Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Horror, Mystery, Romance, Series

Switch Off the Light: 3

lihgt

A story by Soshinism

—–

RatingPG 17 (Violent and disturbing content.)

GenreRomance, Fantasy, Supernatural

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Please kindly check out my own blog for more stories and about myself, just click the link down below.

Soshinism

—–

— If I spilled my guts, the world would never look at you the same way. And now I’m here to give you all of my love, so I can watch your face as I take it all away.” -Switch Off the Light —

Saat itu jam menunjukkan pukul dua belas siang lebih beberapa menit dan kafetaria mulai dipenuhi murid-murid yang kelaparan. Ada yang langsung memosisikan tubuhnya dalam antrean untuk mendapatkan makanan dari sekolah, ada yang membawa dari rumah sendiri, dan ada pula yang hanya membeli satu-dua gelas milkshake atau jus jeruk kemudian menghabiskan waktu istirahat dengan bersantai.

Pintu kafetaria terbuka lebar, menampkakkan Kyuhyun dan Donghae dengan jaket tim football sekolah –ya, meski ketua geng, ia juga ikut dalam tim football sekolah. Keduanya mengambil posisi di sisi kanan kafetaria sambil membawa kotak minuman milik masing-masing yang diambil dari vending machine di kafetaria. Murid-murid penggemar Kyuhyun saling berbisik satu sama lain ketika menyadari ada yang aneh dari lelaki itu hari ini –ia tidak bersama teman-teman satu gengnya yang lain dan hanya bersama Donghae.

Maklum saja, dari semalam, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kyuhyun. Kali ini saja, pandangannya melayang entah ke mana, tidak seperti biasanya yang penuh keyakinan atas dirinya sendiri. Bahkan tersenyum untuk membalas panggilan para penggemarnya saja tidak.

Ia kembali pada fokusnya ketika Donghae menyenggol sikunya dan memberinya pertanda untuk melihat seseorang yang ada pada jarak beberapa meja di sebelah kirinya. Tempo napasnya mulai berubah cepat ketika menyadari siapa yang dimaksud Donghae. Dan tanpa pikir panjang, ia berdiri dari duduknya, berjalan dengan langkah-langkah tegas menuju seseorang yang sudah memenuhi pikirannya sejak beberapa hari yang lalu.

Continue reading “Switch Off the Light: 3”

Advertisements
Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Mystery, Psychology, Romance

Sound of My Dreams [2]

dream

A story by Soshinism

—–

RatingPG 13

GenreRomance, Psychological, Fantasy

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

Please kindly check out my own blog for more stories and about myself, just click the link down below.

Soshinism

—–

Seseorang benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya pagi buta tadi. Kakak perempuanku belum pulang dan rumahku masih gelap, kecuali beberapa bagian yang dinyalakan asisten rumah tangga kami yang aku tidak tahu namanya, kalau tidak salah marganya Lee. Tanpa sadar aku menempatkan diri di depan lemari pendingin, mencari steak ayam yang disebut-sebut Ahra dalam catatan kecilnya, kemudian memanaskannya dalam microwave.

Bunyi ding memenuhi ruangan setelah beberapa menit dan kuhabiskan makanan itu dengan lahap. Aku tidak bisa menolak kebenaran bahwa isi perutku meronta minta diberi nutrisi setelah Minho mampu membuatku bertahan lebih lama di sekolah, membantunya mengerjakan satu tugas dan mengerjakan perintah seorang guru untuk menyortir sebuah berkas yang aku tak terlalu paham apa isinya.

Piring kotor kemudian menemukan jalannya pada mesin pencuci piring dan aku pada kamarku. Kuputuskan untuk langsung berpetualang ke dalam mimpi lagi akibat lelah yang melanda.

***

Mataku terbuka karena merasakan tekanan yang luar biasa. Kelopak mataku menyipit lagi ketika menyadari aku berada di sebuah ruangan berwarna putih. Semuanya putih. Tanpa apapun di dalamnya. Tidak-tidak, ini tidak bisa disebut ruangan, aku tidak bisa melihat ujung dari tempat ini. Yang kulihat hanya putih, itu saja. Aku bahkan tidak mengerti kedua kaki milikku sedang menginjak bidang di bawah atau tidak.

Lamat-lamat ada sesuatu yang terbuka di depan mataku, seperti ada sekumpulan kabut yang membuka diri mereka dan memberikan jalan pada indera penglihatanku untuk melihat lebih jelas apa yang ada di hadapanku. Huh? Ada seseorang lain di sini?

“Chogi…” ujarku mencoba memanggilnya.

Seseorang itu terlihat sedang tidur. Dalam sebuah kotak yang terbuat dari kaca jernih. Tubuhnya yang ramping menempel pada sisi kaca bagian kanan, dia tidur dalam posisi duduk. Aku tidak ingin mengganggunya, tapi aku terlalu penasaran untuk tidak melakukan hal itu. Belum lagi, ditambah fakta bahwa sepertinya hanya ada aku dan dirinya di ruang kosong itu. Continue reading “Sound of My Dreams [2]”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Fantasy, Mystery, Romance

Switch Off the Light: 1

lihgt

A story by Soshinism

—–

RatingPG 17 (Violent and disturbing content.)

GenreRomance, Fantasy, Supernatural

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Choi Minho. And many others you’ll find along the way.

If you would, please kindly check out my own blog, just click the link down below.

Soshinism

It’d seriously support my mental health, hahaha.

—–

— If I spilled my guts, the world would never look at you the same way. And now I’m here to give you all of my love, so I can watch your face as I take it all away” -Switch Off the Light —

 

Udara terasa bertambah dingin ketika serintik-dua rintik hujan mulai berjatuhan dan menghujam tanah. Awalnya hanya gerimis biasa, namun lama-lama berubah menjadi guyuran air yang keras dan menusuk tulang. Angin bertiup menambah kelam suasana malam itu ketika seorang wanita berhenti tepat di bawah pohon di sebuah taman. Ia mengusap poncho merahnya dengan tergesa di beberapa bagian yang terkena air. Raut wajahnya menampakkan jika ia benar-benar kelaparan. Kedua matanya menatap pada seekor burung yang tengah melindungi diri dari hujan di ranting pohon. Dan dalam hitungan detik, it’s gone.

Wanita itu mengusap bibirnya yang sedikit ternoda darah dan melanjutkan langkahnya sambil menggerutu pada dirinya sendiri, betapa rasa darah burung itu sangat menjijikkan baginya, hampir-hampir ia muntah, namun ditahannya karena rasa lapar yang menyerangnya sejak beberapa hari kemarin. Setidaknya, bersyukur ia memiliki tingkat kesadaran yang tinggi sehinggaa ia tidak menggila karena kelaparannya dan memutuskan untuk berkeliling membunuh manusia-manusia tak berdosa.

Beberapa hari ini stok darah yang ada di ruang penyimpanan rumahnya sedang habis, hanya tersisa satu-dua kantong, itupun harus ia bagi dengan rata pada beberapa orang yang tinggal bersama dengannya.

Ia hampir melanjutkan langkahnya ketika suara seseorang memenuhi telinganya. “Oi, Choi, what are you doing?”

Wanita yang dipanggil Choi itu tersenyum kecil saat mengenali suara yang memanggilnya. Ia membalikkan badan, senyum masih nampak terpasang di wajahnya yang basah terkena air hujan. Ia mengerutkan kedua alisnya, kemudian balik bertanya, “What are you doing here, Choi?” menekankan suaranya pada kata you.

Sang lelaki yang balik ditanya ikut tersenyum dan menggaruk belakang lehernya dengan tangan kanannya. “I miss the feeling of getting soaked in the rain,” ujarnya kemudian memasukkan tangan kanannya tadi ke saku celananya. Keduanya tertawa kecil. Sang lelaki kemudian menyamakan langkahnya dengan wanita yang diajaknya berbicara ketika ia mulai berjalan sambil menikmati satu per satu air hujan menimpa tubuhnya.

Everyone at the house is starving. Stok kantong darah mulai habis dan kau tau sendiri kan akhir-akhir ini, the hunters are on fire to annihilate us,” ujar sang wanita, kepalanya menunduk memperhatikan jalan agar kakinya tak menginjak kubangan air dan mengotori sepatunya.

Hunters, huh? Menyebalkan sekali. Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena terlahir seperti ini dan mereka memburu kita? Heh, funny.”

Sang wanita menarik satu ujung bibirnya ke atas, bukan sebuah senyum tulus, melainkan sebuah senyum penuh kekesalan dan entah apa yang lain. “Yeah, well, humans are like that, thinking everything is theirs. Apa yang bisa kita lakukan, eoh?”

Langkah keduanya terhenti ketika sampai di persimpangan jalan besar dan sebuah gang kecil yang mengarah ke gang-gang kecil lain di area tersebut. Indera pendengaran sang lelaki dan wanita yang memang peka itu menangkap suara seorang wanita, berteriak meminta tolong.

“Choi Sooyoung, you heard that?”

Continue reading “Switch Off the Light: 1”

Posted in Action, Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Romance

Elixir: No. 3

elixir

A story by Soshinism

—–

RatingPG 15

GenreRomance, Action

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. And I don’t know who else, you’ll find it anyway.

—–

— As the girl walks behind you with her longing heart, you bury her in the biggest flower bouquet she ever received.” -Elixir —

 

Dengan cekatan Kyuhyun menarik tuas rem tangan di sebelah kanan tubuhnya, membuka pintu mobil, keluar, dan melewati beberapa kumpulan orang yang sedang santai menyantap makanan mereka –tanpa memperhatikan waktu yang berjalan dengan cepat dan pasti akan membuat mereka telat masuk kantor.

Sebuah tangga yang tak terlalu tinggi ia lewati, kemudian setelah sampai di lantai yang ditujunya, ia mengetuk sebuah pintu yang ada di depan wajahnya sebanyak tiga kali. Nihil. Ia mengetuk lagi tiga kali berturut-turut dengan tempo yang sama, namun tetap tak ada jawaban.  Tiga-empat menit kemudian, masih tetap nihil, tak ada jawaban dari sang empunya tempat tinggal.

Kyuhyun menghembuskan napas kesal, matanya terpejam beberapa detik sebelum ia memutuskan untuk mencoba membuka pintu itu dengan apa saja yang dimilikinya saat ini, contohnya seperti paper clip.

Gagal.

“Ah I know it. Should’ve known her nature better,” ungkapnya dengan nada geram sekaligus merutuki dirinya sendiri yang seharusnya tahu dengan baik tipe-tipe manusia seperti Sooyoung tidak akan mudah membiarkan pintu tempat tinggalnya dibobol begitu saja.

Tapi sang lelaki berpakaian kasual itu tak menyerah. Ia baru menyadari ada sebuah panel tempat untuk memasukkan password yang berada di samping kiri pintu. Segala angka ia coba masukkan sampai pada percobaannya yang kelima, ia berhasil. Pintu terbuka.

Dengan hati-hati ia melangkah masuk, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menciptakan suara yang terlalu keras. Langkahnya terhenti saat mencapai di depan sebuah ruangan yang pintunya tak sepenuhnya tertutup. Ia mengintip di celah pintu itu, gotcha! Wanita itu akhirnya ia temukan.

Dibukanya pintu perlahan supaya tubuh besarnya dapat masuk. Matanya tertumbuk pada seonggok tubuh wanita di atas ranjang. Kyuhyun berlutut untuk menyejajarkan dirinya dengan sang wanita. Waktu berlalu dalam kesunyian, sementara lelaki itu memperhatikan wajah sang wanita yang tengah terlelap dengan pulas. Sehelai-dua rambut menghalangi matanya yang tertutup rapat. Kyuhyun bergerak untuk menyingkirkan rambut tersebut saat wanita itu tiba-tiba membelalakkan mata dan dengan gerakan secepat kilat menarik Kyuhyun sehingga ia berada di bawah tubuhnya, kemudian menguncinya dengan kedua tangannya.

Sorry, again… for cutting in the middle, but please proceed here to read the full story 🙂

Posted in Action, Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Drama, Romance

Elixir: No. 2

 

elixir

A story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

GenreRomance, Action

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. And I don’t know who else, you’ll find it anyway.

—–

— As the girl walks behind you with her longing heart, you bury her in the biggest flower bouquet she ever received.” -Elixir —

Ada jam dinding berbentuk bulat di ruangan kepala polisi, bagian atasnya miring ke depan sedikit, mungkin sekitar enam derajat, seperti hampir jatuh tapi masih aman. Jam itu tidak punya jarum penunjuk detik, hanya jarum penunjuk menit dan jarum penunjuk jam. Modelnya flat dan elektrik, tanpa denting atau bunyi apapun, jam itu sepenuhnya diam. Selaras dengan diamnya Kyuhyun yang sedang memperhatikan jarum penunjuk menit sambil sesekali menghembuskan napas pendek. Bosan. Waktunya tak bisa ia buang hanya untuk menunggu.

“Ayo bergerak,” gumam Kyuhyun sedikit kesal karena jarum penunjuk menit itu tak juga bergerak.

“Ayolah, move!” gumamnya lagi, kali ini sedikit menggeram.

Okay, sorry to interrupt, full story is available here –>

Posted in Action, Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Romance, Series

Elixir: No.1

elixir

A story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Action

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. And I don’t know who else, you’ll find it anyway.

—–

— “As the girl walks behind you with her longing heart, you bury her in the biggest flower bouquet she ever received.” -Elixir —

Kyuhyun memutar matanya malas ketika lagi-lagi yang dilihatnya pada televisi di hadapannya adalah berita yang sama. Perdana Menteri Hampir Terbunuh. Ibu jarinya terus menekan tombol-tombol pada remote control ketika sebuah berita menangkap perhatiannya –lega ketika setidaknya ada berita yang tidak membicarakan tentang perdana menteri negaranya yang hampir tertembak itu. Lelaki itu menyesap kopinya sambil tetap terfokus pada tayangan di depannya. Ia tersenyum kecil ketika membaca judul berita itu, Kantor Keamanan Nasional Kembali Terkena Serangan Hacker. Kyuhyun melirik jam pada dinding di sebelah kanannya, sembilan lewat tujuh menit. Ia menyesap kopi sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari apartemennya.

Ia sampai di depan kantor kerjanya, sebuah kepolisian di tengah ibukota yang cukup besar, tapi tidak cukup nyaman –setidaknya begitu baginya. Ia langkahkan kakinya sedikit terlalu bersemangat sampai hanya membalas sapaan beberapa rekan kerjanya dengan, “Yes, yes, yes, good morning too,” tanpa ada niatan sedikit pun membalas tatapan mereka. Kyuhyun memasuki sebuah ruangan yang berada di tengah kantor itu tanpa mengetuk, sementara yang di dalam hanya mampu menghela napas sedikit kesal –meskipun ada pula bau kebanggaan karena tau siapa yang datang, “Ada apa kali ini, Kyuhyun?”

Go here to read the full version 🙂

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Psychology, Romance

Pastel Pistol: Honeysuckle

pastelpistol

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

Kyuhyun telah kembali ke kantor setelah beberapa hari tidak menunjukkan batang hidungnya. Jemarinya yang panjang sibuk ia gunakan untuk menandatangani macam-macam berkas yang menjadi tanggungjawabnya. Di tengah kesibukan dan konsentrasinya itu, sekretarisnya masuk ke ruangannya dan memberitahu jadwal-jadwal yang harus dilaluinya hari itu. Cukup padat, namun bersyukur hanya beberapa meeting lokal dan tidak mengharuskannya pergi ke luar negeri. Changmin kembali menghilang, Kyuhyun menyalakan smartphone miliknya dan menunggu, jarum jam mencapai angka tujuh ketika smartphone Kyuhyun berdenting, tanda sebuah notifikasi masuk. Diliriknya layar gadget tersebut dan matanya membelalak terkejut. Saat itu juga seluruh kesibukannya ia hentikan, hanya untuk memandang sebuah pesan yang baru saja masuk dan membacanya. Perlahan senyumnya merekah dengan lembut.

From    : Choi Sooyoung

To        : Cho Kyuhyun

Malam ini bisa bertemu?

Kindly click this phrase to read the full story!

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Psychology, Romance, Series

Pastel Pistol: Hemlock

pastelpistol

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

“Cho Kyuhyun, ne?” tanyanya.

Nuguseyo?

Kyuhyun mengangguk tanpa suara setelah membalas lelaki yang mengajaknya bicara itu dengan pertanyaan. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa dokter lelaki itu yang mengetahui namanya. Baru saja hendak ia buka bibirnya saat sang dokter kembali berujar, “Bisa ikut sebentar? Ayo, Cho Kyuhyun-ssi.” Untuk beberapa detik Kyuhyun ragu apakah harus mengikuti dokter itu dan meninggalkan Sooyoung sendiri.

“Ah, Choi Songsaengnim akan aman di sini,” ujar lelaki itu lagi meyakinkan Kyuhyun sambil menunjuk pada Sooyoung yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dan pada akhirnya Kyuhyun melangkahkan kaki mengikuti sang dokter.

Keduanya kemudian sampai di salah satu taman yang ada di rumah sakit tersebut. Angin menyambar bangunan dan dedaunan pohon rumah sakit berkali-kali dan menyebabkan suara dentuman pelan yang menenangkan. Selama beberapa saat berjalan dalam gemuruh suara angin, sampai Kyuhyun akhirnya membuka suaranya terlebih dahulu, “Nuguseyo, Songsaengnim?” Siwon yang memunggungi Kyuhyun kali membalikkan badan dan menatap lelaki itu tepat di kedua matanya dengan tajam dan serius.

Go here to read more!

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Psychology, Romance

Pastel Pistol: Blue Curacao

pastelpistol

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

Desember, 1997

Matahari bersinar cukup terang meskipun saat itu sedang musim dingin. Atap rumah-rumah semakin menebal dengan salju putih dan jalanan perlu beberapa kali sehari dikeruk dari kumpulan salju sehingga tidak menyulitkan pengguna jalan. Di sebuah lapangan bermain yang juga tertutup salju di pucuk-pucuk alat permainannya, nampak lelaki kecil yang mengenakan beanie coklat tua dan ia bermain seorang diri. Ia ayunkan dirinya pada ayunan yang didudukinya, ke depan-ke belakang, dan tiap ayunannya ia hitung, satu-dua kali senyumnya merekah sempurna bagai tak mempedulikan kesendiriannya.

Go here for more.

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, kyuyoung, Psychology, Romance, Sad, Series

NEW STORY UPDATE! Pastel Pistol by Soshinism

Pastel Pistol

pastelpistol

Annyeonghaseyo! Hello, long time no see, hihi!

Pastel Pistol is a brand new story from Soshinism. Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Drama Korea Doctor Stranger, Kill Me Heal Me, dan mungkin Legend of the Blue Sea. And here is the detail and a little sneak peak for the story!

—–

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

Mei, 2017

Hari berjalan seperti biasa untuk Sooyoung. Sebagai dokter bedah yang bekerja di beberapa rumah sakit di Seoul, kebutuhan hidupnya bisa dibilang sangat tercukupi, tinggal di daerah Gangnam, mobil sport mahal, koleksi baju eksklusif, dan hal-hal lain yang membuktikan betapa mumpuni hidupnya. Ah, satu lagi, wanita itu lebih suka untuk tidak menampakkan kredibilitas ekonominya, baginya hal-hal itu ditunjukkan dan digunakan pada saat yang benar-benar tepat saja.

***

Di tempat lain yang tak begitu jauh dari rumah sakit tempat Sooyoung bekerja, seorang pemuda yang tampilannya begitu ekslusif sedang memimpin sebuah rapat yang nampaknya hampir selesai. Beberapa menit kemudian, setelah sang lelaki menjelaskan hal-hal penting yang berhubungan dengan investasi, investor, saham, dan lain-lain, rapat ia tutup dan para pemegang jabatan yang sedari tadi duduk pun mulai berdiri dari singgasananya dan melangkah keluar untuk kembali mengurus pekerjaan. Dan tersisa lelaki muda yang memimpin rapat itu beserta lelaki muda lain yang dengan setianya menunggunya merapihkan berkas-berkas.

“Setelah ini jadwal Sajangnim kosong sampai pukul dua siang, apakah ada yang akan Sajangnim lakukan?”

—–

Woops, cut! 😀

Go here to read the rest! Enjoy!

Posted in Action, Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Romance

[Series] The Precious Thing -1-

the-precious-thing-2

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeo Jin

From Author          :

Annyeonghaseyo… udah lama yah… hehe Continue reading “[Series] The Precious Thing -1-“

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Fantasy, Romance

(SERIES) Beautiful Mermaid ! Part 5

bmw

(SERIES) Beautiful Mermaid ! Part 5

Summer_Choices

Romance, Fantasy, Comedy

Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Lee Hyukjae, ETC.

PG-15

Chaptered/Sequel

Sooyoung eonnie and kyuhyun oppa are owned by SM Entertaiment and also belonged to their parents.

This purely the result of my imagination!

Happy Reading Chingudeul..

@2016

“Aku merindukan keluargaku, aku ingin pulang..

Kumohon kembalikan pada lautku..”

 

“Jika ini adalah satu-satunya cara untuk bisa bersamamu,

maka aku tidak akan melepasmu.”

 

 

AUTHOR POV

 

Suasana canggung masih tergambar jelas didalam ruangan berukuran extra large ini, dua manusia muda berbeda gender itu terus menampilkan gelagat kaku yang dapat terlihat jelas oleh siapapun yang melihatnya. Tampak, Kyuhyun melirik gadis itu secara diam-diam.  Sayangnya, yang ditatap hanya dapat menundukan kepalanya karena merasa gugup. Dan tanpa mereka sadari duo lee tengah menatap kedua muda-mudi itu dengan wajah penuh tanda tanya. Ada berbagai pertanyaan didalam kepala dua pria tampan itu, mereka mencium bahasa tubuh yang tidak biasa dari Kyuhyun dan juga Sooyoung.

 

Ingin rasanya mereka menanyakan situasi awkward ini pada Kyuhyun. Hanya saja, mereka paham betul bagaimana sifat mengerikan dari sahabatnya itu. Kyuhyun bisa saja menendang bokong mereka agar enyah dari rumah mewahnya, bahkan pria itu bisa saja memecatnya dari pekerjaan elite-nya. Mereka mulai bergidik ngeri ketika membayangkan nasib tragis itu. Tanpa kyuhyun, mereka hanyalah dua pemuda yang tidak mengenal hingar-bingar perkotaan. Kyuhyun telah memberikan kehidupan yang layak dan juga mewah kepada mereka.

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu, huh?” tanya Kyuhyun, begitu menangkap basah aksi Hyukjae yang tengah menatapnya.

 

“Ti-tidak—” jawabnya terbata, pemilik gummy smile itu memilih menutup mulutnya rapat-rapat.

 

“Cih! Apa yang ada diotak kosongmu itu, huh?” Cibir Kyuhyun sinis, tampak Hyukjae membelalak ketika mendengar cibiran pedas itu.

 

Mwoya? Otak kosong? Aku adalah salah satu staff terbaik dikantormu, itu tandanya aku memiliki IQ yang sempurna.” Jawab Hyukjae merasa bangga dengan jabatannya, Kyuhyun tersenyum miring.

 

“Ckckck, kau berbicara IQ? Kau bahkan memiliki IQ yang jauh lebih rendah dariku, Lee Hyuk Jae!” Jawabnya arrogant, Hyukjae mengusap wajahnya gusar.

 

“Ya! Siapa yang bisa bersaing melawan putra Cho Younghwan, huh? Kami hanya pemuda biasa, Kyu.” Jawabnya rendah hati, jika Kyuhyun sudah menyangkut pautkan perbedaan mereka maka Hyukjae lebih memilih untuk menunjukan sikap humble-nya itu.

 

“Apa bedanya, huh?”

Continue reading “(SERIES) Beautiful Mermaid ! Part 5”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Family, kyuyoung, Series

LOVE FOLLOWS YOU 9

Love Follows You 9
Length : Series
Cast : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung
Genre : Romance, Comedy, Married life

THIS IS PURE MINE


 

Sooyoung’s POV

Ini semua tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Aku tidak ingin Jessica hidup dengan orang yang jelas tidak mencintai dirinya. Terlebih orang itu mencintai adikku. Jika memang Jessica dan Donghae menikah, maka akan banyak hati yang akan terluka. Adikku yang patah hati, Donghae yang kecewa dengan keputusannya meninggalkan Yoona dan Jessica yang akan hidup tanpa balasan cinta dari Donghae. Seharusnya aku bisa memikirkan hal ini sebelum pertunangan itu terjadi. Bodohnya aku yang memaksa Yoona untuk melupakan Donghae dan merelakan kekasihnya itu untuk bersanding bersama yeoja lain. Bodoh, bodoh, aku memang bodoh. Aku sudah menyakiti perasaan adikku sendiri.

read more…

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Drabble, Romance

[Drabble] A For “Asking to hold your hand”

ky1

2007 Era

Author : Insta bling_ky/ FB Jonghyun.Biase4

Length: Drabble

Genre : Suka-suka :p

Cast : Kyuyoung and they own world.

(Ga ada disclaimer ah~ ini FF Absurd buat baper-baperan dan flasback aja :D)

Happy Reading, dear :* :*

Backstage SBS Gayo Daejun begitu hiruk pikuk diisi oleh para artis pengisi yang tengah berlalu lalang bersiap-siap untuk menampilkan yang terbaik malam itu. Mulai dari kostum, aksesoris dan semua perlengkapan pendukung lainnya sudah berderet rapi menunggu para stylish beraksi menyulap penampilan para artis menjadi lebih glamour untuk special stage kali ini.

“Ok, Super Junior dan SNSD, Standby”

Terdengar teriakan aba-aba dari staff SBS kepada 2 group yang mendapat kesempatan menjadi pembuka konser malam itu.

Serombongan gadis-gadis dan pemuda-pemuda yang tengah di gilai remaja korea saat itu mulai merangsek menuju tangga yang menyambungkan backstage dengan stage utama.

Masing2 dari mereka ada yang tengah latihan mengulang koreo, ada yang sibuk dengan stylish yang membetulkan kostum maupun make up dan ada juga yang tengah berdoa dengan seriusnya.

“Mmm, chogi…Sooyoung~ssi”

Seorang pemuda canggung dengan kulit pucat dan perawakan tinggi, menginterupsi kegiatan seorang gadis yang tengah bercengkrama asik dengan anggota membernya.

“Nde?” Sang gadis memberikan seluruh atensinya pada pemuda yang tampak tak nyaman mendapati tatapan penasaran dari anggota memebernya, karena pemuda yang dikenal sebagai maknae Super Junior itu sangat jarang menyapa mereka, apalagi menyapa Sooyoung secara personal.

“Bisa bicara sebentar? Tapi tidak disini” kembali dengan tidak yakin pemuda itu mengedarkan pandangannya demi untuk tidak langsung membuat kontak mata denngan sang pemilik mata bulat Choi Sooyoung.

Bersamaan dengan itu, semakin gaduhlah para gadis berbisik2 tentang pemuda dihadapan mereka. Sooyoung merasa kasihan melihat pemuda dihadapannya sekarang banjir keringat dan wajahnya yang semakin memerah. jika dibiarkan, mungkin dalam satu menit pemuda itu akan pingsan menanggung rasa canggung.

“Bisa, Lorong sebelah sana bagaimana Kyuhyun~ssi? ” usul sooyong sembari menunjuk salah satu lorong yang lumayan lengang tempat microphone2 dan earphone2 diletakan.

Tanpa kata2, Kyuhyun -pemuda itu- berlalu dengan wajah menunduk menuju tempat yang Sooyoung tunjuk, di ikuti langkah ringan Sooyoung dan tatapan mengunci dari para member SNSD.

Sooyoung hanya menggeleng dan mengulas senyum ketika mengikuti punggung tegap Kyuhyun, Si member tambahan di SJ, yang selalu canggung dengan semua orang dan memperlakukannya seperti Senior padahal disini Super Junior lah yang duluan debut dibandingkan grupnya SNSD. Yah walaupun masa trainingnya memang lebih lama dari Kyuhyun yang member baru Super Junior.

“Ada apa?” Sooyoung berinisiatif membuka percakapan sebelum mereka berdua mati gaya karena Kyuhyun tak kunjung mengajaknya berbicara, pemuda itu hanya melihat lantai dan sesekali menggerak-gerakan kakinya yang memakai converse putih. Lantai lebih menarik untuk pemuda itu pikir Sooyoung.Dan apa pemuda itu berniat pamer sepatu baru padanya?

“Soal performance kita. Maaf karena kita lebih sering latihan masing2 karena jadwalku yang sering tidak klop”

“Tak apa, aku mengerti. lalu?”

“Bisakah kita melakukan sedikit improvisasi?

“Improvisasi?”

“Ya improvisasi, pada koreo kita ada bagian dimana kita mengaitkan kelingking kita dan mengangkatnya sebagai penutup performance, bagaimana kalau kita melakukannya seperti…ini..” cerocos Kyuhyun sambil mempraktekan koreo bersama mereka yang sedianya akan ditampilkan nanti. Sooyoung menyimak penjelasan dan gerakan kyuhyun dengan seksama, kemudian perlahan mengikuti gerakan pemuda itu dengan enjoy. Dan pada bagian akhir yang tadi kyuhyun minta untuk adanya improvisasi, kyuhyun mulai melirik Sooyoung, tatapannya mengisyaratkan “Can I to hold your hand?”

Dan sooyoung dengan tanpa ragu mengulurkan tangannya untuk disambut kyuhyun, mereka menari dengan seirama tanpa ada rasa kecanggungan sama sekali.

Di stage nanti, bukan hanya kelingking yang terpaut tapi lebih dari itu mereka sudah sepakat untuk saling menggenggamkan tangan. Dan hati mungkin dikemudian? Who Knows.

Kkeut

Note : Udah lamaaaa~ ga posting karya sendiri di KSI ini. Jadi kayak harus adaptasi lagi haha.

Jujur, kangen nulis KY Pair, kangen Chingudeul, kangen respon komenan. pokonya judulnya KANGEN >_<

Posting berarti comeback? Semoga. See U All ❤

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, Romance

[Series] Slice of Drama 3rd

slice of drama - POSTER

Slice of Drama

Panggil Aku Bubel © 2016

SNSD’s Sooyoung – Super Junior’s Kyuhyun

Bunch of Dramas, veryslight!Comedy, and ofc!Romance

Rate T

Disclaimer : Bubel nggak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari fiksi-penggemar ini. Bubel cuma mau senang-senang. Ada yang mau ikutan? Tentu aja penjiplak nggak masuk hitungan senang-senang. (Well, tapi Bubel bisa melakukan beberapa hal ‘menyenangkan’ dengan penjiplak /ketawa iblis cantik/)

.

Enjoy!

 

[Notes : Nanti curhat bubel di bawah tolong di baca, ya. Kelanjutan cerita ini ada pada keputusan kamu :)]

*

Prolog | 1st Slice | 2nd Slice

3rd Slice

 

Selepas mengantar Sooyoung kembali ke apartemen Soojin, Kyuhyun segera memacu Range Overnya menuju rumah orangtuanya di kawasan Gangnam. Sebenarnya, rencana awal Kyuhyun setelah menemui Choi Sooyoung adalah segera kembali ke kantor, karena semula ia mengira perempuan itu tidak akan mau diajak menikah. Namun siapa sangka ternyata si Model bersedia ia nikahi. Ya sudah, mau tidak mau Kyuhyun harus mengabari kedua orangtuanya perihal rencana dadakannya ini.

Menikah.

Pangkal hidung Kyuhyun mengerut. Usianya baru dua puluh tujuh tahun, bisnisnya yang dibangun dengan darah dan air mata tengah berkembang pesat, dan ia sedang dalam puncak produktivitasnya. Terlebih lagi, tidak pernah ada kata ‘menikah’ dalam daftar pencapaiannya. Lalu sekarang, tiba-tiba ia harus dihadapkan pada tanggungjawab besar: menikah.

Oh, tambahan: menjadi seorang ayah.

Mungkin Changmin benar. Mungkin ini karma. Mungkin Tuhan ingin melihatnya bertobat.

‘Apa Tuhan berencana mencabut nyawaku dalam waktu dekat sampai memberikan karma secepat ini?’ pikir Kyuhyun yang diakhiri dengusan. Merasa konyol dengan pemikirannya sendiri.

Perlu setidaknya lima helaan napas dalam sebelum Kyuhyun keluar dari mobilnya. Hubungannya dengan ayahnya tidak begitu baik. Berita yang dibawanya sekarang bisa saja memperburuk keadaan, membuat ayahnya kembali murka. Kyuhyun mendengus. ‘Yah, yang penting aku memberitahu mereka. Peduli amat mereka akan marah atau apa.’

Tidak butuh waktu lama bagi Kyuhyun menunggu setelah dua kali menekan bel, pintu dibuka oleh kakak perempuannya.

“Kyuhyun?”

“Ahra?”

Kedua kakak-beradik itu menyeru bersamaan. Kemudian tertawa kecil.

“Aku sedang berkunjung,” Ahra menjelaskan tanpa diminta seraya membuka pintu lebih lebar, mengundang Kyuhyun untuk masuk. “Masuklah.”

“Aku juga berkunjung,” balas Kyuhyun.

“Pasti ada sesuatu. Jarang sekali kan kaudatang ke sini.”

Kyuhyun mengedikkan bahu. “Aku tidak akan lama. Ayah dan Ibu ada?”

“Benar. Pasti ada sesuatu.” Mata Ahra menyipit curiga. “Ibu sedang menemani Ayah di ruang kerja.”

Sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyum tipis. “Kebetulan kau ada di sini. Ayo ikut, aku mau memberitahukan sesuatu.”

Dengan kening yang kini mengerut, Ahra mengikuti Kyuhyun. Mereka menyusuri koridor di lantai dua, berujung pada pintu ruang kerja Tuan Cho.

“Jangan bilang kau akan mengambil-alih Myeonghan Group,” ujar Ahra di sela langkahnya, menyebutkan nama perusahaan yang dikelola keluarganya.

Kyuhyun tertawa mendengarnya. “Sampai aku bangkrut pun tidak akan pernah kusentuh Myeonghan. Tenang saja, okay.”

Ahra mendengus. “Aku justru akan sangat berterimakasih kalau kaumau memimpin perusahaan kita. Asal kautahu, aku masih dendam padamu, ya.”

Respon Kyuhyun hanya seringai lebar. Ia mengetuk pintu ruang kerja ayahnya dua kali, kemudian memutar kenopnya.

Di dalam ruangan yang setiap dindingnya ditempeli rak buku tersebut, musik klasik mengalun lembut, disertai aroma kopi dan kayu manis yang berbaur. Tuan Cho tengah duduk di balik meja kerjanya dengan tumpukan map dan kertas, sementara Nyonya Cho sedang merajut di sofa.

Melihat putra bungsunya yang masuk, Nyonya Cho menghentikan pekerjaannya. Wanita yang masih cantik di usianya yang sudah lebih lebih dari separuh abad itu berdiri dari sofa, segera menyambut Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, ya Tuhan ….” Nyonya Cho memeluk Kyuhyun erat.

“Apa kabar, Bu?” sapa Kyuhyun setelah sesi peluk-memeluk selesai.

“Lutut Ibu sering sakit belakangan ini,” keluh Nyonya Cho.

“Itu karena Ibu berhenti ikut kelas taichi,” Ahra menyela.

Kyuhyun tersenyum tipis seraya menuntun ibunya untuk duduk kembali. Kemudian ia menyapa ayahnya. “Selamat malam, Ayah. Apa kabar?”

“Apa tujuanmu?” tembak Tuan Cho tanpa mengalihkan tatapannya dari lembaran berkas yang tengah diperiksa. Nada bicaranya dingin, seolah tidak sedang berhadapan dengan anaknya sendiri.

Kyuhyun sudah terbiasa dengan cara bicara ayahnya. Masih untung ditanya dulu, tidak langsung diusir. Dan karena ayahnya tidak repot-repot untuk berbasa-basi, maka Kyuhyun pun langsung mengutarakan niatnya.

“Aku akan menikah.”

Kalimat pendek itu berhasil menarik seluruh perhatian keluarga Cho. Nyonya Cho dan Ahra terenyak di tempatnya. Bahkan Tuan Cho pun mengangkat kepalanya.

Sebelum ada yang bereaksi, Kyuhyun melanjutkan, “Pernikahanku akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Mungkin akhir bulan ini, atau awal bulan depan.”

Mata Ibu Kyuhyun sudah tidak bisa menjadi lebih lebar lagi. Ekspresi wajahnya menggambarkan betapa terkejutnya ia mendengar ucapan anak laki-lakinya. “Kyuhyun-ah—”

“Kedatanganku bukan untuk meminta ijin. Karena aku akan tetap menikah dengan atau tanpa ijin dari Ayah dan Ibu. Aku hanya berpikir jika kalian berhak tahu hal ini.” Kyuhyun kembali bicara. Lurus matanya menantang tatapan Tuan Cho, tidak menunjukkan keraguan.

Untuk beberapa saat, waktu seolah berjalan dengan amat lambat. Udara di dalam ruangan itu, yang semula hangat dan lembut, mendadak terasa berat untuk dihela. Keheningan meningkatkan ketegangan di sana. Nyonya Cho tidak lagi berusaha untuk angkat bicara, ia menatap suaminya dengan sorot khawatir. Begitu juga dengan si Cikal Ahra yang hanya bisa mengelus tangan ibunya.

Gerakan Tuan Cho melepaskan kacamata membuat Ahra menahan napas.

“Apa yang perempuan ini berikan padamu?” nada bicara Tuan Cho belum berubah. Masih datar, masih dingin.

Kyuhyun menelan ludahnya. Ia tidak berencana untuk mengatakan kalau ia telah menghamili Sooyoung—tidak secepat ini. Namun dari cara ayahnya menatapnya, Kyuhyun bisa menduga bahwa pria tegas itu sudah menyimpulkan sendiri. Jika ia tidak berkata jujur sekarang, maka ia tidak akan memiliki cukup harga diri untuk berdiri di depan ayahnya lagi di kemudian hari.

“Namanya Choi Sooyoung,” Kyuhyun berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang, “dan dia hamil anakku.”

Ahra dan ibunya terkesiap. Keduanya menatap Kyuhyun nanar.

Kyuhyun berusaha tetap membalas tatapan ayahnya yang masih juga belum berubah. Tuan Cho lalu berdiri dari kursinya, dengan gerakan yang biasa. Tidak ada gurat emosi di wajahnya. Dalam dua helaan napas, Tuan Cho sudah berdiri di hadapan putra bungsunya.

Belum ada yang memutus kontak mata penuh ketegangan itu. Setidaknya sampai Tuan Cho meraih bahu kiri Kyuhyun, menghentakkannya ke bawah, hingga tubuh Kyuhyun membungkuk, dan disambut dengan lutut kanan Tuan Cho yang tepat mengenai ulu hati. Cengkraman Tuan Cho di bahu Kyuhyun belum lepas, ia lalu menarik paksa tubuh anaknya untuk kembali tegak dan memberikan satu tamparan keras di pipinya yang sudah pucat pasi.

Kyuhyun terhuyung. Dahinya mengantuk pinggiran meja. Kepalanya jatuh tak jauh dari kaki ibunya. Saat itulah Nyonya Cho memekik panik. Ia segera membantu anaknya duduk dan memeriksa keadaannya.

Kyuhyun merasakan ngilu yang luar biasa di ulu hatinya. Ia mual, tapi tidak bisa memuntahkan apa-apa. Dahinya berdenyut, pipinya panas, dan telinganya berdenging keras. Padahal belum hilang sakit akibat tinjuan Sooyoung, sekarang ia dapat lagi, seratus kali lebih kuat.

“Aku kira kau hanya seorang pembangkang. Ternyata kau juga seorang bajingan. Aku tidak ingat pernah membesarkan anak sepertimu.”

Meskipun dengan telinga yang berdengung, Kyuhyun mampu mendengar suara dingin ayahnya. Mengangkat kepalanya, Kyuhyun kembali melempar tatapan menantang pada pria itu.

“Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut, Ayah.” ujar Kyuhyun pelan.

Tuan Cho melempar tatapan tajam terakhirnya, lalu meninggalkan ruangan itu.

Setelah tidak lagi mendengar suara langkah kaki ayahnya, Kyuhyun mengembuskan napas lega. Ia meringis, menahan rasa sakit ketika ibunya memeluknya sambil menangis.

‘Sial. Ayah masih jago taekwondo.’ Kyuhyun memejamkan mata.

*

Kyuhyun meringis, menarik kepalanya menjauh dari jangkauan tangan Ahra.

“Tahan sebentar, Kyu,” geram Ahra. Sekarang hanya tinggal ia dan adiknya yang berbaring di sofa dalam ruangan kerja ayah mereka. Nyonya Cho menyusul Tuan Cho setelah memastikan luka Kyuhyun tidak terlalu parah, membiarkan Ahra yang mengurusnya.

“Ayah itu umurnya berapa, sih? Rasa tamparannya tidak berubah.”

Ahra tersenyum kecil. “Memangnya rasa apa? Cokelat? Stroberi? Vanila?”

“Rasa kimchi basi lada hitam. Pedas-pedas asam.”

Senyum Ahra berubah menjadi tawa.

“Iya, tertawa saja. Tidak apa-apa. Mumpung lucu—aw! Sakit, Ahra!” Kyuhyun mendelik pada kakaknya yang masih tertawa. Perempuan itu menekan luka di dahinya sedikit kelewat bertenaga.

“Hahaha … Sorry ….”

“Aku tidak mengira Ayah bakal menghajarku. Terakhir kali Ayah melakukannya, dia bilang tidak akan peduli lagi padaku. Jadi, kupikir kali ini Ayah akan membiarkanku. Eh, ternyata tetap dihajar juga. Berarti Ayah masih peduli, kan?”

“Orangtua mana, sih, yang berhenti peduli pada anaknya?” tanya Ahra retoris, tawanya sudah berhenti sejak kata ‘peduli’ terselip dalam kalimat Kyuhyun. Perlahan, ia menempelkan plester pada luka kecil di dahi adiknya akibat terbentur pinggiran meja. “Kaumenambah dendamku padamu, ChoKyu.”

Kyuhyun ingin mengerutkan dahi, tapi sakit. “Dendam apa lagi?”

“Kau akan menikah lebih dulu daripada aku.” Ahra menjawab acuh tak acuh sembari mengangsurkan ice pack pada Kyuhyun, untuk mengompres bengkak di pipinya. “Eh, tapi serius kau akan menikah? Umurmu kan baru … berapa? Dua lima?”

“Dua tujuh. Dan iya, aku akan menikah. Kalau tidak, bisa repot urusannya. Choi Sooyoung ini model terkenal.”

“Oh, jadi benar Sooyoung yang model itu. Tadi sewaktu kaubilang ‘namanya Sooyoung’, aku sempat berpikir model Choi Sooyoung. Tapi, kok bisa, sih, Kyu? Aku tidak pernah tahu kalau kalian berpacaran.”

Senyum pahit tercipta di bibir Kyuhyun. ‘Bisa, karena waktu itu aku memanfaatkan keadaan Sooyoung yang sedang patah hati gara-gara kau bertunangan dengan orang yang dia sukai.’ untungnya kalimat itu hanya disuarakan dalam kepalanya. Sejauh ini, sepertinya Ahra belum tahu hubungan ‘persahabatan’ antara Sooyoung dan Siwon, mengingat Ahra baru mengenal Siwon beberapa bulan ke belakang, tepatnya sejak perusahaan Siwon menawarkan kerjasama pada Myeonghan Group. Akan menjadi lebih merepotkan lagi jika Ahra sampai tahu tentang perasaan tak terbalas Sooyoung pada Siwon. Kyuhyun tidak mau menambah drama lagi dalam hidupnya.

“Bisa lah. kaumeremehkan pesona adikmu ini.”

Ahra menatap Kyuhyun dengan sorotan ‘aduh-please-deh’. “Omong-omong, kok, mau sih dia menikah? Apa yang kaujanjikan padanya sampai dia tidak memilih aborsi? Dia model terkenal, kan? Karirnya bagaimana? Dia pasti cinta sekali padamu, ya?”

Kyuhyun mengerang. Pusing mendengar pertanyaan beruntun Ahra. Dan yang terakhir itu bisa membuat Kyuhyun tertawa terbahak-bahak kalau saja pipinya tidak bengkak dan nyeri. ‘Cinta sekali? Iya. Pada tunanganmu.’

Ahra jelas tidak tahu jika adiknya itu tidak pernah benar-benar menjalin hubungan serius dengan satu perempuan. Mereka berdua sudah terpisah sejak sepuluh tahun lalu. Lebih tepatnya, ketika Kyuhyun diterima berkuliah di University of Cambridge (yang hanya bertahan enam bulan, sebelum akhirnya ia kabur ke London dan menjadi pegawai magang di kantor cabang SEGA).

“Karena anak itu tidak salah apa-apa,” jawab Kyuhyun menggantung pada akhirnya.

Menghela napas dalam, Ahra membawa punggungnya pada sandaran sofa. Ia menatap langit-langit. “Kau pasti bahagia sekali, ya.” Gumamnya pelan.

“Mengamili anak orang, dan dihajar Ayah. Iya. Aku bahagia.” Sambar Kyuhyun sarkastik.

Ahra berdecak mendengarnya. “Bersyukurlah sedikit. Kau bisa menikah dengan orang yang kaucintai dan mencintaimu. Itu sudah lebih dari cukup, Kyuhyun. Kau juga bekerja sesuai dengan passion-mu. Bisnismu berkembang pesat. Dan kau akan punya anak. Kau sudah punya semuanya. Apa lagi yang kaucari di hidupmu?”

Kyuhyun meringis. Ia jelas menangkap nada iri dalam kalimat Ahra. Atau malah kakaknya itu sama sekali tidak menutup-nutupi rasa irinya. Semua ucapannya benar, kecuali bagian cinta-cinta itu.

Kyuhyun tidak habis pikir, ada apa sih antara perempuan dan cinta? Mereka selalu irasional jika berpikir dengan melibatkan cinta. Dan sialnya, apa-apa selalu dihubungkan dengan cinta, padahal tidak ada relevansinya sama sekali. Tidak masuk akal. Lihat saja Choi Sooyoung itu. Bimbang hanya karena cinta yang sudah jelas-jelas ditolak. Dan sekarang kakaknya, yang notabene seorang bussiness-woman dan sibuk mengurusi perusahaan keluarga, ikut-ikutan bicara cinta. Tidak cocok sama sekali.

Inilah salah satu alasan kenapa Kyuhyun tidak bisa serius menjalin hubungan dengan perempuan. Mereka membuatnya kebingungan jika sudah bicara dengan membawa-bawa kata keramat itu. Logika Kyuhyun tidak sampai ke sana.

Kyuhyun sudah membuka mulut untuk meralat ucapan Ahra soal cinta-mencinta, namun kehadiran sang Ibu menghentikannya. Kyuhyun urung bicara. Tidak perlu lah orangtuanya tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Ahra memutuskan untuk keluar. Memberi kesempatan pada ibu dan adiknya bicara empat mata. Ahra pikir mereka butuh itu.

“Sudah diobati?” tanya Nyonya Cho seraya membantu Kyuhyun untuk bangkit dan duduk.

“Sudah.” Kyuhyun menghindari tatapan ibunya. Ia tidak ingin melihat jejak airmata di wajah wanita itu. Kyuhyun tidak tega.

Nyonya Cho mengusap kepala putranya lembut, seperti saat laki-laki itu belum bergelar laki-laki. “Sejujurnya Ibu kecewa sekali. Tapi mau bagaimana lagi.”

“Maaf, Bu,” ujar Kyuhyun tulus.

“Sudah bicara pada orangtua gadis ini? Siapa tadi namanya?”

“Sooyoung, Choi Sooyoung,” Kyuhyun menjeda sejenak, “orangtuanya sudah meninggal. Sooyoung hanya tinggal berdua dengan kakaknya.”

“Ya Tuhan,” Nyonya Cho menutup bibirnya dengan telapak tangan. “Pasti berat sekali untuknya.”

Kyuhyun tidak menjawab, makin merasa bersalah. Sampai tiba-tiba daun telinganya ditarik dan dipelintir oleh ibunya.

“Aw, Bu! Bu! Ibu sakit, Bu …,” Kyuhyun setengah merengek. Kenapa semua orang abusive sekali hari ini?

Nyonya Cho akhirnya melepaskan telinga Kyuhyun. “Dasar anak nakal!”

“Bu, aku sudah dua puluh tujuh tahun. Masih perlu, ya, dijewer-jewer?”

Mendengar itu, ibunya berdecak. “Kalau sudah menikah nanti, biar istrimu yang menjewermu kalau kau berani macam-macam.”

“Haa?”

“Besok, undang Nona Choi dan kakaknya untuk makan malam bersama. Perkenalkan dia pada kami dengan selayaknya. Sekaligus kita bicarakan tentang pernikahan kalian.”

Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengernyit mendengar kata ‘pernikahan’ lolos dari bibir ibunya. Dan ia menyesal, karena luka di dahinya berdenyut lagi. Kyuhyun tidak mengharapkan penerimaan dari keluarganya. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, ia tidak datang untuk meminta ijin. Ia hanya memberitahu mereka, karena ia masih menghormati kedua orangtuanya. Bagaimana pun juga.

“Ibu merestui kami?”

“Mau tidak Ibu restui?”

Kyuhyun meringis kecil. “Lalu Ayah?”

“Ayah memang keras kepala, tapi Ibu yakin Ayah mengerti.”

Sesaat Kyuhyun memberanikan diri membalas tatapan ibunya. Hatinya terenyuh. Ini bukan kali pertama ia membuat ibunya menangis. Tetapi kali ini rasanya berbeda. Sebelumnya, ibunya juga menangisi semua pilihan yang ia ambil dengan seenaknya, namun ia bisa  mempertanggungjawabkan dan membuktikan kalau pilihannya benar. Kali ini … Kyuhyun dipaksa memilih. Tidak ada yang bisa ia buktikan, karena Kyuhyun tahu sejak awal ini sudah salah.

Kyuhyun pun memeluk ibunya. Erat. Lalu berbisik, “Terimakasih banyak, Bu. Terimakasih …”

‘… Dan maafkan aku ….’

*

“Nomor yang Anda tuju sedang tid—”

Siwon menghela napas dalam, memutus panggilannya. Sudah hampir dua minggu ini, setiap kali ia menelepon ke satu nomor itu, jawabannya selalu sama. Teleponnya tidak aktif. Chatnya tidak ada yang terkirim. Dan ketika ia berusaha mengunjungi apartemen si pemilik nomor itu, ia tidak ada di tempat.

Choi Sooyoung sedang menghindarinya. Siwon tahu itu. Pasti.

It can’t be helped. Sooyoung jelas kecewa padaku.’ Pikir Siwon.

Ia bukannya tidak tahu. Ia juga tidak buta. Ia bisa membaca seluruh perhatian yang gadis itu berikan padanya. Ia bisa menebak apa yang ada di balik itu semua. Siwon mengerti. Hanya saja …

Drrttt

Siwon segera melihat layar ponselnya. Sebuah pesan singkat.

Cho Ahra: Ibu mengundang makan malam besok. Ada waktu?

Siwon menghela napas dalam sekali lagi.

Hanya saja … ia tidak punya pilihan.

*

Hari ini Sooyoung menyesali keputusan untuk mempertahankan janinnya. Benar-benar menyesal. Padahal belum juga dua puluh empat jam berlalu. Ada dua hal yang menjadi sebabnya: pertama, pagi ini Sooyoung mengalami morning-sick paling parah dalam tujuh minggu terahir; dan kedua, kehadiran pria cantik nan nyentrik yang duduk bertumpu kaki di ruang tamu apartemen kakaknya.

‘Bagaimana bisa dia tahu aku ada di sini?!’ Sooyoung membatin frustasi. Yang mana tidak lama kemudian ia menemukan sendiri jawabannya. ‘Memangnya aku bisa bersembunyi di mana lagi kalau bukan di sini? Tentu saja dia bakal menemukanku.’

Seolah keberadaan manajer nyentriknya belum cukup membuat Sooyoung ketar-ketir, Kyuhyun dengan sangat jenius muncul dalam waktu hampir bersamaan. Sekarang kedua laki-laki itu duduk di sofa yang sama. Heechul—manajer Sooyoung—di sisi paling kiri, sementara Kyuhyun menempati sisi satunya. Ketika Sooyoung mengintip dari balik pintu dapur, Kyuhyun sedang sibuk dengan tabletnya dan Heechul sibuk … mengamati kukunya Yang Maha Cantik.

Tentu saja Sooyoung tahu pasti, cepat atau lambat ia harus mengabari agensi perihal apa yang terjadi padanya dan rencananya untuk menikah. Hanya saja tidak seperti ini. Tidak sekarang. Tidak tanpa persiapan apa-apa.

“Kaubisa berhenti bolak-balik seperti itu dan bantu aku membawa ini ke ruang tamu.”

Sooyoung mengerjap pelan, berdiri di sisi meja makan. Ia sendiri baru sadar jika ia telah berjalan mondar-mandir di ruang makan yang merangkap dapur sejak tadi. Pandangannya beralih pada Soojin yang tengah mengatur cangkir teh dan wadah gula di atas nampan. Sooyoung menahan diri untuk protes. Bagaimana pun juga, yang akan disuguhi itu dua laki-laki, dan mereka bukan pangeran dari Eropa. Teh dengan cangkir yang manis kedengarannya tidak terlalu cocok untuk dua pria Korea dewasa.

Err, oke, hitung itu satu pria. Heechul mungkin akan menyukai teh dalam cangkir cantik dan kukis.

Namun Sooyoung seketika teringat sesuatu. Ia mendekati kakak perempuannya itu.

“Hei, Soojin,” suara Sooyoung begitu pelan, hampir menyerupai bisikan, “waktu itu kau janji padaku, kan?”

“Janji apa?” Soojin balik bertanya acuh tak acuh.

“Kau akan membantuku bicara pada agensi.”

“Ada Kyuhyun di sana. Aku baru akan membantumu kalau dia tidak bertanggungjawab.” Soojin beranjak menuju kabinet di samping kulkas dan mengambil setoples kukis.

Erangan frustasi lolos dari bibir Sooyoung. “Aku dan Kyuhyun belum memikirkan alasan yang tepat. Heck. Kami bahkan baru bertemu lagi kemarin.”

Soojin menegakkan tubuhnya. Ia memandang adiknya lurus-lurus. “Alasan apa? Maksudmu bukan alasan, tapi kebohongan. Iya, kan?”

Sooyoung merengut.

“Sudah, bawa ini ke depan. Katakan saja yang sebenarnya pada Heechul-ssi. Sekalipun kau diboikot oleh agensimu sendiri, masih ada Cho Kyuhyun. Dia punya banyak uang. Itu poinnya.”

Mendengar itu, rahang Sooyoung jatuh seketika. Ia tahu kakaknya adalah seorang oportunis, selalu straight-forward, tidak pernah mau ambil pusing dengan hidupnya sendiri, apa lagi hidup orang lain. Akan tetapi tetap saja kalimat terakhir Soojin membuatnya syok. Seolah-olah nasibnya hanya bergantung pada uang, dan Cho Kyuhyun adalah ATM pribadinya.

Soojin mengangsurkan nampan berisi empat cangkir, sepoci teh, dan satu toples kecil gula.

Sooyoung meringis. Apa Soojin tidak memikirkan perasaannya? Sama sekali?

Menghela napas pasrah, Sooyoung membawa nampan itu ke ruang tamu. Sempat terkejut saat mendapati atmosfir di sana tidak lagi penuh kecanggungan. Dua laki-laki yang nampak kontras itu sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang seru, dan berhenti ketika Sooyoung bergabung di sofa berseberangan dengan mereka. Soojin menyusul dengan setoples kukis.

“Oi, Sooyoung, selamat, ya. Kyuhyun-ssi sudah mengatakan semuanya.”

Sooyoung membeku.

“Aku tidak tahu kau sudah move on dari Choi Siwon itu. Oh, dan kapan keponakanku akan lahir? Ya ampun, aku bakal jadi paman.” Heechul terkekeh.

Mulut Sooyoung membuka, bukan karena ia akan mengatakan sesuatu, lebih karena terkejut. Ia melempar tatapan menuntut penjelasan pada Kyuhyun, dan hanya direspon dengan seringai tipis. Jadi Kyuhyun sudah mengatakan semuanya pada Heechul, tapi respon manajernya itu terlalu … tidak terduga.

“Jadi, kapan kalian menikah? Kalian bakal menikah, kan?” lanjut Heechul lagi, bergantian menatap Sooyoung dan Kyuhyun.

Sebenarnya, ada apa ini?

*

“Aku bilang akan membayar uang kompensasi, berapa pun yang diminta oleh agensimu,” adalah jawaban Kyuhyun saat Sooyoung menuntutnya untuk menjelaskan reaksi Heechul yang tidak masuk akal baginya. Manajernya itu seharusnya histeris, menjambaknya, atau bahkan mungkin menyeretnya ke dokter kandungan terdekat untuk menggugurkan bayinya. Bukannya malah memberi selamat dengan senyuman lima puluh watt.

“Dan berapa yang diminta agensiku?” tanya Sooyoung kemudian.

Kyuhyun tidak langsung menjawab, ia membukakan pintu penumpang mobilnya untuk Sooyoung dan melindungi kepala gadis itu saat memasuki mobil. Setelah ia sendiri duduk di balik kemudi, memastikan Sooyoung sudah memasang sabuk pengamannya, barulah Kyuhyun menjawab, “Heechul-ssi belum memberikan angka pastinya, tapi dia bilang kemungkinan sekitar 300 sampai 500 juta won.”

“HA?! KAU BERCANDA?!”

“Kecilkan suaramu, aku tidak tuli.”

Sooyoung mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak  pernah tahu kalau aku semahal itu. Gajiku sebulan saja tidak sampai dua puluh juta.”

Sekilas, Kyuhyun melirik model itu sinis. “Serius itu yang kaupikirkan? Apa kau tidak memikirkan aku membayar terlalu mahal untuk ini semua?”

“Itu urusanmu. Kan kau sendiri yang bilang kalau kau akan membayar semuanya. Se-mu-a-nya. Aku tidak pernah meminta, ya.” balas Sooyoung tak acuh.

Kyuhyun merapatkan bibirnya, tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalas Sooyoung. Ia hanya bisa menggeretakkan gigi, dan sekali lagi, melirik model itu, namun kali ini sedikit lebih lama. Lirikannya turun pada perut Sooyoung yang masih tampak datar. ‘Saat kaulahir nanti, Nak, hargailah hidupmu. Kau mahal sekali.’

Tidak ada lagi yang bersuara untuk beberapa lama. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Mereka tengah dalam perjalanan menuju restoran tempat keluarga Kyuhyun mengundang Sooyoung untuk makan malam. Soojin juga seharusnya ikut, tetapi malam ini adalah jadwalnya untuk tampil dan tidak ada aktris pengganti.

“Apa Siwon Oppa juga akan datang?” tiba-tiba Sooyoung memecah keheningan itu. “Aku belum bicara apa-apa pada Siwon Oppa. Aku belum memberitahunya. Apa aku tidak usah datang saja, ya? Aku belum siap bertemu dengannya. Kyuhyun-ssi … sebaiknya kita putar balik saja ….”

Tentu Kyuhyun tahu mengapa Sooyoung berkata demikian. Heck, semua orang juga tahu alasannya. Hanya saja Kyuhyun merasa reaksi Sooyoung untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Choi Siwon terlalu berlebihan. Memangnya hidup wanita itu hanya untuk berotasi pada Siwon? Tidak, kan. Sooyoung harusnya sadar bahwa ia punya hidup sendiri, yang lebih berharga ketimbang dihabiskan untuk mengkhawatirkan perasaan tidak terbalasnya.

“Apa isi kepalamu cuma ‘Siwon Oppa’?” balas Kyuhyun retoris, dengan menekankan bagian ‘Siwon Oppa’.

Dan balasan itu berhasil menyulut api emosi Sooyoung. “Kau cuma perlu jawab ‘iya’ atau ‘tidak’, Brengsek!”

Pletak!

Sooyoung mendelik. Kyuhyun baru saja menyentilnya. Menyentil bibirnya. “Hey—”

“Mengumpat sekali lagi, kubuat kau sariawan!” ancam Kyuhyun. “Aku tidak tahu soal Siwon. Ibuku tidak bilang apa-apa. Dan bisa tidak kaukurangi sedikit rasa khawatirmu yang berlebihan itu?”

“Jangan sok mengaturku! Terserah aku mau mengutuk atau apa. Ini mulutku!”

“Iya, itu mulutmu. Tapi telinga yang mendengar bukan cuma punyamu. Aku tidak mau anakku mendengar kata-kata kasar. Dari ibunya pula.”

Mulut Sooyoung sudah membuka, siap mendebat, tetapi menutup kembali saat tidak menemukan kata yang tepat untuk melawan Kyuhyun. Dan laki-laki itu bilang apa barusan? ‘Anakku’? Sooyoung mencibir samar disertai dengusan keras, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Namun tidak lama, Sooyoung kembali menatap Kyuhyun tajam. Oh, dia sudah menemukan kalimat perlawanan rupanya.

“Anak ini bahkan belum punya telinga!”

Sekilas, Kyuhyun menatap Sooyoung, kepalanya menggeleng pelan. “Kau serius ingin mendebatkan masalah seperti ini?”

Kali ini giliran Sooyoung yang kehabisan kata-kata. Ia melipat kedua tangannya dan membuang muka.

Tidak ada lagi yang bicara. Sisa perjalanan mereka diisi oleh musik yang diputar oleh Kyuhyun. Musik dengan ketukan yang cepat dan sentuhan EDM, membuat Sooyoung mengernyit samar, tidak menyangka selera musik seorang Cho Kyuhyun yang seperti itu.

Pikiran Sooyoung yang sesaat lalu sempat teralihkan kini kembali lagi pada satu nama: Siwon. Panik pun seketika menderanya. Bagaimana kalau Siwon juga diundang? Ini acara makan malam keluarga, kan? Sudah pasti Siwon akan diundang. Laki-laki itu sudah menjadi calon anggota keluarga Cho. Lalu apa yang harus dikatakannya pada Siwon nanti? Beberapa bulan lalu Sooyoung menangis putus asa menyatakan perasaannya pada pria itu, dan sekarang ia datang sebagai calon istri orang lain—calon istri Cho Kyuhyun.

Sooyoung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Bibirnya membentuk sebuah senyum sedih ketika ia teringat percakapannya dengan Kyuhyun kemarin.

‘… dia tidak membalas perasaanmu. Apa yang kautakutkan?’

Ya, benar. Apa yang dia takutkan? Ini tidak seperti Siwon memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia tidak mengkhianati siapa-siapa. Jika Siwon ada di sana, bersama keluarga Cho, mungkin dia hanya akan terkejut sebentar, lalu memberi Sooyoung ucapan selamat. Mungkin laki-laki itu akan tersenyum lega karena mengira Sooyoung akhirnya telah terlepas dari bayang-bayangnya.

Tanpa sadar Sooyoung meremas sejumput gaunnya. Menyakitkan rasanya membayangkan Siwon akan lebih senang melihatnya bersama pria lain ketimbang dirinya. Jadi, begini rasanya menjadi seseorang yang tidak diinginkan?

Telapak tangan Sooyoung perlahan melepaskan remasan pada gaunnya, berpindah meraba perutnya. Sekarang Sooyoung mengerti. Anak ini juga kelak akan merasakan hal yang sama dengannya saat ini, dan Sooyoung tidak ingin itu terjadi.

“Sooyoung! Oi!”

Sooyoung terlonjak di tempat saat bahunya diguncang pelan. Ia mendongak. Kyuhyun sudah membukakan pintu penumpang. Tatapan laki-laki itu jelas menunjukkan kalau ia tengah kesal.

“Turun. Sudah sampai.”

“Oh ….” Sooyoung segera melepas sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil.

“Dengar, keluargaku berpikir jika kita pasangan. Jadi, jangan bicara yang tidak perlu. Kecuali kalau kaumau semua jadi lebih rumit lagi, itu terserah padamu,” pesan Kyuhyun sebelum mereka memasuki restoran.

Seorang pelayan laki-laki mengantar keduanya menuju lantai dua, tepatnya ke sebuah ruangan yang sudah dipesan khusus oleh keluarga Cho.

Sooyoung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia berusaha menghindari tatapan penasaran dari pelayan-pelayan, bahkan tamu restoran lainnya. Ia tahu restoran ini, dan bukan kali pertama ia datang ke mari. Lima bulan lalu restoran ini hampir diratakan dengan tanah karena hutang korporasi yang menaunginya. Namun, Myeonghan Group menyelamatkannya. Setelah diakuisisi oleh Myeonghan, dalam dua bulan restoran bertajuk la Trattoria ini kembali melejit.

Sebelum diakuisisi, pengusaha bernama Choi Kiho memimpin korporasi tersebut. Kini, yang memegang kendali, di bawah naungan Myeonghan, adalah putranya, Choi Siwon.

Sooyoung refleks meraih tangan Kyuhyun saat pelayan membukakan pintu ruangan VIP. Kyuhyun melirik lengannya yang digelayuti Sooyoung, lalu menatap wanita itu dengan kening mengerut.

Sooyoung menyeringai canggung. “Kita … pasangan, kan?” katanya.

Diam-diam Kyuhyun bisa merasakan gemetarnya tangan Sooyoung.  “Sesukamu,” balas Kyuhyun akhirnya.

Setelah mereka masuk ke dalam ruang makan khusus tersebut, Kyuhyun bisa mendengar desahan lega lolos dari bibir Sooyoung. Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang: ibu dan kakak Kyuhyun. Keduanya menyambut Sooyoung dengan hangat. Demi sopan santun, Sooyoung berusaha keras mengontrol mimik wajahnya saat Ahra menyapanya. Itu sulit baginya, tentu saja. Terlebih ia berakhir duduk tepat di seberang wanita saingannya itu.

“Ternyata lebih cantik dari di foto,” komentar pertama Nyonya Cho. Wajahnya berseri-seri. Sepertinya senang sekali melihat Sooyoung.

Sooyoung tidak tahu harus senang, sedih, tertawa, meringis, atau apa. Mengejutkan sekali melihat keluarga Kyuhyun menerimanya dengan baik. Tidak ada tatapan menghakimi. Bahkan Ahra semangat sekali menanyainya berbagai hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sooyoung jadi bertanya-tanya, bagaimana jika Ahra tahu kalau ia memiliki perasaan khusus pada tunangannya? Akankah sambutannya tetap sehangat ini?

“Ah, kalau tidak salah, Sooyoung-ssi datang ke acara pertunanganku dengan Siwon-ssi, kan? Rasa-rasanya aku melihatmu sekilas, tapi waktu itu aku tidak begitu yakin.”

Mendengar pertanyaan Ahra, dingin seketika merambati punggung Sooyoung.

“Ya. Aku yang membawanya.” Kyuhyun menjawab pertanyaan itu untuk Sooyoung.

“Oh, benarkah? Lalu kenapa saat itu kau tidak memperkenalkannya pada kami?” selidik Ibu Kyuhyun.

“Dia malu.”

Susah payah Sooyoung menahan diri supaya tidak menginjak kaki Kyuhyun sebagai respon atas jawabannya yang brilian. Namun diam-diam ia berterimakasih, laki-laki itu tidak membiarkannya menghadapi ini semua sendirian.

“Jangan coba-coba melempar pisau steak pada kakakku,” bisik Kyuhyun pada Sooyoung kemudian, saat beberapa pramusaji masuk dan menyajikan makanan pembuka.

Sooyoung menoleh, refleks memundurkan kepalanya begitu menyadari jarak wajahnya dan Kyuhyun terlalu dekat. Ujung sepasang alisnya nyaris bertautan karena kerutan pangkal hidungnya, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada sikap laki-laki itu. Ia jadi mempertimbangkan lagi soal menginjak kaki Kyuhyun dengan hak wedges-nya.

Di luar dugaan, Kyuhyun malah tertawa kecil. Lalu, tanpa diduga, Kyuhyun mengangkat tangannya di depan wajah Sooyoung, dan dengan ibu jarinya, ia mengusap kerutan di dahi hingga pangkal hidung wanita yang tengah hamil muda itu.

“Jangan sering-sering mengernyit, nanti kena penuaan dini.”

Aksi bungsu keluarga Cho itu jelas mengundang senyuman dari dua wanita lain di ruangan itu. Oh, Sooyoung juga tersenyum. Jenis senyum manis yang terlalu manis. Raut wajah Kyuhyun sendiri tiba-tiba berubah drastis, dari yang mengumbar cengiran menggoda, menjadi cengiran yang berusaha menyembunyikan ringisan tertahan.

Karena ternyata, di bawah sana, Sooyoung tidak lagi menahan dirinya untuk tidak menginjak kaki Kyuhyun kuat-kuat.

“Setiap kali kau menyentuhku, aku akan membalasnya seratus kali lebih menyakitkan.” Masih dengan bibir mengulas senyum manis, Sooyoung berdesis pelan penuh ancaman.

Kyuhyun merapatkan bibirnya sesaat sembari menarik kakinya lepas dari injakan Sooyoung. “Untunglah kau terlahir cantik,” ujarnya setelah kakinya bebas.

“Apa—”

“Maaf aku terlambat.”

Napas Sooyoung tertahan seketika. Sekujur tubuhnya membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara berat itu.

“Oh, Siwon-ah. Kau belum terlambat, makanan pembukanya baru disajikan,” sambut Nyonya Cho. “Duduklah. Kyuhyun ingin mengenalkan calon istrinya.”

Oh betapa Sooyoung berharap bumi terbelah dan menelan dirinya saat ini juga.

 

*

[Bersambung]

[Atau Berakhir?]

 

A/N: Tolong dibaca, ya 🙂

Halo semuanya, apa kabar? Maafkan Bubel karena ngirim slice 3 sangat amat terlambat /deep bowing/.

Dan … bubel mau buat pengakuan …

Sejujurnya, fanfik ini adalah program melarikan diri bubel/?/. yah, jadi karena bubel lagi engap banget sama hidup bubel, makanya bubel nulis ff ini, dengan nama pena baru pula. Ff ini ditulis untuk senang-senang, untuk kabur sebentar dari kenyataan. Makanya bubel pake plot yang mainstream banget, karena bubel sedang dalam keadaan nggak bisa mikirin sesuatu yang nggak mainstream. Toh, niat awalnya juga buat senang-senang aja, kayak yang bubel selalu tulis di disclaimer di atas.

Bubel didn’t expect bakal dapat feedback dari kamu, karena bubel sadar diri ya cerita ini dibuat untuk nyenengin diri sendiri. Eh, ternyata banyak juga yang ngasih respon positif, bahkan ada yang sampai mendoakan bubel. Luar biasa, bubel terharu banget, sumpah!! :’)

Dan itu bikin bubel jadi malu sendiri. Ngerasa nggak layak bubel dapet apresiasi yang luar biasa cuma buat karya pasaran 😦

Sayangnya, kenyataan lagi nggak mau diajak kompromi. Bubel sebulan kebelakang susah banget nyuri waktu luang untuk nulis lagi. sekalinya ada, moodnya udah keburu ilang karena capek.

Karena itu, bubel mau tanya sama kamu yang mungkin masih nunggu cerita ini sampai selesai, haruskah bubel selesaikan cerita ini?

Jadi gini, kalau kamu memang mau baca kelanjutan fanfik ini, kemungkinan besar kamu harus nunggu sampai Desember, paling cepet. Paling lama Februari tahun depan baru bubel lanjut lagi cerita ini.

(ANJIR KOK LAMA AMAT?!)

Iya, karena sekarang bubel lagi berhadapan dengan masa-masa penentuan kehidupan bubel ke depannya. Dan kemungkinan terlalui paling cepet ya Desember.

Maafkan bubel, ya. tadinya bubel nulis ini dikirain bisa nyuri-nyuri waktu. Awalnya bisa, tapi sebulan ke belakang itu bener-bener hectic banget, dan Oktober ini bakal lebih hectic lagi.

Kalau kamu ngerasa Desember terlalu lama, dan kamu males nunggu, Bubel bakal drop projek ini, dan kembali lagi nanti setelah segala keruwetan ini berakhir dengan projek baru, mungkin. Toh ini cuma cerita dengan plot pasaran yang bisa kamu temuin di mana-mana; di AFF, di AOO, di FFn, di wattpad, atau di blog-blog lain.

Tapi kalau kamu nggak keberatan nunggu, bubel dengan senang hati akan melanjutkan lagi cerita ini. sampai selesai. tapi slice ke empat paling cepat Desember baru bisa bubel produksi. Anggap aja bubel lagi hiatus dulu :’)

Semua pilihan ada di tangan kamu. Bubel cuma nggak mau kesannya ngegantungin pembaca cuma buat cerita pasaran kayak gini, jadi bubel kasih kabar—dan pilihan.

Sekali lagi, maafkan bubel, ya. Udah telat banget ngirim kelanjutan fanfiknya, pake ngasih kabar beginian lagi. sumimasen deshitaaaa /deep bowing/

last but not least, sekali lagi bubel mau bilang makasiiiiihhh banyaaaaakkk untuk semuanya. Untuk admin Jonghyun biased, untuk yang udah meluangkan waktu dan merelakan kuotanya buat baca SoD, untuk yang udah ngelike, daaaaan untuk yang meninggalkan komentar. Loph you to the Messiers 83 galaxy and back (bcoz the moon isn’t far enough, and bimasakti isn’t that wide wkwk).

 

Xoxo,

Bubel ❤

 

p.s. maaf bubel banyak curhat :’)