Posted in Action, Romance, Series

Elixir: No. 4

elixir

A story by Soshinism

—–

RatingPG 15

GenreRomance, Action

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. And I don’t know who else, you’ll find it anyway.

—–

Previous chapters:

No. 1 | No. 2 | No. 3

—–

— As the girl walks behind you with her longing heart, you bury her in the biggest flower bouquet she ever received.” -Elixir —

 

Ladies and gentlemen, welcome to Incheon International Airport. Local time is a quarter past three in the afternoon. For your safety and comfort, please remain seated with your seat belt fastened until The Captain turns off the fasten seat belt sign. This will indicate that we have parked at the gate and that it is safe for you to move about. Please check around your seat for any personal belongings you may have brought on board with you and please use caution when opening the overhead bins, as heavy articles may have shifted around during the flight,” pengumuman dari pramugari di dalam pesawat masih berlanjut sampai beberapa menit kemudian diikuti riuhnya suasana di dalam pesawat tanda para penumpan siap untuk turun.

Seorang lelaki dengan perawakan yang cukup tinggi membuka kompartemen di atas tempat duduknya dan mengambil tas punggungnya. Ia kemudian kembali meletakkan tubuh di kursinya sampai pesawat benar-benar berhenti dan penumpang dipersilakan keluar. Dihirupnya udara segar kota kelahirannya itu setelah keluar dari pesawat. Kakinya melangkah dengan tegas membelah lautan manusia yang sepertinya sedang menunggu idol mereka di bandara itu. Ia memutar kepala ke kanan, kiri, depan, belakang, untuk mencari seseorang namun seseorang itu tak juga ditemukannya.

Matanya kemudian dengan cekatan menangkap ada sebuah kafe baru di bandara yang sudah dua tahun tidak ia kunjungi itu. Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika ia memutuskan untuk masuk ke kafe itu sembari menunggu seseorang yang seharusnya menjemputnya sore itu. Ponsel berwarna hitam miliknya ia keluarkan dan ia coba untuk menghubungi penjemputnya, namun tidak ada hasil. Bahkan yang didapatnya adalah sebuah pemberitahuan bahwa ponsel yang diteleponnya itu dalam keadaan mati. Lelaki itu mengerutkan kening. Bingung. Tidak biasanya seseorang itu membiarkan ponselnya dalam keadaan mati apalagi seharusnya ia akan menjemput sang lelaki di bandara. Lelaki itu kembali mencoba untuk menelepon seseorang tadi beberapa kali dalam selang waktu sekitar lima-sepuluh menit, tapi tetap tidak ada jawaban, dan ponsel di seberang masih mati. Akhirnya ia putuskan untuk menaiki taksi yang tersedia di bandara dan tidak memedulikan seberapa mahal biaya yang harus dikeluarkannya karena menaiki taksi dari Incheon ke Gangnam.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di daerah yang ditujunya. Sang supir yang sejak tadi beberapa kali ia ajak bicara memberitahukan padanya kalau ia sudah sampai alamat yang dituju. Sang lelaki melihat keluar jendela taksi tersebut sebentar sebelum membayar biaya taksi yang mengerikan dan mengeluarkan dirinya dari mobil itu.

Alisnya kembali mengerut ketika menyadari tempat apa itu, kemudian menggumam pada dirinya sendiri, “Dari semua tempat besar di Gangnam, kau memilih tempat seperti ini untuk kau tinggali. Bahkan rumah sendiri tidak kau pedulikan.”

Ia menghembuskan napas sekali dan melanjutkan langkah kakinya melewati kerumunan orang di restoran dan menaiki tangga. Kepalanya mulai muncul sedikit dan ia dapat melihat rupa tempat tinggal adiknya itu. Sedetik setelah sampai di hadapan pintu tempat tinggal itu, ia tahu ada yang salah.

Lelaki itu mencoba membuka pintu baja berwarna hijau tua itu dan tanpa perlawanan apapun dari balik sana, pintu itu langsung terbuka. Hal pertama yang salah menurutnya, mengingat ada sebuah panel sekuriti untuk menembus pintu itu dan beberapa deadbolts untuk pengamanan lapis kedua. Saat tubuhnya sudah berada di dalam, ia melihat sekitar, memperhatikan tiap sudut ruangan, dan tata ruang ruangan itu tidak menunjukkan bahwa tempat tinggal itu milik adiknya. Hal kedua yang salah menurutnya.

Berlanjut, kakinya kemudian sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar dibandingkan ruangan-ruangan lainnya, kamar utama. Tangannya meraih pintu lemari untuk membukanya. Di dalamnya terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama di sisi kiri berfungsi untuk menggantung baju-baju sang pemilik dan di sisi kanan yang lebih kecil terdapat lima kompartemen dari atas hingga bawah. Ia membuka satu per satu kompartemen itu untuk menemukan sesuatu yang dicarinya, terpaksa melewati beberapa kompartemen berisi barang-barang pribadi milik sang adik yang tidak seharusnya ia lihat. Sampai pada kompartemen keempat, ia menemukan sebuah kotak kecil dan membukanya. Benar saja, tebakannya bahwa kotak tersebut tidak kosong tepat sasaran. Sebuah kalung dengan pendant berbentuk hampir seperti planet Saturnus berwarna perak ia temukan.

Lelaki itu menghirup napas dalam dan memejamkan mata. Ia tahu adiknya tidak akan pergi tanpa kalung itu di lehernya. Dalam-dalam ia berpikir untuk menemukan petunjuk di mana adiknya berada sekarang, ketika sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Ia ingat beberapa minggu yang lalu menerima kabar dari sang adik sendiri jika ia sedang terlibat sebuah masalah yang berhubungan dengan perdana menteri dan keamanan nasional negeri tempatnya tinggal. Kemudian ia genggam erat kalung itu dan menggumam, “Choi Siwon…”

***

“Hal lain apa yang kau temukan?”

Sooyoung memiringkan kepalanya ke kanan sedikit, napasnya terhembus melalui indera penciumannya, dan sebuah senyuman kecil lagi-lagi terukir di wajahnya yang mulai terlihat sangat lelah. Senyumnya saja bahkan terlihat sudah tidak berenergi. Sudah hampir dua belas jam sejak ia ditangkap. Raut wajahnya saat itu seperti mengatakan, “Yakin kau tidak tahu hal lain yang kumaksud?” yang ia tujukan pada Siwon. Sementara lelaki itu mempertahankan ekspresi seriusnya.

“Ponselmu bergetar,” ujar Sooyoung sambil mengarahkan matanya ke saku jas Siwon. Lelaki itu, masih dengan ekspresi serius menghias wajahnya, perlahan merogoh saku dan melihat siapa yang meneleponnya di saat-saat seperti ini. Nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Meski begitu, ia tetap mengangkat panggilan itu karena cukup penasaran.

Yeoboseyo?” ujarnya pada seseorang di seberang. Kedua alis lelaki itu menyatu dan raut wajahnya bertambah serius seiring dirinya mencoba untuk memfokuskan diri pada kalimat yang diucapkan seseorang di seberang telepon.

Choi Siwon,” ujar seseorang itu dengan suaranya yang berat.

Nuguseyo?” tanya Siwon lagi, masih tidak mengetahui siapa yang meneleponnya.

Kau tidak mengingatku?

Siwon berusaha sekeras tenaganya untuk mengingat siapa di balik telepon itu. Otaknya mampu mengenali suara itu, ia familiar.

Yo, Choi Siwon, kau masih di sana?

Seketika itu Siwon agak menyesal karena telah mengangkat panggilan itu. Tapi beberapa saat kemudian, rasanya rasa sesal itu perlahan menghilang, menyadari ia bisa bermain-main dengan semua ini. Alisnya tidak lagi menyatu. Sebuah senyuman muncul di wajahnya seiring kepalanya mundur sedikit dan tangannya yang bebas tidak menggenggam ponsel beralih dari balik lehernya.

“Kau,” ujarnya. Kali ini menatap Sooyoung meski kata itu ia tujukan untuk orang di seberang yang meneleponnya, bukan Sooyoung. Begitupun dengan wanita itu yang nampaknya cukup tertarik untuk mengetahui siapa yang disebut ‘kau’ oleh Siwon itu. Siwon mempersilakan dirinya untuk keluar sebentar, tidak ingin tahanan sementaranya mengetahui apa yang dibicarakannya dengan seseorang itu.

What do you want, Changmin-ssi?” tanya Siwon pada lelaki di seberang, yang tak lain adalah Changmin.

Adikku sedang bersamamu kan?” Ada nada khawatir dan keyakinan mendalam dari suara Changmin.

“Kalau iya lalu kenapa?” jawab Siwon cepat dengan pertanyaan.

I’m gonna be there in twenty minutes, thirty tops. Awas sampai kau bawa lari dia. Dan jika kau melakukan itu, kau tahu apa yang akan terjadi padamu.”

“Apa yang akan kau lakukan jika sudah sampai di sini?” Sebuah pertanyaan bernada ejekan yang muncul dari mulut Siwon hanya mendapat balasan nada telepon terputus dari seberang. Senyuman yang sedari tadi ada di wajahnya dengan cepat menghilang ketika ia sadar apa yang akan terjadi ketika Changmin sampai di tempatnya sekarang berada dalam beberapa waktu ke depan. Ia hembuskan napas kasar dan kesal, memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lagi, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan interogasi. Ia lihat Sooyoung yang memberikan raut wajah penasaran padanya kemudian ia berkata, “Well, sepertinya bantuan akan segera datang untukmu, Nona Choi.”

Sooyoung mengerutkan dahinya, alisnya naik satu, bibir atas dan bawahnya terbuka sedikit, meminta penjelasan pada Siwon. Tapi tidak diberi oleh lelaki itu.

Sementara di ruangan sebelah, Kyuhyun juga memberikan ekspresi yang hampir sama, dirinya tak mengerti apapun yang dimaksud Siwon, begitu pula orang-orang selain Kyuhyun yang berada di ruangan itu.

Beberapa menit dalam suasana yang membingungkan, akhirnya berakhir saat Siwon kembali duduk di kursinya, kedua tangan berada di atas meja, lebih tepatnya berada di bawah dagunya, menyatu, menopang dagu lancip miliknya sembari otaknya merencanankan harus apa ia selanjutnya. Wajahnya tidak lagi se-rileks tadi, sekarang ada sedikit kepanikan yang tergambar.

Who is it? Siapa yang baru saja meneleponmu yang mampu membuatmu menjadi seperti ini?” celetuk Sooyoung. Sebenarnya ia hanya menanyakan pertanyaan itu karena memang rasa penasaran yang besar dalam dadanya, tidak ada maksud lain. Tapi, kemudian, ia cukup terkejut pada respons yang diberikan Siwon. Lelaki itu nampak membelalakkan kedua matanya terkejut, seperti benar-benar tidak siap atas pertanyaan yang diajukan Sooyoung. Sang wanita bertambah bingung ketika sepersekian detik kemudian, ekspresi panik dan takut pada diri Siwon itu tidak lagi terlihat.

No one,” jawab Siwon diikuti sebuah senyuman tipis. Matanya menyipit dan kedua tangannya tak lagi menopang dagu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya kemudian kembali menatap Sooyoung.

I believe your help has arrived,” lelaki itu memberikan isyarat untuk break ke arah kamera di salah satu sudut atas ruangan dan kaca dua arah di belakangnya.  Sebelum tangannya mencapai pintu dan membukanya, ia berbalik dan berkata pada Sooyoung, “congratulations.”

Sesaat setelah berada di luar ruangan, Kyuhyun juga menampakkan batang hidungnya dari ruangan di sebelah, diikuti beberapa orang lain di belakangnya. Kyuhyun yang terlihat cukup bingung kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sedari tadi sudah bergemuruh untuk dikeluarkan dari bibirnya, “Apa maksudnya semua ini?” Siwon menatapnya, matanya penuh keyakinan tapi juga ada sedikit kekecewaan.

Someone’s gonna bail her out. Dia akan keluar dengan uang jaminan, sebesar apapun itu nominalnya,” ujarnya pada semua yang berada di hadapannya yang menuntut kejelasan padanya.

“Dan… seseorang itu ada di belakang kalian,” tambahnya sembari mengalihkan pandangan ke arah belakang gerombolan orang di hadapannya. Seketika itu Kyuhyun dan yang lain membalikkan badan dan mendapati seorang lelaki tinggi dengan potongan rambut hampir mirip seperti undercut, tapi lebih rapi, badannya tegap dengan apik dilapis setelan jas mahal.

Setelah ia sampai di hadapan Siwon, dengan cekatan ia serahkan sebuah kertas, yang isinya konfirmasi jika seorang tahanan sementara sudah dibayar uang jaminannya. Siwon menarik kertas itu dengan cepat dan membacanya sekilas. Ia tersenyum kecil ketika selesai membaca keterangan dalam surat itu yang menyatakan bahwa Choi Sooyoung, sudah lunas uang jaminannya dan bisa bebas.

Siwon merogoh saku jasnya, ia serahkan kunci borgol pada lelaki itu, kemudian yang menerima langsung membuka pintu ruang interogasi yang disambut raut wajah bahagia dari Sooyoung. Wanita itu tersenyum lebar begitu tahu yang muncul dari balik pintu itu bukan lagi Siwon, kali ini ia merasa sangat lega, seperti beban beratus ton di dadanya hilang saat itu juga.

Sang lelaki yang membawa kunci memasukkan kunci itu ke lubang pada borgol yang tersemat di pergelangan tangan Sooyoung, dan ketika akhirnya kedua tangan wanita itu bebas, yang pertama dilakukannya adalah memeluk lelaki itu dengan erat. Matanya hampir-hampir mengeluarkan cairan bening kalau suara Siwon tidak menganggunya.

“Selamat, Choi Sooyoung, kau bisa pulang,” ujarnya.

Sooyoung dan lelaki yang membebaskannya itu kemudian berjalan keluar ruangan tanpa memperhatikan lagi orang-orang yang masih tercengang pada apa yang baru saja terjadi. Termasuk Kyuhyun yang dengan cepat meminta penjelasan pada Siwon.

Come on, let’s go to a bar near here. I’ll tell you everything. Hanya dua blok dari sini,” ujarnya mengajak Kyuhyun kemudian berpamitan pada bos-bosnya yang ia janjikan penjelasan di hari esok.

***

Segerombolan anak muda asyik dengan kelompoknya di lantai dansa, badan bergoyang mengikuti irama lagu yang disetel sang DJ. Sementara di sudut lain bar, Siwon menenggak sekali satu botol gin dan Kyuhyun menyesap sedikit martini bersih miliknya sambil sesekali melihat ke arah lantai dansa.

So what is this all about?” tanya Kyuhyun pada akhirnya ketika tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.

“Siapa yang tadi menjemput Sooyoung?” tambahnya lagi.

“Shim Changmin. The last family that Choi Sooyoung has.”

Kyuhyun terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan Siwon itu. Ia menyesap lagi martini-nya kemudian kembali membuka mulut, “Maksudmu kakak lelaki Choi Sooyoung yang tinggal di Jerman itu?” Siwon mengangguk. Ia melepas jam tangannya dan meletakkannya di saku jasnya, ia tidak suka mengenakan aksesoris itu ketika sedang bersantai di bar seperti ini.

“Shim?” tanya Kyuhyun lagi dan Siwon pun mengangguk lagi, mengiyakan pertanyaan yang diajukan padanya itu. Sebelum kembali membuka suara, ia memberikan isyarat pada pelayan bar untuk memberinya tiga shots bir untuk menemani satu botol gin-nya yang belum habis. Tak berselang lama pesanannya datang dan ia tersenyum kecil sambil memberi pelayan wanita itu tip.

“Kakak angkat. Tapi mereka memang sudah kenal sejak kecil. Kau tahu Sooyoung dan keluarganya memang orang kaya kan?” Kali ini Kyuhyun yang mengangguk meskipun ia belum terlalu menangkap semua yang dikatakan Siwon padanya.

“Keluarga Choi itu mempunyai seorang kepala pelayan di rumah mereka, orang paling setia pada keluarga Choi dan paling dipercaya, Shim Changmin adalah anak kepala pelayan itu, yang kemudian diangkat menjadi kakak lelaki oleh orang tua Sooyoung karena kedekatan mereka.”

“Apa yang terjadi pada orang tua Choi Sooyoung dan kepala pelayan itu?”

They are dead, Kyuhyun-ssi. Kupikir kau sudah tahu tentang itu.”

Tidak-tidak, Kyuhyun tahu mereka sudah mati. Tapi ia ingin tahu apa penyebab mereka mati. Karena seingatnya tentang detail kematian kedua orang tua Sooyoung tidak terdapat di berkas wanita itu yang diberikan kepala polisi padanya saat pertama kali ia dikenalkan dengan wanita itu oleh bosnya.

I mean, what happened to them that they are now dead?”

Siwon tersenyum beberapa kali sambil menutup kedua matanya, kadang tertawa sambil kembali menenggak minuman kerasnya, dan Kyuhyun tahu lelaki itu mulai kehilangan fokusnya dan mabuk mulai datang padanya. Tapi ia tidak peduli, Siwon masih mampu memberinya informasi lebih mengenai Sooyoung yang tidak ia dapatkan di manapun, bahkan dari bosnya sendiri tidak. Siwon menenggak lagi gin miliknya dan tertawa sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan itu.

You didn’t know? The infamous high-end murder case in 2006?

Kyuhyun berhenti dari segala aktivitasnya. Matanya memandang lantai beton bar tersebut dengan tatapan kosong.

“Choi Jungnam, Choi Sohee, Cho Younghwan?”

Seseorang memutuskan untuk naik ke atas panggung di sudut lain bar ketika Siwon tepat menyelesaikan kalimatnya dan saat itu pula lelaki yang duduk di seberangnya kembali terhenyak. Badannya yang semula agak membungkuk kembali tegak perlahan. Ia tahu persis ketiga nama yang disebut Siwon itu siapa saja. Kesadarannya masih penuh jika dibandingkan Siwon yang fisiknya mulai menunjukkan tanda-tanda ia benar-benar mabuk –pupil membesar, sklera alias bagian putih pada matanya mulai berubah warna menjadi merah, dan tubuhnya mulai bergerak tak tentu arah.

“Pembunuhan tiga petinggi pemerintahan pada 2006, eoh?”

Sebelum mampu menjawab, Siwon akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran. Tak mengapa bagi Kyuhyun, cukup sampai pada informasi itu saja ia bisa melanjutkan investigasinya yang sempat terhenti. Ia menenggak habis minumannya yang masih tersisa sedikit, berdiri, membayar total minuman keras miliknya dan milik Siwon pada bartender dan memberinya tip yang cukup besar, kemudian menarik tubuh Siwon keluar dari bar itu.

***

Hyung, aku kan sudah minta maaf.”

Hyung, mianhae!”

Sooyoung berlari kecil sambil menarik tubuhnya yang terasa lelah setelah beberapa jam melewati proses interogasi dan juga menarik koper besar milik Changmin yang lupa lelaki itu tinggal karena kepanikannya tadi. Changmin berjalan cepat dan sudah berada beberapa langkah di depannya. Tak ada jawaban yang ia dapatkan dari lelaki itu. Baru ketika masuk ke dalam taksi, lelaki itu mau menatap Sooyoung.

Let’s go home first, then you tell me what the heck just happened to you sampai Choi Siwon bisa menangkapmu,” ujar lelaki itu kemudian dengan cepat kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang tidak cukup ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang mungkin milik pegawai lembur yang baru menyelesaikan kerjanya di malam hari.

Wanita itu menghembuskan napas, tau kakak lelakinya itu benar-benar kesal padanya dan tidak mau berbicara dengannya sampai ia menjelaskan semua yang terjadi padanya. Perjalanan kemudian berlanjut dalam keadaan sunyi. Hanya ada suara mesin mobil taksi dan radio petugas taksi tersebut.

Sooyoung mengerutkan dahi ketika laju mobil taksi itu mulai melambat dan memasuki daerah perumahan elit di Gangnam. “Ini bukan rumahku,” gumamnya pada diri sendiri namun Changmin masih bisa mendengar hal itu. Dengan cepat lelaki itu menoleh pada Sooyoung dan memberikan tatapan sinisnya, kekesalannya bertambah beberapa persen, tidak percaya adiknya mampu berkata seperti itu.

“Bukan rumahmu? This is your home, Choi Sooyoung! Dari bayi sampai kau sebesar ini, ini rumahmu.” Sooyoung meringis kecil mengetahui dengan baik apa yang ia ucapkan tadi memang salah.

Mobil berhenti ketika sudah sampai di depan sebuah rumah yang nampak lebih besar ketimbang rumah lain di daerah itu, mamun gelap dan hanya beberapa lampu yang menerangi. Keduanya keluar dari taksi setelah membayar biaya perjalanan dan mulai melangkahkan kaki masuk ke rumah besar itu. Beberapa lampu di bagian depan rumah menyala seiring sensor gerakan mereka bekerja mendeteksi ada dua manusia berjalan di bawah mereka dan butuh penerangan. Changmin mendorong pintu utama rumah itu dengan sedikit tekanan dan langsung terbuka. Sang wanita yang berada di sampingnya menaikkan satu alisnya meminta penjelasan.

“Aku sudah menghubungi Leeteuk-ssi sebelum menjemputmu dan memintanya untuk tidak mengunci pintu depan karena kita akan datang,” jelas Changmin dan mendapat anggukan dari adiknya.

Baru beberapa langkah dari depan rumah itu, Leeteuk, orang yang dipercaya oleh Changmin dan Sooyoung untuk menjaga rumah mereka muncul, masih dengan pakaian kerjanya yang rapi yang otomatis menimbulkan keheranan di wajah kedua manusia yang baru saja datang itu.

Oh my God, mengapa kau masih berpakaian seperti itu, Leeteuk-ssi?” celetuk Sooyoung.

Lelaki yang berada di umur tiga puluhan tahun itu tersenyum kecil sebelum kemudian menjelaskan bahwa dirinya masih ada tanggungjawab untuk menyambut Changmin dan Sooyoung yang akan pulang.

“Eyy, kau tidak perlu berbuat seperti itu. Sudah, istirahatlah,” ujar Changmin kali ini. Lelaki itu mengangguk dan membungkukkan tubuhnya kemudian hilang dari pandangan.

“Kau juga, bersihkan tubuh dan tidurlah,” tukas Changmin lagi pada Sooyoung.

“Tidak jadi kuceritakan?”

“Besok saja. You’ve been through so much today.”

Sooyoung tersenyum mendengar perhatiannya lelaki itu padanya. Ia menjatuhkan tubuhnya pada tubuh lelaki itu dan memeluknya erat. Matanya terpejam dan merasakan rasa aman yang sudah lama tidak dirasakan olehnya.

Gomawo, Hyung,” ujarnya pada Changmin, masih memeluknya. Lelaki itu mengacak rambut Sooyoung pelan, kemudian keduanya melepas lengan dan menuju kamar masing-masing.

***

Ada dua hal yang mengganggu pikiran Kyuhyun saat ini. Kesunyian yang melanda telinganya pada jam tiga pagi dan suatu hal lagi yang membuatnya tak bisa terlelap hingga pagi seperti ini. Tubuhnya yang awalnya berada di ranjang beranjak dan menuju meja kerjanya. Ia dudukkan dirinya dan menyalakan sebuah lampu meja yang berada di sisi kanannya.

Diambilnya sebuah buku jurnal yang sudah terlihat usang dari salah satu laci meja tersebut dan dibukanya jurnal itu di halaman awal-awal. Nampak sebuah potongan berita yang ia potong dari koran harian. Jemarinya menelusuri tulisan tangannya di pojok kanan halaman, February 17, 2006. Kemudian perlahan berpindah ke potongan berita itu. Terpampang sebuah judul berita yang tercetak tebal dan lebih besar ketimbang ukuran huruf lainnya, Siapa Sang Pembunuh Bayaran?

Kyuhyun memegang dahinya dan memejamkan mata. Tiba-tiba sebuah memori terlintas saat ia dipanggil dari kelasnya dan seseorang menjemputnya untuk ke hadir ke pemakaman ayahnya. Ayahnya yang mati bersama dua pejabat negara lain, yang dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran saat berada di kantor mereka sendiri. Sayangnya, sampai sebelas tahun setelah kejadian itu merenggut nyawa satu orang yang sangat dicintainya itu, pembunuh itu belum tertangkap. Dalam hati ia bersumpah, akan terus selalu mencari sang pembunuh itu dan membalaskan rasa sakit yang ia rasakan.

Sebuah memori lain juga melintas di pikirannya. Di hari pemakaman itu, ketika tak disangkanya ia bertemu dengan seseorang yang harus lebih menahan sabar ketimbang dirinya karena kehilangan kedua orang tuanya. Seorang gadis yang sampai beberapa jam lalu ia tidak pernah ketahui namanya, di mana ia berada, dan janji apa yang diinginkannya.

Choi Sooyoung.

I wonder why I didn’t found you anywhere,” gumamnya. Berbulan-bulan ia mencoba mencari identitas gadis itu namun tidak dapat ia temukan di mana-mana. Sampai akhirnya ia menyerah dan selalu mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa, suatu saat ia akan bertemu gadis itu lagi. Bahkan Kyuhyun sempat mempunyai teori jika gadis itu adalah seorang hacker dan sengaja menghapus seluruh identitas mengenai dirinya dan yang berhubungan dengan kedua orang tuanya di manapun sehingga tidak ada lagi jejak yang tertinggal. Dan dugaannya benar rupanya. Semua yang terjadi beberapa hari kemarin mulai bersambungan satu sama lain.

After all these years, I finally found you, Choi Sooyoung.”

—–

End of Elixir: No. 4

—–

Author’s Note

Wahhh… Sorry for the late late late update on this story. Saya kena writer’s block for a while dan ga bisa ada muncul ide sama sekali buat ngelanjutin cerita ini. But here it is, the 4th chapter! I hope you like it… dan tenang aja, saya udah hampir selesai nulis cerita ini hahaha. Don’t forget to state what you think about this story, aight?

Author:

SNSD makes my life complete. Sooyoung is my number one bias. Actually I love SooSica more than KyuYoung or Sooyoung-het pairings. Running Man addict, Ha Donghoon is my favorite. | I'm 98liner. Danshin. I want to study abroad in South Korea. I think sad story is my forte. And what else? Just contact me if you want to know me more (@syoongie) :D

GO AWAY SIDERS! You have to leave comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s