudah pulang? Ahju—kamjjakiya!” seruku sambil terlonjak ke belakang. Aku memegangi dadaku, terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba, seperti gwishin.

“Sejak kapan aku menjadi ahjussi bagimu?” protesnya. Dia menatapku dengan tajam. “Jangan memanggilku dengan ahjussi lagi, kau babo gwishin” katanya tanpa ragu memukul pelan kepalaku.

Ya! Appo!” Aku memprotes juga sambil mengusap-usap kepalaku sendiri. “Bukankah kau tidak suka jika aku memanggilmu dengan ‘oppa’?!

“Aku tidak berkata aku tidak menyukainya atau menyukainya,”

“Bagiku, itu berarti kau tidak menyukainya” sahutku. “Aku bahkan tak pernah mendengarmu memanggil namaku dengan benar, kenapa aku harus memanggilmu dengan benar juga?” gumamku seraya melangkah menjauh darinya.

“Mworago?” tanyanya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Aku menatapnya melalui bahuku. “Dwaesseo,” kataku ketus. “Seperti kau peduli padaku saja” tambahku kemudian.

“Aku bisa mendengar yang itu,” Kyuhyun langsung menanggapiku, dan tanpa menoleh ke belakang, aku tahu bahwa dia mengikutiku. “Geurae, katakan saja aku tidak peduli. Kenapa aku harus bersusah payah mendaftar nama-nama perusahaan media di seluruh negara ini? Aku bahkan sempat mendatangi mereka dan mengirim orang-orangku untuk mencari informasi tentangmu. Sebagai gantinya kau—”

“Kau apa?” Aku mencelos, terkejut dengan apa yang dia katakan padaku baru saja. Tapi Kyuhyun tidak memberikan tanggapan apapun, jadi aku berdehem pelan dan melanjutkan perkataanku, “Apa kau menemukan sesuatu, kalau begitu?”

“Masih belum. Aku tak menyangka itu akan sulit meskipun kita punya namamu,” katanya sudah kembali berbicara seperti biasanya. “Mungkin akan berbeda jika kita memiliki foto atau apapun yang lainnya selain namamu”

Aku diam dan berpikir. Pandanganku jatuh ke fotoku yang ada di nametag yang terkalung di leherku. Memang ada sebuah foto disana, dengan identitas namanya. Jika bukan karena namja ini, Chae Bo Yeon dan gwishin-gwishin lainnya, mungkin aku bahkan tak tahu bagaimana wajahku yang sebenarnya. Setidaknya mereka mendeskripsikanku seperti foto yang tertempel disana, dan memberitahuku jika foto itu memang aku beserta identitas namanya. Tapi hanya itu saja, tidak ada yang lainnya.

“Foto,” kataku kemudian setelah beberapa saat. “Itu tidak mungkin kita dapatkan, ‘kan?”

Eo, aku tahu itu”

“Bagaimana dengan G.N?” Aku menunjuk ke identitas lainnya yang ada di nametag itu.

“G.N?” celetuk Kyuhyun yang mengambil kursi di belakang meja bar. Dia mengambil dua gelas kosong, lalu menuangkan anggur ke dalamnya. “Ah, Goryeo News, maksudmu—” katanya saat baru menangkap gerak isyaratku pada tulisan di nametag.

“G.N itu Goryeo News?” tanyaku, karena aku baru tahu jika itu adalah sebuah singkatan nama. “Apa itu perusahaan dimana aku bekerja sebelumnya?”

Kyuhyun mengangguk. “Dulu, itu Goryeo News sebelum sekitar dua bulan yang lalu Hanlim Group membelinya dan mengubah namanya menjadi HLN, co”

Aku mengerutkan kening, cukup terkejut dengan informasi baru ini. Berhubungan denganku ataupun tidak, aku memang memiliki ketertarikan sedikit tentang dunia bisnis. Mungkin itulah kenapa aku menjadi seorang reporter di bidang bisnis, karena aku tertarik pada bisnis. Yah, mungkin saja begitu.

“Karena Choyoung Group membeli saham perusahaan telekomunikasi dan menggabungkan perusahaan, sepertinya Hanlim Group akan melakukan tindakan yang sama dengan membeli beberapa saham perusahaan media, termasuk GN”

Ada kilasan kecil yang muncul tiba-tiba di kepalaku, dan itu membuat kepalaku sakit. Tanpa ragu aku mencengkram bagian pinggir meja, berusaha untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang. Aku bahkan tak bisa mendengar apa yang sedang Kyuhyun katakan padaku, karena rasa sakit itu membuatku tidak bisa mendengar apa-apa. Sambil menahan sakit, aku hanya bisa melihat gerakan bibir dan tangan namja yang ada di depanku ini sambil sesekali meneguk anggurnya sendiri.

“Aku tak bisa mendengar apa-apa,” kataku sambil terus menatap Kyuhyun. “Aku benar-benar tak bisa mendengar apapun”

Kyuhyun menghentikan bicaranya. Dia balas menatapku, dan kembali mengatakan sesuatu tapi tidak ada apapun yang bisa aku dengar darinya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, memberitahunya dengan gerak isyarat-ku bahwa tidak ada suara yang masuk ke dalam kedua telingaku.

Frustasi, aku menepuk-nepuk telingaku. Awalnya pelan, lalu semakin keras aku melakukannya. Tapi kemudian Kyuhyun menahan kedua tanganku, menghentikan apa yang sedang aku lakukan. Dia kembali mengatakan sesuatu, tapi kali ini disertai dengan gerak isyarat agar aku mengerti apa yang dia katakan. Tanpa perkataan dan isyarat lainnya, dia menarikku berdiri dan membawaku ke sofa.

“Mworago?” kataku. “Tidak ada apapun yang bisa aku dengar,”

Kyuhyun mendengarku—tentu saja, itu terlihat dari sikapnya. Lagipula yang dunianya menjadi hening tiba-tiba itu aku, bukan dia. Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi dan sampai kapan aku akan seperti ini. Aku hanya berharap keadaan ini akan cepat menghilang karena jika tidak, itu benar-benar akan memperburuk keadaanku dalam kondisi yang seperti ini.

Aku membaringkan kepala, mengikuti isyarat Kyuhyun. Mataku terpejam, aku mencoba untuk mendengarkan suara sekecil apapun tapi untuk saat ini tidak ada apapun yang berhasil aku dengar. Tapi kemudian–setelah beberapa saat, aku mulai mendengar sesuatu. Awalnya tidak jelas, seperti aku berada di tempat yang sangat tinggi dengan banyak angin yang bertiup kencang disekitarku. Lalu suara-suara itu kembali menghilang dan datang lagi dan menghilang lagi dan datang lagi. Itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya—

“—bawanya ke dokter, ‘kan?

Aku mencelos, lalu dengan cepat bangkit untuk duduk. Gerakanku yang cepat dan tiba-tiba ini membuat Kyuhyun terkejut. Meskipun kemudian dia bergegas menghampiriku dan berjongkok di depanku. Ekspresi khawatir terlihat jelas disana, dan aku tak tahu kenapa aku sama sekali tak bisa mengalihkan mataku darinya.

Waegeurae? Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya sedikit mendongakkan kepalanya karena memang posisinya lebih rendah dariku. “Ah, kau tidak bisa mendengarnya. Kenapa aku bertanya padamu saat aku tahu kau—”

“Aku bisa mendengarmu,” sahutku dengan cepat.

“Mwo? Jinjja?”

“Rasanya seperti sumbatan di telingaku di cabut dan semua suara datang secara bersama-sama menyerang telingaku” kataku memberitahu Kyuhyun apa yang aku rasakan. “Tapi itu benar, aku kembali bisa mendengar” Aku menambahkan.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba tidak bisa mendengar apapun?” tanya Kyuhyun.

Aku tidak langsung memberikan tanggapan, tapi diam dan berpikir. “Molla,” kataku pada akhirnya. “Ini pertama kalinya aku tidak bisa mendengar apapun” Aku menambahkan.

Kyuhyun mengamatiku dengan lekat. Untuk beberapa saat aku membalas menatapnya, tapi kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah lain tanpa tahu apa yang aku lihat. Pikiranku terlalu sibuk dengan apa yang baru saja menimpaku. Ada semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku tanpa aku tahu jawabannya. Dan sampai sekarang aku masih belum menemukan cara untuk menyelesaikan teka-tekiku sendiri.

__

Kyuhyun POV

Waegeurae? Tidak biasanya kau pulang dengan wajah kusut seperti kertas yang di remas-remas” komentar Sooyoung begitu aku merebahkan diri di sofa panjang di rumah. “Ada masalah di perusahaanmu atau bagaimana?”

Aku mendesah panjang, “Memangnya kalau ada masalah di perusahaanku, kau bisa menyelesaikannya?”

“Tentu saja—” Dia mengambil tempat duduk disampingku, “—tidak” lanjutnya. “Aku hanya bertanya karena penampilanmu tidak enak untuk dipandang”

“Jangan memandangku kalau begitu,” sahutku dengan cepat.

“Haruskah aku menghadap dinding jika aku berbicara denganmu?” Sooyung tak kalah cepat menjawabnya. “Jika kau memang suka begitu, baiklah—”

“Kau tidak pernah bisa untuk tidak membantahku,” Aku menyela perkataannya. Pandangan kami bertemu untuk sesaat, tapi kemudian aku mengalihkan pandanganku. “Dan kau tidak pernah membuat hidupku tenang”

Ya! Aku hanya bertanya padamu, dengan baik-baik”

Ya?!” Aku mengulang panggilannya padaku itu sambil menoleh ke arahnya.

Sooyoung balas menatapku. Ekspresinya yang tadinya datar, perlahan berganti. Aku bahkan sempat melihat ada senyuman kecil di wajahnya, “Oppa, maksudku. Mian, aku lupa” katanya kemudian.

Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan kali ini. Sebagai gantinya, aku bangkit berdiri dan melangkah ke arah pintu rumah. Tanpa aku memeriksa ke belakang, aku akan segera tahu bahwa Choi Sooyoung akan mengikutiku. Cepat atau lambat. Karena dia adalah gwishin paling ingin tahu yang pernah aku temui. Mungkin itu memang sudah sifatnya, dan itu tetap sama bagaimanapun keadaannya sekarang.

Eodiga?” celetuk Sooyoung yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku dan mengikuti langkahku. “Apa ada sesuatu yang tertinggal?” tanyanya ingin tahu.

Aku diam saja.

“Kau bisa menelepon sekretarismu untuk mengambilnya di kantor untukmu” katanya tidak menyerah untuk terus bercerita padaku. “Kenapa repot-repot kau keluar untuk mengambil—”

“Ramen” Aku kembali memotong perkataannya yang belum selesai.

Oh? Ramen?”

“Aku tiba-tiba ingin makan ramen,” kataku menjelaskan. “Kau bisa meninggalkanku sendiri jika kau memang lebih memilih di rumah atau terserah saja kau mau pergi kemana”

Aigoo… mana mungkin aku melewatkan hal seperti ini?” Sooyoung menyahut dengan senyum lebar di wajahnya. “Tapi… ini benar-benar tidak biasa kau pergi makan ramen malam-malam seperti ini. Bukankah kau bisa membuatnya sendiri di rumah? Atau—kau tidak bisa membuatnya?”

Aku menghela napas panjang, “Kau benar-benar sangat suka berbicara” kataku hanya menatapnya sekali, lalu melangkah ke arah mobilku dan memasukinya. Dalam hitungan detik, Sooyoung sudah berada di dalam mobil, mendahuluiku. “Diamlah jika kau ingin aku membiarkanmu tetap duduk disana,” Aku memperingatkan Sooyoung.

Arraseo,”

Aku segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan kawasan rumahku tanpa banyak berbicara pada Sooyoung. Aku bahkan tidak memberitahunya kemana tujuanku, karena jujur saja tidak ada tempat spesial yang ingin aku kunjungi. Aku hanya ingin pergi keluar untuk mencari udara segar dan menenangkan diriku sendiri setelah apa yang terjadi di kantor tadi. Karena setelah aku di rumahpun, perasaan tidak menyenangkan itu tetap ada di dalam diriku dan aku harus mencari cara untuk menghilangkannya dengan cepat. Bukan karena aku tidak mau mengingat apapun tentangnya, tapi karena aku sedang berusaha untuk menyimpan kenangan itu dengan baik di dalam hati dan pikiranku. Tidak dengan cara yang biasa, tapi dengan cara yang aku inginkan dan hanya aku yang tahu bagaimana untuk melakukannya.

Setelah beberapa saat aku hanya berputar-putar di jalanan tanpa tujuan yang jelas, pada akhirnya akupun menghentikan mobilku di sebuah klub di Cheongdam-dong. Klub ini dulu sering aku kunjungi, hanya saja setelah aku mengenal Shin Hye Joo, aku sedikit mengurangi untuk pergi ke tempat seperti ini. Bukan karena apa-apa, tapi karena selain dia tidak begitu menyukainya juga karena dia tidak bisa pergi ke tempat seperti klub, bar dan sebagainya sesukanya. Jadi aku memilih untuk membuat semacam tempat minum sendiri di sisi lain rumahnya, jadi kapanpun kami ingin minum bersama, kami akan pergi ke tempat itu.

“Aku tidak pernah tahu tempat seperti ini menjual ramen,” komentar Sooyoung yang mengikutiku melangkah masuk ke dalam klub ini. “Kau salah tempat jika kau ingin memakan ramen, kau tahu”

Aku memilih untuk tidak menanggapi gwishin ini dan hanya terus melangkah memasukinya tanpa menunggu antrian—semacam pemeriksaan identitas, kartu anggota dan sebagainya, yang ada di pintu depan klub. Meskipun klub ini termasuk salah satu klub yang bisa dikatakan elite, tapi tetap saja dilakukan pemeriksaan karena beberapa orang yang memang seharusnya tidak boleh masuk ke tempat seperti ini masih tetap saja mendapatkan cara mereka untuk memasukinya sekalipun mereka berasal dari keluarga kaya.

“Oh, Cho-gun! Orenmanida!” seru seseorang begitu aku mengambil kursi di salah satu meja bar yang kosong. “Bagaimana kabarmu? Aku benar-benar sudah lama sekali tidak melihatmu, dan kau tidak pernah datang kesini lagi untuk beberapa saat yang cukup lama”

“Cho-gun?” gumam Sooyoung di sebelahku dan aku hanya memandangnya dengan sebelah mata. “Julukan yang aneh,”

Aku tersenyum kecil, “Geurae? Itu karena aku sibuk” kataku membalas perkataan temanku, Nam Yooseob, pemilik klub ini.

“Tentu saja kau sibuk. Bagaimana bisnismu?”

“Berjalan seperti biasanya,” sahutku acuh tak acuh. “Aku pesan seperti biasanya”

Yooseob tersenyum tipis sambil menaikkan satu alisnya. “Kau yakin?”

Aku mengangguk singkat.

Arraseo, jamkkaman

Aku melirik ke sampingku, dan melihat Sooyoung sedang berdiri disana sambil menatap ke sekeliling tempat ini. Beberapa kali aku melihatnya mengernyit atau berjengit atau menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku memperhatikannya untuk beberapa saat, bertanya-tanya apa selama dia hidup dia tidak pernah pergi ke tempat semacam ini sampai ekspresi dan reaksinya seperti itu.

“Ini dia,” celetuk Nam Yooseob tiba-tiba sambil meletakkan satu botol minuman dan gelas di depanku. Dia menuangkannya untukku, lalu kembali berbicara. “Aku sudah lama sekali tidak mengeluarkan ini dan sempat ingin berhenti memesannya. Tapi aku tahu kau akan datang lagi, jadi aku menyimpannya”

Gomawo,”

Omona! Bukankah harga minuman itu sangat mahal?” Suara Sooyoung tiba-tiba terdengar di telingaku. Aku berhasil menahan diriku untuk tidak terlonjak saat dia berada sangat dekat denganku dan mencondongkan badannya untuk menatap botol minuman di depanku. “The Maca—

“Kau tidak akan menghabiskannya, ‘kan?” Nam Yooseob menyela perkataan Sooyoung yang sedang berusaha membaca nama minuman yang aku pesan itu. “Aku harap tidak. Ingat terakhir kali kau berusaha untuk menghabiskan satu botol?”

Aku tersenyum, lalu mengambil gelas itu dan meneguknya. Rasa manis, pahit, panas langsung bisa aku rasakan di tenggorokanku tapi aku berusaha untuk menikmati sensasinya setelahnya. “Aku tidak tahu untuk malam ini,”

“Sesuatu pasti terjadi padamu?”

“Benarkah? Apa itu?” Sooyoung menyahut, ingin untuk terlibat dalam percakapan.

Aku melirik Sooyoung sesaat, lalu mengalihkan pandanganku pada Nam Yooseob lalu pada gelas di tanganku. “Dong Jin,”

“Dong Jin?” celetuk Sooyoung dengan nada ingin tahunya. “Siapa dia?”

“Dong Jin? Maksudmu Lee Dong Jin?” seru Nam Yooseob.

Kepalaku mengangguk. “Dia datang, lalu membicarakannya seperti tidak ada apapun yang terjadi” kataku memberitahu Yooseob. “Ironis, ‘kan? Dia sangat mencintainya,” Aku menambahkan sambil meneguk kembali minuman itu.

Nam Yooseob tidak memberikan tanggapan, tapi aku tahu bahwa dia mengerti siapa yang aku bicarakan. Shin Hye Joo, tentu saja. Meskipun mereka tidak dekat—Yooseob dan Hye Joo, tapi mereka saling mengenal karena aku yang mengenalkan mereka. Dulu, aku memang pernah mengajak Hye Joo ke sini sekali atau dua kali. Saat itulah aku mengenalkannya pada pemilik klub ini yang sudah menjadi temanku selama lebih dari sepuluh tahun ini.

“Anak itu tidak berubah, ‘kan?”

Nugu? Lee Dong Jin?” sahutku.

Eo, anak manja itu”

Aku mendengus kecil, “Anak manja” gumamku. Aku mengisi lagi gelas minumanku yang sudah kosong, lalu meneguknya beberapa kali. “Dia masih seperti itu, kurasa. Entahlah, aku sudah lama tidak berurusan dengannya sejak—“

“Sejak kau berkencan dengan Hye Joo-ssi?”

Penyebutan nama itu sempat membuat hatiku terasa seperti ditusuk, tapi aku memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Aku hanya sekedar menganggukkan kepala sebagai jawabannya. “Sebenarnya—“

“Oh, ini tentang Shin Hye Joo” komentar Sooyoung yang sepertinya baru bisa memahami arah percakapanku dan Nam Yooseob. “Aku sudah menebaknya tapi tidak tahu itu benar atau tidak, dan kurasa aku tidak asing dengan nama Lee Dong Jin. Tapi aku tidak tahu dan tidak ingat kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu”

Aku menoleh ke arah Sooyoung, memberinya tatapan tajam tanpa mengatakan apapun padanya.

Geurae, arraseo. Jangan pedulikan aku, kalau begitu” katanya yang mengerti arti pandanganku padanya. “Lagipula, sekalipun aku berbicara padamu, kau tidak akan menanggapiku”

Aku menghela napas panjang sebelum menghabiskan sisa minuman yang ada di gelas yang aku pegang. “Alasan kenapa aku tidak berurusan lagi dengan anam manja itu sebenarnya bukanlah karena Shin Hye Joo” kataku melanjutkan percakapanku dengan Yooseob karena aku tahu dia masih menungguku untuk berbicara. “Ada sesuatu yang lebih dari Shin Hye Joo yang membuat hubunganku dengan Dong Jin—“ Aku mengambil jeda sesaat untuk memikirkan kata yang tepat untuk menyebut bagaimana hubunganku dengan penerus Hanlim Group itu. “—itu rumit, sungguh. Aku bahkan tak tahu bagaimana aku dan Dong Jin sekarang,” kataku sambil menundukkan kepala.

Yooseob menepuk bahuku sekali, “Aku akan menyiapkan ruangan untukmu” katanya tanpa memberikan tanggapan padaku.

Aku mendongakkan, “Dwaesseo

“Kau akan tetap membutuhkannya,” kata Yooseob dengan cepat. Dia langsung pergi meninggalkanku tanpa menungguku memberikan balasan apapun.

Aku memilih untuk mengisi gelasku lagi dan langsung meneguk habis isinya, lalu kembali mengisinya dengan ukuran yang sama dan meneguknya kembali.

“Astaga,” celetuk Sooyoung kemudian. “Kau seharusnya memakan sesuatu jangan hanya minum seperti itu”

Mian, aku tidak menanggapimu sedari tadi” kataku pada akhirnya. “Itu karena aku—“

“Aku tahu, sudahlah. Tidak perlu memberitahuku alasannya kenapa” Sooyoung menyela perkataanku. “Omong-omong, boleh aku mencobanya?”

Aku mencelos, “Ini maksudmu?” tanyaku sambil menunjuk minuman keras di depanku.

Sooyoung mengangguk, “Boleh?”

Aku tertawa kecil, lalu tanpa menunggu apapun menyerahkan gelas di tanganku padanya. Dia membelalakkan matanya, mungkin terkejut karena aku langsung memberikan apa yang dia inginkan tanpa mencoba untuk berdebat dengannya. Aku sendiripun tak tahu kenapa aku memilih untuk tidak melakukannya kali ini padahal biasanya aku akan bersikeras menolak atau mengabaikan apa yang dia inginkan.

“Hanya seteguk saja, hanya seteguk saja”

Aku memperhatikan Sooyoung yang mengambil gelas di tanganku, lalu menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan dengan baik. Setelah beberapa saat hanya diam sambil menatap minuman itu, pada akhirnya dia pun meneguknya. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat minuman keras itu menyentuh bibirnya karena—jujur saja, kadar alkohol dalam botol itu sangat tinggi dan sejauh ini hanya beberapa orang saja yang tidak langsung mabuk setelah meminumnya meskipun hanya segelas. Aku termasuk orang itu.

“Oh, ini sangat luar biasa” kata Sooyoung kemudian. “Keras, lebih pahit dari soju tapi sensasinya lebih menghangatkan”

Aku menaikkan satu alisku mendengar komentar gwishin ini. “Gwenchana?” tanyaku ingin tahu.

“Tentu saja,” sahutnya seraya meletakkan gelas itu ke atas meja. “Aku bukan tipe orang yang mudah mabuk”

Jinjja?”

Sooyoung mengangguk-anggukan kepalanya dengan penuh keyakinan, tapi aku sudah bisa melihat pipinya yang memerah dan pandangannya yang mulai tidak fokus. Aku hanya tersenyum kecil tanpa berniat untuk mengatakan apapun karena Nam Yooseob sudah terlihat kembali berjalan ke arahku.

“Cho-gun, ada satu ruangan di sebelah sana” kata Yooseob menunjuk ke sebuah ruangan di sebelah kanannya. “Ketiga begitu kau memasuki lorongnya,”

Aku menatap ke arah itu, melihat pintu ruangan yang di maksud olehnya lalu menganggukkan kepalanya. “Gomawo,” kataku sambil bangkit berdiri. “Kau benar. Kurasa aku membutuhkannya”

Nam Yooseob tersenyum. “Nikmati waktumu. Aku akan segera menyusul setelah menyelesaikan urusanku”

“Tidak perlu. Kau urus saja bisnismu” Aku dengan cepat menolaknya. “Lagipula aku datang bukan untuk mengganggumu. Aku hanya ingin datang. Itu saja,”

“Baiklah, kalau begitu”

Aku mengambil botol minuman itu dan gelasnya, lalu melangkah ke ruangan yang diberikan Yooseob padaku. Saat aku melangkah, beberapa yeoja langsung menghampiriku tapi aku mengabaikan mereka dan hanya terus berjalan tanpa terganggu dengan suasana di klub ini. Aku tidak datang untuk bersenang-senang—seperti apa yang aku lakukan dulu, itulah alasan kenapa aku memilih untuk  mengabaikan orang-orang di tempat ini dan kegiatan mereka.

Begitu membuka pintunya, aku tidak terkejut menemukan Sooyoung sudah duduk disana sambil mengamati ruangan ini. Tapi dia langsung mengalihkan perhatiannya saat menyadari aku masuk dengan senyum lebar di wajahnya.

Waesseo,” katanya dengan nada bicaraya yang aneh dan tidak biasa.

“Kau mabuk,” gumamku sambil mengambil tempat duduk di sofa panjang berwarna merah tua itu. “Katamu, kau tidak apa-apa”

“Aku tidak mabuk”

Geurae, geurae, kau tidak mabuk” Aku menyahut. “Sayang sekali kau tak bisa melihat bagaimana wajahmu sendiri sekarang. Kau pasti tidak akan menyangkanya” tambahku tanpa memandangnya karena sibuk menuangkan minuman untukku sendiri.

“Memangnya kenapa dengan wajahku?” tanya Sooyoung sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku, seperti sedang menunjukkan bagaimana wajahnya padaku.

Aku menoleh padanya, dan seketika terkejut dengan bagaimana dekatnya wajah kami. Untuk beberapa saat aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun—hanya diam sambil terus memperhatikan wajahnya. Meskipun ini memang bukan pertama kalinya dia berada sedekat ini denganku, tetap saja ada getaran kecil yang bisa aku rasakan di dalam diriku setiap kali keadaan seperti ini datang. Itu menggangguku—memang, tapi akupun tidak bisa menjauhkan tubuhku setiap kalinya ini terjadi.

“Bagaimana wajahku?” tanya Sooyoung tanpa menjauhkan wajahnya dariku.

Aku menatapnya dengan lekat, lalu perlahan tanganku terangkat untuk menyentuhnya. Aku terkejut saat mendapati pipinya lembut dan hangat, bukannya dingin. Dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya, tapi kemudian dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas tanganku. Untuk beberapa saat aku terpaku di tempatku, tak tahu bagaimana untuk bereaksi atas keadaan ini.

“Kenapa diam? Bagaimana pipiku?” ulang Sooyoung

“Itu—merah,” gumamku pelan. Aku menelan ludahku sendiri, merasakan getaran kecil itu semakin besar dan aku bisa merasakan juga jantungku yang berdegup kencang.

Sooyoung balas menatapku. Tidak ada apapun yang dia katakan untuk menanggapiku. Matanya hanya menemui mataku, dan untuk beberapa saat kami dalam posisi seperti itu. Apa yang dia lakukan ini membuat jantungku sendiri semakin berpacu sampai aku khawatir dia bisa mendengarnya karena itu terasa begitu keras.

Tidak mungkin jika aku benar-benar sudah menyukainya, ‘kan? Lalu apa arti semua getaran dan degup jantungku ini?

-TBC-

Jangan lupa komentarnya…

Terima kasih sudah mau membaca awal dari cerita dua kesukaan kita itu, hhe

Tunggu kelanjutannya yang mungkin lama karena sekarang kegiatanku banyak, tapi terima kasih sekali lagi kalau kalian mau nunggu aku update ini.

Terima kasih!

 

Author:

just an ordinary girl in a ordinary life

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s