Posted in Fantasy, Mystery, Romance, Series

Switch Off the Light: 4

lihgt

A story by Soshinism

—–

RatingPG 17 (Violent and disturbing content.)

GenreRomance, Fantasy, Supernatural

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

— Stranger in this lonely town. Save me from my emptiness. -Switch Off the Light —

Previous Chapters:

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

—–

“Choi Sooyoung!!!” Sooyoung menutup telinga dengan kedua tangannya ketika mendengar teriakan seseorang yang sangat ia kenal itu memekikkan indera pendengarannya. Ia membalikkan badan dan menemukan Yoona berlari-lari kecil di tengah kerumunan manusia di lorong sekolah dan memukul kepala Sooyoung ketika sampai pada tujuannya.

“Ouch! What was that for?” Dan bukannya mendapat jawaban dari sahabatnya, ia malah mendapat tatapan tajam mengerikan dari Yoona sebelum wanita itu menariknya ke kafetaria dan duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Ia memang baru bertemu Sooyoung sejak kelas pertama dimulai –pagi itu, mereka tidak memiliki kelas bersama. Setelah berhasil menempatkan dirinya, sebuah pukulan kembali dilayangkan Yoona, kali ini pada lengan Sooyoung ketika ia lengah dan sedang tak memperhatikan dirinya.

Yya! Kau ingin mati?!” ujarnya kesal karena wanita itu tidak berbicara padanya dan hanya memberinya pukulan-pukulan sejak tadi.

“Ke mana kau dua hari kemarin?” tanya Yoona, masih dengan tatapan tajamnya.

Sooyoung menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, sebuah senyum malu-malu dan tawa kecil ia berikan untuk sahabatnya itu, “Ah, mian, I caught a cold dan Minho tidak memperbolehkanku masuk sekolah sampai benar-benar sembuh,” bohongnya pada Yoona.

“Hmm. Lalu bagaimana dengan neo oppa? Siwon? Aku juga tidak melihatnya dari dua hari kemarin.”

“Dia harus ke kota sebelah untuk mengurus perizinan usaha coffee shop miliknya,” dan sebuah kebohongan lagi yang muncul dari bibirnya. Sooyoung benar-benar merasa bersalah ketika terpikirkan sudah berapa banyak kebohongan yang ia katakan pada wanita itu. Tapi, hey, tidak mungkin kan ia berkata bahwa sejak dua hari lalu ia tidak sadarkan diri karena luka tusuk dari pedang seseorang yang dibencinya dan Siwon yang sedang bertemu dengan pemimpin makhluk-makhluk seperti mereka untuk membicarakan sebuah kesepakatan?

“Hmph. Baiklah, I forgive you this time, Choi Sooyoung, eventhough you left me alone for two days.” Sooyoung tersenyum kecil pada wanita di depannya. Ia kemudian melirik pada jam tangannya dan menyadari waktu istirahat hanya tinggal sebentar lagi dan menarik tangan Yoona untuk pergi ke kelas saat itu juga.

Keduanya berjalan cepat dan berusaha untuk keluar dari kerumunan manusia-manusia yang tersebar di lorong sekolah. Sooyoung kembali mengecek waktu dan saat itulah ia tidak menyadari ketika tubuhnya menabrak tubuh lain yang berjalan berlawanan arah dengannya. Membuat kertas-kertas yang dibawa sang wanita yang bertabrakan dengannya jatuh dan berserakan di lantai bangunan itu.

“Ah, jeosonghamnida,” ujarnya sembari dirinya dan Yoona membantu sang wanita untuk membereskan kertas-kertasnya. Ia mendongakkan kepala dan melihat wajah wanita itu sebelum sang wanita pergi begitu saja setelah membungkukkan tubuhnya dan mengucap terima kasih pada Sooyoung.

Ada sesuatu yang mengganggu diri Sooyoung ketika ia tadi melihat wajah wanita itu yang baru pertama kali dilihatnya. Kacamata, rambut dengan model twin-tail, ia terlihat seperti seorang kutu buku. Tapi bukan itu yang menjadi duri di dalam otaknya. She is not a human too, batinnya dan yakin sekali bahwa wanita tadi bukan manusia, sama seperti dirinya.

“Aku baru pertama kali melihatnya, Yoon. Murid baru lagi?”

Yes. Ada di tingkat ketiga, sama seperti kita. Dia baru pindah dari China. Kalau tidak salah namanya Song Qian, tapi orang-orang memanggilnya Victoria.”

Perasaan tidak enak tiba-tiba memenuhi pikiran Sooyoung. Ia mengernyitkan dahinya dan berusaha mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu, tapi tidak berhasil. Ia menggeleng pelan untuk mengembalikan fokus dan menyadari Yoona sudah berjalan di depannya. Sooyoung kembali mengernyit menatap punggung wanita itu sebelum berkata pada Yoona, “Hey, dari mana kau tau hal-hal seperti itu?” Heran dari mana sahabatnya bisa mengetahui informasi-informasi ataupun gosip terbaru tentang siapapun yang ada di sekolahnya.

***

Bel terakhir tanda sekolah usai berbunyi. Sooyoung meletakkan tas punggungnya di samping tubuhnya dan membawa setumpuk kertas berisi tugas milik teman-temannya untuk ia berikan pada guru yang baru saja selesai mengajarnya. Ia berjalan ke depan dan tersenyum pada guru itu sembari menunggu beberapa murid yang masih ada di dalam kelas untuk keluar. Ketika kelas benar-benar sudah kosong, ia mulai berbicara pada sang guru.

“Jeongsu-yah,” panggilnya pelan pada guru itu, tidak mau seorang pun mendengar dirinya memanggil gurunya tanpa Songsaengnim dan hanya dengan namanya langsung. Dan… ya, yang dipanggil Jeongsu oleh Sooyoung juga bukan merupakan manusia, ia sama seperti Sooyoung dan kakak-kakak lelakinya. Kau akan mendapatkan fakta lain tentang Jeongsu di lain waktu.

Lelaki itu mendongak dan tersenyum kecil pada Sooyoung, “Waegurae, Soo?”

Sang wanita mendekatkan dirinya pada Jeongsu, tapi masih menjaga jarak, sehingga murid-murid yang lain tidak mengira keduanya ada apa-apa atau menuduh mereka yang tidak-tidak.

“Kau tau Song Qian?”

Yang ditanya menghembuskan napas sambil memejamkan matanya beberapa saat sebelum mengangguk meng-iyakan pertanyaan wanita itu.

Who is that?” tanya Sooyoung lagi dan Jeongsu tau apa yang diinginkan wanita itu.

“Dia anak buah Yunho. She is originally from China,” lelaki itu menangkap raut keterkejutan di wajah Sooyoung dan sebelum Sooyoung mampu memutus perkataannya, ia melanjutkan, “dan aku tidak tau tujuan apa yang ingin diraih dirinya, Yunho, maupun organisasi sampah milik mereka itu.”

I knew it. Those stupid trash.”

Sooyoung menghela napas, dugaannya seratus persen benar, Song Qian bukan seorang manusia. Parahnya lagi, ia adalah anak buah Yunho, yang entah mengapa menampakkan dirinya di sekolah ini secara tiba-tiba.

***

Sementara masih di tempat dan waktu yang hampir bersamaan, saat bel terakhir tanda usainya sekolah berbunyi, Kyuhyun belum sempat menyelesaikan waktu tidurnya di jam terakhir itu. Dengan malas ia bereskan buku dan beberapa alat tulis lain miliknya yang tersebar di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas punggung miliknya.

“Bagaimana dengan Sooyoung?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari Donghae yang duduk di sebelahnya.

“Kudengar dia sudah masuk hari ini. Kau mau menemuinya?”

Kyuhyun melonjak dari duduknya ketika mendengar kalimat itu dari lelaki di sebelahnya. Matanya melebar dan raut kebahagiaan nampak di wajahnya. Tanpa pikir panjang dan tanpa membalas ucapan Donghae sama sekali, ia berlari keluar dari kelas yang sudah sejak tadi terasa sesak baginya dan mencari wanita yang disebut Donghae.

Dari kelas yang satu ke kelas yang lain, masing-masing dimasukinya untuk mencari sang wanita, membuatnya mendapatkan tatapan keheranan dari murid-murid lain, termasuk para penggemarnya, yang sudah mengerti lelaki itu mencari siapa sampai dirinya rela berlarian tak tentu arah seperti itu.

Langkahnya memelan dan lama-lama berhenti ketika ia sampai di salah satu kelas yang ada di lantai pertama sekolah itu, hampir di ujung lorong tapi masih dekat dengan pintu keluar. Ia mengintip ke dalam kelas itu dan mendapati Sooyoung sedang berbicara pada seorang guru, ia mengenali guru lelaki itu, Leeteuk Songsaengnim, nama aslinya Jeongsu tapi sang guru memaksa para muridnya untuk dipanggil dengan nama pertama tadi, seorang guru sejarah.

Kecurigaan tiba-tiba muncul dalam pikiran Kyuhyun. Apa yang dia lakukan bersama Leeteuk Songsaengnim? Why do they look so close? Mengapa sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat rahasia? Apa mereka memiliki hubungan darah? Paman? Sepupu? Dan berbagai macam pertanyaan lain yang berputar-putar seperti bianglala di dalam otaknya. Tapi, menjadi lelaki yang masih menjunjung tinggi harga dirinya, ia putuskan untuk menunggu di depan kelas tersebut hingga dua orang yang ada di dalam selesai dengan perbincangannya.

Baru saja dirinya menyilangkan kedua lengannya kemudian meletakkannya di depan dada dan memejamkan mata ketika ia dengar pintu kelas yang ada di sebelah kirinya terbuka. Kyuhyun melonjak dari posisi nyamannya dan kembali menegakkan tubuh. Wanita yang ada di ambang pintu menengok ke arahnya, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi, tapi setidaknya, sebuah kalimat muncul dari bibirnya dengan suaranya yang menenangkan.

“Sedang apa kau di sini?”

Lelaki yang ditanya itu tertawa malu, tangannya meraih bagian belakang lehernya sebelum ia menyadari, ‘Huh? This is not me! Wake up, it is really out of your character, Cho Kyuhyun!’, bahwa ia tiba-tiba bisa tak menjadi dirinya beberapa detik yang lalu. Dengan segala kesaadaran yang dapat dikumpulkannya, ia mengembalikan ekspresi sombong, angkuh, dan playboy khas miliknya ke wajahnya. Ia baru akan mengucapkan sesuatu ketika Sooyoung melenggang melewati dirinya seakan urusannya selesai begitu saja ketika lawan bicaranya tidak membalas ucapannya.

“Hey! Eodiga?!” tanyanya. Suaranya hampir setengah berteriak untuk mengalahkan kebisingan suara murid-murid lain yang masih berisik di lorong dan langkah kakinya secara tidak sadar ia percepat agar sama dengan wanita di depannya.

“Rumah,” jawab sang wanita cepat. Pandangannya tetap ke depannya. Kyuhyun terdiam beberapa saat, tidak benar-benar tau apa yang harus ia ucapkan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri dan menggerutu kesal karena sikapnya yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri seperti beberapa menit lalu kembali lagi, ia sendiri pun bertanya-tanya mengapa bisa sampai seperti itu.

“Bagaimana dengan lukamu? Baru dua hari dan kau sudah sembuh?” akhirnya setelah mampu kembali pada kesadarannya.

Sooyoung menoleh pada lelaki itu sebentar dan meluruskan kepalanya lagi sambil berkata, “Sejak kapan kau peduli? Kupikir kau hanya suka mengganggu orang lain tanpa memedulikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah kau ganggu.”

Kata-kata itu berhasil menusuk Kyuhyun tepat di hatinya. Bagai berpuluh panah menancap begitu saja. Ada sensasi yang baru pertama kali dirasakannya setelah bertahun-tahun lamanya, ia merasa… seseorang kembali mampu meruntuhkan benteng pertahanan hatinya yang sudah lama ia bangun dan ia jaga, dan ia sendiri pun sadar, kata-kata yang dilontarkan pada dirinya itu penuh dengan kebenaran.

I-I was really w-worried, kupikir kemarin k-kau akan benar-benar m-mati.”

Kyuhyun memelankan langkahnya dan tak menyadari yang baru saja keluar dari mulutnya. Bahkan tak menyadari betapa suaranya terdengar gugup dan putus-putus di telinga wanita itu. Dan dilihatnya punggung Sooyoung yang beberapa detik lalu ada di depannya itu perlahan berganti menjadi tampak depan miliknya yang mampu menghipnotis setiap lelaki yang melihatnya.

Gomawo,” entah dirinya yang masih bermimpi di siang bolong atau memang benar, Kyuhyun baru saja melihat dan menyaksikan seorang Choi Sooyoung mengucapkan terima kasih dan tersenyum padanya –meski hanya sebuah senyum kecil dan jika kau tidak benar-benar melihatnya, kau tidak akan sadar wanita itu sedang tersenyum. Bodohnya, hanya ia balas dengan sebuah anggukan dan senyuman canggung.

Ia tetap mengikuti sang wanita dalam diam –yang anehnya, Sooyoung tidak mempermasalahkan sama sekali kehadiran lelaki itu bersamanya– hingga keduanya sampai di lapangan basket sekolah itu.

Tiba-tiba sang wanita berhenti, kemudian berkata, “Kau mau ikut pulang bersa–,” suara Sooyoung terputus ketika ia memutuskan untuk membalik badannya agar bisa menghadap Kyuhyun, tapi yang dirasakannya adalah sebuah tangan yang lebih besar daripada miliknya menggenggam pergelangan tangannya dan menarik tubuhnya yang ramping ke dalam sebuah pelukan erat. Dua buah tangan besar terletak rapi di tubuhnya, satu berada di sekitar pinggangnya, yang lain berada di belakang kepalanya, seakan melindunginya dari segala hal buruk yang akan terjadi padanya. Tanpa disadarinya, Sooyoung merasakan pipi, dahi –ah tidak, seluruh bagian wajahnya terasa memanas. Ia bisa memastikan warna kulit di wajahnya berubah menjadi merah dan ia benci karena tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah atau menghilangkan hal itu terjadi pada dirinya.

“Hey! Perhatikan ke mana kau lempar bolamu! Aish, those scoundrels.”

Sooyoung berusaha untuk mendongakkan kepalanya yang masih menempel pada dada orang yang saat ini memeluknya, hanya untuk memastikan apakah benar dugaannya tentang siapa pemilik dada bidang itu atau ia hanya berimajinasi dengan imajinasi yang keterlaluan.

Dan… sang wanita hanya mampu menelan ludah ketika benar yang diduganya ketika ia mendapati sepasang mata coklat dan seringai tipis milik Kyuhyun ada persis di hadapannya dan mengarah padanya.

Lelaki itu mendorong Sooyoung ke belakang sedikit untuk membuat ruang antara dirinya dan sang wanita kemudian mengecek pada hampir seluruh bagian wajah wanita itu sambil berkata dengan lembut, “Gwenchana? Kau tidak terkena apa-apa? Aish, watch where you are walking, silly. Telat sedetik dan kau akan pingsan terkena lemparan bola basket mereka.”

What did you just do?” gumam Sooyoung pelan, sangat pelan sampai Kyuhyun tak mampu mendengarnya. Otaknya masih tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi hingga ia tidak bisa menemukan sepatah kata pun untuk dikeluarkan dari bibirnya. Dan yang bisa ia lakukan saat ini, termasuk untuk menghindari Kyuhyun menyadari betapa besar malu yang dirasanya adalah, cepat-cepat berjalan keluar dari area mematikan itu dan menghindari lelaki bernama Cho Kyuhyun. Sementara sang lelaki hanya memandang wanita itu keheranan sambil menyamakan langkahnya lagi dengan Sooyoung.

You still would not go out with me?”

“Oi, Choi Sooyoung!” tegas Kyuhyun ketika yang dipanggilnya itu tidak membalasnya. Ketika sang wanita lagi-lagi tidak menggubrisnya, terpaksa ia tarik pergelangan tangan wanita itu dan membuatnya menatap dirinya.

W-wae?” ujar Sooyoung pada akhirnya ketika tidak bisa lagi menolak untuk meladeni Kyuhyun dan menghindarinya.

Helaan napas keluar dari indera penciuman Kyuhyun sebelum ia berkata pada wanita yang ada di depannya, “Come on. Just one night dan jika kau merasa tidak nyaman setelahnya, kau boleh menolak permintaanku yang selanjutnya.” Sooyoung mengerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali, masih bingung dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan lelaki itu padanya dalam kurun waktu beberapa menit saja.

Huh? What the heck? Apa yang dia katakan? Aku bahkan tidak memahami sepatah kata pun yang kau lontarkan, Cho Kyuhyun.

“Okay! Bagaimana dengan hari Sabtu besok? Aku akan menjemputmu, hmm… pukul tujuh malam? Arraseo?”

“Huh? Mwo?”

I’ll take that as a yes,” tukas Kyuhyun cepat setelah mendengar dua kata akhirnya diucapkan oleh wanita itu. Tidak memedulikan kebingungan yang saat ini menguasai diri sang wanita.

Ia tersenyum lebar saat melihat Sooyoung perlahan meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun lagi pada dirinya.

Sayangnya, keduanya tidak menyadari ada seorang lain yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Senyum penuh kejahatannya muncul di wajahnya yang cantik ketika ia berhasil mengetahui di mana keduanya akan bertemu hari Sabtu esok.

***

Fish and Chips, Frappucino, dan music jazz yang mengalun pelan menjadi teman Sooyoung dan Minho malam itu kala keduanya keluar bersama untuk mengisi perut –kali ini dengan makanan manusia– di sebuah diner sekaligus coffee shop yang ada di ujung ruas jalan Distrik 9 tempat keduanya tinggal. Sudah hampir satu jam mereka berada di diner itu, membicarakan hal-hal tidak penting, penting, apapun yang keduanya paham, termasuk Sooyoung menceritakan perihal Kyuhyun yang kembali mengajaknya berkencan di akhir pekan esok.

Seorang wanita dengan rambut semi ikal miliknya mendatangi keduanya, sebuah senyuman khas terpampang di wajahnya yang rupawan, “Ada hal lain yang bisa kubantu lagi?” Soyoung menggeleng pelan dan mengembalikan senyum pada sang wanita. Ketika wanita itu hendak menjauh, Minho menahannya.

“Sora Noona,” wanita yang dipanggil kembali membalikkan badan dan memberikan raut wajah seperti bertanya, ada apa?

“Kami harus berbicara denganmu dan Siwon Oppa sekarang juga,” ujar Minho lagi dan hanya mendapat anggukan dari Sooyoung tanda persetujuan.

Sang wanita mengernyitkan dahinya sebentar sebelum akhirnya duduk bersama dua orang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Tak lama, Siwon muncul dari balik pintu diner itu dengan senyum cerah dan cepat-cepat mendatangi ketiga orang yang memberinya sinyal untuk duduk bersama mereka.

Setelah sampai, Sooyoung memeluknya erat selama beberapa saat sebelum melepaskan lelaki itu lagi untuk memberikan sebuah bro-fist pada Minho dan duduk di sebelah Sora. Ia meletakkan tangannya yang besar pada pundak Sora dan mendekatkan tubuhnya ke wanita itu, kemudian melayangkan sebuah kecupan cepat pada pipi sang wanita. Ah iya, sepertinya terlupakan olehku untuk memberitahumu bahwa Sora adalah kekasih Siwon.

Get a room!” tegas Sooyoung dengan berpura-pura memarahi dua orang di hadapannya itu sementara Minho hanya memberikan tawa kecil dan mengembalikan orang-orang yang bersamanya kembali pada topik pembicaraan.

Hyung, Noona, do you guys know about Song Qian?”

Siwon dan wanita di sebelahnya terlihat berpandangan satu sama lain sebelum menganggukkan kepala masing-masing. “Wae? Ada apa dengannya?” ujar Siwon, tiba-tiba perasaan tidak enak mengelilinginya.

Tell them, Sooyoung-ah.”

Sooyoung mengangguk pelan sebelum memulai penjelasannya. “Well, aku bertemu dengannya hari ini di sekolah. Yoona memberitahuku bahwa dia adalah murid baru yang berada di tingkat yang sama denganku, apparently people call her as Victoria. Awalnya aku sudah menduga kalau dia sama seperti kita dan untuk meyakinkan, I went to meet Jeongsu, dan… yah, benar dugaanku. Dia anak buah Yunho.”

“Jeongsu memberitahumu mengapa dia ada di sekolah itu?” tukas Siwon cepat. Yang ditanya hanya menggeleng sambil menggumamkan, “tidak,” pada kakak lelakinya itu. Siwon menghembuskan napas berat, tubuhnya perlahan mundur ke belakang dan menyentuh sandaran pada kursi yang ia duduki, matanya terpejam, berusaha memikirkan mengapa tiba-tiba Yunho mengutus seorang bawahannya untuk muncul di depan umum, bukan seperti Yunho yang biasanya, pikirnya.

“Okay. Aku akan memberitahu Jeongsu dan beberapa anak buahnya untuk mencari informasi tentang Victoria itu dan apa tujuan Yunho serta tikus-tikus miliknya menempatkan wanita itu di sekolahmu.”

Hyung, aku dan Sooyoung bisa berbicara dengannya, mengapa harus Jeongsu?” ujar Minho cepat setelah Siwon memutuskan apa yang akan dilakukannya. Sementara yang tertua dari Keluarga Choi itu menggeleng dan memasang wajah seriusnya.

Andwae, it’s too risky for both of you. Yunho tau kalian adalah adikku, pasti dirinya dan organisasi miliknya langsung mencurigai jika kalian yang melakukan pendekatan pada Victoria.” Sooyoung dan saudara kembarnya hanya mengangguk demi menghindari perdebatan yang mereka tau akan semakin parah jika tidak dihentikan saat itu juga, mengetahui bagaimana watak Siwon yang sedikit seperti diktator kalau soal keselamatan keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

Hening menghantui keempat manusia yang duduk di ujung diner itu sebelum Minho menyeringai penuh kejahilan dan berkata, “Sooyoung-ah, mengapa kau tidak menceritakan juga soal ajakan kencan dari Tuan Cho itu?”

Sooyoung membelalakkan matanya dan bibirnya terbuka sedikit, sebuah tatapan membunuh ia tujukan pada saudara kembarnya itu, “Minho-yah! Neo jinjja! Kuceritakan padamu agar aku tidak perlu menceritakan lagi pada mereka, aish!” dan sebuah pukulan tepat mengenai bagian belakang kepala lelaki itu. Siwon dan Sora yang melihatnya hanya tertawa.

Tell us again, siapa yang mengajakmu kencan, Soo? Ada yang punya keberanian?” ujar Sora, ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya ketika mendengar jika Sooyoung mendapatkan ajakan kencan untuk pertama kali setelah sekian lama.

“Oh, come on, Sooyoung-ah, gwenchana, kau bisa menceritakannya pada kami,” tambah Siwon. Meski ia tau adiknya itu sangat sensitif dan tidak suka membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan cintanya.

Sang wanita yang menjadi topik utama saat ini hanya mampu meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja sambil sesekali melirik Minho yang membuatnya terpaksa menceritakan kejadian tadi siang itu.

Well, there is this guy… Cho Kyuhyun. dia mengajakku berkencan dan berkata akan menjemputku hari Sabtu besok. Katanya ia–,”

“Aah lelaki yang sudah mengejarmu sejak hampir enam bulan yang lalu itu?” putus Minho cepat dengan senyum jahilnya. Berusaha memberikan Siwon dan Sora identitas lebih mengenai Cho Kyuhyun yang menghasilkan sebuah pukulan kembali mendarat di tubuhnya, kali ini di bagian belakang punggungnya.

“Aish, wae?! Aku hanya memberitahu Sora Noona yang belum mengetahui jika ada seorang lelaki mengejarmu sejak lama, Sooyoung-ah.”

Oppa, Noona, eottokhae?”

Siwon tersenyum melihat sikap dua adik kembarnya itu sebelum mengarahkan pandangan pada wanita di sebelahnya dan tertawa geli. “Apa yang bisa kau lakukan? Dia sudah berkata akan menjemputmu. Kau hanya bisa menunggu, Soo,” ujarnya lagi, senyumnya bertambah lebar ketika melihat wajah Sooyoung yang memerah dan berusaha untuk menutupinya dengan membenamkan kepalanya ke meja.

***

Keesokan harinya, Siwon menemui Jeongsu alias Leeteuk untuk membicarakan hal yang semalam sebelumnya ia bicarakan dengan Sora dan dua adiknya. Raut wajahnya terlihat penuh amarah dan kekesalan, mengapa perlahan Yunho berani menampakkan batang hidungnya pada manusia.

“Kau punya informan di dalam organisasi milik Yunho kan?”

Yeah. His name is Jackson. I’m sure he will get the information you need.”

“Pastikan tidak ada siapapun yang tau tugas ini dariku. Cari tau tentang Victoria dan alasan Yunho melakukan hal ini,” ujar Siwon lagi pada Jeongsu. Suaranya hampir seperti berbisik setelah sebelumnya ia melihat sekitar untuk memastikan tidak ada siapapun yang mendengar pembicaraannya dengan Jeongsu. Ia menepuk pundak lelaki yang beberapa tahun lebih tua dari dirinya itu sebelum pergi dari tempat itu, meninggalkan Jeongsu untuk melanjutkan apa yang perlu dikerjakan olehnya.

Beberapa menit berlalu dan setelah memastikan kondisi di sekitarnya aman, ia membuat sebuah panggilan yang tak perlu menunggu lama untuk diangkat.

Ne, yeoboseyo, Hyung,” ujar suara di seberang.

“Oh, Jackson. Aku membutuhkanmu untuk mencari tau tentang suatu hal.”

What is it, Hyung?

I need you to find out everything about Song Qian or Victoria dan semua rencana terbaru Yunho dan bawahan-bawahannya, apapun itu rencananya.”

Hyung, tentang itu, aku baru saja akan berbicara denganmu,” ujar Jackson setelah diam beberapa saat, cukup terkejut dengan apa yang diminta Sunbae-nya tersebut.

Mwoya, Jackson? Kau tau sesuatu?”

Eodiga, Hyung? Aku akan ke sana dan kita akan bicara.”

“Temui aku di diner, ujung jalan utama Distrik 9.”

Arraseo, Hyung.”

Dengan itu, panggilan tertutup dan Jeongsu melangkahkan kakinya menuju tempat yang baru saja disebut olehnya. Untungnya, diner itu hanya berjarak dua blok dari tempatnya berada sehingga tidak perlu perjalanan panjang untuk mencapainya. Beberapa menit berlalu sejak Jeongsu meletakkan tubuhnya di salah satu kursi bar dan ketika itu, pintu diner terbuka, Jackson muncul dari baliknya kemudian dengan cepat duduk di sebelah lelaki yang sudah menunggunya.

Hyung,” panggilnya pada lelaki itu. Jeongsu tidak menoleh, kepala dan pandangannya tetap mengarah ke depan untuk menghindari kecurigaan makhluk-makhluk lain seperti dirinya yang mungkin saja ada di tempat itu juga.

“Informasi apa yang kau dapat?” ujarnya pelan. Perlahan, Jeongsu membelalakkan kedua matanya ketika mendengar Jackson memberitahunya apa yang diketahuinya dari waktunya berada di dalam organisasi Yunho.

Sepuluh menit, lima belas menit, hingga dua puluh menit setelahnya, Jackson menghela napas ketika semua telah dijelaskan olehnya pada Jeongsu. Sang lelaki yang lebih tua nampak cukup terkejut –tidak, sangat terkejut setelah mendengar rencana yang dimiliki Yunho. Tangannya bergetar sedikit ketika ia meraih ponselnya dan melakukan sebuah panggilan. Ketika nada tunggu tidak lagi terdengar, ia berkata, “Siwon-ah, sesuatu yang buruk akan segera terjadi.”

—–

Chapter 4 ends here.

As usual, thank you so much for reading. I’ll try harder to post this story and maybe Elixir too as fast as I can. Hope you enjoy it!

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

5 thoughts on “Switch Off the Light: 4

  1. binguuuuuung…….soal nya gak ngikutin cerita yg ini tv ttep ok,ngomong mereka itu bangsa apa yaaa???

    1. annyeong.. gamsahamnida sudah bacaa.. kalo masih bingung bisa dibaca part part sebelumnya (ada di awal cerita, tinggal diklik), dan tunggu part part selanjutnya yaa 🙂

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s