Posted in Action, Drama, Family, Romance

[Series] The Precious Thing -14-

 

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast               :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo…

Aku bawa FF baru, dan genre-nya hmm… action kali yah. Ini pertama kalinya aku buat FF genre ini jadi maaf kalau sedikit aneh ceritanya yah. Sebenarnya sih karena aku lagi nonton salah satu drama korea jadi kepikiran buat cerita ini. Tapi tenang aja, beda kok hehe… Continue reading “[Series] The Precious Thing -14-“

Advertisements
Posted in Drama, Family, Romance

[Series] Cho’s Family (6-END)

chosTittle   : Cho’s Family [6-END]

Cast    : Cho Kyuhyun, Cho[i] Sooyoung, Cho Hyo-Soo

Rate    : +13

Length: Series

Genre  : Family[Failed], Romance[Failed]

Author: Em

 

 

Ini memang bukan hari perayaan Tahun Baru, ataupun Hari Kemerdekaan. Bukan April Mop, atau apapun yang dikaitkan dengan kata ‘heboh’. Tapi, orang-orang disini memang sudah tidak waras. Di istanaku ini sudah menjadi markas berkumpulnya pasien rumah sakit jiwa.

Oke, berlebihan?

 

Tidak. Tidak. Mereka memang sudah bisa dikatakan setara dengan orang-orang sinting diluar sana. Merayakan ulang tahunku yang padahal sudah lewat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi disini. Mereka itu seperti Bom, saat aku pulang dari kantor dengan keadaan yang bisa dibilang mengenaskan, tiba-tiba saja ruangan tamu yang gelap, berubah menjadi terang sangat terang. Lalu dilanjutkan dnegan paduan suara mereka yang sama-sekali tidak bisa dibilang bagus. Terlalu fals, tidak ada nada yang ada tempatnya. Yang kudengar hanyalah suara mereka menjerit saat sampai pada nada tinggi.

 

“Saengil Chukkae Hamnida…

Saengil Chukkae Hamnida…

Saranghaneun Kyuhyun-ie…” aku sudah menulikan telingaku saat mereka memulai atraksinya.

 

“Saengil Chukkae… hamnida~~”

Continue reading “[Series] Cho’s Family (6-END)”

Posted in Action, Drama, Romance, Series

[Series] The Precious Thing -9-

the-precious-thing

Title                      : The Precious Thing

Genre                    : Action, Romance

PG                         : 16+

Length                   : on writing

Main Cast              :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Other Cast             :

  • Im Yoona
  • Seo In Guk
  • Choi Sungjae
  • Han Yeojin

From Author :

Annyeonghaseyo… Continue reading “[Series] The Precious Thing -9-“

Posted in Drama, Hurt, Romance

[SERIES] It’s My Fault Chapter 1

its my fault.PNG[SERIES] It’s My Fault

Chapter 1

Author: VianFan

Cast:

  • Cho kyuhyun
  • Choi sooyoung

Support Cast: Find It!

Genre: Hurt, Romance, Drama.

Leght: Series

Rating: PG-17

Desclaimer: This fanfict’s story pure from my mind. Big NO to plagiarism. Hope you all enjoy it.

 

 

Sooyoung Pov

Jatuh cinta bukanlah hal yang mudah, apalagi jika orang yang kau cintai itu adalah pria dingin dengan tempramen yang sangat luar biasa. Tapi aku sangat bersyukur bisa mengenal dirinya, walaupun dia sangat jarang berbicara kepada ku.

Jangankan berbicara padaku, melihat kearah ku saja mungkin dia tidak pernah. Ya, lagi pula untuk apa dia memandang kearah ku, toh aku Cuma gadis biasa yang hanya bisa mengaguminya dari jarak yang dekat.

Apa kalian penasaran siapa yang sedang aku ceritakan ini. Yang kusebut sebagai pria dingin dengan tempramen yang luar biasa itu adalah Cho kyuhyun. Pria tampan dengan segala kesempurnaannya yang telah menjerat hatiku untuk nya. Entah kenapa aku tidak bisa untuk tidak memperhatikannya sehari saja, aku sangat membenci sifat ku yang satu ini.

Continue reading “[SERIES] It’s My Fault Chapter 1”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, kyuyoung, Psychology, Romance, Sad, Series

NEW STORY UPDATE! Pastel Pistol by Soshinism

Pastel Pistol

pastelpistol

Annyeonghaseyo! Hello, long time no see, hihi!

Pastel Pistol is a brand new story from Soshinism. Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Drama Korea Doctor Stranger, Kill Me Heal Me, dan mungkin Legend of the Blue Sea. And here is the detail and a little sneak peak for the story!

—–

A comeback story by Soshinism

—–

Rating: PG 15

Genre: Romance, Psychological

Cast: Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung. Choi Siwon. Shim Changmin.

—–

— I present to you the best from me—

Mei, 2017

Hari berjalan seperti biasa untuk Sooyoung. Sebagai dokter bedah yang bekerja di beberapa rumah sakit di Seoul, kebutuhan hidupnya bisa dibilang sangat tercukupi, tinggal di daerah Gangnam, mobil sport mahal, koleksi baju eksklusif, dan hal-hal lain yang membuktikan betapa mumpuni hidupnya. Ah, satu lagi, wanita itu lebih suka untuk tidak menampakkan kredibilitas ekonominya, baginya hal-hal itu ditunjukkan dan digunakan pada saat yang benar-benar tepat saja.

***

Di tempat lain yang tak begitu jauh dari rumah sakit tempat Sooyoung bekerja, seorang pemuda yang tampilannya begitu ekslusif sedang memimpin sebuah rapat yang nampaknya hampir selesai. Beberapa menit kemudian, setelah sang lelaki menjelaskan hal-hal penting yang berhubungan dengan investasi, investor, saham, dan lain-lain, rapat ia tutup dan para pemegang jabatan yang sedari tadi duduk pun mulai berdiri dari singgasananya dan melangkah keluar untuk kembali mengurus pekerjaan. Dan tersisa lelaki muda yang memimpin rapat itu beserta lelaki muda lain yang dengan setianya menunggunya merapihkan berkas-berkas.

“Setelah ini jadwal Sajangnim kosong sampai pukul dua siang, apakah ada yang akan Sajangnim lakukan?”

—–

Woops, cut! 😀

Go here to read the rest! Enjoy!

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, Romance

[Series] Slice of Drama 3rd

slice of drama - POSTER

Slice of Drama

Panggil Aku Bubel © 2016

SNSD’s Sooyoung – Super Junior’s Kyuhyun

Bunch of Dramas, veryslight!Comedy, and ofc!Romance

Rate T

Disclaimer : Bubel nggak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari fiksi-penggemar ini. Bubel cuma mau senang-senang. Ada yang mau ikutan? Tentu aja penjiplak nggak masuk hitungan senang-senang. (Well, tapi Bubel bisa melakukan beberapa hal ‘menyenangkan’ dengan penjiplak /ketawa iblis cantik/)

.

Enjoy!

 

[Notes : Nanti curhat bubel di bawah tolong di baca, ya. Kelanjutan cerita ini ada pada keputusan kamu :)]

*

Prolog | 1st Slice | 2nd Slice

3rd Slice

 

Selepas mengantar Sooyoung kembali ke apartemen Soojin, Kyuhyun segera memacu Range Overnya menuju rumah orangtuanya di kawasan Gangnam. Sebenarnya, rencana awal Kyuhyun setelah menemui Choi Sooyoung adalah segera kembali ke kantor, karena semula ia mengira perempuan itu tidak akan mau diajak menikah. Namun siapa sangka ternyata si Model bersedia ia nikahi. Ya sudah, mau tidak mau Kyuhyun harus mengabari kedua orangtuanya perihal rencana dadakannya ini.

Menikah.

Pangkal hidung Kyuhyun mengerut. Usianya baru dua puluh tujuh tahun, bisnisnya yang dibangun dengan darah dan air mata tengah berkembang pesat, dan ia sedang dalam puncak produktivitasnya. Terlebih lagi, tidak pernah ada kata ‘menikah’ dalam daftar pencapaiannya. Lalu sekarang, tiba-tiba ia harus dihadapkan pada tanggungjawab besar: menikah.

Oh, tambahan: menjadi seorang ayah.

Mungkin Changmin benar. Mungkin ini karma. Mungkin Tuhan ingin melihatnya bertobat.

‘Apa Tuhan berencana mencabut nyawaku dalam waktu dekat sampai memberikan karma secepat ini?’ pikir Kyuhyun yang diakhiri dengusan. Merasa konyol dengan pemikirannya sendiri.

Perlu setidaknya lima helaan napas dalam sebelum Kyuhyun keluar dari mobilnya. Hubungannya dengan ayahnya tidak begitu baik. Berita yang dibawanya sekarang bisa saja memperburuk keadaan, membuat ayahnya kembali murka. Kyuhyun mendengus. ‘Yah, yang penting aku memberitahu mereka. Peduli amat mereka akan marah atau apa.’

Tidak butuh waktu lama bagi Kyuhyun menunggu setelah dua kali menekan bel, pintu dibuka oleh kakak perempuannya.

“Kyuhyun?”

“Ahra?”

Kedua kakak-beradik itu menyeru bersamaan. Kemudian tertawa kecil.

“Aku sedang berkunjung,” Ahra menjelaskan tanpa diminta seraya membuka pintu lebih lebar, mengundang Kyuhyun untuk masuk. “Masuklah.”

“Aku juga berkunjung,” balas Kyuhyun.

“Pasti ada sesuatu. Jarang sekali kan kaudatang ke sini.”

Kyuhyun mengedikkan bahu. “Aku tidak akan lama. Ayah dan Ibu ada?”

“Benar. Pasti ada sesuatu.” Mata Ahra menyipit curiga. “Ibu sedang menemani Ayah di ruang kerja.”

Sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyum tipis. “Kebetulan kau ada di sini. Ayo ikut, aku mau memberitahukan sesuatu.”

Dengan kening yang kini mengerut, Ahra mengikuti Kyuhyun. Mereka menyusuri koridor di lantai dua, berujung pada pintu ruang kerja Tuan Cho.

“Jangan bilang kau akan mengambil-alih Myeonghan Group,” ujar Ahra di sela langkahnya, menyebutkan nama perusahaan yang dikelola keluarganya.

Kyuhyun tertawa mendengarnya. “Sampai aku bangkrut pun tidak akan pernah kusentuh Myeonghan. Tenang saja, okay.”

Ahra mendengus. “Aku justru akan sangat berterimakasih kalau kaumau memimpin perusahaan kita. Asal kautahu, aku masih dendam padamu, ya.”

Respon Kyuhyun hanya seringai lebar. Ia mengetuk pintu ruang kerja ayahnya dua kali, kemudian memutar kenopnya.

Di dalam ruangan yang setiap dindingnya ditempeli rak buku tersebut, musik klasik mengalun lembut, disertai aroma kopi dan kayu manis yang berbaur. Tuan Cho tengah duduk di balik meja kerjanya dengan tumpukan map dan kertas, sementara Nyonya Cho sedang merajut di sofa.

Melihat putra bungsunya yang masuk, Nyonya Cho menghentikan pekerjaannya. Wanita yang masih cantik di usianya yang sudah lebih lebih dari separuh abad itu berdiri dari sofa, segera menyambut Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, ya Tuhan ….” Nyonya Cho memeluk Kyuhyun erat.

“Apa kabar, Bu?” sapa Kyuhyun setelah sesi peluk-memeluk selesai.

“Lutut Ibu sering sakit belakangan ini,” keluh Nyonya Cho.

“Itu karena Ibu berhenti ikut kelas taichi,” Ahra menyela.

Kyuhyun tersenyum tipis seraya menuntun ibunya untuk duduk kembali. Kemudian ia menyapa ayahnya. “Selamat malam, Ayah. Apa kabar?”

“Apa tujuanmu?” tembak Tuan Cho tanpa mengalihkan tatapannya dari lembaran berkas yang tengah diperiksa. Nada bicaranya dingin, seolah tidak sedang berhadapan dengan anaknya sendiri.

Kyuhyun sudah terbiasa dengan cara bicara ayahnya. Masih untung ditanya dulu, tidak langsung diusir. Dan karena ayahnya tidak repot-repot untuk berbasa-basi, maka Kyuhyun pun langsung mengutarakan niatnya.

“Aku akan menikah.”

Kalimat pendek itu berhasil menarik seluruh perhatian keluarga Cho. Nyonya Cho dan Ahra terenyak di tempatnya. Bahkan Tuan Cho pun mengangkat kepalanya.

Sebelum ada yang bereaksi, Kyuhyun melanjutkan, “Pernikahanku akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Mungkin akhir bulan ini, atau awal bulan depan.”

Mata Ibu Kyuhyun sudah tidak bisa menjadi lebih lebar lagi. Ekspresi wajahnya menggambarkan betapa terkejutnya ia mendengar ucapan anak laki-lakinya. “Kyuhyun-ah—”

“Kedatanganku bukan untuk meminta ijin. Karena aku akan tetap menikah dengan atau tanpa ijin dari Ayah dan Ibu. Aku hanya berpikir jika kalian berhak tahu hal ini.” Kyuhyun kembali bicara. Lurus matanya menantang tatapan Tuan Cho, tidak menunjukkan keraguan.

Untuk beberapa saat, waktu seolah berjalan dengan amat lambat. Udara di dalam ruangan itu, yang semula hangat dan lembut, mendadak terasa berat untuk dihela. Keheningan meningkatkan ketegangan di sana. Nyonya Cho tidak lagi berusaha untuk angkat bicara, ia menatap suaminya dengan sorot khawatir. Begitu juga dengan si Cikal Ahra yang hanya bisa mengelus tangan ibunya.

Gerakan Tuan Cho melepaskan kacamata membuat Ahra menahan napas.

“Apa yang perempuan ini berikan padamu?” nada bicara Tuan Cho belum berubah. Masih datar, masih dingin.

Kyuhyun menelan ludahnya. Ia tidak berencana untuk mengatakan kalau ia telah menghamili Sooyoung—tidak secepat ini. Namun dari cara ayahnya menatapnya, Kyuhyun bisa menduga bahwa pria tegas itu sudah menyimpulkan sendiri. Jika ia tidak berkata jujur sekarang, maka ia tidak akan memiliki cukup harga diri untuk berdiri di depan ayahnya lagi di kemudian hari.

“Namanya Choi Sooyoung,” Kyuhyun berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang, “dan dia hamil anakku.”

Ahra dan ibunya terkesiap. Keduanya menatap Kyuhyun nanar.

Kyuhyun berusaha tetap membalas tatapan ayahnya yang masih juga belum berubah. Tuan Cho lalu berdiri dari kursinya, dengan gerakan yang biasa. Tidak ada gurat emosi di wajahnya. Dalam dua helaan napas, Tuan Cho sudah berdiri di hadapan putra bungsunya.

Belum ada yang memutus kontak mata penuh ketegangan itu. Setidaknya sampai Tuan Cho meraih bahu kiri Kyuhyun, menghentakkannya ke bawah, hingga tubuh Kyuhyun membungkuk, dan disambut dengan lutut kanan Tuan Cho yang tepat mengenai ulu hati. Cengkraman Tuan Cho di bahu Kyuhyun belum lepas, ia lalu menarik paksa tubuh anaknya untuk kembali tegak dan memberikan satu tamparan keras di pipinya yang sudah pucat pasi.

Kyuhyun terhuyung. Dahinya mengantuk pinggiran meja. Kepalanya jatuh tak jauh dari kaki ibunya. Saat itulah Nyonya Cho memekik panik. Ia segera membantu anaknya duduk dan memeriksa keadaannya.

Kyuhyun merasakan ngilu yang luar biasa di ulu hatinya. Ia mual, tapi tidak bisa memuntahkan apa-apa. Dahinya berdenyut, pipinya panas, dan telinganya berdenging keras. Padahal belum hilang sakit akibat tinjuan Sooyoung, sekarang ia dapat lagi, seratus kali lebih kuat.

“Aku kira kau hanya seorang pembangkang. Ternyata kau juga seorang bajingan. Aku tidak ingat pernah membesarkan anak sepertimu.”

Meskipun dengan telinga yang berdengung, Kyuhyun mampu mendengar suara dingin ayahnya. Mengangkat kepalanya, Kyuhyun kembali melempar tatapan menantang pada pria itu.

“Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut, Ayah.” ujar Kyuhyun pelan.

Tuan Cho melempar tatapan tajam terakhirnya, lalu meninggalkan ruangan itu.

Setelah tidak lagi mendengar suara langkah kaki ayahnya, Kyuhyun mengembuskan napas lega. Ia meringis, menahan rasa sakit ketika ibunya memeluknya sambil menangis.

‘Sial. Ayah masih jago taekwondo.’ Kyuhyun memejamkan mata.

*

Kyuhyun meringis, menarik kepalanya menjauh dari jangkauan tangan Ahra.

“Tahan sebentar, Kyu,” geram Ahra. Sekarang hanya tinggal ia dan adiknya yang berbaring di sofa dalam ruangan kerja ayah mereka. Nyonya Cho menyusul Tuan Cho setelah memastikan luka Kyuhyun tidak terlalu parah, membiarkan Ahra yang mengurusnya.

“Ayah itu umurnya berapa, sih? Rasa tamparannya tidak berubah.”

Ahra tersenyum kecil. “Memangnya rasa apa? Cokelat? Stroberi? Vanila?”

“Rasa kimchi basi lada hitam. Pedas-pedas asam.”

Senyum Ahra berubah menjadi tawa.

“Iya, tertawa saja. Tidak apa-apa. Mumpung lucu—aw! Sakit, Ahra!” Kyuhyun mendelik pada kakaknya yang masih tertawa. Perempuan itu menekan luka di dahinya sedikit kelewat bertenaga.

“Hahaha … Sorry ….”

“Aku tidak mengira Ayah bakal menghajarku. Terakhir kali Ayah melakukannya, dia bilang tidak akan peduli lagi padaku. Jadi, kupikir kali ini Ayah akan membiarkanku. Eh, ternyata tetap dihajar juga. Berarti Ayah masih peduli, kan?”

“Orangtua mana, sih, yang berhenti peduli pada anaknya?” tanya Ahra retoris, tawanya sudah berhenti sejak kata ‘peduli’ terselip dalam kalimat Kyuhyun. Perlahan, ia menempelkan plester pada luka kecil di dahi adiknya akibat terbentur pinggiran meja. “Kaumenambah dendamku padamu, ChoKyu.”

Kyuhyun ingin mengerutkan dahi, tapi sakit. “Dendam apa lagi?”

“Kau akan menikah lebih dulu daripada aku.” Ahra menjawab acuh tak acuh sembari mengangsurkan ice pack pada Kyuhyun, untuk mengompres bengkak di pipinya. “Eh, tapi serius kau akan menikah? Umurmu kan baru … berapa? Dua lima?”

“Dua tujuh. Dan iya, aku akan menikah. Kalau tidak, bisa repot urusannya. Choi Sooyoung ini model terkenal.”

“Oh, jadi benar Sooyoung yang model itu. Tadi sewaktu kaubilang ‘namanya Sooyoung’, aku sempat berpikir model Choi Sooyoung. Tapi, kok bisa, sih, Kyu? Aku tidak pernah tahu kalau kalian berpacaran.”

Senyum pahit tercipta di bibir Kyuhyun. ‘Bisa, karena waktu itu aku memanfaatkan keadaan Sooyoung yang sedang patah hati gara-gara kau bertunangan dengan orang yang dia sukai.’ untungnya kalimat itu hanya disuarakan dalam kepalanya. Sejauh ini, sepertinya Ahra belum tahu hubungan ‘persahabatan’ antara Sooyoung dan Siwon, mengingat Ahra baru mengenal Siwon beberapa bulan ke belakang, tepatnya sejak perusahaan Siwon menawarkan kerjasama pada Myeonghan Group. Akan menjadi lebih merepotkan lagi jika Ahra sampai tahu tentang perasaan tak terbalas Sooyoung pada Siwon. Kyuhyun tidak mau menambah drama lagi dalam hidupnya.

“Bisa lah. kaumeremehkan pesona adikmu ini.”

Ahra menatap Kyuhyun dengan sorotan ‘aduh-please-deh’. “Omong-omong, kok, mau sih dia menikah? Apa yang kaujanjikan padanya sampai dia tidak memilih aborsi? Dia model terkenal, kan? Karirnya bagaimana? Dia pasti cinta sekali padamu, ya?”

Kyuhyun mengerang. Pusing mendengar pertanyaan beruntun Ahra. Dan yang terakhir itu bisa membuat Kyuhyun tertawa terbahak-bahak kalau saja pipinya tidak bengkak dan nyeri. ‘Cinta sekali? Iya. Pada tunanganmu.’

Ahra jelas tidak tahu jika adiknya itu tidak pernah benar-benar menjalin hubungan serius dengan satu perempuan. Mereka berdua sudah terpisah sejak sepuluh tahun lalu. Lebih tepatnya, ketika Kyuhyun diterima berkuliah di University of Cambridge (yang hanya bertahan enam bulan, sebelum akhirnya ia kabur ke London dan menjadi pegawai magang di kantor cabang SEGA).

“Karena anak itu tidak salah apa-apa,” jawab Kyuhyun menggantung pada akhirnya.

Menghela napas dalam, Ahra membawa punggungnya pada sandaran sofa. Ia menatap langit-langit. “Kau pasti bahagia sekali, ya.” Gumamnya pelan.

“Mengamili anak orang, dan dihajar Ayah. Iya. Aku bahagia.” Sambar Kyuhyun sarkastik.

Ahra berdecak mendengarnya. “Bersyukurlah sedikit. Kau bisa menikah dengan orang yang kaucintai dan mencintaimu. Itu sudah lebih dari cukup, Kyuhyun. Kau juga bekerja sesuai dengan passion-mu. Bisnismu berkembang pesat. Dan kau akan punya anak. Kau sudah punya semuanya. Apa lagi yang kaucari di hidupmu?”

Kyuhyun meringis. Ia jelas menangkap nada iri dalam kalimat Ahra. Atau malah kakaknya itu sama sekali tidak menutup-nutupi rasa irinya. Semua ucapannya benar, kecuali bagian cinta-cinta itu.

Kyuhyun tidak habis pikir, ada apa sih antara perempuan dan cinta? Mereka selalu irasional jika berpikir dengan melibatkan cinta. Dan sialnya, apa-apa selalu dihubungkan dengan cinta, padahal tidak ada relevansinya sama sekali. Tidak masuk akal. Lihat saja Choi Sooyoung itu. Bimbang hanya karena cinta yang sudah jelas-jelas ditolak. Dan sekarang kakaknya, yang notabene seorang bussiness-woman dan sibuk mengurusi perusahaan keluarga, ikut-ikutan bicara cinta. Tidak cocok sama sekali.

Inilah salah satu alasan kenapa Kyuhyun tidak bisa serius menjalin hubungan dengan perempuan. Mereka membuatnya kebingungan jika sudah bicara dengan membawa-bawa kata keramat itu. Logika Kyuhyun tidak sampai ke sana.

Kyuhyun sudah membuka mulut untuk meralat ucapan Ahra soal cinta-mencinta, namun kehadiran sang Ibu menghentikannya. Kyuhyun urung bicara. Tidak perlu lah orangtuanya tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Ahra memutuskan untuk keluar. Memberi kesempatan pada ibu dan adiknya bicara empat mata. Ahra pikir mereka butuh itu.

“Sudah diobati?” tanya Nyonya Cho seraya membantu Kyuhyun untuk bangkit dan duduk.

“Sudah.” Kyuhyun menghindari tatapan ibunya. Ia tidak ingin melihat jejak airmata di wajah wanita itu. Kyuhyun tidak tega.

Nyonya Cho mengusap kepala putranya lembut, seperti saat laki-laki itu belum bergelar laki-laki. “Sejujurnya Ibu kecewa sekali. Tapi mau bagaimana lagi.”

“Maaf, Bu,” ujar Kyuhyun tulus.

“Sudah bicara pada orangtua gadis ini? Siapa tadi namanya?”

“Sooyoung, Choi Sooyoung,” Kyuhyun menjeda sejenak, “orangtuanya sudah meninggal. Sooyoung hanya tinggal berdua dengan kakaknya.”

“Ya Tuhan,” Nyonya Cho menutup bibirnya dengan telapak tangan. “Pasti berat sekali untuknya.”

Kyuhyun tidak menjawab, makin merasa bersalah. Sampai tiba-tiba daun telinganya ditarik dan dipelintir oleh ibunya.

“Aw, Bu! Bu! Ibu sakit, Bu …,” Kyuhyun setengah merengek. Kenapa semua orang abusive sekali hari ini?

Nyonya Cho akhirnya melepaskan telinga Kyuhyun. “Dasar anak nakal!”

“Bu, aku sudah dua puluh tujuh tahun. Masih perlu, ya, dijewer-jewer?”

Mendengar itu, ibunya berdecak. “Kalau sudah menikah nanti, biar istrimu yang menjewermu kalau kau berani macam-macam.”

“Haa?”

“Besok, undang Nona Choi dan kakaknya untuk makan malam bersama. Perkenalkan dia pada kami dengan selayaknya. Sekaligus kita bicarakan tentang pernikahan kalian.”

Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengernyit mendengar kata ‘pernikahan’ lolos dari bibir ibunya. Dan ia menyesal, karena luka di dahinya berdenyut lagi. Kyuhyun tidak mengharapkan penerimaan dari keluarganya. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, ia tidak datang untuk meminta ijin. Ia hanya memberitahu mereka, karena ia masih menghormati kedua orangtuanya. Bagaimana pun juga.

“Ibu merestui kami?”

“Mau tidak Ibu restui?”

Kyuhyun meringis kecil. “Lalu Ayah?”

“Ayah memang keras kepala, tapi Ibu yakin Ayah mengerti.”

Sesaat Kyuhyun memberanikan diri membalas tatapan ibunya. Hatinya terenyuh. Ini bukan kali pertama ia membuat ibunya menangis. Tetapi kali ini rasanya berbeda. Sebelumnya, ibunya juga menangisi semua pilihan yang ia ambil dengan seenaknya, namun ia bisa  mempertanggungjawabkan dan membuktikan kalau pilihannya benar. Kali ini … Kyuhyun dipaksa memilih. Tidak ada yang bisa ia buktikan, karena Kyuhyun tahu sejak awal ini sudah salah.

Kyuhyun pun memeluk ibunya. Erat. Lalu berbisik, “Terimakasih banyak, Bu. Terimakasih …”

‘… Dan maafkan aku ….’

*

“Nomor yang Anda tuju sedang tid—”

Siwon menghela napas dalam, memutus panggilannya. Sudah hampir dua minggu ini, setiap kali ia menelepon ke satu nomor itu, jawabannya selalu sama. Teleponnya tidak aktif. Chatnya tidak ada yang terkirim. Dan ketika ia berusaha mengunjungi apartemen si pemilik nomor itu, ia tidak ada di tempat.

Choi Sooyoung sedang menghindarinya. Siwon tahu itu. Pasti.

It can’t be helped. Sooyoung jelas kecewa padaku.’ Pikir Siwon.

Ia bukannya tidak tahu. Ia juga tidak buta. Ia bisa membaca seluruh perhatian yang gadis itu berikan padanya. Ia bisa menebak apa yang ada di balik itu semua. Siwon mengerti. Hanya saja …

Drrttt

Siwon segera melihat layar ponselnya. Sebuah pesan singkat.

Cho Ahra: Ibu mengundang makan malam besok. Ada waktu?

Siwon menghela napas dalam sekali lagi.

Hanya saja … ia tidak punya pilihan.

*

Hari ini Sooyoung menyesali keputusan untuk mempertahankan janinnya. Benar-benar menyesal. Padahal belum juga dua puluh empat jam berlalu. Ada dua hal yang menjadi sebabnya: pertama, pagi ini Sooyoung mengalami morning-sick paling parah dalam tujuh minggu terahir; dan kedua, kehadiran pria cantik nan nyentrik yang duduk bertumpu kaki di ruang tamu apartemen kakaknya.

‘Bagaimana bisa dia tahu aku ada di sini?!’ Sooyoung membatin frustasi. Yang mana tidak lama kemudian ia menemukan sendiri jawabannya. ‘Memangnya aku bisa bersembunyi di mana lagi kalau bukan di sini? Tentu saja dia bakal menemukanku.’

Seolah keberadaan manajer nyentriknya belum cukup membuat Sooyoung ketar-ketir, Kyuhyun dengan sangat jenius muncul dalam waktu hampir bersamaan. Sekarang kedua laki-laki itu duduk di sofa yang sama. Heechul—manajer Sooyoung—di sisi paling kiri, sementara Kyuhyun menempati sisi satunya. Ketika Sooyoung mengintip dari balik pintu dapur, Kyuhyun sedang sibuk dengan tabletnya dan Heechul sibuk … mengamati kukunya Yang Maha Cantik.

Tentu saja Sooyoung tahu pasti, cepat atau lambat ia harus mengabari agensi perihal apa yang terjadi padanya dan rencananya untuk menikah. Hanya saja tidak seperti ini. Tidak sekarang. Tidak tanpa persiapan apa-apa.

“Kaubisa berhenti bolak-balik seperti itu dan bantu aku membawa ini ke ruang tamu.”

Sooyoung mengerjap pelan, berdiri di sisi meja makan. Ia sendiri baru sadar jika ia telah berjalan mondar-mandir di ruang makan yang merangkap dapur sejak tadi. Pandangannya beralih pada Soojin yang tengah mengatur cangkir teh dan wadah gula di atas nampan. Sooyoung menahan diri untuk protes. Bagaimana pun juga, yang akan disuguhi itu dua laki-laki, dan mereka bukan pangeran dari Eropa. Teh dengan cangkir yang manis kedengarannya tidak terlalu cocok untuk dua pria Korea dewasa.

Err, oke, hitung itu satu pria. Heechul mungkin akan menyukai teh dalam cangkir cantik dan kukis.

Namun Sooyoung seketika teringat sesuatu. Ia mendekati kakak perempuannya itu.

“Hei, Soojin,” suara Sooyoung begitu pelan, hampir menyerupai bisikan, “waktu itu kau janji padaku, kan?”

“Janji apa?” Soojin balik bertanya acuh tak acuh.

“Kau akan membantuku bicara pada agensi.”

“Ada Kyuhyun di sana. Aku baru akan membantumu kalau dia tidak bertanggungjawab.” Soojin beranjak menuju kabinet di samping kulkas dan mengambil setoples kukis.

Erangan frustasi lolos dari bibir Sooyoung. “Aku dan Kyuhyun belum memikirkan alasan yang tepat. Heck. Kami bahkan baru bertemu lagi kemarin.”

Soojin menegakkan tubuhnya. Ia memandang adiknya lurus-lurus. “Alasan apa? Maksudmu bukan alasan, tapi kebohongan. Iya, kan?”

Sooyoung merengut.

“Sudah, bawa ini ke depan. Katakan saja yang sebenarnya pada Heechul-ssi. Sekalipun kau diboikot oleh agensimu sendiri, masih ada Cho Kyuhyun. Dia punya banyak uang. Itu poinnya.”

Mendengar itu, rahang Sooyoung jatuh seketika. Ia tahu kakaknya adalah seorang oportunis, selalu straight-forward, tidak pernah mau ambil pusing dengan hidupnya sendiri, apa lagi hidup orang lain. Akan tetapi tetap saja kalimat terakhir Soojin membuatnya syok. Seolah-olah nasibnya hanya bergantung pada uang, dan Cho Kyuhyun adalah ATM pribadinya.

Soojin mengangsurkan nampan berisi empat cangkir, sepoci teh, dan satu toples kecil gula.

Sooyoung meringis. Apa Soojin tidak memikirkan perasaannya? Sama sekali?

Menghela napas pasrah, Sooyoung membawa nampan itu ke ruang tamu. Sempat terkejut saat mendapati atmosfir di sana tidak lagi penuh kecanggungan. Dua laki-laki yang nampak kontras itu sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang seru, dan berhenti ketika Sooyoung bergabung di sofa berseberangan dengan mereka. Soojin menyusul dengan setoples kukis.

“Oi, Sooyoung, selamat, ya. Kyuhyun-ssi sudah mengatakan semuanya.”

Sooyoung membeku.

“Aku tidak tahu kau sudah move on dari Choi Siwon itu. Oh, dan kapan keponakanku akan lahir? Ya ampun, aku bakal jadi paman.” Heechul terkekeh.

Mulut Sooyoung membuka, bukan karena ia akan mengatakan sesuatu, lebih karena terkejut. Ia melempar tatapan menuntut penjelasan pada Kyuhyun, dan hanya direspon dengan seringai tipis. Jadi Kyuhyun sudah mengatakan semuanya pada Heechul, tapi respon manajernya itu terlalu … tidak terduga.

“Jadi, kapan kalian menikah? Kalian bakal menikah, kan?” lanjut Heechul lagi, bergantian menatap Sooyoung dan Kyuhyun.

Sebenarnya, ada apa ini?

*

“Aku bilang akan membayar uang kompensasi, berapa pun yang diminta oleh agensimu,” adalah jawaban Kyuhyun saat Sooyoung menuntutnya untuk menjelaskan reaksi Heechul yang tidak masuk akal baginya. Manajernya itu seharusnya histeris, menjambaknya, atau bahkan mungkin menyeretnya ke dokter kandungan terdekat untuk menggugurkan bayinya. Bukannya malah memberi selamat dengan senyuman lima puluh watt.

“Dan berapa yang diminta agensiku?” tanya Sooyoung kemudian.

Kyuhyun tidak langsung menjawab, ia membukakan pintu penumpang mobilnya untuk Sooyoung dan melindungi kepala gadis itu saat memasuki mobil. Setelah ia sendiri duduk di balik kemudi, memastikan Sooyoung sudah memasang sabuk pengamannya, barulah Kyuhyun menjawab, “Heechul-ssi belum memberikan angka pastinya, tapi dia bilang kemungkinan sekitar 300 sampai 500 juta won.”

“HA?! KAU BERCANDA?!”

“Kecilkan suaramu, aku tidak tuli.”

Sooyoung mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak  pernah tahu kalau aku semahal itu. Gajiku sebulan saja tidak sampai dua puluh juta.”

Sekilas, Kyuhyun melirik model itu sinis. “Serius itu yang kaupikirkan? Apa kau tidak memikirkan aku membayar terlalu mahal untuk ini semua?”

“Itu urusanmu. Kan kau sendiri yang bilang kalau kau akan membayar semuanya. Se-mu-a-nya. Aku tidak pernah meminta, ya.” balas Sooyoung tak acuh.

Kyuhyun merapatkan bibirnya, tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalas Sooyoung. Ia hanya bisa menggeretakkan gigi, dan sekali lagi, melirik model itu, namun kali ini sedikit lebih lama. Lirikannya turun pada perut Sooyoung yang masih tampak datar. ‘Saat kaulahir nanti, Nak, hargailah hidupmu. Kau mahal sekali.’

Tidak ada lagi yang bersuara untuk beberapa lama. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Mereka tengah dalam perjalanan menuju restoran tempat keluarga Kyuhyun mengundang Sooyoung untuk makan malam. Soojin juga seharusnya ikut, tetapi malam ini adalah jadwalnya untuk tampil dan tidak ada aktris pengganti.

“Apa Siwon Oppa juga akan datang?” tiba-tiba Sooyoung memecah keheningan itu. “Aku belum bicara apa-apa pada Siwon Oppa. Aku belum memberitahunya. Apa aku tidak usah datang saja, ya? Aku belum siap bertemu dengannya. Kyuhyun-ssi … sebaiknya kita putar balik saja ….”

Tentu Kyuhyun tahu mengapa Sooyoung berkata demikian. Heck, semua orang juga tahu alasannya. Hanya saja Kyuhyun merasa reaksi Sooyoung untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Choi Siwon terlalu berlebihan. Memangnya hidup wanita itu hanya untuk berotasi pada Siwon? Tidak, kan. Sooyoung harusnya sadar bahwa ia punya hidup sendiri, yang lebih berharga ketimbang dihabiskan untuk mengkhawatirkan perasaan tidak terbalasnya.

“Apa isi kepalamu cuma ‘Siwon Oppa’?” balas Kyuhyun retoris, dengan menekankan bagian ‘Siwon Oppa’.

Dan balasan itu berhasil menyulut api emosi Sooyoung. “Kau cuma perlu jawab ‘iya’ atau ‘tidak’, Brengsek!”

Pletak!

Sooyoung mendelik. Kyuhyun baru saja menyentilnya. Menyentil bibirnya. “Hey—”

“Mengumpat sekali lagi, kubuat kau sariawan!” ancam Kyuhyun. “Aku tidak tahu soal Siwon. Ibuku tidak bilang apa-apa. Dan bisa tidak kaukurangi sedikit rasa khawatirmu yang berlebihan itu?”

“Jangan sok mengaturku! Terserah aku mau mengutuk atau apa. Ini mulutku!”

“Iya, itu mulutmu. Tapi telinga yang mendengar bukan cuma punyamu. Aku tidak mau anakku mendengar kata-kata kasar. Dari ibunya pula.”

Mulut Sooyoung sudah membuka, siap mendebat, tetapi menutup kembali saat tidak menemukan kata yang tepat untuk melawan Kyuhyun. Dan laki-laki itu bilang apa barusan? ‘Anakku’? Sooyoung mencibir samar disertai dengusan keras, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Namun tidak lama, Sooyoung kembali menatap Kyuhyun tajam. Oh, dia sudah menemukan kalimat perlawanan rupanya.

“Anak ini bahkan belum punya telinga!”

Sekilas, Kyuhyun menatap Sooyoung, kepalanya menggeleng pelan. “Kau serius ingin mendebatkan masalah seperti ini?”

Kali ini giliran Sooyoung yang kehabisan kata-kata. Ia melipat kedua tangannya dan membuang muka.

Tidak ada lagi yang bicara. Sisa perjalanan mereka diisi oleh musik yang diputar oleh Kyuhyun. Musik dengan ketukan yang cepat dan sentuhan EDM, membuat Sooyoung mengernyit samar, tidak menyangka selera musik seorang Cho Kyuhyun yang seperti itu.

Pikiran Sooyoung yang sesaat lalu sempat teralihkan kini kembali lagi pada satu nama: Siwon. Panik pun seketika menderanya. Bagaimana kalau Siwon juga diundang? Ini acara makan malam keluarga, kan? Sudah pasti Siwon akan diundang. Laki-laki itu sudah menjadi calon anggota keluarga Cho. Lalu apa yang harus dikatakannya pada Siwon nanti? Beberapa bulan lalu Sooyoung menangis putus asa menyatakan perasaannya pada pria itu, dan sekarang ia datang sebagai calon istri orang lain—calon istri Cho Kyuhyun.

Sooyoung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Bibirnya membentuk sebuah senyum sedih ketika ia teringat percakapannya dengan Kyuhyun kemarin.

‘… dia tidak membalas perasaanmu. Apa yang kautakutkan?’

Ya, benar. Apa yang dia takutkan? Ini tidak seperti Siwon memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia tidak mengkhianati siapa-siapa. Jika Siwon ada di sana, bersama keluarga Cho, mungkin dia hanya akan terkejut sebentar, lalu memberi Sooyoung ucapan selamat. Mungkin laki-laki itu akan tersenyum lega karena mengira Sooyoung akhirnya telah terlepas dari bayang-bayangnya.

Tanpa sadar Sooyoung meremas sejumput gaunnya. Menyakitkan rasanya membayangkan Siwon akan lebih senang melihatnya bersama pria lain ketimbang dirinya. Jadi, begini rasanya menjadi seseorang yang tidak diinginkan?

Telapak tangan Sooyoung perlahan melepaskan remasan pada gaunnya, berpindah meraba perutnya. Sekarang Sooyoung mengerti. Anak ini juga kelak akan merasakan hal yang sama dengannya saat ini, dan Sooyoung tidak ingin itu terjadi.

“Sooyoung! Oi!”

Sooyoung terlonjak di tempat saat bahunya diguncang pelan. Ia mendongak. Kyuhyun sudah membukakan pintu penumpang. Tatapan laki-laki itu jelas menunjukkan kalau ia tengah kesal.

“Turun. Sudah sampai.”

“Oh ….” Sooyoung segera melepas sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil.

“Dengar, keluargaku berpikir jika kita pasangan. Jadi, jangan bicara yang tidak perlu. Kecuali kalau kaumau semua jadi lebih rumit lagi, itu terserah padamu,” pesan Kyuhyun sebelum mereka memasuki restoran.

Seorang pelayan laki-laki mengantar keduanya menuju lantai dua, tepatnya ke sebuah ruangan yang sudah dipesan khusus oleh keluarga Cho.

Sooyoung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia berusaha menghindari tatapan penasaran dari pelayan-pelayan, bahkan tamu restoran lainnya. Ia tahu restoran ini, dan bukan kali pertama ia datang ke mari. Lima bulan lalu restoran ini hampir diratakan dengan tanah karena hutang korporasi yang menaunginya. Namun, Myeonghan Group menyelamatkannya. Setelah diakuisisi oleh Myeonghan, dalam dua bulan restoran bertajuk la Trattoria ini kembali melejit.

Sebelum diakuisisi, pengusaha bernama Choi Kiho memimpin korporasi tersebut. Kini, yang memegang kendali, di bawah naungan Myeonghan, adalah putranya, Choi Siwon.

Sooyoung refleks meraih tangan Kyuhyun saat pelayan membukakan pintu ruangan VIP. Kyuhyun melirik lengannya yang digelayuti Sooyoung, lalu menatap wanita itu dengan kening mengerut.

Sooyoung menyeringai canggung. “Kita … pasangan, kan?” katanya.

Diam-diam Kyuhyun bisa merasakan gemetarnya tangan Sooyoung.  “Sesukamu,” balas Kyuhyun akhirnya.

Setelah mereka masuk ke dalam ruang makan khusus tersebut, Kyuhyun bisa mendengar desahan lega lolos dari bibir Sooyoung. Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang: ibu dan kakak Kyuhyun. Keduanya menyambut Sooyoung dengan hangat. Demi sopan santun, Sooyoung berusaha keras mengontrol mimik wajahnya saat Ahra menyapanya. Itu sulit baginya, tentu saja. Terlebih ia berakhir duduk tepat di seberang wanita saingannya itu.

“Ternyata lebih cantik dari di foto,” komentar pertama Nyonya Cho. Wajahnya berseri-seri. Sepertinya senang sekali melihat Sooyoung.

Sooyoung tidak tahu harus senang, sedih, tertawa, meringis, atau apa. Mengejutkan sekali melihat keluarga Kyuhyun menerimanya dengan baik. Tidak ada tatapan menghakimi. Bahkan Ahra semangat sekali menanyainya berbagai hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sooyoung jadi bertanya-tanya, bagaimana jika Ahra tahu kalau ia memiliki perasaan khusus pada tunangannya? Akankah sambutannya tetap sehangat ini?

“Ah, kalau tidak salah, Sooyoung-ssi datang ke acara pertunanganku dengan Siwon-ssi, kan? Rasa-rasanya aku melihatmu sekilas, tapi waktu itu aku tidak begitu yakin.”

Mendengar pertanyaan Ahra, dingin seketika merambati punggung Sooyoung.

“Ya. Aku yang membawanya.” Kyuhyun menjawab pertanyaan itu untuk Sooyoung.

“Oh, benarkah? Lalu kenapa saat itu kau tidak memperkenalkannya pada kami?” selidik Ibu Kyuhyun.

“Dia malu.”

Susah payah Sooyoung menahan diri supaya tidak menginjak kaki Kyuhyun sebagai respon atas jawabannya yang brilian. Namun diam-diam ia berterimakasih, laki-laki itu tidak membiarkannya menghadapi ini semua sendirian.

“Jangan coba-coba melempar pisau steak pada kakakku,” bisik Kyuhyun pada Sooyoung kemudian, saat beberapa pramusaji masuk dan menyajikan makanan pembuka.

Sooyoung menoleh, refleks memundurkan kepalanya begitu menyadari jarak wajahnya dan Kyuhyun terlalu dekat. Ujung sepasang alisnya nyaris bertautan karena kerutan pangkal hidungnya, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada sikap laki-laki itu. Ia jadi mempertimbangkan lagi soal menginjak kaki Kyuhyun dengan hak wedges-nya.

Di luar dugaan, Kyuhyun malah tertawa kecil. Lalu, tanpa diduga, Kyuhyun mengangkat tangannya di depan wajah Sooyoung, dan dengan ibu jarinya, ia mengusap kerutan di dahi hingga pangkal hidung wanita yang tengah hamil muda itu.

“Jangan sering-sering mengernyit, nanti kena penuaan dini.”

Aksi bungsu keluarga Cho itu jelas mengundang senyuman dari dua wanita lain di ruangan itu. Oh, Sooyoung juga tersenyum. Jenis senyum manis yang terlalu manis. Raut wajah Kyuhyun sendiri tiba-tiba berubah drastis, dari yang mengumbar cengiran menggoda, menjadi cengiran yang berusaha menyembunyikan ringisan tertahan.

Karena ternyata, di bawah sana, Sooyoung tidak lagi menahan dirinya untuk tidak menginjak kaki Kyuhyun kuat-kuat.

“Setiap kali kau menyentuhku, aku akan membalasnya seratus kali lebih menyakitkan.” Masih dengan bibir mengulas senyum manis, Sooyoung berdesis pelan penuh ancaman.

Kyuhyun merapatkan bibirnya sesaat sembari menarik kakinya lepas dari injakan Sooyoung. “Untunglah kau terlahir cantik,” ujarnya setelah kakinya bebas.

“Apa—”

“Maaf aku terlambat.”

Napas Sooyoung tertahan seketika. Sekujur tubuhnya membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara berat itu.

“Oh, Siwon-ah. Kau belum terlambat, makanan pembukanya baru disajikan,” sambut Nyonya Cho. “Duduklah. Kyuhyun ingin mengenalkan calon istrinya.”

Oh betapa Sooyoung berharap bumi terbelah dan menelan dirinya saat ini juga.

 

*

[Bersambung]

[Atau Berakhir?]

 

A/N: Tolong dibaca, ya 🙂

Halo semuanya, apa kabar? Maafkan Bubel karena ngirim slice 3 sangat amat terlambat /deep bowing/.

Dan … bubel mau buat pengakuan …

Sejujurnya, fanfik ini adalah program melarikan diri bubel/?/. yah, jadi karena bubel lagi engap banget sama hidup bubel, makanya bubel nulis ff ini, dengan nama pena baru pula. Ff ini ditulis untuk senang-senang, untuk kabur sebentar dari kenyataan. Makanya bubel pake plot yang mainstream banget, karena bubel sedang dalam keadaan nggak bisa mikirin sesuatu yang nggak mainstream. Toh, niat awalnya juga buat senang-senang aja, kayak yang bubel selalu tulis di disclaimer di atas.

Bubel didn’t expect bakal dapat feedback dari kamu, karena bubel sadar diri ya cerita ini dibuat untuk nyenengin diri sendiri. Eh, ternyata banyak juga yang ngasih respon positif, bahkan ada yang sampai mendoakan bubel. Luar biasa, bubel terharu banget, sumpah!! :’)

Dan itu bikin bubel jadi malu sendiri. Ngerasa nggak layak bubel dapet apresiasi yang luar biasa cuma buat karya pasaran 😦

Sayangnya, kenyataan lagi nggak mau diajak kompromi. Bubel sebulan kebelakang susah banget nyuri waktu luang untuk nulis lagi. sekalinya ada, moodnya udah keburu ilang karena capek.

Karena itu, bubel mau tanya sama kamu yang mungkin masih nunggu cerita ini sampai selesai, haruskah bubel selesaikan cerita ini?

Jadi gini, kalau kamu memang mau baca kelanjutan fanfik ini, kemungkinan besar kamu harus nunggu sampai Desember, paling cepet. Paling lama Februari tahun depan baru bubel lanjut lagi cerita ini.

(ANJIR KOK LAMA AMAT?!)

Iya, karena sekarang bubel lagi berhadapan dengan masa-masa penentuan kehidupan bubel ke depannya. Dan kemungkinan terlalui paling cepet ya Desember.

Maafkan bubel, ya. tadinya bubel nulis ini dikirain bisa nyuri-nyuri waktu. Awalnya bisa, tapi sebulan ke belakang itu bener-bener hectic banget, dan Oktober ini bakal lebih hectic lagi.

Kalau kamu ngerasa Desember terlalu lama, dan kamu males nunggu, Bubel bakal drop projek ini, dan kembali lagi nanti setelah segala keruwetan ini berakhir dengan projek baru, mungkin. Toh ini cuma cerita dengan plot pasaran yang bisa kamu temuin di mana-mana; di AFF, di AOO, di FFn, di wattpad, atau di blog-blog lain.

Tapi kalau kamu nggak keberatan nunggu, bubel dengan senang hati akan melanjutkan lagi cerita ini. sampai selesai. tapi slice ke empat paling cepat Desember baru bisa bubel produksi. Anggap aja bubel lagi hiatus dulu :’)

Semua pilihan ada di tangan kamu. Bubel cuma nggak mau kesannya ngegantungin pembaca cuma buat cerita pasaran kayak gini, jadi bubel kasih kabar—dan pilihan.

Sekali lagi, maafkan bubel, ya. Udah telat banget ngirim kelanjutan fanfiknya, pake ngasih kabar beginian lagi. sumimasen deshitaaaa /deep bowing/

last but not least, sekali lagi bubel mau bilang makasiiiiihhh banyaaaaakkk untuk semuanya. Untuk admin Jonghyun biased, untuk yang udah meluangkan waktu dan merelakan kuotanya buat baca SoD, untuk yang udah ngelike, daaaaan untuk yang meninggalkan komentar. Loph you to the Messiers 83 galaxy and back (bcoz the moon isn’t far enough, and bimasakti isn’t that wide wkwk).

 

Xoxo,

Bubel ❤

 

p.s. maaf bubel banyak curhat :’)

 

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Drama, Hurt, Romance, Series

[Series] Creating A Destiny Chapter 1

creating-a-destinyCreating A Destiny

(Chapter 1)

 

Creating A Destiny >>Agathe Caelyn Present

 

Main Cast:Cho Kyuhyun & Choi Sooyoung

 

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama

 

Rate: T (Teen)

 

Duration: Mini Series

 

Soundtrack: Taeyeon-Closer, Park Boram-Please Say Something, Even Though It Is A Liie

 

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

 

A/N: Fanfic ini buatan saya, siapapun yang mengklaim ataupun mencopas fanfic ini harap dihentikan. Saya membuat fanfic ini berdasarkan latar belakang cast nya yang sama seperti kenyataan nya, selain itu murni dari majinasi saya. Fanfic ini penuh dengan unsur-unsur drama dan sediit bumbu-bumbu tangisan.

Langsung tekan ‘BACK’ bila anda merasa tidak suka dengan alur cerita, jenis cerita, maupun  cast yang terdapat di dalamnya. Saya tidak menerima bashing ataupun komentar pedas dari mulut kalian.

Saya hanya ingin memajukan Couple KyuYoung. Hanya itu niat saya membuat fanfict ini.

 

 

Bisakah kita menciptakan takdir kita sendiri?

Menciptakannya seindah mungkin, tanpa harus takut apa kata orang lain.

Tanpa ada campur tangan orang lain.

Tanpa harus bersembunyi-sembunyi. Tanpa harus memikirkan orang lain.

Jadi sayang, bisakah kita merasakan takdir yang indah.

Takdir yang kita buat sendiri.

 

 

Chapter 1

 

Sooyoung POV

Hidup menjadi seorang idola yang terkenal sampai ke ujung dunia tak lantas membuatku senang dan hidup bahagia. Ada beberapa hal yang membuatku merutuki takdirku yang menjadi seorang idol papan atas.

 

Keterbatasan berbuhubungan dengan seorang pria.

 

Oh jelas sekali. Kami para idol dituntut tampil maksimal agar tidak mengecewakan penggemar. Dari gaya hidup yang umum sampai yang pribadi. Semuanya di batasi. Kami hidup seolah-olah di bentengi oleh kata ‘Profesional kerja’, yang membuat kami tak hidup selayaknya kehidupan normal.

 

Apalagi saat tempatmu bekerja menuntutmu untuk tidak terlalu dekat dengan beberapa pria karena alasan tertentu. Bahkan untuk saling menegur sapa pun kami di batasi. Kami hanya boleh melakukannya saat sorot kamera tidak mengarah pada kami.

 

Biasanya Agency-agency besar menentang habis-habisan suatu hubungan antara artisnya dengan artis lain atau bahkan yang berada di dalam satu naungan tempat kerja denganmu. Pihak agency menjunjung tinggi-tinggi larangan untuk saling membina hubungan asmara sesama artis atau bahkan dengan orang biasa.

 

Kami- Para artis di tuntut untuk tampil sempurna. Menurut mereka kepuasan penggemar lah yang paling utama, karena dengan begitu berarti project yang sedang mereka garap telah sukses. Dan pihak agency mendapat setengah keuntungan dari kesuksesan itu.

 

Tapi tidak selamanya aturan-aturan itu berlaku. Ada beberapa kasus yang mendapati beberapa agency besar sudah memperbolehkan artisnya menjalani hubungan asmara dengan artis lain atau bahkan artis yang berada di dalam naungan agency yang sama.

 

Mereka- Para pihak agency biasanya mencari keuntungan sampingan untuk lebih menaikkan derajat artis-artisnya atau agency itu sendiri. Saat berita itu tersebar , pihak agency tinggal menunggu respon seperti apa yang diberikan oleh para penggemar.

 

Bila para penggemar menentang hubungan itu, agency akan langsung mengambil tindakan lain untuk membatah hubungan tersebut, seolah-olah mereka tidak tahu dengan perkara hubungan tersebut. Sebaliknya, kalau para penggemar merespon baik, pihak agency akan turun tangan dan mengklarifikasi perihal hubungan tersebut.

 

Kami hidup dengan bayang-bayang agency. Mau melakukan ini harus ingat aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak agency. Maa dari itu banyak artis-artis papan atas yang usianya sudah sampai kepala tiga tapi mereka belum memiliki hubungan asmara dengan wanita lain.

 

Tapi berbeda dengan kasusku. Pihak agency ku menolak habis-habisan hubunganku dengan satu rekan agencyku. Sebenanya dia seniorku. Mereka bilang kalau hubungan kami tidak akan memberikan keuntungan sama sekali untuk agency.

 

Tentu saja aku sedih saat hubungan kami tidak mendapat persetujuan dari pihak agency. Rekan-rekan kami pun ada yang setengah mendukung hubungan kami, dan setengah lagi berpendapat sama dengan pihak agency.

 

Saat itu aku dan kekasihku benar-benar bingung. Apa kami harus berhenti atau mempertahankan hubungan kami. Banyak pihak luar yang tidak mendukung hubungan kami, tapi setidaknya kami masih beruntung karena orang-orang terdekat kami mendukung penuh hubungan kami.

 

Kami memutuskan untuk tetap mempertahankan hubungan kami walaupun kami harus sembunyi-sembunyi agar pihak agency tidak mengetahuinya. Dan hubungan yang kami bina pun bertahan sampai saat ini.

 

Walaupun banyak sekali masalah yang datang bertubi-tubi tak membuat hubungan kami retak. Karena dari awal kami sudah sepakat untuk menahan kuat pondasi hubungan kami.

 

Hubungan kami berjalan dengan baik sampai 2 tahun lamanya. Tapi sesuatu hal membuat hubungan kami merenggang sampai sebulan lamanya. Sesuatu yang dikatakan paling berat untuk pertahanan hubungan kami.

 

Di saat pihak agency menyuruhku untuk menjalin hubungan dengan seorang pria yang bahkan tak ku kenal, padahal saat itu hubungan kami sedang berjalan harmonis. Pihak agency yang memang tidak mengetahui kalau hubungan kami masih berjalan pun memutuskannya secara sepihak. Padahal aku sudah mencoba untuk menolaknya.

 

Mereka bilang aku sudah terlalu lama menyendiri, dan itu akan menimbulkan kecurigaan besar untuk para penggemar. Dan sejak saat itu lah aku mulai menjalin hubungan pura-pura ku dengan salah satu acktor yang bahkan jarang sekali ku lihat di televisi.

 

Sepertinya pihak agency sudah merencanakan ini sejak jauh hari. Mereka bekerja sama untuk menaikan popularitas aktor tersebut yang semakin lama semakin meredup. Dan kalau kabar ini mencuat ke public dan menjadi trending topic, agency pasti akan merasa puas dan mendapat keuntungan dari itu semua.

 

Saat hubungan pura-pura ku sudah tersebar ke seluruh penjuru korea, kekasihku memintaku datang menemuinya di salah satu restoran yang sudah menjadi langganan kami.

 

Aku tahu apa yang akan dia bicarakan kepadaku. Dan tak salah lagi, dia sudah mengetahui jelas tentang hubungan pura-pura ku dengan actor itu. Dia memintaku menjelaskannya dengan jelas.

 

Aku sudah menjelaskan semuanya kepada kekasihku, tapi dia sedikit keras kepala dan tidak terima dengan status baruku. Aku mengerti kenapa dia bersikap seperti itu, aku tidak marah saat dia marah dan tidak menghubungiku selama sebulan penuh.

 

Tapi aku sedih. Aku kecewa. Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku, kepada kami. Kami saja masih berhubungan secara diam-diam. Belum banyak yang mengetahui hubungan kami, dan aku sangat iri saat melihat rekan ku memamerkan hubungannya di depan ku. Dia bisa bermesraan di depan umum tanpa takut di hujat.

 

Selama sebulan itulah kami benar-benar tidak berkomunikasi ataupun tegur sapa, walaupun itu di belakang panggung dan tidak ada kamera sekalipun. Dia bersikap dingin dan kaku kepadaku. Aku selalu sedih saat melihatnya menghindariku. Saat tatapan mata kami bertemu pun dia memilih memalingkan wajahnya dan menganggap aku tidak ada di dekatnya.

 

Tapi aku dan dia mulai berpikir lebih dewasa. Dia memintaku datang menemuinya di atap gedung. Aku agak ragu saat itu, aku takut dia akan mengakhiri hubungan kami. Tai ternyata saat aku tepat berada di hadapannya, dia langsung menariku kedalam dekapan nya.

 

Aku terkejut saat itu. Tentu saja. Aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk untuk hubungan kami, tapi dia mengenyahkan itu semua dengan mengucapkan kata-kata yang membuat jantungku berdetak karena saking gugupnya.

 

Dia tidak marah atapun mengatakan aka mengakhiri hubungan kami. Tidak sama sekali. Dia mengucapka kata-kata yang membuatku sedetik setelah itu meneteskan air mataku.

 

“Aku mencintaimu, dan aku tidak akan meninggalkanmu. Mari kita jalani semua ini bersama-sama.”

Continue reading “[Series] Creating A Destiny Chapter 1”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Drama, Romance

[TwoShoot] Can You Treat Me Like the Other? part 1

CYTMLTO.JPGTitle: Can You Treat Me Like the Other? part 1

Author: @juljulpii

Length : Twoshot

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun

Support Cast: Find it!

Rating: PG-17

Genre: Romance, Drama

Desclaimer: This fanfict’s story pure from my mind. Big NO to plagiarism. Hope you all enjoy it.

_____

“ Bisakah kau memperlakukanku sama seperti yang lain? Bisakah? “ tanya Sooyoung kali ini suaranya lebih rendah.   

____

“ … pertumbuhan perusahaan ini cukup positif atau sangat baik pada dasarnya. Namun data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan berbanding terbalik dengan struktur modal perusahaan. Dengan demikian, untuk mengatasi hal tersebut hal yang harus dilakukan  perusahaan adalah meningkatkan laba perusahaan agar tetap tersedia dana internal yang cukup untuk kebutuhan investasi. Mengingat pentingnya kebutuhan investasi perusahaan yang telah saya jelaskan sebelumnya.” terang perempuan cerdas berperawakan tinggi yang telah berdiri setidaknya 45 menit penuh dalam suasana rapat yang berlangsung khidmat. Sebagai seorang ahli statistik, perempuan tinggi berparas cantik tersebut begitu menguasai dalam berhadapan langsung dengan jajaran pimpinan perusahaan, ketua sub bidang dan para divisi dalam menjelaskan perihal data kondisi perusahaan.

“ Apakah ada yang ditanyakan lagi, sebelum saya kembalikan kepada moderator? “ tanyanya sebelum mengakhiri presentasi. Matanya menyusuri kursi-kursi peserta rapat untuk memastikan ada tangan yang mengacung demi mengajukan sebuah pertanyaan. Namun mata itu terpaksa melewati kursi salah satu manusia penting dalam perusahaan. Sang gadis rupanya memikirkan segala cara agar sebisa mungkin menghindari kontak mata dengannya.

“ Sudah tidak ada? “ tanyanya sekali lagi. Siapa sangka manusia yang sangat tidak ia harapkan itu mengangkat tangannya. Sooyoung –nama perempuan tinggi itu– merutuk dalam hati.

Mengapa dia lagi dia lagi?

“ Ya, Cho Kyuhyun sajangnim? “ sebisa mungkin Sooyoung bersikap ramah.

“ Aku mengerti tersedianya dana internal tersebut untuk menghindari masalah underivestment kan? Nah, mengapa kau yakin seluruh proyek investasi yang bernilai positif harus dilaksanakan? “ tanya pria berdasi senada dengan warna jasnya itu pada Sooyoung. Sedangkan seseorang yang ia tanyai itu terus menggeram dalam hati. Tidak mungkin seorang pimpinan perusahaan yang cerdas, lulusan S2 luar negeri tidak tahu hal ini dan masih menanyakan pada karyawan biasa seperti dirinya.

“ Seluruh data proyek investasi terekam perusahaan baik yang positif atau tidak. Tentu saya yakin karena mengacu pada data tersebut. Akan sangat disayangkan jika investasi yang bernilai positif tidak dilaksanakan karena sesungguhnya sajangnim pasti mengerti hal tersebut berdampak pada nilai perusahaan ini. “ tukas Sooyoung. Ia berharap Kyuhyun berhenti menanyainya tentang hal yang sebenarnya telah ia kuasai.

Apalagi dia sudah cukup tak nyaman karena sepanjang rapat mata Kyuhyun tak lepas menatapnya dari atas sampai bawah.

“ Okey aku mengerti. Tolong bawa data yang kau maksud itu ke ruanganku setelah rapat ini selesai. “ perintah Kyuhyun menandai berakhirnya rapat siang ini.

“ Neee. “ Sooyoung mengiyakan dengan pasrah dan segera memberesi dokumen-dokumennya.

Continue reading “[TwoShoot] Can You Treat Me Like the Other? part 1”

Posted in Drama, Romance

[Series] Slice of Drama 2nd

slice of drama - POSTER

Slice of Drama

Panggil Aku Bubel © 2016

SNSD’s Sooyoung – Super Junior’s Kyuhyun

Bunch of Dramas, veryslight!Comedy, and ofc!Romance

Rate T

Disclaimer : Bubel nggak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari fiksi-penggemar ini. Bubel cuma mau senang-senang. Ada yang mau ikutan? Tentu aja penjiplak nggak masuk hitungan senang-senang. (Well, tapi Bubel bisa melakukan beberapa hal ‘menyenangkan’ dengan penjiplak /ketawa iblis cantik/)

.

Enjoy!

 

[Notes : Tolong bacanya santai saja, ya. Biar feel-nya dapet. Ceritanya nggak akan ke mana-mana, kok :)]

*

Prolog | 1st Slice

2nd Slice

 

Lonceng di atas pintu kafe berdenting lagi untuk kesekian kalinya. Kyuhyun mengernyitkan kening, tidak begitu suka dengan suara itu, yang sialnya masih terdengar meskipun ia memilih meja paling pojok dan paling jauh dari pintu.

“Si Tua Bangka itu merepotkan sekali. Sudah mau mati masih cari gara-gara.”

Mendengar celetukan kawannya, Kyuhyun menyeringai. “Katanya, orang jahat itu susah mati.”

Changmin mengangguk-angguk, sedangkan fokus matanya tertuju pada layar macbook di hadapannya. “Masuk akal. Mungkin Tuhan ingin melihatnya bertobat. But, Man! Seriously, this old man’s getting my nerves. Aku jadi ingin membantunya cepat mati.”

“Setidaknya kita berhasil menahannya untuk sementara waktu.”

Pembicaraan kedua laki-laki itu terhenti saat seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Siulan kecil terdengar dari bibir Kyuhyun begitu gadis berseragam pegawai itu membungkukkan badannya untuk menaruh cangkir kopinya dan Changmin. Matanya seketika berbinar cerah dan tak lepas dari pantat hingga kaki si pramusaji. Siapa pun yang melihatnya tahu bahwa gerakan gadis itu sengaja dibuat sensual. Namun, Kyuhyun jelas senang dengan pemandangan yang didapatkan matanya.

“Selamat menikmati,” ujar pramusaji itu, suaranya terdengar serak dan agak mendesah. Serak yang disengaja. “Kafe tutup pukul sembilan,” lanjutnya seraya mengerlingkan mata penuh kode ke arah Kyuhyun.

Yang dikerlingi hanya menyeringai lebar.

“Kau juga cepat tobat, Kyu.” Changmin menggelengkan kepala melihat bagaimana lebarnya mata Kyuhyun mengikuti lenggokan pinggul si Pramusaji yang dibalut seragam ketat.

Sebelah alis Kyuhyun terangkat, seringainya hilang. “Aku?”

“Iya, kau. Berhenti bermain-main dengan wanita. Kalau kau tidak bisa menahan diri, get laid. Kena karma nanti baru tahu rasa.”

Continue reading “[Series] Slice of Drama 2nd”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, Romance

[Series] Slice of Drama 1st

slice of drama - POSTER

Slice of Drama

Panggil Aku Bubel © 2016

SNSD’s Sooyoung – Super Junior’s Kyuhyun

Bunch of Dramas, veryslight!Comedy, and ofc!Romance

Rate T

Disclaimer : Bubel nggak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari fiksi-penggemar ini. Bubel cuma mau senang-senang. Ada yang mau ikutan? Tentu aja penjiplak nggak masuk hitungan senang-senang. (Well, tapi Bubel bisa melakukan beberapa hal ‘menyenangkan’ dengan penjiplak /ketawa iblis cantik/)

.

Enjoy!

[Notes : Part yang ditulis miring itu flashback, ya]

*

 Prolog

1st Slice

 

 

Sorry, bisa diulangi?” Soojin akhirnya menyingkirkan naskah drama musikal di tangannya demi memusatkan seluruh perhatian pada satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki.

Sooyoung menjilat bibirnya. Ia kini duduk berhadap-hadapan di ruang tamu apartemen kakaknya, memutuskan untuk memberitahu Soojin tentang kiamat kecilnya. “Aku hamil.”

Ada jeda cukup panjang, membuat perut Sooyoung mulas tiba-tiba (dan kemudian Sooyoung bertanya-tanya, itu reaksi murni dari dirinya atau janin di dalam sana juga sama gugupnya). Soojin tidak langsung menunjukkan reaksi seperti yang Sooyoung bayangkan sebelumnya. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada lemparan benda-benda pecah-belah, bahkan tidak ada tatapan mengintimidasi. Kakaknya itu malah membawa punggungnya pada sandaran sofa, melipat kedua tangan di dada, dan kerut di dahinya menegaskan ekspresi penuh tanya.

“Kok bisa?”

Sooyoung melongo. “Soojin, please? Masa aku harus menjelaskan proses reproduksi padamu?”

Terdengar dengusan keras. “Bukan itu maksudku, Bodoh! Memangnya kau tidak tahu yang namanya kondom, ya?”

Jari-jari Sooyoung seketika keriting begitu telinganya menangkap kata K itu. Kulit wajahnya sudah berubah merah dan matanya mendelik lebar. “Soojin!”

“Apa? Tidak usah sok malu-malu macam perawan begitu, deh.”

Oh, sekarang bahkan ada asap keluar dari kepala Sooyoung. “Aku memang perawan!”

Seketika tawa Soojin pecah. “Adikku yang manis, kaupikir siapa dirimu? Perawan Suci Maria? Tidak ada wanita hamil yang masih perawan.”

Mulut Sooyoung sudah terbuka, namun tangan kanan Soojin yang terangkat menghentikannya untuk bicara. Wanita yang empat tahun lebih tua dari Sooyoung itu pun sudah berhenti tertawa. Raut wajahnya berubah, penuh dengan gurat serius.

“Agensimu pasti tidak akan senang dengan berita ini. Jadi, apa rencanamu?” suara Soojin terdengar tenang.

Continue reading “[Series] Slice of Drama 1st”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, Romance

[Prolog] Slice of Drama

slice of drama - POSTER

Slice of Drama

Panggil Aku Bubel © 2016

SNSD’s Sooyoung – Super Junior’s Kyuhyun

Bunch of Dramas, veryslight!Comedy, and ofc!Romance

Rate T

Disclaimer : Bubel nggak mengambil keuntungan materi dalam bentuk apa pun dari fiksi-penggemar ini. Bubel cuma mau senang-senang. Ada yang mau ikutan? Tentu aja penjiplak nggak masuk hitungan senang-senang. (Well, tapi Bubel bisa melakukan beberapa hal ‘menyenangkan’ dengan penjiplak /insert satanic laugh /)

.

Enjoy!

*

 [PROLOG]

 

Choi Sooyoung sudah hidup selama dua puluh lima tahun. Dalam rentang waktu tersebut telah banyak hal yang terjadi, tentu saja. Ia telah menjadi model sejak usia enam belas, dan semakin terkenal seiring berjalannya waktu. Ia telah melewati banyak kejadian lucu, menyedihkan, menyebalkan—yang mana akan selalu dikenang. Namun itu semua kejadian itu hanya akan berkesan bagi Sooyoung seorang, tidak ada menarik-menariknya bila diceritakan pada orang lain.

(Well, apanya yang menarik, sih, dari kisah patah hati dan cinta bertepuk sebelah tangan?)

Akan tetapi, sepertinya sekaranglah saat yang tepat untuk memulai cerita ini, tiga bulan setelah perayaan ulangtahun Sooyoung yang ke dua puluh lima. Kita mungkin akan melihat beberapa kilas balik, tapi itu bisa diurus belakangan demi mempertahankan efek dramatisir yang bisa ditimbulkan.

Si model terkenal saat ini sedang duduk di dalam klinik milik salah satu sahabatnya, berhadapan dengan sang sahabat sendiri. Punggungnya tegak, rahangnya kaku, wajahnya pucat, seperti yang baru dihisap habis darahnya oleh vampir. Matanya yang bulat mungkin bisa meloncat ke luar kapan saja dari tengkoraknya, menatap nanar pada lembaran kertas di depannya.

Lehernya bergerak-gerak lambat, menunjukkan jika Sooyoung kesulitan menelan ludahnya. Ia lalu mendongak, menatap sahabatnya yang belum mengatakan apa-apa sejak memberikan lembaran kertas itu padanya. Tidak lama karena Sooyoung sudah menunduk lagi untuk membaca sekali lagi—atau berkali-kali lagi dengan harapan apa yang tertulis di sana akan berubah.

Tentu saja hal itu tidak terjadi.

‘Tamat sudah riwayatku.’ Desahan pertama lolos dari bibir tipisnya.

“… yahnya …”

‘Bagaimana ini?’

“… young!”

‘Apa yang harus kulakukan?’

“Choi Sooyoung!”

Kepala Sooyoung refleks menegak, menemukan Shinye menatapnya tajam.

Get yourself together, Sooyoung!”

Sooyoung meringis. “Tidak pernah sesulit ini sebelumnya.”

Terdengar suara hembusan napas lelah dari Shinye. “Dunia tidak akan berakhir karena kau hamil, Sooyoung.”

“Dunia tidak, tapi hidupku iya.”

Shinye mengorbit bolamatanya. “Oh, ayolah. Kau bukan lagi remaja tanggung. Aku mengharapkan kata-kata yang lebih bijaksana.”

Pelipis si model jangkung itu berkedut. “Kau mengejekku? Kalau aku bisa lebih bijaksana, aku tidak akan hamil dari awal.”

“Oh, ya, kau benar,” kepala Shinye mengangguk setuju. “Choi Sooyoung tidak bijaksana, kurang cerdas, dan tidak dewasa. Benar-benar tidak bisa diharapkan.”

“Hei!” Sooyoung merengut tidak terima.

“Jadi, siapa ayahnya? Aku yakin bukan Sungmin. Apa Siwon akhirnya membuat pergerakan?”

Shinye yakin jika wajah Sooyoung sebelumnya sudah pucat, akan tetapi ia tidak tahu jika gadis itu bisa menjadi lebih pucat lagi.

Sooyoung mengantukkan dahinya pada permukaan meja, di atas lembaran kertas hasil tes kehamilan. Ia menggeram frustasi begitu wajah seorang pria yang bertanggungjawab atas kiamat kecilnya muncul di dalam benaknya.

“Soo—”

“Aku akan menggugurkannya.”

Continue reading “[Prolog] Slice of Drama”

Posted in Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Comedy, Drama, Hurt, Romance, Series

[Series] Beautiful Fate (Part 2)

Beautiful Fate_PosterBeautiful Fate

(Chapter 2)

 

.

 

.

 

.

 

.

Disclaimer : Story belong to ChoChoiAddict (Me) . Cast belong to Family and Agency.  KyuYoung Belong to KNIGHT. Kyuhyun belong to Sooyoung, and Sooyoung belong to Kyuhyun.

For those who are old enough or feel no need to read this story. Please press the back button on this page!!!

But if you like and want to read, yes please read JJJ

 

Warning!! : This is my Story. Typo(s), OOC’s (Very). Don’t Plagiarism, Don’t Copy, Don’t Paste.

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, (Maybe Humor)

Rate : M (For Save)

Pairing : KyuYoung

 

Poster Credit By ChoiXiOh _ PosterArtGraphicsDesign10.wordpress.com

(Big Thanks for poster, dear 🙂 )

 

Duration : Mini Drama Series

 

Backsound : Baekhyun-EXO (Beautiful)

Words:2734Words

Don’t Like … Don’t Read !!!

Happy Reading J

.

 

.

“Bagaimana kehidupan Choi Sooyoung saat memilih kabur dari rumah setelah mendengar kabar bahwa ia akan dijodohkan dengan anak salah satu kolega perusahaan ayahnya, dan bertemu dengan seorang pemuda tampan, luar biasa pintar, dingin, datar, menyebalkan, tapi sayang seribu sayang. Pemuda itu hanyalah seorang tukang yang mengantarkan koran keliling dan tukang kebun.”

 

“Apakah benih-benih cinta bermunculan seiring hari-hari kebersamaan dan di tengah-tengah pertengkaran kecil mereka.”

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Chapter 2

 

Previous Chapter:

 

“Aku tidak peduli mau pria itu tampan atau tidak, yang penting aku mau membatalkan perjodohan itu. Aku tidak mau mengikat hubungan dengan sorang pria diusia ku yang masih 20 tahun.”

 

.

 

“Si bungsu itu kabur dari rumah gara-gara tuan Cho yang akan menjodohkannya. Sebenarnya yang akan dijodohkan dengan mu itu adalah si bungsu, tapi karena sifat arogan dan keras kepalanya si bungsu, dia memilih kabur dari rumah dari pada hidupnya harus terkengkang karena menikah denganmu.”

 

.

 

“Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti yang bungsu Cho itu lakukan ya? Kabur dari rumah dan dengan begitu perjodohan ini tidak akan dilanjutkan. Setelah itu aku bebas hidup dengan tenang.”

 

.

 

“Oke, semuanya sudah beres. Sekarang tinggal mencari waktu untuk bisa keluar dari rumah. Semoga ‘Doggy’ sedang tidur pulas.”

 

 

.

 

.

 

 

 

 

Normal POV

 

Sooyoung memutuskan untuk naik bus antar kota yang berangkat tengah malam ini. Sebelumnya ia sudah mengirimkan email ke Tiffany, salah satu sahabatnya kalau dia meminjam beberapa lembar uang yang dititipkan di dirinya.

 

Gadis cantik bertubuh semapai bak model itu tidak memberitahukan kepada sahabatnya kalau dia kabur dari rumah karena akan dijodohkan. Nanti saja kalau orangtua nya sudah membatalkan perjodohan baru dia akan pulang dan menceritakan semuaya ke sahabatnya.

 

Setelah 5 jam menempuh perjalanan jauh keluar kota, kini akhirnya Sooyoung sudah sampai di kota tujuan. Sebenarnya ia tidak tahu kenapa memilih Gyeonggi-Do sebagai tujuan kota pelariannya.

 

Sooyoung hanya mengikuti kata hati nya saja.

Continue reading “[Series] Beautiful Fate (Part 2)”